Amora berjalan memasuki sebuah restoran dan memesan beberapa makanan kesukaan Xander. Ya, tekadnya sudah bulat. Ia akan bertanya pada Xander soal lipstik juga parfum yang menempel pada kemejanya. Hal yang membuatnya harus mengabaikan Xander. Menjawab pertanyaan Xander dengan ketus. Dan bahkan bersikap kasar terhadap suaminya sendiri. Jika di pikir-pikir lagi, dirinya seperti remaja yang sedang cemburu memergoki pasangannya berkencan dengan gadis lain—tapi itu memang benar, kan? Bukankah wajar seorang istri mencemburui suaminya. Singkatnya, Amora pernah kehilangan. Pernah tidak diinginkan. Jadi bukan hal aneh ketika dirinya merasa di miliki dan hanya ingin menjaga. Namun di sini, berbeda cerita. Meski sedikit. Bukankah Xander suaminya? Yang seutuhnya hanya miliknya. Bukankah Xan

