“Tidak masalah, Sis. Yang terpenting sekarang ini adalah aku mendapatkan pekerjaan dahulu.” ucap Aruna yakin.
Siska ragu sejenak, suaranya merendah. "Tapi Aruna, kau ini lulusan terbaik Universitas Eldoria. Kau punya masa depan cerah. Sayang sekali kalau kau harus masuk ke dunia seperti ini. Apa kau yakin? Sekali kau masuk, namamu akan tercemar di kota ini."
Aruna menatap ke arah jalanan yang gelap. Ia membayangkan wajah ibunya yang pucat dan adiknya yang ketakutan di rumah. Harga dirinya yang setinggi langit itu kini terasa seperti beban yang mencekiknya. Jika ia harus hancur, ia lebih baik hancur dengan caranya sendiri daripada menjadi tawanan di "Kamar Hasrat" milik Leonardi.
"Aku tidak punya pilihan lagi, Sis," ucap Aruna, suaranya mendadak dingin dan mantap. "Kirimkan alamatnya. Aku akan datang besok pagi-pagi sekali untuk audisi, atau malam ini jika mereka butuh. Aku terima tawarannya."
"Baiklah, kalau itu maumu. Datanglah besok jam tujuh malam ke pintu belakang The Velvet Room. Aku akan menunggumu." jelas Siska di seberang sana.
Telepon tertutup. Aruna menyandarkan kepalanya ke tiang halte. Ia sudah membuat keputusan. Aruna tahu betul, di kota Viance ini, jika kau berbakat sekalipun tapi berasal dari kelas bawah dan tidak ada koneksi, bisa dipastikan pekerjaan tidak akan ada yang menunggumu. Disini hal yang paling penting adalah kelas, kedudukan dan kekuasaan. Kejujuran dan bakat seolah tidak diharga
Ia akan terjun ke dunia gelap Viance demi uang itu, berharap ia bisa menyelamatkan keluarganya tanpa harus menyerahkan dirinya pada Leonardi Wiratama.
Namun, di kegelapan seberang jalan, sebuah mobil sedan hitam legam masih terparkir diam, mengawasi setiap gerak-geriknya dari balik kaca film yang gelap. Leonardi belum benar-benar pergi, ia hanya sedang menunggu mangsanya menyadari bahwa semua pintu di kota Viance sudah tertutup, kecuali pintunya. Leonardi masih menunggunya masuk ke dalam Obsidian Manor tempat kediaman Leonardi berdiri dengan angkuh.
"Aku tahu kau punya uang, Aruna! Kau lulusan terbaik, tidak mungkin kau tidak punya simpanan!"
Suara parau Yudha ayahnya menggelegar di ruang tamu yang berantakan, menghantam dinding-dinding rumah mereka yang reyot di Viance Bawah. Aruna baru saja menginjakkan kaki di rumah setelah berjalan menembus hujan, namun sambutan yang ia terima jauh lebih buruk daripada cuaca di luar.
"Ayah, berhenti! Ibu sedang sekarat di rumah sakit dan kau masih memikirkan judi?!" Aruna berteriak, suaranya pecah oleh kelelahan. Ia segera merentangkan tangan, melindungi Renata yang menangis sesenggukan di sudut ruangan.
Yudha, dengan mata merah yang liar dan napas berbau alkohol murahan, merangsek maju. Ia mencengkeram bahu Aruna dan mengguncangnya dengan kasar hingga kepala Aruna tersentak ke belakang.
"Jangan menceramahiku! Berikan tasmu! Aku butuh modal untuk mengembalikan kekalahanku malam ini, atau mereka akan mematahkan kakiku!"
"Tidak ada uang, Ayah! Tidak ada! Semuanya sudah habis untuk biaya rumah sakit!"
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Aruna. Kekuatan pukulan itu begitu besar hingga Aruna tersungkur ke lantai yang dingin dan berdebu. Telinganya berdenging, dan rasa besi dari darah mulai terasa di ujung lidahnya.
"Kakak!" Renata menjerit dan mencoba melerai, namun Yudha yang sudah dipenuhi amarah justru mendorong remaja itu. Tubuh kecil Renata terpelanting hingga kepalanya terbentur pinggiran meja jati tua.
Melihat Renata terkulai lemas dengan dahi yang mulai membiru, kemarahan Aruna memuncak melampaui rasa takutnya. Ia berdiri dengan sisa tenaganya, matanya menyala dengan penuh kebencian. "Pergi sekarang sebelum aku benar-benar memanggil polisi!"
Yudha meludah ke lantai, menatap kedua putrinya dengan tatapan penuh kebencian. Ia menyambar vas bunga murah di meja, membantingnya hingga hancur berkeping-keping, lalu keluar sambil membanting pintu kayu yang nyaris lepas dari engselnya.
Keheningan yang menyakitkan menyelimuti mereka. Aruna memeluk Renata yang gemetar hebat dalam diam. Di saat itulah, tekad Aruna memadat menjadi sesuatu yang keras dan gelap. Ia tahu ia tidak bisa menunggu sampai besok pagi. Nyawa ibunya di ujung tanduk, dan keselamatan adiknya terancam selama ayahnya masih berkeliaran.
Pukul 22.00 – Distrik Merah Viance
Lampu neon berwarna ungu dan merah darah menghiasi fasad The Velvet Room, klub paling eksklusif sekaligus paling gelap di jantung kota Viance. Aruna berdiri di koridor belakang, menatap pantulan dirinya di cermin retak. Ia mengenakan gaun hitam ketat pinjaman dari Siska, teman lamanya yang bekerja di sana. Gaun itu terasa terlalu pendek dan terbuka, mengekspos lekuk tubuhnya yang selama ini ia sembunyikan di balik blazer kerja yang sopan.
Riasan tebal di wajahnya bukan untuk kecantikan, melainkan untuk menyembunyikan bekas tamparan merah di pipi kirinya.
"Ingat, Aruna," Siska berbisik di koridor remang-remang yang berbau parfum mahal, alkohol, dan cerutu. "Kau hanya perlu menemani mereka minum. Jika mereka mulai kurang ajar, ada petugas keamanan di setiap sudut. Tapi malam ini ada tamu VVIP di ruang Diamond. Dia baru saja mem-booking satu lantai penuh. Manajer ingin kau yang masuk karena kau terlihat, berkelas. Tidak seperti gadis-gadis lain di sini."
Aruna menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan menyakitkan. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa mual. "Dua miliar, Sis. Apa aku benar-benar bisa mendapatkannya malam ini?"
Siska menatapnya dengan iba, namun juga dengan realitas yang pahit. "Jika kau bisa membuat tamu ini senang, uang itu bukan masalah baginya. Dia penguasa di kota ini, Aruna."
Siska mengusap bahu Aruna, memberinya dukungan terakhir, lalu membukakan pintu ganda besar yang dilapisi beludru merah pekat.
Aruna melangkah masuk ke dalam ruangan yang sangat luas namun minim cahaya. Asap cerutu tipis melayang di udara, menari di bawah temaram lampu kristal yang redup. Di tengah ruangan, duduk seorang pria di sofa kulit besar. Wajahnya tertutup bayangan, hanya ujung cerutunya yang menyala kemerahan di kegelapan, seperti mata predator yang sedang menunggu.
"Tamu Anda sudah datang, Tuan," ucap pelayan pria yang segera mundur dan menutup pintu dengan suara klik yang final.
Aruna berdiri mematung di tengah ruangan, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan. Ia meremas pinggiran gaunnya yang tipis. "Selamat malam, Tuan. Saya... saya Aruna. Saya yang akan menemani Anda malam ini."
Pria itu terdiam sejenak. Keheningan itu terasa seperti pisau yang mengiris saraf Aruna. Perlahan, pria itu meletakkan gelas kristal berisi cairan ambar ke atas meja kaca. Ia mencondongkan tubuh ke depan, hingga cahaya lampu gantung di atas meja menyinari wajahnya yang tegas, simetris, dan sangat dingin.
Manik mata gelap itu menatap Aruna dengan kilat kemenangan yang kejam.
"Sudah kubilang, bukan? Jalanan Viance sangat gelap malam ini." ucap pria itu.
Aruna tersentak mundur hingga punggungnya menabrak pintu. Tangannya menutup mulut karena terkejut yang luar biasa. "T-Tuan... Leonardi?"