bc

Galaxy

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
CEO
drama
tragedy
comedy
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Jenny mau tak mau harus mengikuti kemauan orang tuanya, dia harus meninggalkan pacarnya yang dia cintai. Tetapi dia juga tidak ingin pria itu menderita. Orang tuanya yang kaya raya tidak mau anaknya berpacaran dengan pria miskin. Ayahnya tidak mau harga diri dia sebagai kepala keluarga tercemarkan karena putri satu - satunya berpacaran dengan pria rendahan.

Jenny yang tidak mau Bima terancam karena ayahnya, terpaksa dia harus pergi ke luar kota meneruskan pendidikannya agar tidak menemui Bima lagi.

Ayahnya menjodohkan dia dengan pria kaya lebih tua 10 tahun darinya. Perlakuan pria itu yang sangat perhatian kepada jenny membuatnya jatuh cinta. Semua yang dia lakukan hanya kebohongan semata.

Akankah Jenny akan mempertahankan CEO kaya itu? atau kah kembali bersama mantannya yang menolong Jenny dari kebohongan ini?

chap-preview
Pratinjau gratis
PROLOG
Arin menangis di balik selimut kasurnya. Dia baru saja memutuskan pacarnya yang sangat dia cintai, sebenarnya dia tidak mau harus berpisah dengan Bima. Ayahnya tidak menyukai Bima karena berasal dari keluarga yang miskin. Beliau yang merupakan orang yang sangat menjaga martabatnya, dia menyuruh anak buahnya untuk menghabisi Bima agar menjauhi putri kesayangannya. Arin tak mau Bima semakin menderita karenanya. Oleh karena itu, dia memutuskan Bima dan mengikuti kemauannya ayahnya untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. "Arin Sayang," Mama Arin, Reina, menenangkan putri satu - satunya itu. Selama ini hanyalah Reina yang mengerti perasaan Arin, dia orang yang selalu berada di samping Arin jika Arin sedang bersedih. "Udah, Nak. Jangan nangis lagi," bujuk Reina. "Tapi mah, Bima pasti membenciku. Dia pasti berpikir kalau aku orang yang jahat," Air mata Arin mengucur deras hingga membasahi pipinya ketika dia mengingat momen Arin memutuskan. Flashback! "Arin!" Bima memeluk Arin yang baru saja keluar dari mobil milik ayahnya. Selama ini dia dikurung oleh ayahnya agar dia tidak bisa bertemu dengan Bima. Ayahnya juga menyita handphonenya agar Arin tidak berkomunikasi dengan Bima. Semua hal yang bersangkutan dengan Bima , dia larang. "Arin, kamu gapapa? kamu baik - baik aja , kan? Aku sayang sama kamu. Arin, aku merindukanmu." Bima mengutarakan semua isi hatinya yang selama ini dia pendam, dia sangat - sangat merindukan sosok wanita ini. "Arin kamu kenapa? Kenapa kamu engga jawab? kenapa kamu diam aja? tolong katakan sesuatu, tolong katakan kau juga merindukanku." Arin terdiam mencoba berusaha untuk tetap tenang. Dia tahu, dia juga sangat merindukan Bima tapi semua itu tidak mungkin Arin katakan. Sekarang ayah dan anak buahnya mengawasi mereka, Arin tidak mau ayahnya mencurigainya. Dia sudah berjanji dan bertekad untuk mengakhiri semua ini. Dia tidak boleh berhenti begitu saja hanya sikap dan perlakuan Bima terhadapnya. "Arin, tolong katakan sesuatu. Aku sayang kamu, kamu juga menyayangiku kan?" "Bim, sudah, cukup." Bima tergelak melihat sikap Arin yang melepaskan kedua tangan darinya. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Arin selamanya. Sikap Arin terhadapnya membuat hatinya sedikit terluka. "Kamu kenapa, apa yang terjadi dengan diri kamu, Rin?" Lagi - lagi Arin menghempaskan tangan Bima agar menjauh darinya. "Aku mau kita putus," JLEB! Bagai pohon tersambar petir, dadanya terasa sakit saat mendengar ucapan Arin barusan. "Kamu jangan bercanda, Rin. Ini tidak lucu." "Aku sedang tidak bercanda Bima, aku mau sekarang kita putus." "Tapi, kenapa? bukannya kita saling menyayangi? ini pasti karena ucapan ayahmu bukan? aku sudah bilang padamu agar tidak mendengarkan ucapannya, aku pasti akan mencari solusi biar kita akan tetap bersa-" "Cukup! gausah kamu bawa - bawa ayah aku lagi. Dunia ini luas Bim, banyak hal yang tidak kamu ketahui, selama ini aku tidak benar - benar mencintaimu. Jadi, kita akhiri saja hubungan kita ini." Arin berlari meninggalkan Bima. Saat Bima ingin mengejar Arin, anak buah ayah yang sedari tadi mengawasi, menahan tubuh Bima. "Arin, tunggu aku! kamu tidak bisa meninggalkan aku seperti ini!" "ARIN!!!" Mobil melaju meninggalkan Bima sendirian. Setelah mobil mulai menjauh dan tak terlihat, Arin menangis kencang. Dia sudah tidak bisa menahan tangisannya lagi. END FLASHBACK Hingga saat ini Arin masih menangis, hatinya juga terluka meninggalkan Bima dengan cara yang jahat. Tetapi semua itu dia lakukan agar Bima tidak mengejarnya dan hidup dengan tenang. Walaupun Arin juga tidak tahu apakah cara nya itu benar atau salah. "Arin, kerja bagus. Terima kasih sudah memutuskan Bima dan mengikuti perintah Ayah." Kai-Ayah Arin, memasuki kamar setela mendengar suara tangisan Arin. "PERGI! AKU TIDAK MAU MELIHAT WAJAHMU LAGI!" "Arin! jaga ucapanmu! kau tidak pantas berteriak seperti itu kepada ayah." "AKU TIDAK PERNAH MAU PUNYA AYAH SEPERTI MU!" "CUKUP!" Suasana ruangan tiba - tiba menjadi panas, Reina yang melihat perkelahian mereka hanya bisa menenangkan tubuh Arin yang gemetaran. "Kau semenjak berpacaran dengan pria itu, kau menjadi anak yang tidak tahu diri. Kau tidak pernah lagi mendengarkan perkataan ayah, kalau kau memang sudah tidak mau tinggal bersama lagi dengan kami. Lebih baik kamu tinggalkan keluarga ini dan pergi jauh. Jangan pernah kamu minta bantuan ayah lagi." Kai pergi dari kamar meninggalkan Reina dan Arin yang tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan. Arin memeluk Reina dan menangis sejadinya - jadinya. Hatinya yang sudah hancur semakin hancur ketika ayahnya membentak dan mengusir dirinya. "Sudah sayang, jangan menangis lagi. Jangan dengarkan ucapan ayah barusan, dia sangat menyayangi kamu. Tidak mungkin dia tega mengusir anaknya sendiri." hibur Reina menenangkan Arin yang menangis terisak. Setelah keadaan mulai mereda, Reina membaringkan tubuh Arin ke kasur dan menyelimuti tubuh Arin dengan selimut. "Mah, jangan tinggalin Arin, Arin ga mau sendirian." Arin memegang tangan Reina erat. "Iya, mama ga akan kemana - mana. Mama akan tetap disini nemenin kamu." ucap Reina setelah itu menemani Arin hingga dia tertidur lelap. Saat tangan Arin mulai mengendur, Reina melepaskan tangan Arin darinya kemudian mencium kening Arin sebelum meninggalkan kamarnya. "Tidur nyenyak, sayang." *** Reina keluar dari kamar Ari dan menutup pintunya perlahan. "Gimana kondisi Arin?" Kai yang ternyata daritadi sedang duduk di sofa sambil menatap layar ponselnya menanyai keadaan Arin. Reina pun mendekati Kai dan duduk disampingnya. " Kenapa tidak kamu periksa saja sendiri?" ucap Reina. "Kamu kan tahu sendiri kalo Arin marah sama aku," "loh kan yang buat dia marah juga kamu, Lagian kenapa juga harus lakukan itu semua ke Arin, kamu jangan terlalu keras terhadap Arin, mas" "Tapi maksud aku baik mah, aku tidak mau Arin berhubungan dengan pria yang tidak jelas. Aku ingin Arin punya masa depan yang cerah, menikah dengan pria yang layak, tidak seperti pria miskin itu." Reina menghela nafas panjang, dia menahan untuk tetap sabar. "Mas, kamu ga boleh begitu, mau bagaimanapun juga Arin anak kita. Kita gaboleh melarang - larangnya, Arin juga punya hak untuk memilih pasangannya. Dia punya hati dan perasaan juga, seperti kita mas," Kai hanya tertunduk. Reina ada benarnya. Selama ini dia terlalu mengengkang Arin, semua keinginan yang dia mau selalu di turuti oleh Arin, sedangkan dia yang Arin pun tidak pernah meminta macam - macam , kau tak mau mendengar kemauan Arin. Sebenarnya dia melakukan ini untuk kebaikan Arin atau untuk dirinya sendiri? "Bima itu anak yang baik pah, Arin sangat mencintai Bima. begitupun sebaliknya. Bima pasti akan menjaga Arin. Tolong untuk sekali ini saja, pak. Biarkan Arin tetap bersama Bima, kasian Arin." bujuk Reina dengan wajah puppy eyes memegang tangan kai dan memohon kepadanya. Namun seketika wajahnya berubah saat Kai menolaknya. Padahal dia sudah rela memasang wajah memelas agar suami nya ini mendengarkan perkataannya, tapi hasilnya nihil. "Engga, engga. Mamah gaboleh terlalu memanja Arin. Ini semua tuh demi kebaikan Arin dan keluarga kita mah, apa kata teman - teman papa kalo Arin berhubungan dengan pria miskin itu. Mau taroh muka dimana papa." Reina yang mendengarnya merasa kesal. Dia meninggalkan suaminya itu sendirian. "Seterah papa mau taroh muka dimana, di atap kek, di lantai kek, di wc kek, mama ga peduli, mama ngantuk mau tidur," "loh? mah kok papa ditinggal sih." "Bodoamat!" Hari mulai gelap, Arin yang sebenarnya daritadi belum tidur mendengar semua percakapan ibu dan ayahnya. Dia mencoba bangun dan membuka kaca jendelanya, menatap galaxy yang hanya bisa di liat di desa ini. "Bima," Bersambung.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
66.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook