Zee memilin jari-jarinya dengan gugup ketika tatapan Regan masih saja menghunus tajam padanya. Kenapa juga ia harus mengiyakan ajakannya untuk makan siang bersama? Kalau saja Zee bisa menolak, mungkin ia tidak akan terjebak di situasi canggung ini.
"Bagaimana tadi?"
Zee menoleh pada wajah tampan Regan yang sedari tadi ia hindari. "Maaf?"
"Wawancara tadi, bagaimana?"
Seharusnya Regan sudah bisa menilai bahwa Zee gugup setengah mati. Kenapa pria ini menanyakan hal itu padanya? Zee ingin pergi saja!
"Hm, gugup," ucap Zee dengan senyum canggung.
Regan hanya mengangguk dan tepat setelahnya, makanan mereka sampai. Zee bersyukur dalam hati karena setidaknya, tidak ada lagi percakapan di antara mereka untuk sementara.
"Kamu sudah ada kekasih?"
Uhuk!
Pertanyaan macam apa itu?
Zee menoleh lagi dan kini ia melayangkan tatapan heran. "Apa?"
"Kekasih. Kamu punya?" Tampang Regan masih saja datar seperti biasanya. Tidak ada tatapan jahil atau menggoda.
Zee berdehem. Aneh juga rasanya karena Regan termasuk orang asing baginya dan tiba-tiba menanyakan hal seperti itu. "Tidak. Belum."
Regan kembali mengangguk dan fokus pada makanannya.
Giliran Zee sekarang yang menatap Regan dalam-dalam. Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk memperhatikan wajah Regan.
Wajah pria itu bisa dibilang tampan. Ralat, sangat tampan. Rambutnya juga hitam legam dan sangat rapi. Kontur mukanya jangan ditanya, sangat sempurna.
Regan berdehem saat Zee masih menatapnya lekat. Astaga, sepertinya pria ini tau Zee memerhatikannya. Canggung, Zee kembali memakan lasagna-nya.
Regan menyebalkan!
“Kamu tidak suka makanannya, Zee?” Zee terkejut ketika Regan bertanya begitu. Dia menggeleng.
“Aku menyukainya, hanya saja—”
“Ada dessert yang sebentar lagi akan disajikan. Pilih saja yang kamu mau.” Regan berkata seraya mengaduk-aduk makanan di piringnya tanpa menatap Zee.
Benar saja, selang beberapa menit, salah satu pelayan menghampiri mereka dan menawarkan dessert pada Zee. Zee tersenyum dan dengan canggung dia mengambil red velvet untuknya.
“Kamu..mau?” tawar Zee pada Regan dan membuat pria itu menoleh. Zee tidak bermaksud mendramatisir, namun dia bisa melihat tatapan Regan langsung dingin dan seolah menahan amarahnya.
“Tidak. Makan kue itu cepat,” titah Regan yang kembali mengalihkan pandangannya pada makanannya.
Zee mengeryitkan dahinya. Ini hanya red velvet, kenapa Regan bisa terlihat marah hanya karena kue?
***
"Saya antar pulang?" Lagi, kenapa pria ini menjadi sangat formal padanya?
"Saya bisa sendiri, Pak Regan. Terimakasih." Zee tidak memiliki pilihan selain membalas sama formalnya. Ia menunduk hormat dan meninggalkan Regan.
Sesampainya di rumah, Zee disambut oleh Tante Alexa yang mengajaknya untuk membuat kue. Zee senang, tentu saja. "Kamu habis wawancara, ya?" tanya Tante Alexa.
"Iya."
"Bagaimana, lacar?"
"Lancar, Tante." Zee tersenyum.
Alexa seolah mengingat sesuatu. "Tante lupa menanyakan, di mana kamu melamar kerjanya?"
Oh iya, benar juga. Alexa dan Sean tidak mengetahui di mana Zee melamar kerja.
"Tnt Corp, Tante."
Alexa tampak terkejut. "Regan bekerja disitu." Bukan bekerja, tapi Regan yang memiliki perusahaan itu. Zee bahkan baru tau jika Tnt Corp. adalah anak perusahaan dari perusahaan induk yang dikelola Ayah Sean. Zee mengira TnT tidak ada hubungannya dengan Regan.
"Iya, tadi Regan juga yang mewawancaraiku." Zee tersenyum.
"Semoga berhasil diterima ya, Zee."
Zee mengangguk seraya mengamini dalam hati.
"Ah benar juga." Zee yang sedang mengaduk adonan untuk lapisan kue menoleh saat Alexa berkata demikian.
"Iya, Tante?"
Alexa tersenyum sumringah pada Zee, tapi Zee tidak mengerti kenapa. "Kenapa tidak kupikirkan dari dulu?"
Zee masih tidak mengerti. Ia menatap Alexa dengan tatapan bingung.
"Kenapa Tante tidak mengenalkan kamu dengan Regan dari dulu?"
Apa? Gimana?
Alexa tersenyum tipis pada Zee. "Regan, anak itu sedang Tante teror untuk segera menikah." Zee tertawa kecil mendengarnya. "Setiap wanita yang Tante kenalkan selalu dia tolak." Tentu saja, Zee tidak heran. Regan Wijaya pasti memiliki standar yang tinggi untuk wanita pilihannya. Zee yakin Regan adalah tipe pemilih, dan Zee tidak akan masuk dalam list tersebut.
"Tante ingin yang terbaik untuknya. Wanita yang baik, maksudku. He’s been through a lot." Alexa menatap Zee. "Dan... sepertinya Tante ingin mengenalkanmu lebih dekat untuk Regan. Bagaimana?"
Alexa serius menanyakan hal itu?
"Tante, aku--"
"Aku setuju."
Zee tersentak saat suara Regan terdengar dari arah belakang tubuhnya. Apa katanya tadi?
Alexa juga sama terkejutnya. "Regan? Kenapa sudah pulang?"
"Aku setuju dengan apa yang dikatakan Ibu. Kenapa tidak, Tjahaya?" Regan tidak mengacuhkan pertanyaan Ibunya.
Zee gugup. Benar-benar gugup. Lebih gugup dibandingkan saat wawancara tadi. "A-aku-"
"Regan."
Regan masih menatap Zee terang-terangan. Bahkan panggilan ibunya lagi-lagi tidak ia jawab. "Tjahaya."
Zee kembali menatap Regan, takut. "Hm?"
"Bagaimana?" Regan mengatakan hal itu yang seharusnya dengan mimik muka lembut dan bukan datar seperti ini. Raut mukanya sama seriusnya seperti saat ia mewawancarai Zee, tidak ada lemah-lembut sama sekali.
"Regan, jangan seperti itu. Zee ketakutan." Sepertinya Alexa sangat peka terhadap perubahan gestur tubuh Zee saat Regan seolah mengintimidasinya.
"Aku setuju, Ibu. Ibu tidak perlu mengenalkanku dengan wanita antah-berantah."
Hanya mengatakan itu, dan Regan pergi dari sana untuk mengambil dokumen dari kamarnya. Tanpa pamit, ia keluar dari rumah itu.
Alexa menghela napas. "Maaf, Zee. Regan memang seperti itu."
Zee masih syok.
"Tidak perlu buru-buru memikirkannya. Tante hanya menyarankan, tidak perlu dianggap serius."
Tapi Zee sudah terlanjur syok setengah mati.
***
Setelah Regan mengatakan hal itu, Zee benar-benar enggan keluar dari kamarnya. Terserah jika ia dianggap tidak sopan oleh orang rumah, tapi Zee sungguh tidak sanggup jika harus bertemu Regan. Ia bahkan melewatkan makan malam dengan dalih tidak enak badan dan ingin istirahat.
Tidak sepenuhnya bohong, karena kepala Zee pusing jika mengingat perkataan Regan dan Alexa.
Akibatnya, tengah malam ini, Zee tidak bisa tidur karena perutnya keroncongan dari tadi. Mengingat sudah tengah malam dan sepertinya semua orang sudah tidur, Zee keluar dari kamarnya perlahan. Dengan mengendap-endap, Zee turun ke lantai 1 dan pergi ke dapur untuk mengambil camilan. Kata Tante Alexa tidak apa, jika Zee ingin makan camilan di sana, Zee tinggal mengambilnya. Jadi, Zee tidak salah kan?
Keadaan dapur yang gelap tidak menyusahkan Zee untuk mendapatkan apa yang dia cari.
"Sedang apa?"
Zee tersentak. Untung saja ia tidak berteriak karena suara di belakang tubuhnya tadi. Takut-takut Zee menoleh ke belakang dan melihat Regan sedang berdiri bersandar pada meja di belakangnya, dan astaga! Pria itu tidak memakai baju! Hanya celana tidur yang ia pakai dan itu sangat-- tidak. Zee tidak akan melanjutkannya.
Zee berdehem canggung. "Aku...lapar." Regan tersenyum miring. Pria itu mendekat ke arah Zee. Sangat dekat sampai Zee juga menahan napasnya saking gugup dirinya.
Regan berhenti tepat di depannya. Wajahnya sangat dekat. Hidung mereka hampir bersentuhan.
"Re--"
Baru saja Zee akan mengancam Regan untuk tidak macam-macam. Namun, pria itu lebih dulu mengambil camilan yang sama di belakang tubuh Zee. Astaga. Oke, kali ini Zee sangat malu.
Regan hanya tersenyum miring seolah tau apa yang dipikirkan oleh Zee. Pria itu menyobek bungkus camilan tersebut dengan giginya di depan Zee. Gerakannya.... demi Tuhan, sangat seksi. Padahal, pria itu hanya membuka bungkus camilan. Tapi kenapa....sangat seksi?
Regan menjauh dari Zee dan kembali bersandar di meja semula. Regan memakan camilannya dengan tenang, dan iya, di depan Zee yang bahkan sekarang lupa ia sedang menggenggam camilan yang sama. Regan mengambil camilan itu, memakannya, dan tatapannya terus menghunus pada Zee.
Zee gugup. Jangan ditanya.
"Bagaimana tawaran saya?"
Zee mengeryitkan dahi. "Huh?"
"Kamu. Jadi pasangan saya."
Apa? Gimana?
Alexa tidak mengatakan itu. Lagipula, Zee tidak mengatakan bahwa ia mau.
Zee menggigit bibirnya. "Maaf, aku harus tidur--" Zee berbalik dan baru saja akan kembali ke kamarnya jika saja Regan tidak bergerak cepat dan mengurung Zee di antara kukungan tangan kokohnya.
"Jawab saya," bisiknya tepat di belakang telinga Zee. Zee merinding sekarang, dan gugup! Sangat gugup!
Perlahan, Zee mengambil napas dalam dan menghembuskannya dengan--ia mencoba--tenang.
"Ak--aku--"
"Regan?"
Shit.
***