10

1798 Kata
Sudah hampir larut malam di Sault dan Byron masih belum bisa memejamkan matanya. Aaron, manajernya, menelepon beberapa jam lalu dan mengatakan bahwa ada kontrak baru yang datang ke kantor mereka kemarin. Aaron memintanya untuk segera pulang dan melihat kontrak itu alih-alih mengirimkan lewat email hingga Byron bisa melihatnya di sini. Aaron hanya berkata bahwa ini proyek besar.           Permintaan Aaron untuk pulang begitu menggodanya. Byron sudah terlalu lama berada di kota ini. Sudah lebih dari satu bulan dia 'menghilang' dari gemerlap dunia perfilman. Byron memang meminta Aaron untuk menjaga privacy-nya selama berada di sini. Ia tidak ingin media tahu di mana dia menghabiskan waktu berliburnya.           Tadinya, Byron berencana ingin berada di sini dua bulan atau lebih. Ia terbiasa 'menghilang' setelah menyelesaikan sebuah proyek untuk mengistirahatkan dirinya. Namun rasanya, dua bulan akan terlalu lama di sini. Terlebih setelah pernikahan Lena. Apa ia bisa melihat gadis itu dan suaminya setiap hari di sini?           Byron menghela napas dan bangkit dari tidurnya. Bahkan setelah kelakuan jalang gadis itu, Byron masih tidak bisa membencinya. Sebenarnya apa yang membuatnya sangat mencintai Lena? Padahal, bisa dibilang gadis itu memiliki terlalu banyak sifat buruk. Apa memang benar bahwa cinta selalu membutakan segalanya? Atau dirinya saja yang terlalu bodoh?           Seandainya bisa, ia ingin seperti Zoe yang bisa berkata tidak untuk menjadi pendamping pengantin Lena. Ia tidak ingin mengambil bagian dalam sesuatu yang pastinya akan membuat hatinya semakin sakit. Namun kenapa ia tidak mampu untuk berkata tidak?           Langit tampak cerah saat Bryon keluar dari rumahnya. Pemandangan alam di Sault selalu menakjubkan baik itu siang ataupun malam. Terlebih saat musim panas seperti ini. Kadang, ia ingin kembali tinggal di sini bersama ayah dan ibunya. Hidup normal sebagai anak pemilik toko roti.           Byron sadar orangtuanya kini tak lagi muda. Seharusnya, ayahnya sudah waktunya untuk beristirahat di rumah dan tak lagi bekerja. Menikmati masa tua bersama ibunya. Dan seharusnya, dialah yang bertanggung jawab meneruskan usaha ayahnya itu.           Langkah kaki Byron membawanya menyusuri jalanan yang sepi. Harum lavender yang tertiup angin tercium di indera penciumannya. Suasana di Sault benar-benar damai dan tenang. Sangat jauh berbeda dengan New York yang hiruk pikuk seolah kota itu tidak pernah tidur. Mungkin, nanti saat ia menua, ia akan menghabiskan hari tuanya di sini seperti yang dilakukan ayah dan ibunya. Menghabiskan sisa usia bersama dengan istrinya.           Byron terkekeh sendiri. Dia tidak pernah ingin menjalin hubungan serius lagi setelah dengan Lena. Apalagi terpikir untuk menikah. Oke, itu berarti ia akan menghabiskan hari tuanya di Sault seorang diri. Apakah itu terdengar sangat menyedihkan? Seorang Lord Byron Moreau yang di puja lebih dari separuh gadis muda di Amerika, menghabiskan hari tuanya seorang diri tanpa adanya istri maupun anak.           Tawa Byron lolos dari bibirnya. Benar-benar sebuah pemikiran yang sangat jauh dari angannya. Ini benar-benar konyol. Kesunyian Sault pasti telah mengacaukan otaknya. Dia butuh pulang ke New York dan butuh 'tidur'.           Langkah kakinya terhenti saat dia melihat asap rokok mengepul dengan seorang pria yang tengah duduk bersila di pinggir kebun lavender yang baru saja dipanen. Tadinya, Byron pikir itu seorang pekerja kebun, tetapi saat ia berjalan lebih dekat, Byron bisa mengenali sosok itu dengan jelas.           “Zac? Apa yang kau lakukan di sini malam-malam begini?”           Bertemu pria itu di sini tentu bukan satu hal yang ia harapkan, tetapi itu bagus juga untuk pengalih pikirannya. Ia butuh melakukan sesuatu atau bicara dengan seseorang atau apalah itu yang bisa membuat pikirannya berhenti memikirkan sesuatu yang tidak penting.           Zac menoleh dan tersenyum kecil seraya kembali menyesap rokoknya. “Hanya menenangkan pikiranku.”           Byron mendekat dan duduk di samping Zac. Zac mengulurkan bungkus rokok miliknya dan Byron mengambil satu batang. Dia hampir tidak pernah merokok, tetapi mungkin mencoba satu batang malam ini tidak ada salahnya.           “Gugup menjelang pernikahan?”           Zac tertawa pelan. “Rasanya empat puluh delapan jam cepat sekali.”           Byron justru merasa sebaliknya. Ia merasa waktu berjalan sangat lama sekali. Ia hanya ingin segera bebas dari 'tugasnya' mendampingi Lena dan pergi dari sini untuk melupakan sakit hatinya. Atau, ia bisa membuat keputusan untuk mundur dari menjadi bagian dalam pesta pernikahan itu.           Hah! Ia benar-benar merasa seperti perempuan karena patah hati yang tak kunjung usai ini. Seandainya ada seseorang yang bisa mengalihkan perhatiannya dari Lena. Seorang gadis yang cantik, seksi, dan menyenangkan. Bayangan Zoe melintas di kepalanya saat Byron memikirkan tentang gadis pengalih perhatian itu. Zoe luar biasa cantik dan sangat seksi dengan kakinya yang panjang. Yah, meskipun mereka lebih sering bertengkar saat bertemu, tetapi sepertinya itu tidak terlalu buruk.           “Di mana Zoe?”           Oh, sial! Kenapa dia menanyakan hal itu??           Zac menoleh padanya dengan curiga. “Kenapa kau bertanya?”           Rasanya, Byron ingin menggigit lidahnya sendiri hingga putus dan tidak bisa bicara lagi. “Aku hanya bertanya. Apa salah?”           Zac tetap menatapnya tajam tanpa suara selama beberapa saat, kemudian berpaling dan kembali menghisap rokoknya.           Tanpa sadar, Byron mengembuskan napas yang tidak sengaja telah ditahannya sejak tadi. Ia benar-benar harus segera pergi dari tempat ini sebelum otaknya semakin kacau.           “Dia bertengkar hebat dengan Lena tadi sore.”           Byron terhenyak. “Ada apa?”           Sejak awal Zoe sampai di sini, rasanya Byron biss melihat 'hubungan' Lena dan Zoe yang tidak terlalu baik. Lena bisa dibilang sangat acuh pada calon adik iparnya itu, dan Zoe selalu bersikap tidak peduli. Zoe bahkan lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri atau malah bertemu orangtua Byron daripada bersama Lena atau keluarganya.           “Zoey-ku tidak mau menjadi bridesmaid Lena karena Lena mengganti gaunnya dengan warna lain. Lena marah, tetapi Zoe lebih marah lagi. Adikku tidak akan mengalah jika dia sudah punya keinginan.”           “Dan kau tidak mencegah mereka?”           Zac mengangkat alisnya. “Apa para pria pernah menang melawan perempuan?”           Byron tertawa dan terbatuk karena asap rokoknya sendiri lalu memilih untuk mematikannya. Dia selalu payah dalam urusan merokok.           “Lalu siapa yang menang di antara mereka berdua?”           “Tentu saja Zoey! Dia bahkan mengancamku akan pulang ke New York malam ini juga jika tetap memaksanya untuk menjadi bridesmaid.”           “Jadi kau lebih memilih membela adikmu daripada calon istrimu?”           Apa saudara selalu seperti itu? Apa benar perumpamaan yang berkata bahwa darah lebih kental daripada air? Hal itukah yang lebih membuat Zac lebih membela adiknya daripada calon istrinya sendiri?           Zac menoleh dan tersenyum padanya. “Hanya Zoey yang aku miliki di dunia ini, Byron. Aku dan Lena mungkin memang akan menikah, tetapi siapa yang tahu nanti ke depannya ada sesuatu di antara kami. Sedangkan Zoe, sampai kapanpun dia adalah adikku. Orang yang memiliki darah yang sama yang mengalir di tubuhku. Satu-satunya yang tersisa dari keluargaku.”           Byron tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa orangtua. Ya Tuhan, itu pasti sangat buruk sekali. Seandainya boleh, tentu ia akan memohon agar orangtuanya hidup selamanya. Hidup tanpa saudara sudah cukup buruk kadang-kadang. Dia tidak ingin membayangkan hidup tanpa orangtuanya juga satu saat nanti.           “Apa pekerjaanmu?”           “Aku pilot Air France.”           Byron menaikkan alisnya. “Kau warga negara asing dengan badan penuh tato bisa menjadi pilot di Perancis?”            Apa Zac begitu istimewa hingga dia bisa menjadi pilot dengan badannya yang penuh tato itu? Dia lebih tampak seperti pria nakal pengangguran daripada seorang pilot.           Zac tertawa mendengar pertanyaan itu. “Ayah dan kakekku adalah legenda di maskapai itu. Aku beruntung karena mereka. Dan meskipun dulu aku sama sekali tidak ingin menjadi pilot, tetapi aku tahu hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membuat mereka bangga.”           Byron bisa menangkap nada getir dalam suara Zac. Dia tidak pernah memiliki saudara ataupun sahabat dekat, tetapi Byron tahu Zac menyimpan kepedihan dalam dirinya karena ditinggalkan orangtuanya.           “Ayahmu meninggal karena kecelakaan pesawat?” Byron bertanya dengan hati-hati. Bagaimanapun, topik mengenai orang yang sudah meninggal adalah topik yang sensitif.           Zac menggeleng. “Itu adalah apa yang selalu ayahku inginkan untuk meninggal, tetapi tidak, dia meninggal karena kecelakaan mobil bersama ibuku. Mereka akan menghadiri kelulusanku hari itu.” Suara Zac menghilang di akhir kalimatnya dan lelaki itu tertunduk sedih.           Oh, Byron bisa membayangkan bagaimana hancurnya Zac saat itu. Hari di mana seharusnya dia berbahagia, menjadi hari yang paling menyedihkan untuknya. Dan Zoe, berapa usia Zoe saat itu?           “Zoey dua belas tahun saat itu dan dia baru saja menyelesaikan ujiannya untuk masuk JHS.” Zac menjawab pertanyaan Byron yang tak terucap.  “Saat mendengar tentang kecelakaan orangtuaku, dia tidak menangis, tidak histeris, dan tidak seperti gadis kecil pada umumnya. Dia hanya terdiam di depan kamar mayat dan memelukku yang menangis tersedu-sedu di sampingnya.”           Zoe kecil yang malang. Mungkin memang dia tidak menangis saat itu, tetapi Byron yakin, gadis itu pasti menyembunyikan kesedihan yang lebih mendalam di dalam dirinya. Zoe kecil pasti menelan sendiri semua kesakitan dan kesedihannya.           Ya Tuhan, seandainya Byron berada di sana saat itu dan bisa memeluknya. Entah mengapa, jantungnya ditikam oleh rasa sakit yang tidak pernah dia rasakan saat membayangkan hal itu. Rasanya seolah ada pisau yang ditancapkan di sana. Tepat di jantungnya.           “Adikku gadis yang kuat dan sangat mandiri. Dia tidak manja lagi sejak kepergian Mom dan Dad. Dia bersikap jauh melebihi usianya saat itu. Tapi aku tahu, adikku rapuh di dalam dirinya, bahkan hingga saat ini.”           “Kenapa kau tidak mengajaknya tinggal di Perancis?” Jika mereka hanya berdua, seharusnya Zac mengajak Zoe tinggal bersamanya di Perancis sehingga dia bisa menjaganya.           “Dia menyukai pekerjaannya di New York dan tidak mau pindah. Dia ingin tinggal di rumah masa kecil kami. Aku menghargai itu karena kini dia sudah dewasa, tetapi tetap saja aku khawatir.” Mata Zac menerawang ke langit luas. “Dia butuh seseorang untuk menjaganya. Dia tidak akan bisa hidup seorang diri selamanya.”           Ya, Byron juga percaya itu. Semua manusia tidak akan bisa hidup seorang diri selamanya. Akan selalu ada saat di mana dia membutuhkan seseorang. Entah untuk melindunginya, menjaganya, mencintainya, atau untuk diperhatikannya. Itu sudah ketentuan Tuhan sejak penciptaan manusia.           “She'll find someone.” Byron menepuk bahu Zac dengan pelan.           “Aku harap begitu. Dia tidak ....” Zac menutup mulutnya saat menyadari dia hampir saja membuka sebuah rahasia.           “Dia tidak apa?”           Zac menggeleng dengan sedikit gugup. “Tidak. Lupakan saja. Aku akan pulang, sudah lewat tengah malam. Pengantin pria juga harus menjaga penampilannya kan?” Zac bangkit dari duduknya dan membersihkan celananya dari rerumputan kering yang menempel. “Selamat malam, Byron.” Dia berbalik untuk pulang lebih dulu.           “Zac!” Byron berteriak sebelum lelaki itu menjauh.           Zac berhenti dan berbalik. “Ada apa?”           “Katakan pada Lena, aku mengundurkan diri menjadi best man-mu.” .....           “Kau b******k, Byron!! Apa maksudku dengan mengundurkan diri?? Kau pikir ini audisi??”           Byron hanya terdiam menatap Lena yang berdiri dengan marah di hadapannya. Amat sangat marah kalau dia boleh menambahkan. Ini masih pagi, dia belum cukup tidur, dan gadis ini sudah membangunkannya hanya untuk marah-marah.           “Tidak. Aku hanya tidak ingin menjadi bagian dari pernikahanmu.”           “Oh! Kau bersekongkol dengan Zoe untuk membuat pestaku berantakan. Iya kan??”           “Jangan bawa-bawa Zoe!”           Lena melotot semakin lebar padanya. “Kau tetap akan menjadi best man besok!!”           Byron menggeleng dengan tegas. Dia tahu keputusannya ini benar dan memang seharusnya sudah sejak lama dia melakukan ini.           “Tidak. Aku akan datang tapi hanya sebagai seorang tamu. Bukan best man.”           “Aku akan membencimu seumur hidupku, Byron!! Kau b******k!!”           Lena pergi dari hadapannya dengan masih sangat marah dan Byron tidak memiliki keinginan untuk mengejarnya karena dia tahu keputusannya kali ini benar. Benar kan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN