Chapter 7

1200 Kata
Regan bangkit dari duduknya dan mendekati Zee yang ada di ambang pintu. “Bukankah saya sudah mengatakannya sebelumnya?” Zee menggeleng. “Kamu mengatakannya dengan tidak jelas. Saya pantas mempertanyakan alasannya, Regan,” ucap Zee dengan tegas walaupun kini hatinya setengah mati menahan degup jntungnya yang menggila—dan Zee sadar, gaya bicaranya pada Regan sangat tidak menunjukkan rasa hormat sama sekali, namun Zee tidak peduli. Jawaban Regan atas pertanyaannya, lebih penting dari gaya bicaranya. Regan tertawa kecil. “Kamu...satu-satunya wanita yang Ibu saya kenalkan pada saya yang saya lihat sebagai wanita benar.” Zee menatap Regan dengan tatapan tidak percaya. “Astaga, bukan itu maksudku! God! Saya bertanya-tanya karena kamu....you are out of the reach.” Regan bisa melihat keseriusan di mata Zee, namun karena ucapan wanita itu, Regan tertawa. “Kamu memandang saya bagaimana, Zee? Saya penasaran.” Regan bangkit dari duduknya dan menuangkan bir ke dua gelas yang sudah ada di kamarnya. Regan kembali untuk memberikan salah satu gelasnya pada Zee. Alisnya terangkat sebelah karena tertarik pada apapun yang akan dibicarakan oleh wanita itu. Zee menerima gelas pemberian Regan dan menatapnya dengan  ragu. “I am not poisoned it.” Regan tersenyum miring dan meminum birnya tanpa ragu. “Kenapa kamu sangat menginginkan terjadinya pernikahan antara kita?” Zee kehilangan akalnya saat menanyakan itu pada Regan tanpa pertimbangan matang, dan sekarang dia sudah bisa meyakini bahwa Regan akan menganggapnya wanita gila harta. Regan menghela napas. “Saya tidak ingin didesak lagi oleh Ibu saya, itu alasan pertama.” Regan menengguk lagi bir-nya. “Dan...saya ingin menjalani hidupku tanpa bayangan kelam yang sudah saya rasakan lima tahun ini.” Zee baru saja akan membuka mulutnya untuk bertanya apa maksud Regan soal bayangan itu. Namun, Regan lebih dulu mengatakan; “Jangan tanyakan itu pada saya, Zee. Saya tidak akan menjawabnya sekarang.” “Sekarang?” Zee menyipitkan matanya—merasa curiga dengan ucapan Regan. “Jika kamu mau menikahi saya, saya akan menjelaskan hal yang tadi ingin kamu tanyakan.” Zee berdecih dan melipat kedua tangannya di depan d**a. “Saya lebih memilih untuk tidak mengetahuinya, then.” Regan berdecak. Dia menyimpan gelas bir-nya yang sudah kosong dan membelakangi Zee. “Tidak ada yang merugikan di sini, Zee. You will have title, wealth, and husband—aku tahu mungkin kamu masih terlalu muda, tapi kamu tidak perlu repot-repot mencari suami nanti, he is in front of you right now.” Regan tersenyum. Zee menggeleng. “This is madness. Saya menyesal menanyakan ini padamu.” Regan mengangkat kedua bahunya. “We’ll see, then.” *** “Harusnya kamu menyiapkan salinannya, Zee.” Regan melepas kacamatanya dan memijat tulang hidungnya pelan. Zee gelagapan. Dia terbata-bata menjawab Regan. “Sa—saya sudah menyimpan foldernya dengan baik, Pak Regan. I am sure for that.” “Lalu, kenapa L/C itu bisa lenyap begitu saja?” Zee memilin jari jemarinya. “Saya tidak tahu.” Zee menunduk. Setelah menghadapi investor saham, pagi ini Zee kembali gugup ketika Regan memanggilnya dan menanyakan soal dokumen ekspor yang tiba-tiba hilang. “Zee, sebagai kepala divisi seharusnya kamu lebih teliti lagi. Bagaimana bisa kamu mengurus divisi kamu jika masalah dokumen saja kamu sama sekali tidak teliti?” Sebenarnya Regan tidak menaikkan nada suaranya—pria yang lebih tua sembilan tahun darinya itu sama sekali tidak membentaknya. Namun, karena suasananya, membuat Regan seakan-akan membentaknya. “Maaf, Pak Regan. Akan saya perbaiki semuanya dengan segera.” Zee menundukkan badannya beberapa kali sebelum pergi dari ruangan Regan. Zee berjalan pelan di rooftop kantor siang itu ketika jam istirahat kantor. Dia menghela napasnya dan memejamkan matanya sejenak. Pagi tadi, kegiatannya cukup hectic; dia harus melayani investor yang cerewet dan menjebaknya dengan berbagai macam pertanyaan yang menurut Zee sangat tidak masuk akal. Tidak hanya itu, dokumen letter of credit yang sudah ia siapkan untuk ekspor barang perusahaan harus hilang entah kemana. Alhasil, dia dimarahi habis-habisan oleh Regan. Zee menatap kosong ke arah depannya. Dia menahan tangisnya—untuk info saja, Zee bukanlah wanita yang cengeng, tapi mengingat pagi ini dia mendapat sial beberapa kali, membuatnya ingin menangis karena merasa tidak becus dalam kerjanya. Ponsel Zee berdering dan saat Zee melihat siapa yang memanggilnya, Zee tersenyum. “Halo, Mama.” “Sayang? Lama sekali kamu tidak menghubungi Mama.” Zee membayangkan wajah lembut Ibunya di sana dan dia ingin menangis lagi. “Maaf, Mama.” “No need to say sorry, Dear. Bagaimana keadaan kamu? Semuanya berjalan baik?” “Hm. Semuanya baik-baik saja.” Zee menggigit bibir bawahnya menahan tangisnya. “No, Zee. Mama tahu kamu, dan kali ini kamu sedang tidak baik-baik saja. Ada apa?” “Bosku.” “Kenapa dengannya?” “Persetan dengan dia. Dia menyebalkan pagi ini—no, he always annoys me, every time,” ucap Zee dengan kesal. Dia bisa mendengar Mamanya tertawa. “Sayang, kamu masih beberapa hari bekerja dan sudah menyumpahi bosmu sendiri?” “Dia pantas untuk itu. Dia sangat suka menjadi bossy, menyebalkan, dan selalu merasa benar!” “It’s because he’s the boss.” “And I hate him, Mama.” “Siapa yang kamu benci, Zee?” Zee hampir menjatuhkan ponselnya ketika suara Regan terdengar dari arah belakang tubuhnya. Zee cepat-cepat mematikan panggilannya dengan Ibunya. Dia bisa menjelaskan apa yang terjadi pada Ibunya nanti, yang terpenting adalah dia yang sekarang menghadapi Regan—di mana pria itu kini menatapnya dengan kerlingan jahil di matanya dan senyuman miring menyebalkan. “Hm...itu—” “I suggest you to not hating me that much.” Regan melangkahkan kakinya dan berdiri tepat di samping Zee, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. “Siapa tahu, kita menikah nanti dan kamu tidak bisa lepas dari saya.” Regan menoleh dan tersenyum jahil pada Zee. Zee langsung berjengit ngeri sendiri. “Saya tidak pernah setuju untuk menikah dengan Anda, Pak Regan.” “Really?” Zee mengangguk yakin. “Hm.” “Kalau begitu, kenapa kamu datang ke kamar saya hanya untuk menanyakan alasan saya memaksa kamu untuk menikah? You were definitely interested to my offer, Zee. Jangan berbohong.” Zee mendengus. Dia tidak ingin kehilangan akal sehatnya lagi dengan berdekatan bersama Regan yang baru saja membentaknya tadi pagi, namun kini malah menjahilinya seolah tadi pagi bukanlah apa-apa. “Hey, kamu mau kemana?!” Regan berteriak karena Zee sudah berada jauh di depannya karena menjauhinya. “Bukan urusanmu, Sialan!” Zee menggerutu yang untungnya sama sekali tidak didengar oleh Regan. “Ibu saya ingin makan malam bersama di luar!” Zee masih tetap melangkahkan kakinya menuruni tangga untuk kembali ke dalam gedung. “Zee! Kamu mendengar saya?” Regan mengikuti Zee dari belakang. Namun, Zee masih tidak ingin membalikkan badannya. “Tjahaya!” Zee terlalu buru-buru melangkah hingga tidak memerhatikan langkahnya sendiri. Alhasil, wedges yang ia pakai tidak sengaja membuat kakinya terkilir karena kecerobohannya sendiri. Jika Regan tidak menahan pinggangnya, mungkin Zee sudah terjatuh berguling menuruni tangga. Zee menahan napasnya. Dia melihat wajah Regan yang sama tegangnya dengannya. Tangan Regan melingkar di sekitar pinggangnya dan tangan Zee menahan di kedua lengan atasnya. “Pak Regan...” “Jadi, sekarang kamu masih ingin menjauhi saya?” ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN