Chapter 6

1192 Kata
Mobil Regan sampai di rumahnya saat hari sudah cukup malam, dan sepanjang perjalanan di mobil tadi, tidak ada yang bersuara di antara Zee dan Regan. Lebih kepada Regan yang terlalu malas untuk membuka suara dan Zee yang bingung ingin mengatakan apa. “Ayo.” Sedari tadi Zee hanya diam dan menunduk seraya memainkan tas di pangkuannya. Ia mendongak dan tidak sadar pintu mobilnya sudah dibukakan oleh Regan dan pria itu bahkan mengulurkan tangannya. Zee tersenyum tidak enak dan membalas uluran tangan Regan. Namun, tidak Zee sangka Regan akan menarik tangannya cepat dan mendorong bahu Zee untuk menempel pada pintu mobil yang sudah ia tutup langsung. Zee gugup setengah mati dan terkejut karena tingkah Regan. Zee melotot tidak percaya namun tetap bungkam—lebih kepada; ia takut Regan akan melakukan hal yang tidak senonoh padanya jika ia bertingkah salah. “Apa jawabanmu?” Zee menelan ludahnya gugup saat Regan menanyakan itu dengan suara beratnya—mampu membuat bulu kuduknya meremang. “Rega—” “Iya atau tidak.” Tidak. “Apa alasanmu, Regan? Kenapa aku?” Regan menghela napas. “Karena orangtuaku mengenal kamu, kamu—sepertinya—wanita yang baik, dan aku percaya kamu.” Aku percaya kamu—hanya karena kalimat itu, jantung Zee berdegup kencang. Zee berdeham untuk menormalkan degup jantungnya dan menghela napasnya. “Aku tidak mau.” “Kenapa?” “Karena aku masih muda.” Jawaban Zee membuat Regan termenung. Ia mengira Zee akan menjawab; karena kamu tidak mencintaiku, aku butuh pria yang mencintai aku untuk menikahi aku. Ternyata dugaan Regan benar, Zee bukan wanita biasa. Mau tidak mau, Regan tertawa. Posisinya yang sangat dekat dengan Zee dan sebelah tangan yang masih ada di pinggir telinga wanita itu, membuat mereka terlihat sangat intim—dan Zee tidak mau terus menerus seperti ini. Akhirnya, ia mendorong d**a Bosnya cukup kencang dan membuat Regan kaget. “Hei.” Regan tidak terima. “Aku harus kembali ke kamarku. Terimakasih makan malamnya, Regan.” Zee menunduk hormat. Regan berdecak. “Aku akan membuatmu mengatakan ‘iya’.” Ucapan Regan membuat Zee berdecak dan berbalik menatapnya sebal. Namun, untuk menormalkan degup jantungnya yang tidak karuan, Zee berpura-pura tidak mendengar dan memilih untuk melanjutkan langkahnya. “Kamu akan jadi istriku!” “Tjahaya! Kamu dengar, kan?!” “Aku akan melamar kamu! Sesegera mungkin!” “Zee—” “Regan.” Regan cukup terkejut ketika seseorang memanggilnya dan membuatnya berbalik. Ternyata Sean Wijaya, ayahnya, yang memanggilnya. “Ayah,” ucap Regan seraya tersenyum malu. Sepertinya Ayahnya mengetahui apa yang baru saja ia lakukan dan Regan tentu saja, sangat malu. “Kamu...kenapa?” Benar saja. Regan  menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal—menandakan ia gugup. “Aku hanya—” “Menggoda Zee?” Sean tertawa dan membuat Regan memutar bola matanya malas. “Ayah,” ucapnya memperingatkan ayahnya untuk tidak membuatnya bertambah malu. Sean memegang bahu anaknya dan merangkulnya. Mereka berjalan untuk memasuki rumah mereka. “Dia memang terlihat seperti anak yang baik. Lagipula, Ayah sudah mengenal keluarganya dari dulu.” Regan mencium bau-bau perjodohan. Pria itu menatap Ayahnya sinis. “Apa—” “Kamu tidak masalah jika dijodohkan dengannya?” Tangan Regan yang awalnya akan membuka knop pintu di depan mereka, akhirnya tertahan di udara. Regan menatap Ayahnya tidak percaya. Dugaannya ternyata benar. “Ayah tau, sepertinya tidak enak jika kamu dipaksa untuk menikahi seorang wanita yang tidak—mungkin, belum—kamu cintai.” Sean melangkah masuk ke rumah dengan tenang, berbeda dengan Regan yang mematung dan berusaha mencerna apa yang dikatakan Ayahnya. “Tapi, ayah tidak memaksamu. Hanya saja, cobalah untuk mengenal dia. Zee anak yang baik, dan feeling Ayah tidak pernah salah.” Alexa menyambut mereka saat mereka tiba di ruang tamu. “Hai,” sapa Ibunya pada Ayahnya dan mencium pipi Sean. Sean menerimanya dengan senang dan dibalas dengan kecupan ringan di bibir istrinya. Regan sudah terlalu sering melihat ini dan lama kelamaan ia bosan melihat pemandangan ayah-ibunya yang selalu romantis sedangkan ia tidak pernah seperti itu. “Ayah juga dulu akan dijodohkan, Regan. Oma kamu sering mendesak Ayah untuk segera menikah.” Sean lalu memandang istrinya. “Untung saja Ayah bertemu dengan Ibumu dan we just fated since then.” Regan memutar bola matanya. “Baiklah.” Kedua orangtuanya membelalak tidak percaya mendengarnya. “Kamu akan...” “Mengenal Zee—bocah itu. Benar, kan?” *** Alexa membantu suaminya menyimpan tas kerjanya di samping meja kerja pria itu, dan ketika dia berbalik, dia sudah melihat Sean masuk ke ruang kerjanya. “Tadi sore, kamu jadi bertemu Irish?” tanya Sean seraya duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya. Memang sebelumnya, Alexa sempat mengatakan pada Sean bahwa dia akan menemui Irish. “Hm.” Sean bersandar di sofa dengan santai dan menyuruh istrinya untuk duduk di sampingnya. “Lalu, kamu menanyakan soal Anna?” “Iya, Sean, tentu saja. Aku tidak bisa menerima fakta bahwa dia dan suaminya baik-baik saja dan seolah hal itu bukanlah hal krusial. Lihatlah Regan, I know he’s desperate, Sean, sampai-sampai dia mau langsung dikenalkan dengan Zee. Maksudku, aku tidak ingin Regan seputus asa itu sampai akhirnya memainkan perasaan Zee.” Sean mengangguk. Dia sangat menyadari kekhawatiran istrinya. “Tapi, bukankah itu yang diinginkan Regan? Kita hanya perlu melihat sisi baiknya saja.” “Dia menginginkan itu hanya untuk mengalihkan pikirannya dari Anna. Kamu tahu seberapa jatuh cintanya Regan pada Anna dulu.” Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar, dan Regan masih terjebak di dalam bayangan Anna. Lima tahun yang lalu, Regan dan Anna sudah sempat merencanakan pernikahan, bahkan semuanya sudah disusun rapi dan tinggal menunggu hari saja hingga akhirnya kedua pasangan yang saling mencintai itu. Namun, esok harinya, Regan terbangun dan tidak melihat Anna di sisinya. Anna Roseanne, meninggalkannya begitu saja. “Aku tahu, Al, dan kita memang tidak bisa memaksakan Anna, perasaan dan keputusan Anna, diluar kemampuan kita, Al.” “Bagaimana dengan Regan?” “Dia bisa melalui ini semua. Dia akan baik-baik saja.” “Ini sudah lima tahun, Sean. Berapa lama lagi Regan harus menunggu?” “Selama yang dia bisa.” *** Zee tidak bisa tidur malam itu. Dia memikirkan ucapan Regan dan betanya-tanya dalam hati apakah Regan sungguhan dengan ucapannya atau tidak. Maksud Zee, dia tidak bisa hidup di rumah yang sama dengan Regan jika dia tahu Regan mengincarnya dan memaksanya untuk menjadi istrinya. Astaga, pernikahan adalah hal krusial untuknya dan tidak bisa dipermainkan begitu saja. Zee yang memeluk bantalnya seraya menatap langit-langit kamarnya sedari tadi akhirnya melempar bantal itu dengan kesal. Dia bangkit dan mendengus kasar. Dia harus bertanya pada bosnya itu soal ini semua. Zee membuka pintu kamar Regan tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu—dia tahu dia sangat tidak sopan, namun dia juga terlanjur penasaran dan pertanyaannya ini harus langsung diutarakan. “Zee?” Regan melihatnya dengan tatapan bertanya. Mungkin dia keheranan dari mana Zee mendapatkan keberanian untuk membuka pintu kamar Regan—yang secara tidak langsung—adalah bosnya. “Apa kamu sungguh menginginkan aku menjadi istri kamu?” Regan melotot. “Wow, I did not expect you to ask me that question right now, Zee.” Regan terkekeh. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN