bc

Lost Stars

book_age12+
2
IKUTI
1K
BACA
badboy
goodgirl
student
drama
comedy
bxg
highschool
secrets
slice of life
addiction
like
intro-logo
Uraian

Setelah menjauh dari kehidupan lama, kini Natasya tidak bisa lagi membedakan mana rasa sayang, rasa cinta, dan rasa ketergantungan.

Karena hal itu, Daniel pun datang ke hidupnya. Mencoba membuka hati dan mata Natasya.

Keduanya sama-sama mendatangkan warna yang unik di kehidupan. Tapi, apakah Natasya akan tetap bisa membuka hatinya untuk seseorang? walaupun bisa membukanya apakah ia bisa tahu yang dirasakannya adalah rasa sayang atau ketergantungan?

chap-preview
Pratinjau gratis
1 : New Students
"Dasar pembunuh!" "Hati-hati ada pembunuh di sekolah kita" "Temen nusuk temen, padahal sahabatnya baik banget tapi kok tega ya?" "Pinter doang di pelajaran, di kehidupan ternyata psikopat ya" "KAMU APAIN ANAK SAYAA SAMPAI DIA BISA MATI HAH??!?" DIAM!! Please diam .. Aku capek ... Tolong semuanya berhenti. Aku pengen semuanya stop sampai sini Aku ga bersalah, bukan kesalahanku.. Kenapa harus aku? Please jangan datang lagi ... ••• Nuuutt nuuutt nuuutt 05 : 45 AM Suara alarm yang menyaring itu berbunyi begitu kencang hingga membangunkan gadis remaja yang sedang tertidur di atas sofa kamarnya. Saat membuka matanya, dia merasakan kedua kelopak mata miliknya begitu dingin dan basah. Gadis itu segera beranjak ke kaca dan melihat penampilannya. Terlihat lebih kusut daripada kemarin-kemarin. Lagi lagi dia menangis dalam tidurnya. Karena tidak ingin mengingat lagi hal-hal buruk bahkan mimpi yang hari ini dialami olehnya, gadis itu segera beranjak ke kamar mandi untuk bersiap ke sekolah barunya. Setelah selesai, dirinya pun memakai seragam barunya. Terlihat pas dan menarik, warna seragam atas yang berwarna putih berlengan pendek dan rok abu-abu tepat di lututnya membuat penampilannya cocok sekali menjadi primadona sekolah. Rambutnya ia cepol ke atas, memakai sedikit sunscreen dan bedak juga lipbalm agar bibirnya tetap lembab dan wajahnya terlindungi dari sinar matahari nanti. Sebelum keluar kamar, gadis itu menyempatkan diri untuk berkaca sekedar merapihkan baju, rambut, muka, dan juga kembali mengecek isi tasnya. Dia takut ada yang lupa untuk dibawa hari ini namun ternyata semua sudah lengkap. Gadis itu kembali berkaca dan melihat penampilannya dari bawah hingga atas lalu kembali lagi kebawah, tak lupa senyuman cantik yang ia paksakan untuk keluar dari bibirnya. Tidak terlihat palsu sama sekali, layaknya badut yang selalu tersenyum namun dibalik topengnya ia menyimpan semua emosi, kesedihan, dan keterpurukan. Baiklah waktunya berhenti untuk bersedih-sedih dan saatnya untuk keluar kamar bersiap menghadapi hari baru, tempat baru, dan mungkin teman baru. "I'm ready now," ucapnya berusaha semangat walau didalam hatinya dia benar-benar tidak bersemangat dalam hal apapun namun bagaimanapun ia harus bisa menghadapi hari ini, hari baru dengan senyum manisnya. Sambil membawa tas kecil di lengannya, gadis itu keluar dari kamarnya dengan kedua sudut bibirnya yang naik ke atas. Menyapa kedua pasangan yang sudah berada di meja makan. Yang satu sedang membuka ponselnya sementara yang satunya lagi menyiapkan sarapan untuk suaminya. Mata wanita itu tertuju pada anak perempuannya yang baru saja keluar kamar menuju ke arahnya. "Ehh cantiknya Mom udah cantik aja," puji ibu gadis itu. Gadis itu tersenyum membalas pujiannya diakhiri kekehan kecil. Matanya memberikan tatapan tulus juga senyuman yang tak kalah tulusnya, "Haha Mom bisa saja," setelah itu gadis itu duduk di hadapan ibunya, menaruh tas di samping tempat duduknya. Mengambil sepotong roti dan selai strawberry kesukaannya. Ibu nya pun menuangkan segelas s**u untuknya dan menaruhnya di samping anaknya itu. Melihat itu, anaknya pun tersenyum manis padanya, walau ibunya tahu kalau luka itu masih membekas padanya namun ia harus berusaha untuk tidak tahu apapun. Karena bagaimanapun yang bisa menyembuhkan luka masa lalu adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Tiba-tiba seorang pria jangkung berbadan bidang muncul dan mengacak-acak rambut gadis yang berumur lima tahun lebih muda darinya. "Aduhh adeknya abang bae bener buatin roti buat abang ya dek?" "Ihhh abang apasi itu kan punya Asya! Jangan diambil dong!" geramnya sambil memanyunkan bibirnya karena tiba-tiba abangnya pun datang dan mengambil roti yang baru saja ingin ia masukkan ke dalam mulutnya. Abangnya hanya memberikan kekehan dan ekspresi tanpa merasa berdosa, singkatnya WaTaDos. Ya tau lah .. Selucknut itu terkadang. "Udah, kamu bikin lagi aja ya sya? ini buat abang aja, udah abang lahap juga emang kamu mau makan makanan bekas iler abang hm?" "Ih abang mah!" "Udah Asya, sama Mom dibikinin lagi ya? Nih buat kamu," ujar ibunya sambil memberikan roti baru yang sudah diolesi dengan selai strawberry. Gadis yang bernama Natasya itu pun menerima rotinya namun bibir manyunnya tidak luput hilang dari wajahnya. "Makasih mom, tapi Asya tetep kesel rambut Asya diacak sama bang KELEK" "Heh apa apaan bang kelek?! Emang kamu kira abang bau ketek apa?" "Ih emang iya, ga nyadar?" "Ohh ngebully abang nih ceritanya? Kamu berani sama abang nih sya?" bully ... Seketika Natasya langsun terdiam saat Alex langsung mengucapkan kata "bully" itu. Sepintas ingatan-ingatannya yang dulu muncul lagi, tanpa ia sadari keringat dingin mulai kembali muncul hingga ia merasakan kalau perutnya seperti diremas dan rasanya sangat mual hingga ingin memuntahkan semua yang ada di dalamnya. Kedua orang tuanya, juga Alex sadar dengan apa yang terjadi pada Natasya. Seketika ayahnya pun langsung mencairkan suasana. "Ehhh udah jam berapa ini? Kalian harus ke sekolah, pasti macet di jalan. Ayo ayo cepet! Dad ga suka anak-anak dad manja dan lelet." ucap sang ayah sambil tersenyum dan mengusap rambut Natasya dengan lembut, merapihkan kembali rambutnya yang tadi sedikit acak-acakan karena ulah Alex. "Siap siap .. !" jawab Alex langsung bangun dari duduknya dan mengambil kunci motor miliknya. Begitupun dengan Natasya karena mulai hari ini keduanya akan selalu berangkat bersama. Saat baru saja ingin memakai tasnya di pundak, tiba-tiba ibunya langsung membalikkan badan Natasya menghadap depan, memasukkan sebuah kotak kecil yang sedikit berat ke dalam tasnya. "Kenapa Mom? Itu apa yang dimasukkin?" "Bekel buat kamu, simpan uang kamu ya Sya. Biarin Dad suka kasih uang jajan tambahan diem-diem tapi usahain buat tetep nabung ya?" Natasya pun terkekeh kecil akan perhatian ibunya. Terasa kalau tasnya sedikit lebih berat karena bekal yang dimasukkan ke dalam tasnya. Ibunya menepuk tasnya dua kali lalu kembali membalikkan tubuh anaknya ke hadapannya. "Have fun ya? Pokoknya kalo ada yang keliatan mau macem-macem, kamu teriak aja okay? Harus hati-hati juga, pilih pilih temen. Jangan maen baik sama orang, ga semua orang sebaik yang kamu kira, terus—" "Mom, Asya paham. Udah ya bawelnya hehe," ucap Natasya memotong pembicaraan ibunya. Karena kalau tidak dipotong olehnya, ibunya akan tetap berbicara dan membuatnya telat di hari pertamanya. Natasya langsung mencium tangan ibunya dan pergi keluar menyusul abangnya yang sedang menunggu di atas motor hitamnya. Terlihat keren untuk abang yang berjarak 5 tahun diatasnya, jaket kulit berwarna dark brown, helm Ruroc Atlas berwarna senada motornya dengan sedikit garis garis tipis kecil berwarna kuning di samping helmnya. Alex memberikan helm Bogo untuk Natasya, dan memakaikan untuk adiknya itu. Natasya sedikit tersenyum saat Alex memakaikan helm itu untuknya. Setelahnya kedua kakak beradik itu naik ke atas motor dan berangkat bersama. Jalanan kota metropolitan terlihat ramai hari ini, tak sedikit orang-orang yang sedang terburu-buru untuk berangkat kerja, kuliah, atau bahkan pergi sekolah sama seperti Alex dan Natasya. Natasya masih setia meremas kantung jaket Alex sembari melihat pemandangan sekitar. Jakarta selalu ramai, entah jam berapa atau kapanpun itu. Dipenuhi dengan gedung-gedung tinggi, mall mewah, bahkan tempat tempat yang bergengsi. Paket lengkap. Tempat yang sangat modern dan keindahannya tidak main-main disaat malam tiba. Setelah 30 menit dijalanan yang super macet dan sempit, akhirnya mereka tiba. Walau pada akhirnya Alex harus mengambil jalur pintas namun masih penuh dengan motor-motor. Kalau Alex tidak mengambil keputusan itu pasti mereka akan tiba lebih lama disini. Alex memarkirkan motornya di tempat yang sudah menjadi singgasana bagi kendaraannya juga teman-temannya. Kebetulan hari ini teman-teman Alex sedang menunggunya di tempat parkiran, jadi setibanya lelaki itu dengan Natasya membuatnya disoraki meriah oleh teman-temannya. Alex tersenyum miring, norak. Itu yang ia pikirkan tentang teman-temannya. Mereka belum tahu saja yang ia bawa dibelakangnya adalah adiknya, pasti mereka bersangka kalau Natasya adalah gebetan ataupun pacarnya. Melainkan bukan. "Wuuuhh sape tuuu," "Bening bening uwiwiw nih pasti," "Gile gileee Alex maen sikat anak orang aje," "Kapan PDKT-nya nih?? Gue ga pernah liat lo deket sama cewe manapun lek," Alex dan Natasya pun akhirnya turun dari motor. Abangnya itu membantunya untuk membuka pengait di helm Bogo yang dipakai oleh Natasya. "Idih dihh soswit bener ni orang segala pake bukain helmnya," "Bukan Alek ini bukan" "Apasi anjir ini adek gue! Bukan pacar bukan gebetan." jawab Alex yang langsung membuat teman-temannya langsung terkejut tak main. Alex membuka helmnya dan menaruhnya di spion motor. Natasya langsung merapihkan rambutnya, dan terkejut di sekelilingnya banyak sekali pria yang dimatanya terlihat menakutkan. Kembali mengingatkannya akan masa lalunya. Natasya spontan menurunkan kepalanya, meremas-remas bagian bawah roknya, sadar bahwa telapak tangannya mulai keluar keringat dingin dan jantungnya berdegup begitu kencang. Sepertinya hari pertamanya akan sulit untuk dilewati. Alex melirik ke arah Natasya yang terlihat sepertinya penyakitnya kembali kambuh. Bergegas ia menggenggam tangan adiknya itu, mengusapnya dengan pelan dan lembut. "Udah ya, ade gue ga biasa deket-deket sama lakik apalagi kek lo lo pada. Gue mau anterin dia ke kantor kepsek dulu. Kalian duluan aja ke kelas," setelah itu Alex membawa Natasya pergi dari parkiran menuju ruang kepala sekolah. Akhirnya Natasya merasa aman saat sudah menjauh dari kerumunan lelaki itu, karena yang sedang berkumpul disana bukan 1-2 orang, melainkan belasan teman-teman geng milik abangnya. Lepas dari lelaki, kini cibiran para siswi kembali terdengar dan masuk ke dalam telinga Natasya. "Ih dia siapa?" "Pacar baru yayang Alex?" "Ih bebeb Alex selingkuh" "Ga secantik gue kok bisa jalan dampingan sama Alex sih?!" "B aja ah, gaya banget pasti simpenan." "Kayanya anak baru, gapernah liat, pake pelet apaan ya?" Alex merasakan Natasya mencengkram tangannya dengan sangat erat, seakan-akan berusaha menahan cibiran itu semua. Alex tahu apa yang dirasakan oleh adiknya itu, seharusnya ia melarang adiknya untuk pergi ke sekolah dan membuatnya untuk home-schooling. Namun Alex juga tidak bisa memaksanya, bagaimanapun ia ingin memperlakukan adiknya dengan sangat baik, memanusiakan manusia. Natasya punya pilihan dan harus dia sendiri yang memilih ingin kemana dan bagaimana. Pada akhirnya pilihan itu jatuh untuk pergi sekolah ketimbang sekolah rumah, mau tidak mau Alex harus bisa menjaganya sebaik mungkin dan Natasya sendiri harus bisa berjuang untuk mengalahkan traumanya di masa lalu. Ruang Kepala Sekolah Begitulah yang tertera pada papan kecil yang menggantung di depan pintu coklat mahogani itu. Alex mengetuk pintu beberapa kali hingga ia membuka kenop pintunya lalu berjalan masuk bersama Natasya. "Permisi .." sapanya sopan. Terlihat pak kepala sekolah yang sedang membuat kopi itu langsung membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang datang dan ternyata itu salah satu siswanya bersama dengan siswi baru. "Iya ada apa ya? Silahkan duduk," titah pak kepsek untuk duduk di bangku yang berhadapan dengannya. Alex dan Natasya pun hanya mengangguk. Keduanya duduk bersampingan, sementara pak kepsek baru saja duduk dengan secangkir kopi hitam di mejanya. "Kamu siswi baru itu ya?" Natasya pun hanya mengangguk-angguk. "Baik, jadi begini.." Pak kepsek mulai berbicara dan Natasya hanya mendengarkan dengan seksama. Menjelaskan tentang peraturan, mata pelajaran, dan juga hal-hal lain. Kriing Kriing Kriing "Nah, bel nya sudah berbunyi. Sekarang kamu bisa pergi ke kelas baru kamu. Semoga kamu bisa nyaman ya disini," Natasya dan Alex pun keluar dari ruangan itu. Rasany sedikit menyesakkan karena semenjak hari itu Natasya mulai membatasi dirinya dengan orang-orang kecuali keluarganya sendiri. Alex mengantar Natasya hingga ke depan kelasnya. Sebelum masuk, Natasya melihat papan kecil yang berada di atas pintu kelasnya. "Kenapa?" Natasya ingin bilang kalau ia takut. Takut karena tidak bisa bersosialisasi, bully, dan sebagainya. Semua pikiran itu kembali dan membuat tangannya kembali gemetar. Alex melihat buliran-buliran air mulai muncul dari pelipis Natasya. Lelaki itu dengan sigap menenangkannya. "Gapapa, lo bisa kok, ya? Kalo ga nyaman, lo bisa telepon gue dan gue bakalan dateng buat lo. Okay?" Natasya mengangguk kecil dan memberanikan diri masuk ke dalam kelas, ternyata sudah ada guru yang merupakan wali kelas baru yang sudah menunggunya. "Nah ini dia, anak baru yang bapa ceritain sama kalian. Sini nak," panggilnya, Natasya kembali gemetar sedikit dan menyembunyikan tangannya di balik roknya. "Langsung aja perkenalkan diri," ujar bapak wali kelasnya itu. Natasya terdiam di hadapan 30 siswa siswi yang berada di kelasnya. Sempat terdengar bisikan bisikan kecil tentangnya, namun tekad Natasya kuat. Ia kemari untuk belajar mencari ilmu bukan mendengar ocehan tidak berguna seperti itu. Sejenak ia menghiraukan semuanya, dan mulai memperkenalkan diri. Dengan rok yang ia remas menggunakan jemari kecilnya, menutupkan rasa demam panggungnya, Natasya mulai bersuara di hadapan semuanya. "H-halo semuanya, nama aku Natasya Xavier Reinhart, pindahan dari salah satu sekolah di Bandung. Salam kenal semuanya .." •••

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

GARKA 2

read
6.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

TERNODA

read
198.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook