Xander tidak percaya dengan tindakannya barusan. Telapak tangannya bergetar dalam pandangannya dan erangan frustasi memenuhi kepalanya. Bayang-bayang kesakitan—kecewa lebih tepatnya—terus menghantui. "Arrrgggggghhh!" Merutuki kebodohannya yang entah untuk keberapa kalinya, Xander menekan pelipisnya. Rasa pening menyambar sebagian kewarasannya. Dan rekaman atas tindakannya benar-benar menyita atensinya. Suara pintu berdedit mengalihkan pandangannya. "Aku tahu kau belum makan." Xander tersenyum simpul—terasa hambar. "Terima kasih Elle," ucapnya. "Mau kusuapi? Aku memasaknya khusus untukmu." Elle berjalan mendekat. Mendudukan bokongnya diatas pangkuan Xander yang berlanjut mendesah kecewa pada gelengan Xander. Sesuatu yang asing ketika Xander menolaknya menyentil

