Regan mengerjapkan matanya ketika menyadari terlalu lama memandang perempuan mungil di depannya. Ia berdeham dan melemparkan pandangan ke arah lain. "Kamu butuh bantuan lain?"
Zee menggeleng. "Tidak. Terimakasih, Regan."
Regan menganggukkan kepalanya dan baru saja akan berbalik meninggalkan Zee jika saja dia tidak memanggil. "Regan."
Regan berbalik menatap Zee. "Hm?"
"Apa... kamu keberatan?"
"Hm?" Regan tidak mengerti maksud Zee.
"Aku tinggal di sini untuk sementara, apa kamu tidak masalah?"
Regan mengangkat bahunya dan memasukkan kedua tangannya di saku celana. "Fine. Selama kamu tidak berulah."
Zee tertawa canggung. "Terima kasih."
Regan hanya mengangguk dan berlalu dari sana.
Zee menghembuskan napasnya. Regan Wijaya memiliki sejuta kharisma dan tatapan elang yang membuatnya mati kutu, dan sialnya ia akan tinggal serumah dengan pria itu. Zee merebahkan tubuhnya pada kasur di belakangnya. Ia menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya berkeliaran kemana-mana.
Zee rindu keluarganya di Jerman, Zee rindu teman-teman kuliahnya, dan Zee paling merindukan masakan ibunya. Maklum saja, di umur 22 ini ia harus berjauhan dengan keluarganya. Ia bisa saja tinggal bersama mereka dan bekerja di sana, tapi hati Zee mengatakan untuk tetap tinggal di sini dan belajar hidup mandiri.
"Zee?"
Zee menolehkan kepalanya dan langsung bangkit saat Alexa menghampirinya. Alexa tersenyum dan mengelus rambut Zee, persis seperti sikap Ibunya pada Zee. Alexa benar-benar menggantikan peran Ibunya.
"Kamu belum makan, bukan? Ayo, kita makan siang dulu. Tante sudah siapkan makan siang untuk kita."
"Apa tidak merepotkan?" Zee masih saja canggung dan segan di keluarga ini.
"Tentu tidak, Sayang. Ayo," ujar Alexa.
Zee mengira ia akan bertemu Regan saat sampai di meja makan, tapi ia salah karena hanya ada ia dan Alexa di sana. "Ayo, silakan dimakan. Semoga saja ini mengobati rasa rindumu pada rumah," ujar Alexa bergurau. Zee tertawa kecil dan menyendokkan lauk-pauk yang sudah disediakan.
"Enak sekali. Terima kasih, Tante."
Alexa tersenyum. "Benarkah? Astaga, Regan saja tidak pernah memuji masakan Tante."
"Kapan-kapan aku ingin belajar masak dengan Tante, apa boleh?"
"Tentu saja, Sayang. Kapanpun."
Sebenarnya Zee sangat penasaran kenapa Regan tidak makan bersama mereka. Apakah pria itu menghindarinya dan tidak nyaman dengannya?
Namun, akhirnya rasa penasarannya terbayar ketika Alexa meminta bantuannya untuk mengantarkan makanan ringan ke kamar Regan. Kata Alexa, Regan terkadang malas untuk keluar kamarnya jika sudah berurusan dengan pekerjaannya. Awalnya Zee ragu, namun ia tidak ingin di-cap tidak tau diuntung, maka ia mengikuti perintah Alexa.
Hanya mengantarkan makanan saja, Zee sudah gemetar setengah mati.
Tok! Tok!
Zee menunggu Regan membalas.
"Ibu?" tanya Regan dari dalam dan membuat Zee membuka pintunya.
"Ini aku," ujar Zee. Ia berdiri di ambang pintu dan melihat Regan berdiri mematung karena terkejut melihatnya.
"Ada apa?"
Zee berdeham canggung. Tatapan Regan lagi-lagi membuatnya mati kutu. "I-ini Ibumu menyuruhku membawakan ini." Zee menyodorkan nampan yang ia bawa.
Regan mengangguk. "Terima kasih."
Zee mengangguk dan baru saja ia berbalik untuk keluar dari kecanggungan itu, kakinya tidak sengaja tersandung kabel yang ada di kamar Regan. "Astaga!" seru Zee terkejut.
Untung saja Regan sigap menahan pinggangnya. Otomatis, kedua tangan Zee menahan di lengan kekar Regan. Zee menelan ludahnya gugup. "Ma--maaf."
Regan menghela napas. "Hati-hati. Apa hobimu itu jatuh? Sedari tadi kamu selalu terjatuh."
"Aku... aku tidak apa-apa."
Regan mengangguk. Lagi-lagi mereka kembali canggung. Zee menundukkan kepalanya dan tersenyum. "Aku permisi, Regan."
Regan tidak mengatakan apapun dan memerhatikan Zee sampai perempuan itu menghilang dari hadapannya.
***
Esok harinya, Zee sudah bersiap untuk wawancara kerjanya, di mana ia melamar di Tnt Corp. di bidang manajemen. Dalam hati Zee selalu merapalkan doa agar bisa diterima di sana.
"Zee, ayo sarapan dengan kami." Zee tersenyum dan mengangguk.
"Terima kasih, Tante." Zee duduk depan Regan, di sampingnya Tante Alexa sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Ayahmu menelepon Om tadi, dia menanyakan apakah kamu baik-baik saja," ucap Sean seraya tersenyum tipis.
Zee tertawa kecil. "Padahal Ayah sudah meneleponku juga, Om Sean."
Sean mengangguk. "Wajar saja, kamu anak perempuan dan anak sulungnya, wajar dia khawatir."
Zee menanggapinya dengan anggukan. Bingung juga harus membalas apa.
"Hari ini kamu mau melamar kerjaan ya?"
Zee mengangguk lagi.
"Berangkat bersama Regan saja. Dia juga akan berangkat kerja. Iya kan, Regan?" tanya Sean pada anak bungsunya.
Regan hanya diam. Entah pura-pura tidak mendengar atau tidak peduli dengan perkataan Ayahnya.
Zee sudah mau menolak saat Alexa lagi-lagi mendesak Regan untuk mengantarkan dirinya karena Regan terlihat acuh tak acuh dan membuat Zee ragu.
"Ayo." Zee yang sedang memakai sepatunya tersentak saat Regan mengatakan itu.
"Apa?"
"Aku antar kamu."
Zee menelan ludahnya diam-diam saat Regan menatapnya lama.
"Tidak apa-apa, aku berangkat sendiri saja."
Regan mengangkat bahunya. "Ya sudah. Terserah kamu saja."
Zee terlalu percaya diri karena beranggapan Regan akan membujuknya untuk berangkat bersama. Memangnya siapa dia?
***
Zee masuk ke ruang wawancara dengan jantung bertalu-talu. Ini wawancara pertamanya dan ia takut semuanya kacau. Zee itu tipe perempuan yang gampang sekali overthinking.
Saat membuka pintu ruangannya, Zee melihat ada 3 orang pria berjas hitam duduk sejajar. Namun, yang paling menyita perhatiannya adalah pria yang duduk di tengah dengan tulisan CEO di mejanya.
Regan Wijaya?
Ternyata...
"Tjahaya Zeera, silakan masuk." Jantungnya semakin menggila ketika tatapan tajam Regan menghunusnya. Dahinya juga sedikit berkerut, mungkin heran mengapa Zee bisa ada di sini.
Zee juga sama herannya, mengapa CEO ini bisa terjun langsung untuk sesi wawancara? Bukankah bisanya staf HRD yang melakukannya?
"Jika Anda lolos wawancara ini, Anda akan langsung bekerja menjadi kepala divisi, karena itu juga Pak Regan langsung turun tangan pada wawancara ini." Salah satu pria yang mewawancarainya menjelaskan seolah mengetahui pikiran Zee. "Dilihat dari lulusan pendidikan Anda, Anda salah satu kandidat yang potensial, jadi jangan gugup." Apa kegugupan Zee terlalu kentara? Apa karena itu juga Regan memperhatikannya dengan aneh?
***
Sesi wawancara berakhir di jam makan siang. Perut Zee sudah keroncongan dan ia ingin segera melipir ke kedai makanan karena cacing di perutnya sudah tidak bisa menolerir lagi.
"Tjahaya!"
Seruan itu menghentikan langkah Zee yang baru saja keluar dari lobby hotel perusahaan. Ia melihat Regan berlari ke arahanya. Napas pria itu menggebu saat menghampirinya. Ada apa dengan dia?
"Kamu mau makan siang?"
Eh? Gimana?
Zee menunduk hormat terlebih dahulu dan tersenyum. "Iya." Sekarang Zee bingung harus memanggil Regan dengan sebutan apa? 'Aku-kamu' terasa tidak sopan, memanggil dengan sebutan 'Pak' juga aneh. Tapi, lebih baik memanggilnya seperti itu, kalau-kalau Zee benar diterima di perusahaan ini.
"Bareng saya, mau?"
Nah. Regan saja sudah mengubah percakapan mereka menjadi lebih formal.
"Apa tidak apa-apa, Pak?" Ingin sekali Zee menolak.
Regan mengeryit tidak suka. "Saya bukan Bapak kamu."
"Tapi Bapak calon bos saya..." Zee berkata tenang. Lalu sedetik kemudian sadar bicaranya sudah melantur. "...jika saya keterima."
Jika Zee tidak salah lihat, Regan tersenyum tipis setelah ia mengatakan hal itu. Wow.
"Ayo, mau bareng, kan?"
Demi rasa hormat pada bosnya sendiri, ralat, calon bosnya, Zee mengangguk.
"Sebentar." Regan menahan pergelangan tangan Zee. Zee menoleh heran.
Tiba-tiba, Regan mengulurkan tangannya pada belakang kepala Zee dan membetulkan jepit rambut yang ia pakai. "Longgar," ucapnya singkat.
Namun, yang terjadi kemudian adalah tatapan Zee dan Regan yang sama-sama melekat dan tidak menoleh barang sedikitpun. Zee gugup!
***