Setelah perbincangan penuh amarah di luar, Tribhuwana mengajak Hayam Wuruk untuk berbicara empat mata. Tribhuwana memilih kamar Hayam Wuruk sebagai tempat mereka akan berbicara. Dengan berbicara berdua saja dengan Anaknya, Tribhuwana berharap bisa mengubah pemikiran anaknya itu. "Mengapa sangat tiba-tiba? Kau tidak bisa seperti ini, Anakku! Sudah dari lama pernikahan ini kita rencanakan." "Aku tahu itu, Ibunda! Sangat mengetahui betapa pentingnya pernikahan ini bagi Majapahit! Tetapi, hati ini tidak bisa memilih kepada siapa akan berlabuh!" Terduduk lesu Hayam Wuruk di tepi kasur. Sorot matanya mengandung makna kesedihan dan bimbang bercampur jadi satu. Sebagai pemimpin, sudah sepatutnya ia mengesampingkan masalah pribadi demi kebaikan pihak banyak. Akan tetapi untuk yang satu ini, s

