Satu jam berlalu. Perias sudah selesai melaksanakan tugas, yaitu memoles riasan ke Ria ala pengantin. Baju pengantin adat jawa, membalut sempurna tubuh Ria dari atas hingga ke bawah. Pakaian itu terbuka. Membuat kulit putih lengan Ria, bisa terlihat oleh siapapun. Masih dengan posisi terikat, Ria menangis tersedu-sedu. Menangisi penampilannya yang terbuka. Orang-orang akan dengan mudah melihatnya, termasuk Hayam Wuruk. Murka Tuhan akan dia dapat, jika berpenampilan terbuka begini. "Hijab gue..." ratap Ria. Sedih melihat hijabnya tergeletak sembarangan di lantai. Sejurus dengan sorot matanya pula. "Tolonglah... Gak ada yang mau nolongin gue apa? Gue gak bisa keluar kayak gini." Seketika Ria merasa jijik dengan diri sendiri. Membayangkan ia keluar menggunakan baju kekurangan bahan ini

