Axel meringis kesakitan saat kepalanya dipukul. Beberapa kali Axel terlihat mengusap kepalanya. "Maaf Yah, namanya juga semangat membara," ujar Axel. "Kamu di belakang saja Xel! Badan kamu kan lebih tinggi dari yang lain. Kalau duduk seperti ini, akan susah nanti," titah ayah Viona, kesal. "Eh, tidak bisa Bro! Kalau Axel di belakang, yang ada kita kesusahan mengoper airnya nanti," protes pak Pradipta. "Terus bagaimana? Bagaimana kalau kita berdua bertukar posisi saja?" usul ayah Viona, tidak mau duduk di belakang Axel. "Hahaha... Sepertinya saya sudah nyaman duduk di sini Bro. Bagaimana kalau ajak Bagas tukar posisi?" ujar pak Pradipta, menolak duduk berdekatan dengan Axel. Bagas hanya bisa mendengus kesal. Menolak juga percuma, ketiga orang di depannya, benar-benar membuat Bagas sela

