7

1472 Kata
Sudah dua hari ini, Zoe tidak tampak di toko milik Frank. Tidak, Byron tidak merindukan gadis itu. Bukan dia, tetapi Ana. Dua hari ini, Ana seolah tidak bersemangat hanya gara-gara Zoe tidak pergi ke toko. Memang sepenting apa sih Zoe untuk Ana?           “Mom, aku lapar.”           Biasanya, Ana akan membuat makan siang selain roti di toko, tetapi hari ini Byron tidak menemukan apa-apa di dapur.           Ana yang sedang membaca buku, menoleh. “Mom tidak memasak hari ini. Kau makan saja di luar.”           Frank tersenyum maklum ke arah Byron dan mengangguk kecil untuk menyuruh Byron pergi. Byron berdecak sebal dan memilih keluar dari toko untuk pulang. Dia tidak suka berkeliaran di tempat umum pada siang hari begini. Apalagi setelah kejadian dua hari lalu. Dia tidak menyangka akan ada banyak gadis-gadis yang mengenalinya di sana.           Sesungguhnya, Byron tidak terlalu nyaman dengan popularitasnya di dunia hiburan. Dia bukan orang yang menyukai gemerlap dunia keartisan. Namun ia tahu itu adalah salah satu risiko yang harus ditanggung saat dirinya masuk ke dunia tersebut. Keinginan Byron sebenarnya adalah berada di balik layar sebagai seorang produser, tetapi saat itu ia ditemukan oleh pencari bakat yang akhirnya menjadi manajernya dan ditawari bermain film. Byron menerima tawaran itu karena dia tahu, butuh banyak modal untuk mewujudkan cita-citanya. Sebab itulah, ia tidak terlalu suka hidup dalam kemewahan seperti teman-teman satu profesinya. Dia sudah terbiasa hidup sederhana semenjak masih kecil.           Bagi kebanyakan orang, mungkin dia akan dianggap pelit dan gemar 'menimbun' hartanya. Akan tetapi Byron tidak peduli. Toh uang itu hasil keringatnya sendiri, bukan dari orang lain. Kenyataan bahwa Zoe tidak mengenalnya meski mereka sama-sama tinggal di New York justru lebih membuat Byron merasa nyaman. Biasanya, para gadis akan histeris melihatnya seperti kejadian di kebun lavender dua hari lalu itu. Mengetahui bahwa Zoe benar-benar tidak tahu bahwa dirinya adalah Byron Moreau yang terkenal, membuatnya merasa seperti kembali ke masa lalu saat ia bukanlah siapa-siapa. Tidak ada kehebohan ataupun histeria massa saat ia melintas, dan jujur, Byron merindukan saat seperti itu.           Langkah kaki Byron terhenti saat ia melihat Zoe tengah berjalan-jalan bersama seorang pria. Byron tidak mengenali pria itu. Ia mengenal hampir semua orang asli Sault, dan ia yakin belum pernah melihat lelaki itu. Mereka berdua berjalan begitu dekat dengan satu tangan Zoe terkait di lengan pria itu. Zoe tertawa pada apa yang pria itu ucapkan dan si pria mencium pelipisnya. Tanpa sadar, Byron mencibir melihatnya. Pantas gadis itu tidak datang lagi ke toko, pasti karena kekasihnya telah datang.           Byron memutuskan untuk memutar arah dan mencari jalan yang lebih jauh lagi menuju rumah. Dia lebih memilih menahan lapar sedikit lebih lama daripada harus berbicara dengan Zoe. Kakinya baru akan melangkah menjauh saat di dengarnya, gadis itu memanggilnya. Byron menelan kembali kutukannya dan berbalik. Sial! Gadis itu tampak luar biasa dengan celana pendeknya!           Byron memiliki sedikit obsesi gila dengan kaki jenjang wanita. Setelah dengan Lena, dia tidak tertarik lagi pada gadis-gadis bertubuh mungil. Gadis-gadis berkaki jenjang seperti itu lebih membuat hubungan seks semakin memanas. Lagi-lagi Byron mengumpat, saat dirasa tubuhnya mulai bereaksi terhadap Zoe. Dia berbalik dengan gugup dan melangkah memasuki semak tinggi hampir setinggi perutnya.           Zoe berhenti berjalan saat melihatnya memasuki semak sialan itu. Sementara, pria yang bersama Zoe menatapnya curiga dengan tangan bersedekap.           “Byron, kau kenapa?”           Byron menggeleng. “Pergilah, Zoe.”           Sesaat, Byron bisa melihat gadis itu tersentak kaget, tetapi kemudian dia tersenyum.           “Aku sedang menuju toko ayahmu. Ibumu ada di sana kan?”           Mom pasti senang dengan kedatangan Zoe ...           Byron mengangguk dan berharap Zoe segera angkat kaki dari tempat ini.           “Kau mau ke mana?”           “Pulang,” jawab Byron pendek.           “Oh. Zac, kau tahu dia? Dia yang akan menjadi best man-mu nanti.” Zoe menoleh pada pac ....           Tunggu! Apa Zoe bilang? Zac? Jadi pria ini calon suami Lena?           Zac mendekat pada Zoe yang berdiri sekitar seratus meter dari Byron. Mereka berdua saling menatap mempelajari diri masing-masing. Byron bisa melihat tato yang terlihat di kaki dan lengan Zac. Jadi Lena menyukai pria yang banyak tatonya? Hati Byron tiba-tiba terasa sakit. Dia bukan tipe bad boy yang banyak dipuja para gadis. Mungkin karena itulah Lena meninggalkannya.           Hingga saat ini, Lena tidak pernah mengatakan kepadanya alasan mengapa gadis itu ingin putus darinya. Hanya sebuah kalimat, tidak bisa melanjutkan lagi hubunganku denganmu, hanya itu yang Lena katakan padanya. Dan sekuat apapun Byron mencoba mempertahankan hubungan mereka, gadis itu tetap bersikukuh untuk lepas. Untuk apa mempertahankan hubungan jika hanya satu pihak saja yang berjuang?           “Jadi kau Lord Byron Moreau yang terkenal itu?” Zac tersenyum padanya.            “Lord Byron Mo ... Astaga! Kau Lord Byron yang itu???” Zoe memekik dengan suara keras.           Byron mengerang. Jadi Zoe mengenalnya?           “Kau tidak tahu, Zoe?” Zac bertanya.           Zoe menggeleng. “Televisi di rumah rusak, Zac. Kau tahu aku tidak suka menonton televisi kan? Jadi kubiarkan saja di sana. Aku hanya sering mendengar nama itu disebut teman-temanku.”           Byron memutar bola matanya mendengar penjelasan Zoe pada kakaknya itu.           “Internet? Kau tidak pernah mencarinya di Google?”           Lagi-lagi Zoe menggeleng. “Itu tidak pent ...” Zoe menyeringai ke arah Byron, “maaf, Byron. Kau sangat terkenal tentu saja. Aku hanya ...” Zoe mengangkat bahunya.           “Tidak usah minta maaf, Zoe. Aku justru senang saat ada orang yang tidak mengenalku.”           Byron hampir saja keluar dari semak tempat dia bersembunyi, tetapi senyum yang terbit dari bibir Zoe sekali lagi telah membuatnya mengeras. Oh, Sial! Gadis ini membawa pengaruh buruk untuknya.           “Aku harus berfoto denganmu, Byron! Teman-temanku pasti iri setengah mati!”           Byron menggeleng. Itu ide yang buruk!           “Mmm ... Zoe, lebih baik kau segera ke toko. Ibuku, dia merindukanmu. Kita bisa berfoto lain kali.” Jika aku tidak mengalami blueballs.           “Oh, benarkah? Ayo, Zac, kita harus segera ke sana sekarang.” Gadis itu meraih tangan kakaknya dan melambai pada Byron.           Byron mengamati p****t kecil Zoe yang bergoyang-goyang saat gadis itu berjalan. b******k! Apa yang telah gadis itu lakukan padanya?           Pikirkan Lena! Pikirkan Lena! Pikirkan Lena!           Sekuat tenaga, Byron mencoba untuk menghalau Zoe dan p****t seksinya juga kaki jenjangnya dari kepala. Bayangan gadis itu berada di bawah tubuhnya dengan kaki yang terangkat ke bahunya ... Oh, s**t! Byron benar-benar harus mencari seseorang untuk dia tiduri. Sudah terlalu lama sejak terakhir kali dia pergi dari New York.           Dengan tertatih-tatih, akhirnya Byron berhasil sampai ke rumahnya. Beruntung jalanan yang dilewati cukup sepi sehingga dia tidak bertemu orang dalam kondisi yang memalukan seperti ini. Byron duduk di sofa tua milik ibunya dan menatap miliknya yang masih mengeras. Byron bersumpah tidak akan menatap Zoe lagi jika gadis itu hanya memakai celana pendek seperti tadi. Sial! Apa yang harus Byron lakukan sekarang? Dia masih keras dan butuh pelampiasan. Tidak adakah seseorang yang bisa ia bayar di sini?           Suara ketukan pintu menyelamatkan Byron dari godaan 'bermain solo'. Namun dengan keadaannya yang seperti ini, tidak mungkin juga Byron berdiri dan membuka pintu. Ketukan terdengar lagi dengan lebih keras. Tampak jika tamunya sangat tidak sabar. Byron berdiri dan mengintip dari jendela. Alisnya berkerut melihat siapa yang datang. Untuk apa Lena kemari? Tidak mungkin kan dia mencari calon suaminya di sini?           “Byron! Buka pintunya! Aku tahu kau di dalam!” Teriak gadis itu sambil kembali mengetuk pintu rumahnya dengan tidak sabar.           Byron cemberut, tetapi dia segera menyadari bahwa apa yang tadi mengeras, kini sudah kembali normal. Ternyata memang memikirkan Lena kini justru membantunya dari kondisi 'keras' dan terancam mengalami blueballs parah, kembali menjadi 'normal'.           “Ada apa?” Byron membuka pintu dan mendapati gadis itu menghambur masuk bahkan sebelum Byron menyuruhnya masuk.           “Aku hanya ingin bertemu denganmu sementara Zac pergi.”           Apa? Apa maksud gadis ini?           “Lena, kau sebentar lagi akan menikah, tidak seharusnya kau datang ke rumahku dengan sembunyi-sembunyi seperti ini.” Meski Byron masih peduli pada Lena, dia tahu jika ini salah. “Pulanglah,” lanjutnya kemudian.           Bukannya menuruti perintah Byron, Lena malah duduk di sofa yang tadi Byron duduki dan bersedekap dengan keras kepala.           “Aku hanya merindukanmu, By. Kita tidak pernah bicara semenjak kau pulang.”           “Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, Lena.”           Lena cemberut menatapnya. “Apa karena sekarang kau bintang film terkenal? Kau lupa dari mana kau berasal? Kau hanya anak muda dari Sault yang tidak punya apa-apa, By. Masih beruntung aku mau menjadi pacarmu dulu.”           Sudah. Cukup sudah. Gadis ini telah menyentuh egonya. Selalu itu yang Lena katakan padanya. Bahwa dia hanyalah seorang yang tidak punya apa-apa. Memang, dirinya dan Lena berasal dari derajat keluarga yang berbeda. Namun dulu, bukan Byron yang meminta Lena menjadi kekasihnya. Lena yang meminta.           “Pulanglah, Lena.”           “By! Aku benar-benar hanya ingin bicara denganmu!”           “Ajak Zac atau orang lain kemari kalau begitu.”           Lena mencibir padanya. “Tidak usah sok suci! Aku tahu berapa banyak wanita yang kau tiduri setelah denganku.”           b******k! Jika bukan wanita, Byron pasti sudah menghajarnya.           “Tapi aku tidak pernah meniduri istri orang.”           “Aku juga belum menjadi istri orang.”           Jalang!           Byron meraih lengan gadis itu dan memaksa Lena untuk keluar dari rumahnya. “Pulang sekarang, dan jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di rumahku, Lena,” ucap Byron sambil menutup pintu tepat di hadapan Lena.           “b******k! Kau akan menyesal, Byron!!”           Tidak. Untuk kali ini, Byron tidak akan menyesal. Dia yakin itu. Sangat yakin.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN