Part 9

1172 Kata
Sebuah ketukan pada pintu memaksa Ananta untuk beranjak dari kegiatannya melihat layar ponsel. Entah sudah berapa lama ia memandang layar ponselnya hanya untuk mencari pekerjaan baru. Zaman sekarang memang sulit mencari pekerjaan apabila tidak ada koneksi dari orang dalam. Tapi Ananta yakin dia bisa melakukannya. Yang terpenting tetap berusaha dan berdoa. "Siapa?" tanyanya sambil membuka selot pintu. Ketika tak kunjung mendapatkan jawaban, ia membuka pintu dan matanya membelalak ketika menemukan sosok menjulang tinggi di depan pintu rumahnya. "Chris!?" pekiknya. "Morning..." sapa pria itu ramah diiringi senyum terbaiknya. "Ba-bagaimana bisa kamu tahu tempat ini?” tanya Ananta heran. “Sangat mudah bagiku untuk menemukan tempat tinggal bagimu karena aku memiliki CV-mu,” jawabnya santai. Penjelasan Chris memang masuk akal dan membuat Ananta tak bisa menjawab apa-apa. “Lalu apa tujuanmu ke sini?" tembaknya langsung dengan kedua tangan terlipat di atas d**a. Ananta tidak heran jika Chris mendapatkan alamat rumahnya. Pastilah dari data para karyawan di hotelnya. Jadi ia tidak perlu pura-pura dan bertanya dari mana pria itu mendapatkan alamatnya. Dalam balutan kaos polos putih dipadu jas hitum dan celana hitam yang membalut seluruh tubuhnya dengan baik membuat Chris tampak lebih muda dan tampak fresh pagi ini. Sangat berbeda dengan penampilannya yang sangat formal tadi malam. Tak ada jejak yang memperlihatkan jika dirinya adalah CEO. Meski begitu tetap saja keangkuhan masih tercetak jelas di wajahnya. "Mengajakmu keluar,” jawab Chris singkat. Dua kata tersebut sukses membuat kening Ananta menyatu. "Kamu tidak mudah menyerah ya. Atau kamu memang tidak mengerti bahasa Indonesia?” sindirnya. "Kamu mengenalku dengan baik. Jadi aku rasa kamu tidak perlu alasan untuk menolak ajakan ini, kan?" ucapnya bersemangat. Ananta memandang Chris dalam bingung. Menolak hanya akan membuat pria di hadapannya ini semakin gencar untuk menemuinya. Sama saja dengan menambah frekuensi pertemuan di antara mereka. Maka keputusan untuk menerima ajakannya kali ini sepertinya bisa ia jadikan waktu untuk menjelaskan semuanya kepada Chris. "Baiklah. Hanya untuk kali ini saja. Oke?" hela Ananta. “Entahlah. Soal itu aku tidak bisa berjanji.” Chris tetaplah Chris meski sepuluh tahun telah berlalu. Tetap angkuh dan gigih. Sama seperti ketika sepuluh tahun yang lalu. Dengan malas Ananta membukakan ruangan untuk Chris masuk ke dalam rumahnya dan meminta pria itu duduk menunggu sementara dirinya berganti pakaian. Lima belas menit kemudian, Ananta telah berdiri di hadapan Chris yang sedang duduk di salah satu sofa kulit cokelat ruang tamunya. Pria itu mengangkat wajahnya dan memandang penampilan Ananta dengan kagum. "Kenapa? Ada yang aneh dengan penampilanku?" Tadi Ananta sempat mengutuk dirinya sendiri yang tidak sempat bertanya ke mana Chris akan membawanya dan bagaimana bisa dia menyetujui ajakan pria itu setelah apa yang terjadi diantara mereka sepuluh tahun yang lalu? Apa yang membuat Ananta melupakan kebenciannya pada Chris? Padahal baru berapa jam mereka bertemu? Belum sampai dua puluh empat jam! "Tidak. Perfect!" Harus diakuinya Ananta tampak cantik di dalam balutan dress putih dengan lengan sesiku dan panjang selutut. Dipadu tas selempang bulat kecil yang menggantung di bahu kirinya. Dia tampak lebih muda dari umur aslinya. "Let's go!" Entah sudah berapa lama mereka bersisian di dalam Teana hitam ini tanpa sata kata pun yang meluncur. Ananta yang tidak tahan dengan situasi seperti berusaha memecah kesunyian. "Ke mana kamu akan membawaku?" Chris menoleh sedetik sebelum kembali fokus menyetir. "Kamu akan tahu begitu kita tiba." Ananta menghela napas panjang. Percuma. Usahanya sia-sia. Chris selalu seperti itu. Bersikap semaunya. Maka ia pun kembali untuk diam ditempatnya. Untunglah jalan raya ibu kota sedikit bersahabat hari ini. Tak lama kemudian Teana milik Chris berhenti di depan sebuah rumah megah dengan dua pilar besar yang memperlihatkan kekuatannya. "Rumah siapa ini?" tanya Ananta heran. "Rumahku," jawab Chris singkat. "Rumahmu!?" pekiknya. "Kenapa kamu membawaku ke rumahmu? Aku mau pulang." Chris memiringkan tubuhnya dan memandang Ananta yang mulai melakukan aksi protes. "Tunggu apalagi? Tolong buka pintunya dan biarkan aku pulang!" Nada kesal tampak jelas di dalam suaranya. "Kamu sudah berjanji untuk menurutiku kali ini, Ananta. Jadi tak ada alasan untukmu pulang." "Aku tidak berjanji padamu. Aku hanya berkata jika aku mau keluar denganmu untuk pertama dan terakhir kalinya. Aku tidak pernah berjanji apapun padamu!" "Baiklah jika memang seperti itu. Aku tidak akan menuntutmu. Jadi kamu tidak perlu sepanik ini." Chris tersenyum. Senyum hangat yang sudah tidak asing bagi Ananta sejak pertemuan mereka kemarin. "Aku hanya ingin membawaku ke rumahku. Apa itu salah?" tanyanya dengan kedua tangannya terlipat di atas dadanya. "Salah, jika aku yang tidak memiliki hubungan apapun denganmu mendahului kekasih atau istrimu untuk menginjak rumahmu," sahut Ananta. "Tenang saja Ananta. Aku masih single jika kamu ingin tahu statusku. Jadi bisakah kita turun sekarang tanpa ada acara kejar-kejaran layaknya polisi dan tahanannya?" canda Chris yang sukses membuat Ananta membuka mulutnya tidak percaya. "Kamu terlalu percaya diri," dengus Ananta. Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Kamu bisa percaya padaku. Tapi hanya untuk kali ini saja." "Baiklah!" Chris terkekeh lalu membuka pintu mobil. Melangkah masuk ke dalam rumah tersebut, Ananta langsung disambut oleh ruang tamu dengan sofa Eropa berwarna putih gading dengan dua meja sudut di sisi kiri dan kanan. Sebuah lampu meja berwarna senada berdiri tegak diatasnya. Karpet persia berwarna gold terhampar di bawah meja oval ditengahnya. Jelas sekali siapa saja yang melihatnya langsung mengetahui mahalnya properti di rumah ini. Padahal semua itu baru ruang tamu. Belum properti lainnya. Melihat sofa tersebut saja Ananta yakin jika harga sofa dan karpet tersebut mampu membeli sepuluh sofa miliknya di rumah. Bahkan lebih. Siapa yang peduli. Sultan mah bebas. "Duduklah dulu. Aku masuk sebentar." Ananta yang sedikit kebingungan hanya menurut dan memilih duduk di salah satu sisi sofa panjang. Lima menit kemudian seorang perempuan paruh baya datang dengan sebuah nampan berisi segelas cairan oranye di dalamnya. "Silahkan diminum, neng." "Terimakasih," gumam Ananta. Tapi bukannya pergi, ibu paruh baya itu malahan mengamati wajah Ananta. Seakan sedang menilai dirinya dilihat dari cara pandang sang ibu yang melihat dirinya dari atas kepala hingga kaki. "Cantik. Pantas saja Chris tidak pernah membawa perempuan selama ini. Ternyata dia sudah punya toh..." ujar perempuan paruh baya itu pada dirinya sendiri. Meski begitu, tetap saja Ananta dapat mendengarnya. "Kenapa bu?" tanya Ananta hati-hati. "Ah..tidak. Bukan apa-apa, neng. Silahkan diminum dulu..." Selesai mengatakannya wanita paruh baya itu pamit dan masuk ke dalam rumah. Dalam kesendiriannya Ananta menyeruput minuman tersebut dan pandangan matanya jatuh pada satu buah foto. Dimana Chris tampak gagah berdiri di belakang wanita dan pria paruh baya yang kemungkinan adalah kedua orangtuanya. Dilihat dari wajah mereka yang mirip. "Terpesona karena ketampananku?" ujar Chris memecah lamunan Ananta yang entah sejak kapan sudah duduk bersandar di sofa single. "Tidak. Pria yang satu lagi lebih menarik perhatianku," kilah Ananta. "Itu ayahku. Kamu akan menyesal jika tahu pria macam apa dirinya," bisik Chris. "Sama seperti penyesalanku ketika aku mengenalmu?" balas Ananta tegas. Chris tersenyum pahit. Sepuluh tahun telah berlalu tetap saja perbuatan terkutuknya masih diingat dengan baik. Bahkan meski ia sujud di hadapan perempuan ini, Ananta belum tentu akan memaafkannya. Entah apa yang harus dilakukannya untuk membuat Ananta memaafkannya? "Aku harus bagaimana supaya kamu memaafkanku atas kesalahanku 10 tahun yang lalu?" Ananta terdiam. Dadanya sesak ketika kilasan sepuluh tahun yang lalu muncul di dalam kepalanya. "Pergilah dari hadapanku dan jangan pernah muncul lagi. Karena hanya dengan melihat wajahmu saja membuatku mengingat apa yang sudah kamu lakukan sepuluh tahun yang lalu." "Meski aku bukan pelaku sebenarnya?" Saat itulah mereka saling berpandangan. Waktu yang berdetak seakan berhenti. "Apa maksudmu?" desis Ananta. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN