“Zee, apa yang kamu rencanakan?” Regan berbisik pada Zee ketika semua orang sedang tidak memerhatikan mereka. Zee menoleh padanya. Dia membalikkan badannya, sehingga sekarang dia menghadap pada Regan sepenuhnya. Tangan Zee terangkat untuk membenarkan dasi Regan yang sedikit longgar. “Aku? Aku mengikuti permainan kamu yang sangat menginginkan pernikahan untuk kita, Rega, and I’m going to make everyone beleive that we are in love. Nyatanya, jangan terlalu mengharapkan apa-apa pada rencana ini, okay, Regan? Because when we get married, you will regret your decision to marry a b*tch like me.” Zee menepuk-nepuk d**a Regan dan tersenyum kecil. Regan mengeryitkan dahinya. Dia sama sekali tidak mengenal Zee yang ada di hadapannya ini, karena Zee yang dia kenal adalah Zee yang pemalu, sering kali

