Eiffel Tower Amora terduduk lesu diatas rerumputan. Angin sore menerbangkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya. Kedua bola matanya memandang kearah Nyonya Besar. Berdiri kokoh meski angin musim gugur menerjang. Musim gugur dipenghujung bulan menyambut musim dingin. "Kenapa kau begitu kuat tapi aku tidak? Kau bahkan tak merasa sedikitpun lelah, sedangkan aku lemah. Hanya karena satu lelaki." Amora bermonolog—sarkastik—kearah Nyonya Besar yang hanya diam mematung dan semakin menampakkan kesombongannya. "Aku sudah menyerah sekarang. Aku berhenti,” sambungnya. Dan lagi-lagi hanya desisan angin musim gugur yang menjawabnya. Beberapa orang yang lalu lalang menatapnya iba. Melihat bagaimana kusut wajahnya membuat orang-orang tahu jika gadis itu sedang patah hati. "Ka

