bc

Genggam Tanganku

book_age18+
5
IKUTI
1K
BACA
family
HE
pregnant
arrogant
drama
bxg
like
intro-logo
Uraian

Denis memilih melepas cintanya karena yang dia cinta tidak sudi membalas cintanya. Diana adalah perempuan pertama yang memberikan kesan buruk bagi Denis dalam tahap mencintai. Diana adalah perempuan pertama yang membuat Denis hancur hanya karena cinta sehingga perceraian menjadi langkah terbaik untuk keduanya.Denis sudah memastikan cintanya pada Diana tidak ada lagi yang tersiksa. Hanya menyisakan kebencian pada Diana. Tapi, permainan takdir membawa Denis pada sebuah kisah yang rumit. Lima bulan sejak perceraiannya dengan Diana, untuk pertama kalinya dia bertemu dengan Diana dalam sosok yang lain.Menggoyahkan keyakinan Denis pada keyakinannya sendiri saat mengetahui fakta mengenai Diana yang membuat Denis hanyut dalam pusaran yang sulit menemukan titik akhir.Yang jelas, Denis ingin merengkuh Diana. Memastikan Diana tetap disampingnya dan dengan egoisnya dia tidak ingin Diana-nya pergi, lagi.

chap-preview
Pratinjau gratis
1 | Mama telfon Papa?
Denis pernah menggenggamnya dengan erat hingga akhirnya tak mampu lagi untuk menggenggamnya dan memilih melepaskannya walau tak mampu. Denis terlalu mencinta hingga lupa jika harga dirinya telah dirusak tanpa perasaan. Denis begitu mencinta namun selalu diabaikan dan memilih mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya. Singkatnya, Denis mencintai Diana namun tak mampu memilikinya. Melepaskan Diana bukanlah sebuah pilihan, namun sebuah keharusan yang mutlak sebelum dirinya semakin hancur. Dia berhak bahagia dan membuang jauh-jauh rasa cintanya pada Diana yang tidak mengharapkan cintanya. Waktu cepat berlalu dengan sejuta kenangan yang sulit untuk dilupakan namun menyakitkan untuk diingat. Sebab, semua kenangan yang lelaki itu miliki tidak ada yang indah, tidak ada yang berkesan sehingga tidak pantas untuk diingat. Kisah cinta, kehidupan, semuanya menyakitkan. Namun, dibalik semuanya ada kebahagiaan yang menanti. Pada akhirnya dia memenangkan semuanya, dia mendapatkan apa yang dia mau---mendapatkan harta paling berharga yaitu putri semata wayangnya, Chika. “Selamat pagi, Papa.” Suara nyaring yang berasal dari belakang tubuhnya itu sontak membuatnya menoleh, menerima pelukan hangat dari putrinya yang pagi ini terlihat cantik dengan seragam sekolahnya. Putri semata wayangnya kini menduduki sekolah Taman Kanak-kanak. Denis bersyukur karena putrinya tumbuh dengan baik dalam lingkaran yang menyakitkan dimana orang tuanya tak seperti orang tua teman-temannya. Semenjak perceraiannya dengan Diana, Denis tidak mendengar kabar Diana. Setelah perceraian mereka, Diana menghilang begitu saja. Sebenarnya Denis tidak mau tahu mengenai Diana, namun karena putrinya yang terus menanyakan keberadaan Mamanya membuatnya mencari tahu tentang Diana yang ternyata telah berhenti menjadi dokter kandungan, bahkan apartemen yang Diana tempati telah dijual dan saat dia mendatangi rumah orang tua Diana, orang tua Diana tidak menjawab pertanyaannya mengenai keberadaan Diana. Orang tua Diana justru menatapnya sendu dan berkata, “Dia tidak pantas untuk kamu cari. Berbahagialah kamu bersama putrimu. Kami akan sering-sering menemui cucu kami.” Sebenarnya ada yang mengganjal saat mendengar jawaban orang tua Diana namun dia membuang jauh-jauh sesak yang tiba-tiba hinggap di dadanya. Dia sudah bertekat melupakan Diana dan membuang jauh cintanya pada Diana. Semenjak perceraian itu, dia tidak mau lagi untuk jatuh cinta, cukup putrinya saja yang dia cintai. Dia takut mencintai perempuan mana pun, dia takut salah menjatuhkan hati yang berujung menghancurkannya. Cukup Diana, jangan ada Diana lainnya. Yang putrinya tahu jika Mamanya bekerja dan suatu saat akan kembali. Itu hanya bualannya saja agar putrinya tidak terus-menerus menanyakan keberadaan Mamanya. Denis ingin putrinya melupakan Diana. Dia mampu menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk putrinya. “Chika mau sarapan apa?” Tanya Denis setelah memberikan kecupan di kedua pipi putrinya yang kini duduk di sampingnya. “Chika pengen makan nasi goreng buatan Mama tapi Mama masih kerja.” Denis mengulum bibirnya. Jika boleh diingat, sudah lima bulan perceraiannya dan Diana. Lima bulan pula Diana menghilang bak ditelan bumi. Selama lima bulan ini putrinya selalu mengatakan kalimat yang sama, ingin memakan masakan Diana. Membelai pipi sang putri, Denis tersenyum kecut. “Chika kan, bisa makan makanan yang sudah Mbok Titi masak. Nanti kalau Mama sudah pulang kerja Chika bisa makan makanan yang Mama masak sepuasnya. Jadi, untuk sekarang Chika makan apa yang ada ya, Sayang. Chika harus makan, kalau tidak makan nanti Mama makin lama kerjanya karena Chika jadi kurus.” “Chika kangen Mama, Papa. Papa bisa telfon Mama? Chika cuma mau bilang ke Mama kalau sekarang Chika udah mau sekolah.” Tatapan Denis menyendu namun tetap tersenyum cerah. “Mama sibuk kerja, Nak. Kalau Chika ganggu nanti kerjaan Mama gak selesai-selesai. Lagian Papa sudah kasih tahu Mama kalau Chika hari ini sekolah. Mama bilang karanya Chika jangan nakal di sekolah, harus belajar dengan baik, nurut sama perintah guru dan sampai rumah belajar jangan sering-sering main biar pintar,” Denis tahu ini salah. Namun dia tidak memiliki pilihan lagi selain berbohong kepada putrinya untuk membuat putrinya bahagia. Dia cukup waras dengan tidak berkata sejujurnya pada putrinya jika dia tidak tahu dimana keberadaan Diana. Dia tidak mau membuat putrinya sedih. “Mama telfon Papa?’ Denis mengangguk. “Kapan? Kenapa Mama gak telfon Chika? Mama marah ya sama Chika karena Chika nakal?” Denis tersenyum lembut. Dia tidak tahu kenapa menyakitkan melihat putrinya yang merindukan Mamanya. “Mama gak marah sama Chika. Mama telfon Papa pas tengah malam, Chika lagi tidur dan Papa gak mau Chika terganggu tidurnya nanti kalau Chika kurang tidur bisa sakit. Nanti biar Papa sampaikan salam Chika ke Mama ya.” Putrinya itu mengangguk antusias. Setelahnya, tidak ada lagi percakapan yang terjadi karena Denis langsung menyuapi putrinya. Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan putrinya yang kadang kala membuatnya sesak dan merasa jahat karena menjauhkan putrinya dari Mamanya. “Sudah siap?” Denis menatap putrinya yang baru saja selesai menghabiskan susunya. Melihat putrinya yang mengangguk antusias membuat Denis tertawa dan langsung menggendong putrinya menuju mobilnya. Hari ini pertama kalinya putrinya sekolah, awal yang baru untuk putrinya dengan teman baru dan kegiatan baru pula. Selama perjalanan menuju sekolah, putrinya itu terus berceloteh ria dan bertanya seperti apa rasanya sekolah dan lain sebagainya membuat Denis kewalahan menjawabnya. Putrinya sangat cerewet dan itu menggemaskan. “Nanti Papa yang jemput Chika?” Denis yang baru membuka pintu mobil untuk putrinya menganggukkan kepala yang membuat putrinya berseru senang dan langsung mengulurkan kedua tangan padanya, minta digendong. Dengan senang hati Denis menggendong putrinya memasuki kelas putrinya yang telah ramai oleh anak seusia putrinya dan orang tua murid yang menemani anaknya. “Papa gak kayak mereka?” Denis mengikuti arah pandang putrinya yang menunjuk seorang Ibu duduk bersama anaknya di dalam kelas. “Chika mau ditemani Papa sekolahnya?” Terlihat putrinya itu mengangguk sebelum akhirnya menggeleng. “Chika gak mau. Kata Nenek, Chika sudah besar jadi kalau sekolah harus sendiri lagian Papa kerja cari uang buat Chika.” Denis mengembangkan senyumnya. Dia mendudukkan putri di bangku depan dekat jendela. Diusapnya puncak kepala putrinya dan mendaratkan kecupan di pipi dan kening putrinya sebelum berlalu pergi. “Papa berangkat kerja dulu ya. Chika belajar yang benar, jangan nakal.” “Siap, Papa. Papa hati-hati dan semangat kerjanya. Chika sayang Papa.” Denis mengacak gemas puncak kepala putrinya. “Papa juga sayang Chika.” Setelahnya, Denis berlalu pergi. Namun baru beberapa langkah dirinya meninggalkan kelas putrinya, dia mendengar teriakan putrinya yang membuatnya sontak kembali memasuki kelas putrinya dan menemukan putrinya berdiri di depan kelas. “Chika kenapa ada di luar kelas, Sayang?” Tanyanya khawatir menangkup wajah putrinya yang menatap sekitar. “Chika cari apa?” “Mama.” Jantung Denis berdegup kencang. Namun sebisa mungkin dia terlihat biasa-biasa saja. “Sayang, Mama lagi kerja.” “Mama ada di sini, Papa. Barusan Mama berdiri di sini, Mama senyum ke Chika. Chika mau kejar Mama tapi Mama pergi. Papa gak lihat Mama?” Denis menggeleng lemah. Raut wajahnya berubah drastis mendengar perkataan putrinya. Ini tidak bisa dibiarkan, dia harus mencari tahu keberadaan mantan istrinya. Dia tidak mau putrinya sampai seperti ini, meski tidak yakin---kemungkinan putrinya berhalusinasi. “Papa gak lihat. Chika mungkin salah lihat. Mama lagi kerja, Sayang. Chika sekarang masuk kelas ya, belajar yang benar nanti Papa jemput.” Mendapat anggukan dari putrinya, Denis berdiri di depan pintu kelas putrinya, memastikan putrinya duduk di tempat duduknya hingga guru datang dan memulai kelas, barulah Denis berlalu pergi. Tatapannya mengawasi sekitar, tidak ada yang mencurigakan namun dia merasa ada yang mengganjal. Tapi apa? Apa benar Diana ada di sini? Memasuki mobil, Denis memukul kuat setirnya dan meremas rambutnya. Diana, dia tidak mengerti kenapa disaat dia ingin membuka lembaran baru bersama putrinya, bayangan perempuan itu menghantuinya. Diana memang perempuan yang melahirkan putrinya, tapi Diana bukan Ibu yang baik untuk putrinya dan perempuan itu tidak seharusnya dirindukan begitu besarnya oleh sang putri.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.3K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.2K
bc

Beautiful Pain

read
13.7K
bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

Revenge

read
35.6K
bc

Penghangat Ranjang Tuan CEO

read
34.1K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
6.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook