“Zoellina Miller, jaga bicaramu! Lena adalah wanita terhormat. Dia bukan wanita yang tidur dengan sembarang pria!” Kali ini Zac yang berteriak padanya. Mata kakaknya itu melotot dengan marah pada Zoe. “Dan dia akan segera menjadi kakak iparmu!”
Mereka tidak pernah saling berteriak lagi ataupun bertengkar hebat setelah kedua orangtua mereka meninggal. Dan jelas, ini bukan alasan pertengkaran yang penting bagi Zoe.
“Zac, kau tahu aku tidak pernah kecewa padamu, tapi kali ini ...” Zoe menggeleng dan memilih untuk pergi tanpa menyelesaikan perkataannya karena kali ini dirinya benar-benar kecewa pada Zac.
Dia kembali berpapasan dengan Lena saat hendak keluar rumah, tetapi Zoe memilih untuk mengabaikan wanita itu. Dia hanya sempat melirik perut Lena yang tidak tampak hamil sama sekali. Ya Tuhan, Zoe benar-benar berharap ayah mereka masih hidup dan menghajar Zac habis-habisan hingga kakaknya itu sadar bahwa ia telah memilih jalan yang sangat buruk dalam hidupnya.
Zoe berjalan tanpa arah dan berakhir di jembatan tempatnya bertemu Byron untuk pertama kalinya. Zoe menghela napas panjang dan memejamkan mata, lalu mencoba menghitung dalam hati hingga angka lima puluh. Atau setidaknya begitulah rencana awalnya. Di angka tiga puluh lima, hitungan Zoe terhenti karena ia mendengar suara Byron di belakangnya.
“Ada apa?”
Kenapa dengan para pria yang bertanya 'ada apa' ini? Memangnya terlihat ya jika dirinya sedang kesal? Terlebih, Byron bukan orang yang pantas untuk bertanya seperti itu padanya. Pria ini sama sekali bukan teman baginya. Seharusnya Byron tidak mengenal dirinya sebaik itu.
Zoe menggeleng dan membuka mata tanpa menoleh. “Tidak apa-apa.”
“Jangan bohong padaku. Aku bisa membaca gesture tubuhmu yang tegang. Aku aktor yang hebat, ingat?” Byron berdiri di sampingnya.
Zoe tertawa dengan sarkatis sambil menoleh menatap pria itu. Yah, dia lupa jika Byron yang dikenalnya beberapa hari lalu adalah Lord Byron yang dipuja hampir semua gadis di Amerika. Bilang saja dia kampungan karena tidak mengenal artis terkenal seperti Byron, tetapi memang itulah kenyataannya.
Ini menjelaskan kenapa Zoe merasa seperti pernah melihat Byron sebelumnya. Meskipun tidak sering melihat televisi atau membaca majalah, Zoe pernah melihat teman-temannya melihat foto-foto pria itu.
“Byron, sedekat apa kau dengan Lena sebenarnya?” saat menanyakan itu, Zoe kembali mendapati wajah Byron yang tiba-tiba mengeras.
“Kita sudah pernah membahas masalah ini kan? Tidak penting lagi seperti apa masa laluku dengan Lena,” jawabnya dengan dingin.
“Aku hanya tidak ingin Zac salah memilih istri.”
Sungguh, saat ini Zoe tidak peduli pada hal lain. Zac adalah orang terpenting baginya. Jika memang Byron bisa menyelamatkan kakaknya, Zoe akan rela memohon pada pria itu. Bahkan jika Byron menyuruhnya berlutut, ia akan melakukannya.
Byron menghela napas dan memandang jauh ke depan, ke arah sungai yang mengalir tenang. Senja mulai datang dan lampu jalan mulai menyala. Sore ini hampir sama seperti sore itu. Bedanya hanyalah, bukan ide cerita yang mengalir di otak Zoe, melainkan pikiran tentang Zac dan Lena. Juga berbagai skenario yang bisa Zoe lakukan untuk menghalangi pernikahan mereka.
“Lena dari keluarga baik-baik dan terpandang, kakakmu pasti akan hidup bahagia dengannya.”
Yah, Zoe harap juga begitu. “Kau yakin?”
“Ada apa sebenarnya, Zoe? Apa ini syndrome kekhawatiran menjelang pernikahan antar saudara? Kau takut membagi kakakmu dengan orang lain?”
Zoe tertegun. Apa mungkin memang ini hanya kekhawatirannya saja? Apa memang jauh di lubuk hatinya, dia takut membagi Zac dengan orang lain? Selama hampir dua belas tahun, Zac tidak pernah mengenalkan seseorang sebagai kekasihnya.
Ketika tiba-tiba Zac mengenalkan Lena dan bahkan akan menikahi wanita itu dalam waktu kurang dari tujuh puluh dua jam lagi, Zoe takut jika nantinya Zac tidak akan menyayanginya sebesar dulu lagi.
Sentuhan lengan Byron di bahunya membuat Zoe menoleh pada pria itu. Lengan Byron yang hangat dan besar memeluk bahunya dengan lembut dan Zoe bisa mencium harum tubuh Byron lagi, sama seperti malam itu.
Jika Zoe sedang tidak terlalu khawatir pada kakaknya, mungkin dia akan mengambil ponselnya dan memamerkan momen ini pada teman-temannya di New York.
“Kakakmu pasti sudah memikirkan semuanya sebelum mengambil keputusan untuk menikahi Lena. Dia sudah dewasa, Zoe.”
Zoe mengangguk dan kemudian menjauhkan diri dari Byron. Semoga saja semua ini memang hanya ketakutannya saja. Namun meski begitu, entah mengapa hati Zoe tidak juga tenang. Rasanya seperti akan ada sesuatu yang buruk terjadi.
“Aku mengundurkan diri menjadi bridesmaids Lena.”
Byron menoleh padanya dengan alis berkerut. “Kenapa? Ah, kupikir tadinya aku akan berpasangan dengan gadis secantik dirimu. Tetapi ternyata aku harus puas berpasangan dengan Lily.”
Zoe tertawa. Lily adalah sepupu Lena yang cerewet dan bertubuh mungil seperti Lena. Hampir semua keluarga besar Lena memiliki model tubuh yang sama. Zoe heran bagaimana Lena bisa menjadi model dengan tubuh mungilnya itu.
“Aku tidak sudi menjadi pendampingnya jika harus berpakaian seperti lampu neon.”
“Lampu neon?”
Zoe mengangguk. “Sepertinya mata Lena perlu diperiksa. Dia mengganti gaun bridesmaids-nya dengan warna kuning neon! Tidak. Lebih baik aku memakai bajuku sendiri.”
“Bukankah memang para pengantin wanita selalu begitu? Mereka mencoba membuat pengiring pengantinnya tidak lebih cantik dari dirinya.”
“Sepertinya kau cukup paham hal seperti itu.”
Kali ini Byron yang tertawa. “Kau pasti tidak pernah menonton film 27 Dresses.”
Mata Zoe melebar. “Jangan katakan kau menontonnya!!” Pekiknya tak percaya. Dia membayangkan Byron duduk menonton film komedi romantis dan gagal total. Tidak mungkin kan pria ini penikmat drama romantis? Kecuali ...
“Aku aktor, ingat? Aku belajar dari mana saja.”
Mereka berdua kembali tertawa lepas. Dia tidak percaya, bisa berbicara dengan Byron tanpa bertengkar. Setelah hampir satu hari mengalami hal tidak menyenangkan, akhirnya dia bisa tertawa juga.
“Kau akan di sini sampai kapan? Aku mau pulang,” Byron bertanya setelah mereka berhenti tertawa.
Zoe melirik jam tangannya. Baru pukul tujuh kurang sedikit. “Sesore ini kau sudah mau pulang?”
“Aku harus membantu ibuku menutup toko.”
“Apa aku boleh ikut??” Sejak kemarin, Zoe belum bertemu Ana. Dia merindukan wanita itu.
Byron tersenyum lebar hingga membuat Zoe terpana. Sial, kenapa senyum pria ini begitu memikat? Sudah sangat lama sejak terakhir dia memperhatikan senyum seorang pria dan rasanya ... aneh, tetapi menyenangkan.
“Zoe? Jadi mau ikut tidak?”
Oh ... oh ... oh ... kenapa suara pria itu mendadak membuat jantungnya berdetak kencang?