8

1103 Kata
“Kuning??!!” Zoe melotot kesal pada Lena yang berdiri dengan pongah di hadapannya. Dia melihat gaun kuning jelek yang diulurkan Lena padanya dengan jijik. Apa sih yang ada di kepala Lena hingga mengganti gaun bridesmaids yang tadinya berwarna abu-abu menjadi warna kuning neon seperti ini? Memangnya Lena pikir ini karnaval?? Oke, Zoe bukannya anti memakai warna kuning atau bagaimana, tetapi seharusnya Lena bisa memilih warna yang sedikit lebih lembut untuk pernikahan yang rencananya diadakan di luar ruang di singa hari musim panas yang cerah itu. Dan modelnya, ya Tuhan, memangnya para bridesmaids ini akan menari balet dengan rok model tutu itu? Bahu baju itu terbuka dan panjang roknya tidak mungkin di bawah lutut. Zoe pasti gila jika mau memakai baju mengerikan seperti ini. Kostum pohon yang dulu dipakainya saat pentas di taman kanak-kanak masih jauh lebih baik dari ini! “Pernikahanku ‘kan di ruang terbuka. Warna ini akan membuat suasana jadi lebih ceria. Mungkin akan lebih ceria lagi jika kau melakukan pertunjukan menari di sana nanti,” jawab Lena sambil melempar gaun itu ke pangkuan Zoe. Zoe benar-benar tidak habis pikir apa yang Zac lihat dari wanita ini. Yeah, wanita tersebut memang cantik dan terlihat seperti peri dengan tubuh mungilnya itu. Namun bagi Zoe, Lena adalah nenek sihir dari dunia nyata. Ia hanya bisa berharap, Zac tidak akan mengajak Lena tinggal di New York nantinya. Zoe lebih memilih untuk tinggal sendirian selamanya daripada harus satu rumah dengan ular betina itu. “Aku tidak mau memakainya!” Zoe berdiri tegas dan membiarkan gaun jelek itu jatuh ke lantai. Tidak ia pedulikan beberapa pasang mata, saudara dan teman-teman Lena, yang menatapnya dengan tidak suka. “Kalau begitu kau tidak akan menjadi pendampingku!” seru Lena sambil melotot dan berkacak pinggang. “Baguslah. Aku juga sebenarnya tidak berminat menjadi pendampingmu.” Zoe menoleh dan tersenyum sinis sebelum keluar dari ruang keluarga itu. “Aku akan mengadukanmu pada Zac!” teriak Lena lagi sebelum Zoe semakin menjauh. Zoe mengangkat bahunya tidak peduli. Semakin hari dia berada di tempat ini, semakin dia tidak menyukai Lena. Benar-benar tidak ada sedikitpun alasan untuk menyukai gadis itu. Namun, jika dia membuat daftar hal yang tidak disukainya dari Lena, pasti akan jauh lebih panjang daripada jembatan Golden Gate. Zac pasti sedang mabuk saat bertemu wanita itu. “Ada apa?” tanya Zac yang baru saja muncul dari halaman depan. Tangannya menenteng kantong kertas bertuliskan nama toko milik Frank. “Kau dari tempat Ana! Kenapa tidak mengajakku??” Zoe pura-pura marah pada kakaknya itu. Zac tertawa dan mengacak rambut Zoe. “Karena itu Ana tidak membiarkanku makan di sana. Ayo!” Zac meraih tangannya dan membawa Zoe ke kamar pria itu. Kamar Zac terletak paling ujung dari rumah besar ini dan menghadap langsung ke kebun lavender di belakang rumah. Sejak Zoe tiba di sini, kakaknya itu lebih banyak berada di kamar daripada berkumpul dengan keluarga besar Lena. Tampaknya, Zac juga tidak terlalu akrab dengan mereka. “Ana menitipkan makan siang untukmu.” Zac mengeluarkan satu kotak makan berisi burrito casserole di hadapannya. “Ya Tuhan, aku merasa seperti pulang ke rumah!” Zoe mengambil garpu dan mulai menikmati burrito-nya. Dia memejamkan mata saat suapan pertama itu masuk ke mulut. “Rasanya seperti buatan Mom.” Zoe membuka mata dan melihat Zac menatapnya dengan senyum haru. Mereka sudah hidup berdua saja sejak dua belas tahun lalu, karena itulah hubungan mereka lebih dekat daripada seharusnya. Mereka hanya memiliki satu sama lain. Zac melakukan tugasnya sebagai kakak, ayah, ibu, dan sahabat sekaligus. Zoe tidak tahu bagaimana nanti hidupnya setelah Zac menikah. Beberapa tahun ini sudah terlalu buruk tanpa Zac di sisinya karena kakaknya itu lebih sering terbang daripada di rumah. “Aku berharap Mom dan Dad ada di sini saat ini,” bisik Zac sambil menunduk. Untuk yang satu ini, Zoe tidak sependapat. Orangtuanya pasti kecewa dengan pilihan Zac sama seperti yang dirasakan Zoe saat ini. Zac seharusnya bisa bertemu wanita yang lebih baik daripada Lena. “Zac, kau yakin dengan pilihanmu ini?” Sejak Zoe tiba di sini, mereka belum sempat bicara dari hati ke hati seperti dulu. Zac lebih sering menghabiskan waktu bersama Lena di luar rumah untuk mengurus pernikahan mereka. “Ada apa sebenarnya, Rabbit?” Sejak dulu, Zac selalu memanggilnya rabbit. Alasannya adalah Zoe tidak bisa diam sejak kecil dan selalu aktif ke sana kemari seperti kelinci kecil. “Kau benar-benar akan menikah dengan nenek sihir itu?” Zoe kembali menyuapkan burrito ke mulutnya. Berpura-pura jika itu hanya pertanyaan enteng. Zac tertawa dan bergabung dengannya untuk menyantap burrito casserole itu. “Hari pernikahanku tinggal tujuh puluh dua jam lagi, Rabbit. “ “Dan banyak hal bisa terjadi dalam tujuh puluh dua jam, Zac! Oh, ayolah, hanya orang gila yang sanggup menikah dengan wanita yang tiba-tiba mengganti gaun bridesmaids-nya dengan warna kuning neon hanya kurang tiga hari dari waktu pernikahan.” “Dan aku akan menjadi orang gila itu.” Zoe mengerang dan menjauhkan burrito-nya. Makanan itu kini tidak menarik lagi untuknya. “Zac, please! Apa yang kau lihat darinya?? Jangan kau bilang cantiknya karena masih banyak wanita yang jauh lebih cantik darinya. Dan jelas-jelas memiliki sikap yang jauh lebih baik dari penyihir itu.” Zac menghela napas dan berdiri menghadap ke arah hamparan lavender di luar kamarnya. “Dulu dia adalah gadis yang sangat manis. Aku jatuh cinta saat pertama kali melihatnya.” Zoe mencibir mendengar ucapan Zac. Jatuh cinta pada pandangan pertama baginya adalah omong kosong. Diperlukan lebih dari sekedar wajah yang menarik untuk membuat seseorang jatuh cinta. “Jadi sekarang dia tidak manis lagi?” Sela Zoe langsung sebelum cerita Zac lebih panjang lagi. Zac mengangkat bahunya. “Beberapa orang tidak punya alasan untuk pergi, Zoe. Meskipun pada akhirnya rasa cinta itu berubah.” “Apa maksudmu?” Zac membuka laci di hadapannya dan menyerahkan sebuah amplop pada Zoe. Zoe menerimanya dengan dahi berkerut saat membaca sebuah nama rumah sakit di sana. “b******k!!” Makinya saat membaca surat itu. “Dia hamil???” Zac berbalik dan mengangguk. “Aku harus bertanggung jawab pada bayi itu karena dia anakku.” “Bagaimana kau bisa seceroboh ini, Zac??” Zoe tidak bisa memelankan suaranya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan kecerobohan Zac ini. “Kami berdua mabuk saat itu.” Alasan klasik! Zoe sudah banyak menemui hal seperti ini di New York atau bahkan menuliskan di novel yang dia buat, tetapi dia tidak menyangka jika kakaknya sendiri yang mengalami hal menggelikan ini. Bagaimana jika ini jebakan? Bagaimana jika ternyata Lena hanya menginginkan harta Zac? Zoe menatap kakaknya selama sesaat sebelum akhirnya bertanya dengan suara pelan. “Kau yakin dia anakmu, Zac?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN