"Siapa?" Bastard. Ansell b******n. Gerayangan tangan Edzard tidak berhenti sampai di d**a. Pria itu bahkan lebih berani untuk turun, meraba semua permukaan kulit yang halus dan terasa seperti kapas di tangannya. Seperti menyentuh surga, pikirnya. Dan pikiran kotor itu terus menggerayangi isi kepalanya. Sampai-sampai ia merasa pusing dan gelisah. Rasa itu masih terlalu membekas dalam benaknya. "Siapa yang menghubungi?" Sedangkan Helena harus berperang dengan gairah dan hasrat yang melambung. Sebelum warasnya lenyap bagai butiran debu, dia harus berjuang. "Siapa?" Edzard berdecak. Lantas mengangkat kepala dengan desisan. Tidak suka karena si pria berambut permen karet mengacaukan malam panasnya. "Salah sambung." "Bukan ibu atau ayahku?" Edzard menggeleng. "Bukan." Sebelum Edzard ber

