Leonardi menyandarkan kembali punggungnya ke sofa, menatap Aruna dari ujung rambut hingga kaki dengan tatapan merendahkan yang menghancurkan sisa-sisa harga diri yang Aruna coba pertahankan. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis yang mengerikan.
"Kau lebih memilih tempat kotor ini daripada mansionku, Aruna? Sayang sekali," Leonardi menyesap minumannya dengan sangat tenang, "Tapi sepertinya nasib memang ingin kau tetap menjadi milikku. Karena di Viance, aku tidak hanya memiliki gedung perkantoran dan bank tempat kau memohon pinjaman. Aku juga pemilik tempat ini."
Leonardi berdiri perlahan. Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan panjang. Ia berjalan mendekat, langkah sepatunya yang berat bergema di lantai marmer. Aruna menelan ludah dengan susah payah.
"Kau butuh dua miliar untuk ibumu besok pagi, kan? Dan kau butuh perlindungan untuk adikmu dari ayahmu yang tidak berguna itu?" Leonardi berhenti tepat di depan Aruna, mengunci gerakannya.
Ia mengulurkan tangan, ujung jarinya yang dingin menyentuh pipi Aruna yang tertutup riasan tebal, tepat di bekas tamparan yang tersembunyi. Aruna gemetar, namun ia tidak bisa berpaling.
"Sekarang, berlututlah," perintah Leonardi, suaranya rendah namun memiliki otoritas yang mutlak. "Mari kita lihat apakah kau cukup layak untuk kubayar semahal itu."
"Kenapa diam saja? Bukankah kau datang ke sini untuk menjual waktumu?"
Suara Leonardi terdengar halus namun tajam, membelah keheningan di dalam ruang VVIP The Velvet Room. Aroma cerutu mahal dan alkohol kualitas tinggi seolah mengepung Aruna, membuatnya merasa terpojok di sudut ruangan yang luas namun tanpa jalan keluar itu.
"Aku adalah pembelinya, Aruna. Sekarang, berlututlah."
Aruna menatap mata Leonardi yang sedalam jurang hitam. Kata ‘berlutut’ itu menghantam harga dirinya lebih keras daripada tamparan ayahnya tadi malam. Di ruangan yang megah ini, Aruna menyadari bahwa Leonardi tidak menginginkan seorang analis data. Pria ini menginginkan boneka.
"Anda salah orang, Tuan Wiratama," desis Aruna. Suaranya gemetar, tapi bukan karena tunduk, melainkan karena amarah yang mulai membakar rasa takutnya. "Saya datang ke sini untuk mencari pekerjaan, bukan untuk menjadi peliharaan."
Leonardi berdiri tepat di hadapan Aruna, menjulang tinggi dengan aura d******i yang menyesakkan. "Aku hanya memastikan kau tidak membuang-buang waktu dengan pekerjaan yang tidak akan bisa membayar biaya rumah sakit ibumu tepat waktu. Kau butuh dua miliar dalam hitungan jam, bukan tahun. Dan di kota ini, hanya aku yang bisa memberikannya secara cuma-cuma."
Leonardi menyesap sisa minumannya, lalu meletakkan gelas kristalnya di atas meja dengan denting yang pelan namun terdengar seperti vonis mati. "Sekarang, ujian pertama. Ambilkan botol wine di meja itu, buka, dan tuangkan untukku. Tapi, jangan gunakan tanganmu."
Aruna terbelalak, matanya melebar karena terhina. "Apa maksud Anda? Itu menjijikkan."
"Gunakan mulutmu untuk mengambil botolnya, bawakan padaku. Jika ada satu tetes pun yang tumpah, aku anggap kau gagal dan pembayaran rumah sakit ibumu kubatalkan saat ini juga."
Aruna merasakan mual yang hebat di perutnya. Leonardi ingin menghancurkan martabatnya hingga tidak ada yang tersisa. Dengan air mata yang tertahan di pelupuk mata, Aruna perlahan menurunkan tubuhnya. Lututnya menyentuh lantai yang dingin. Ia membungkuk, merasakan bibirnya menyentuh leher botol kaca yang dingin.
Namun, tepat saat giginya menyentuh kaca itu, sesuatu dalam diri Aruna memberontak. Ia teringat kerja kerasnya, gelarnya, dan bagaimana ia bertahan hidup di distrik kumuh tanpa pernah menjual dirinya. Jika ia melakukan ini sekarang, ia tidak akan pernah bisa menatap cermin lagi.
Brak!
Aruna menyambar botol wine itu dengan tangannya, berdiri dengan sentakan kasar, dan membanting botol itu ke atas meja di depan Leonardi. Wine merah muncrat, membasahi meja kaca dan mengenai ujung sepatu mahal Leonardi.
"Cukup!" teriak Aruna. "Anda ingin menghancurkan saya? Silakan. Batalkan pembayarannya, biarkan saya hancur, tapi saya tidak akan merangkak seperti anjing di kaki Anda!"
Suasana ruangan mendadak menjadi sangat berbahaya. Leonardi tidak bergerak. Ia menatap noda wine di sepatunya, lalu perlahan mengangkat pandangannya ke arah Aruna. Kilat di matanya bukan lagi sekadar kepuasan, melainkan gairah gelap yang muncul karena tantangan.
"Kau berani menentangku di rumahku sendiri?" Leonardi berdiri, langkahnya pelan dan mengancam.
"Ini bukan rumah Anda, ini tempat pelacuran!" Aruna mundur, namun punggungnya menabrak dinding beludru. "Saya lebih baik mati kelaparan daripada menjadi mainan Anda!"
Leonardi tiba-tiba bergerak cepat. Ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Aruna dan menguncinya di atas kepala gadis itu, menekan tubuhnya hingga Aruna tidak bisa berkutik. Jarak mereka begitu dekat hingga napas Leonardi terasa panas di kulit Aruna.
"Kau pikir kau punya pilihan?" bisik Leonardi tepat di depan bibir Aruna. "Setiap detik kau melawan, kondisi ibumu semakin memburuk. Setiap detik kau berteriak padaku, ayahmu semakin dekat dengan maut. Kau ingin menjadi pahlawan yang bermartabat? Pahlawanmu akan berakhir di kuburan, Aruna."
"Lepaskan saya, monster!" Aruna mencoba menendang, namun Leonardi dengan mudah mengunci kakinya.
Leonardi merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah benda. Sebuah kalung choker hitam dari kulit dengan liontin kunci perak. "Pakai ini, atau aku akan memastikan tidak ada satu pun liang lahat yang tersedia untuk keluargamu di kota ini."
"Aku benci padamu," isak Aruna, air matanya akhirnya luruh.
"Bagus. Gunakan kebencian itu untuk bertahan hidup di tempatku," Leonardi memaksa kalung itu melingkar di leher Aruna. Bunyi klik penguncinya terdengar seperti jerat yang mengencang. "Katakan padaku, siapa pemilikmu sekarang? Katakan, dan uang itu akan cair dalam satu detik."
Aruna menatap mata Leonardi dengan tatapan yang bisa membunuh. Ia tidak akan pernah tunduk di dalam hatinya, tapi ia tahu ia kalah dalam permainan ini. "Leonardi, suatu saat nanti, aku yang akan melihatmu berlutut memohon ampun padaku."
Leonardi tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tanpa belas kasihan. Ia mencengkeram dagu Aruna, memaksanya melihat pantulan dirinya sendiri di cermin ruangan, seorang gadis cantik dengan gaun minim dan kalung pemilik di lehernya.
"Aku menantikan saat itu, Aruna. Tapi untuk sekarang, panggil aku Leon saat kita berada di balik pintu tertutup. Dan hapus air matamu. Aku tidak suka barang milikku terlihat cengeng."
Leonardi menyampirkan jas mahalnya ke bahu Aruna yang gemetar, sebuah tanda kepemilikan yang mutlak. Ia menarik tangan Aruna dengan kasar, menuntunnya keluar dari ruangan.
"Bram sudah menunggu di bawah," lanjut Leonardi tanpa menoleh. "Kita pulang ke Obsidian Manor sekarang. Kamar Hasrat sudah siap menyambutmu, dan jangan harap kau bisa tidur malam ini. Aku ingin kau belajar cara melayani pemilikmu dengan benar."
"Cukup! Hentikan semua kegilaan ini!" Aruna berteriak, suaranya pecah di tengah kemegahan ruangan VVIP yang dingin itu. Ia mundur selangkah, menepis tangan Leonardi dengan sentakan kasar saat pria itu mencoba menyentuh dagunya. d**a Aruna naik turun dengan tidak beraturan, setiap tarikan napasnya terasa seperti menelan duri.