Part 4

1322 Kata
Tanpa terasa sudah satu minggu Ananta bekerja di Axie Hotel. Meski harus menahan rasa rindu pada Joana, tapi ia harus bisa bertahan untuk menyenangkan hati putri semata wayangnya. Karena baginya Joana adalah napas hidupnya. "Selamat beristihat," ujar Ananta seraya menyerahkan kunci kamar pada tamu yang baru saja memesan sebuah kamar. Pasangan pria dan wanita yang membuat siapa saja melihat mereka akan merasa iri akan kemesraan yang mereka umbar. Pasangan pengantin baru dari Makassar datang ke Jakarta untuk mengunjungi salah satu kerabat mereka yang sedang sakit. "Enaknya jadi pengantin baru. Bikin iri aja," keluh Diana. Rekan kerja sekaligus seniornya. Faktanya dia sudah bekerja satu tahun di hotel ini. Memiliki kekasih yang sudah dikencaninya selama hampir dua tahun. Tapi, sampai sekarang kekasihnya yang bekerja di salah satu dealer mobil belum melamarnya hingga saat ini. "Makanya segera menikah. Pasangan sudah ada jadi tunggu apalagi?" ejek Ananta. "Tunggu hujan duit, mbak," jawabnya sambil terkekeh. Alhasil Ananta ikut tersenyum mendengar jawaban dari gadis muda itu. Usia mereka yang terpaut lima tahun tidak membuat keakraban di antara mereka menghilang. Sehingga membuat Ananta menjadi betah bekerja di hotel ini. Dan bagian terbaiknya hingga saat ini dia tidak bertemu dengan pemilik hotel yang memiliki nama sama dengan pria dari masa lalunya. Selesai bekerja, Ananta berganti pakaian dan meraih tote bag yang tergantung di loker miliknya. Tanpa diduga ponselnya berdering. Melihat nama yang tertera pada layar maka ia pun segera menjawab. "Ya, Sar..." "Bisa ke sini nggak? Aku lagi di kafe seberang hotel nih." "Bisa kok. Tunggu ya." "Oke. Aku tunggu ya." Lima menit kemudian Ananta sudah duduk berhadapan dengan Sarah. Setelah memesan secangkir s**u cokelat hangat, barulah Sarah membuka percakapan di antara mereka. "Sori ganggu waktumu..." ucap Sarah diiringi senyum hangat di bibirnya. Menambah kecantikan di wajahnya. Sudah cantik di hati, cantik pula wajahnya. Membuat Ananta yakin jika perempuan mana yang melihat dirinya pasti iri. "Nggak kok. Pas banget aku baru mau pulang. Jadi nggak ganggu," hibur Ananta. "Syukur deh kalau begitu. Bagaimana kerjanya?" "Baik. Aku masih beradaptasi sih. Thanks buat bantuannya. Nanti jika aku mendapatkan gaji pertama, akan aku balas kebaikanmu ini." "Nggak usah. Aku cuma bercanda soal itu," cegah Sarah sambil mengangkat sebelah tangannya. "Aku tulus membantumu. Lagian juga mungkin pekerjaan itu memang milikmu. Jika tidak mana mungkin kamu diterima. Toh kenyataannya kamu diwawancara dulu, kan? Jadi aku rasa sebagian besar pekerjaan ini kamu dapatkan karena hasil kerja kerasmu sendiri." Ananta mengangguk setuju dan mengakui kebenaran yang diucapkan oleh Sarah. Tapi di dalam hati ia tidak setuju dengan pernyataan itu. Sebaliknya ada pertanyaan besar di dalam hatinya. Apa benar karena bantuan Sarah atau seperti yang dikatakan Robby? Atau karena nama Chris Josepha mengenalnya? Atau memang karena kemampuannya sendiri? "O iya, tujuanku mengajakmu ketemu aku ingin memberitahumu jika nanti kita ada reuni." "Reuni?" Kening Ananta bertautan. Mendengar kata reuni berhasil membuat bulu kuduknya meremang. "Ya. Reuni sepuluh tahun sejak kelulusan kita. Teman-teman kita sudah merancang acara reuni ini di beberapa media sosial. Acaranya akan diadakan satu bulan dari sekarang. Dan pas banget mereka ingin mengadakan acara tersebut di Axie Hotel. Jadi, aku ingin memastikan kamu datang ke acara tersebut!" jelasnya antusias. Berbeda dengan Ananta yang tampak tidak bersemangat. "A...aku tidak bisa janji, Sar. Lagipula aku harus kerja," sahut Ananta beralasan. "Soal itu nggak usah kamu pikirkan. Aku bisa bicara pada Chris untuk mengizinkanmu libur hari itu," jawabnya santai sambil menyeruput jus jeruknya. Mungkin pekerjaannya sebagai sekretaris membuat mereka memiliki hubungan dekat sehingga seperti sekarang dengan mudahnya Sarah mengatakan hal itu. "Ch-...Chris?" Dalam hati Ananta berharap jika Chris yang disebut oleh Sarah bukanlah pria yang dihindarinya selama sepuluh tahun ini. "Ya, Chris Joshepha. Kamu masih inget, kan?" kata Sarah mengingatkan. Mendengar nama lengkap pria itu tanpa sadar tubuh Ananta gemetar. Sekuat tenaga ia mengepalkan kedua tangannya untuk menutupi ketakutan yang mulai merayapi hatinya. Jadi benar, jika pemilik Axie Hotel adalah Chris Josepha. Laki-laki yang telah merenggut masa depannya! Laki-laki yang paling dibencinya. "Ananta? Are you okay? Kamu tampak pucat!" tanya Sarah ketika melihat perubahan pada diri Ananta yang tiba-tiba. "A-aku baik-baik saja. Hanya saja..." Keringat dingin mulai mengalir di beberapa bagian tubuhnya. Rasa dingin di dalam ruangan kafe ini seakan menusuk dagingnya hingga ke tulang sekalipun. "Sebaiknya aku pergi. Maaf..." lanjut Ananta lalu bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan Sarah yang penuh tanda tanya. Sesampainya di rumah, Ananta tak mampu lagi menahan perasaannya. Ia menyandarkan tubuhnya pada pintu dan perlahan menjatuhkan diri ke lantai. Isak tangis perlahan mulai lolos dari bibirnya. Mengapa ia harus mendengar nama pria itu lagi setelah hidupnya tenang selama sepuluh tahun ini? Tak bisakah takdir membuat dirinya hidup dalam damai sejenak saja? *** Senyum menghiasi bibir Ananta. Meski pernyataan cintanya telah ditolak olehnya, ternyata Peter tetap bersikap baik padanya. Sebenarnya bukan seperti yang ia katakan pada Chris alasan sebenarnya ia menolak Peter. Jujur saja, hati kecilnya menyukai Peter dari pada Chris. Dalam benaknya Peter tampak tampan di balik seragam putih abu-abunya selama tiga tahun ini. Belum lagi usahanya mendekati Ananta selalu ada saja yang membuat dirinya tersenyum. Entah karena roti dan s**u kotak yang dibeli laki-laki itu untuk Ananta setiap hari atau karena ucapan konyolnya yang lucu selalu berhasil membuat dirinya tertawa. Kehadirannya setiap hari menimbulkan rasa nyaman bagi Ananta. Sampai suatu hari rasa nyaman itu harus terpaksa dihilangkan. Hari itu kebetulan Peter tidak masuk sekolah. Rasa penasaran yang memenuhi hatinya berhasil mendorong Ananta untuk bertanya pada salah satu teman laki-laki itu. Setelah mengetahui jika alasan Peter tidak masuk sekolah dikarenakan sakit. Maka Ananta berusaha mencari alamat laki-laki itu dari beberapa temannya. Dan ketika ia berhasil mendapatkannya, sepulang sekolah Ananta langsung menyambangi rumah besar Peter. Siapa sangka rumah Peter sangatlah besar. Rumah putih gading dengan pagar yang sangat tinggi membuatnya tampak bagai istana dengan dua pilar di depannya. Lampu kristal lobby rumah yang berkilat-kilat saja sudah memperlihatkan kemegahannya. Belum lagi dua mobil sport dan satu motor ninja kesukaan Peter terparkir manis di carport. "Duduk dulu aja ya neng, biar bibi panggil den Peter," sambut seorang ibu paruh baya dengan dua warna rambut disanggul. Ananta mengangguk dan memilih duduk di salah satu kursi di ruang tamunya. Kursinya yang licin membuat Ananta sedikit takut menggores atau m*****i kursi tersebut. Karena ia berani jamin jika harganya tidaklah murah. Karena sudah dua menit berlalu tapi ibu paruh baya itu tak kunjung datang, maka Ananta memutuskan untuk mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan. Di sisi kanannya tampak beberapa frame foto dengan berbagai ukuran tergantung di dinding yang putih bersih. Di mana wajah Peter dan ibunya tergantung di sana. Mulai dari bayi hingga usianya saat ini. Ketika Ananta mulai menikmati satu demi satu foto, tak lama kemudian terdengar langkah mendekat. Tapi sayangnya bukan wajah Peter yang muncul melainkan seorang wanita cantik berambut panjang. Wanita itu tidak mengeluarkan suara sampai akhirnya duduk tegak berhadapan dengan Ananata. Pakaiannya tampak formal memperlihat betapa dia berasal dari kalangan atas. Wanita itu mengenakan dress ungu berlapis blazer dengan warna senada dipadu kalung mutiara menghiasi lehernya. Sangat cantik dan elegan. "Perkenalkan saya Nada, ibunya Peter," kata wanita itu membuka percakapan. "Se-selamat siang tante. Saya Ananta, teman sekolahnya," jawab Ananta sopan dengan tangan terulur. Namun sayangnya tak ada sambutan dari Nada. Sebaliknya wanita paruh baya itu tampak lebih sibuk memperhatikan Ananta dari ujung kepala sampai ujung kaki seakan sedang memberikan penilaian. "Jadi, apa tujuan kamu sampai datang ke rumah kami?" tanya Nada terus terang. "Sa-saya dengar Peter sedang sakit. Jadi, saya datang untuk melihat kondisinya," sahut Ananta berusaha menutupi kegugupannya. "Peter baik-baik saja. Hanya flu biasa." Nada memandang Ananta dengan tatapan seakan hendak memakannya bulat-bulat. "Sekarang kamu sudah mengetahui keadaannya. Jadi, kamu bisa pergi." Nada dingin dalam suara wanita paruh baya itu berhasil membuat bulu di sekujur tubuh Ananta meremang. Sampai jemarinya gemetar karena ketakutan. Tapi sekuat tenaga dia berusaha menutupi rasa takut sekaligus kecewa yang mulai menjalari hatinya. Setelah itu Ananta langsung memutuskan pulang. Lebih tepatnya terpaksa pulang dengan tangan hampa. Karena kenyataannya wanita itu dengan jelas tidak menyukai kedatangan Ananta. Tapi, ada satu hal yang membuatnya sadar. Yaitu mereka berasal dari kasta yang berbeda. Itulah alasannya ia menolak cinta Peter. Karena tidak ada titik temu di dalam hubungan mereka seberapa besar rasa sayang di antara mereka. Atau sejak awal mereka memang diciptakan untuk tidak bersatu. Layaknya bulan dan sang surya yang tak pernah bisa bertemu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN