Zee masuk ke kamarnya malam itu dengan pikiran berkecamuk. Dia memikirkan apakah sungguh pria yang menjadi mimpi terburuknya itu adalah orang yang sama dengan yang ia temui di restoran? Karena jika iya, Zee harus melawan kali ini dan tidak kabur. Zee harus melawan ketakutannya sendiri karena pria itu. Pria sialan. Tak hanya itu, Zee juga sempat-sempatnya memikirkan apa yang membuat Regan kesal tadi. Dia tidak bisa tenang jika Regan tidak memberitahunya—walaupun Regan tidak memiliki hak sama sekali untuk memberitahu Zee. “Zee?” Zee terlonjak kaget ketika pintu kamarnya yang memang sedikit terbuka, dibuka lebih lebar lagi oleh Alexa. “Oh, maaf. Tante membuat kamu terkejut?” tanya Alexa dengan senyuman tipisnya. “Tidak. Aku hanya....” Zee tidak tahu harus memberi alasan apa. “Hm...Tante ing

