Semakin hari Chris semakin gencar untuk mendapatkan Ananta. Setiap hari juga dia jadi rajin mengunjungi perpustakaan dan mengajak makan siang bareng saat jam istirahat bahkan membelikan s**u kotak kesukaan Ananta setiap hari. Belum lagi ekspresi wajahnya yang berseri-seri ketika menceritakan perihal usahanya mendekati Ananta kepada Peter. Membuat Peter menjadi sedikit curiga melihat sikap sahabatnya itu. Hati kecilnya merasa takut. Jika sahabatnya itu jatuh cinta pada perempuan yang ia cintai.
"Jangan bilang kalau lo juga jatuh cinta sama Ananta," tebaknya sinis. Hatinya was-was. Takut jika sahabatnya itu mengiyakan ucapannya.
"Ngaco aja lo kalau ngomong! Inget gue lakuin semua ini demi lo! Eh... demi motor ninja lo itu!" tunjuk Chris pada motor ninja berwarna merah yang terparkir manis di seberang tukang bakso yang sedang mereka kunjungi sekarang.
Peter memandang Chris lekat-lekat. Dari pandangan mata sahabatnya itu, dia tahu fakta di balik kebohongannya. Namun, hati kecilnya masih percaya pada Chris. "Awas aja lo kalau sampai jatuh cinta beneran sama Ananta! Gue nggak mau nganggep lo temen gue lagi. Soalnya sama aja kalau lo berkhianat sama gue!"
"Tenang aja! Gue nggak akan berkhianat," janji Chris. Namun janji hanyalah janji. Faktanya ia tak dapat menepatinya. Karena tanpa sadar cupid telah melepaskan anak panahnya. Chris telah jatuh cinta pada Ananta. Meski bukan tipenya, tapi penolakan gadis itu membuat harga dirinya sebagai laki-laki tersinggung. Sehingga ia terus mendekati Ananta. Bukan untuk Peter, melainkan untuk dirinya sendiri. Karena hanya melihat wajah Ananta setiap saja sudah membuat Chris bahagia. Belum lagi di dalam keturunan Josepha, penolakan itu diharamkan. Tak boleh ada penolakan di dalam garis keturunannya, apalagi jika dilakukan oleh seorang perempuan. Jika itu sampai terjadi itu artinya dia bukanlah keturunan Josepha.
Sebelum perpisahan kelas semua murid diwajibkan mengikuti karyawisata ke Bandung selama tiga hari dua malam. Sebelum keberangkatan Chris mendekati Ananta yang berdiri tegak di depan pintu bis. Entah sedang menunggu siapa, Chris tidak peduli. Kebetulan Peter sedang ke toilet jadilah ini kesempatan baginya untuk mendekati Ananta. Karena ia sudah merasa jika Peter mulai mencurigai perasaannya kepada Ananta. Dan Peter tidak boleh tahu karena Chris sendiri masih tidak yakin akan perasaannya kepada Ananta. Jadi dia tidak mau beresiko merusak hubungan persahabatan diantara mereka.
"Hei," sapanya.
Yang disapa hanya menoleh sekilas dan kembali mengedarkan pandangan matanya. Seolah-olah sedang menunggu sosok lain. Bukan dirinya. Hal ini sempat membuat Chris kecewa, tapi dia mencoba untuk mengabaikannya. Toh tidak berdarah ini. Jadi tidak begitu sakit.
"Nanti malam, keluar yuk. Gue mau ngajak lo lihat bintang..." ajak Chris.
"Sori, nggak bisa," potong Ananta cepat dan singkat.
Kening Chris bertautan. Belum selesai dia bicara tapi gadis itu sudah memotong ucapannya. Tersinggung sudah pasti. Tapi ia tetap bersabar. "Kenapa? Takut ada guru yang akan memergoki kita?" candanya.
"Bukan. Tapi gue udah ada janji sama Peter," sahut Ananta.
Bagai disiram air sedingin es alhasil Chris terdiam membeku. Ucapan Ananta berhasil berputar dikepalanya bak kaset kusut. Terus menerus. Bagaimana bisa? Bukannya sahabatnya itu sudah menyerahkan tugas balas dendam kepadanya? Lalu mengapa dia mengajak Ananta tanpa memberitahunya? Juga, mengapa kali ini Ananta menyetujui ajakan Peter. Bukankah dia tidak menyukai Peter? Terutama setelah pernyataan cinta yang dilakukan sahabatnya itu?
"Pe-peter temen gue?" tebaknya. Dalam hati ia berharap jika bukan Peter yang dia kenal. Siapa tahu ada Peter lain yang sekolah di sekolah ini bukan?
Ananta mengangguk sekali. Dan anggukan itu berhasil mematahkan hatinya. Membuat hatinya untuk pertama kalinya merasakan yang namanya sakit. Seakan ada pisau yang menikam dadanya kuat-kuat.
"Ba-bagaimana bisa?" Bagaimana bisa dia tidak tahu jika sahabatnya itu telah mengambil satu langkah di depannya? Lalu bukankah Ananta telah menolak Peter. "Maksud gue, bukannya lo nggak suka sama Peter?" tanyanya hati-hati.
"Yang gue nggak suka cuma otaknya yang bodoh. Bukan orangnya," jawab Ananta polos.
"Terus bagaimana dengan gue? Kenapa lo menolak gue selama ini? Apa kurangnya gue? Secara gue lebih baik daripada Peter."
Kening Ananta bertautan. Mengapa harus Chris semarah itu? Menyatakan cinta saja tidak pernah. Jadi apa alasan yang membuat Chris tampak terluka?
"Lo kan bisa ajak cewek lain."
"Nggak. Gue mau lo."
"Sori. Janji adalah janji. Gue nggak bisa," sesal Ananta.
"Lo nggak suka sama gue." Pernyataan itu lolos begitu saja dari bibir Chris.
Ananta tertegun. Sikap aneh Chris sukses membuatnya bingung. Ada apa dengan laki-laki ini malam ini? Mengapa sikapnya benar-benar aneh?
"Bagian mana dari diri gue yang lo nggak suka?" tanyanya lagi.
"Semuanya."
Bagai disambar petir, Chris mundur selangkah."Kenapa? Kenapa lo bisa nggak suka sama gue setelah semua yang gue lakuin buat lo?"
"Karena lo datang tiba-tiba dan bertindak seenaknya. Belum lagi satu fakta yang baru gue tahu dari Peter. Lo cuma memanfaatkan gue untuk dapetin motor ninjanya. Iya, kan?" Kedua mata Chris membesar. Tidak percaya jika Peter akan mengkhianatinya seperti ini. "So please, go away and leave me alone."
Tanpa sadar Chris mengepal kuat-kuat kedua tangannya. Amarah mulai memenuhi hati dan kepalanya. Namun dia tetap bertahan. Bukan sekarang waktunya untuk marah. Karena marah tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya dia harus mencari jawaban dari Peter. Karena dia ingin tahu jawaban apa yang akan diberikan oleh sahabatnya itu setelah dia mengetahui pengkhianatan yang baru saja dilakukannya.
Sungguh Chris tidak menyangka jika sahabatnya itu akan mengkhianatinya. Mengapa? Apa karena seorang perempuan Peter akan membuang persahabatan yang telah lama mereka miliki? Chris tidak habis pikir dengan apa yang ada di dalam isi kepala sahabatnya itu.
Bagaimana bisa dia, Chris Josepha dipermainkan dan dipermalukan seperti ini oleh sahabat dan perempuan dihadapannya ini? Di mana harga dirinya sebagai penerus nama Josepha?
Dengan hati kecewa, marah, dan hancur Chris berjanji akan membuat dua orang itu hancur. Hancur sampai berkeping-keping jika nyatanya Peter benar-benar menyakiti hatinya.
Lihat saja nanti, akan kubuat mereka merasakan yang namanya sakit dikhianati!
***
Dering ponsel berhasil mengejutkan Ananta yang sedang membuka pintu rumahnya yang mungil. Lekas-lekas di dorongnya pintu kayu berwarna hitam dan melangkah masuk ke dalam. Lekas-lekas dia menarik lingkaran hijau yang terlihat di layar ponselnya.
"Ya Ma," jawabnya sesegera mungkin karena ia tidak ingin ibunya berpikir yang aneh-aneh akibat kelamaan menjawab ponselnya.
"Bagaimana interviewnya?" tanya mama tak sabar dari seberang sana.
"Lancar Ma. Mulai senin aku sudah mulai kerja kok."
"Syukurlah," desah Mama lega. "O iya ini Joana mau bicara. Katanya dia rindu sekali padamu."
Tanpa menunggu jawaban dari Ananta detik berikutnya terdengar suara anak perempuan. "Bun, kata eyang udah dapet kerjaan."
Ananta menjatuhkan dirinya di atas sofa panjang putih miliknya. "Sudah. Tapi bunda baru dapet gaji bulan depan. Jadi kamu harap bersabar sedikit lagi ya."
"Yahh... berarti..."
"Berarti kamu belum bisa beli light stick BTS bulan ini. Bunda harap kamu mengerti. Tapi Bunda janji akan membelikannya."
Tak ada jawaban dari seberang sana. Ananta tahu jika putri semata wayangnya yang anggota ARMY atau apalah nama kelompok fans dari boyband asal negeri ginseng ini sedang kecewa. Dari dua bulan yang lalu, ketika gadis kecilnya ulang tahun ke-9 dia meminta hadiah light stick BTS. Meski Ananta yang tidak tahu apa-apa soal boyband tersebut berusaha mencari di info dari mbah google perihal light stick itu, barulah ia tahu wujudnya seperti apa. Dan harganya cukup mahal baginya yang baru saja berhenti bekerja.
Bukan keinginannya untuk berhenti bekerja. Tapi pemilik butik dimana dia bekerja dulu hendak berimigrasi ke Australia, sehingga dia harus menjual seluruh aset butik miliknya. Sehingga dengan berat hati dia harus memberhentikan Ananta yang telah bekerja dengannya selama kurang lebih hampir dua tahun lamanya.
Untunglah pertemuannya dengan Sarah membuahkan hasil. Sehingga hanya setelah melewati dua minggu masa pengangguran Ananta telah berhasil menemukan pekerjaan baru. Dan pekerjaan itu cukup berkualitas. Bukan pegawai mini market maupun pegawai butik. Melainkan Front office sebuah hotel bintang lima. Sangat mengejutkan. Karena Ananta sendiri tidak pernah bermimpi untuk bekerja di hotel. Bekerja sebagai karyawan butik saja dia sudah cukup bersyukur. Tapi jika dipikir ulang, mengapa hanya ada dirinya seorang diri yang datang untuk interview. Dimana pelamar yang lainnya?
"Joana..." panggilnya ketika ia mendengar suara isakan yang berhasil mengalihkan pikirannya sendiri. "Bunda janji jika bunda mendapatkan gaji pertama, bunda akan belikan kamu tongkat ajaib itu."
"Janji Bun?" ulangnya.
"Bunda janji." Setelah itu terdengar sorakan dari bibir putrinya. "Asal kamu juga janji bersikap baik selama tidak ada Bunda."
"Siap Bunda. Joana bersikap baik kok selama ini. Tanya aja Eyang."
Senyum mengembang di bibirnya. "Bunda percaya sama kamu. Jadi tolong kamu jaga kepercayaan yang sudah bunda berikan kepadamu ya."
"Oke bun! Sekarang Joana mau makan es krim dulu ya. Bye Bunda! Joana sayang Bunda," ujar Joana bersemangat. Nada suaranya yang parau telah berubah menjadi riang tanda jika tangisnya telah berhenti.
"Bunda juga sayang sekali sama Joana."
Selesai berbicara dengan Joana hati Ananta menjadi terasa lebih baik. Buah hatinya itulah penyemangatnya selama ini. Keresahan yang tadi sempat memenuhi dadanya telah menghilang.
Ditariknya napas dalam-dalam sebelum akhirnya bangkit berdiri. Lebih baik ia ke supermarket untuk membeli kebutuhan rumah untuk satu bulan ke depan. Setidaknya kesibukan selalu mampu menenangkan hatinya. Juga melupakan kenangan buruk yang selalu menghantuinya selama ini. Itulah yang dilakukan Ananta setiap kali hatinya merasa cemas akan masa lalu yang selalu muncul di saat-saat tertentu.
***