Zee duduk dengan tidak nyaman ketika Regan memilih untuk duduk di sampingnya. Malam ini, Regan ternyata sungguhan membawa Zee untuk makan malam bersama Alexa. Awalnya, tadi siang Zee menganggap ucapan Regan tidak benar, karena Zee juga akan memikirkan lagi ajakan Regan mengenai makan malam ini. Bukan tanpa alasan, walaupun dia sudah cukup dekat dengan Alexa, rasanya terus saja canggung jika dia duduk bersama dengan Regan. Padahal, Regan adalah anak Alexa sendiri dan terutama Regan adalah bosnya. Zee sendiri tidak tahu kenapa dia bisa merasa seperti itu.
"Zee, kamu tidak suka makanannya?"
Zee terkejut ketika Alexa menanyakan hal itu dengan suara yang sangat lembut. Zee langsung menggeleng dan tersenyum merasa bersalah. "Tidak. Aku...aku hanya..." Zee melirik Regan yang juga menatapnya. Dia tertawa kecil, semakin canggung. "Tidak apa, Tante." Zee mulai memakan daging steak di hadapannya.
Alexa tersenyum pada Zee. "Apa Regan membuat kamu tidak nyaman?"
Zee tersedak makanannya karena pertanyaan Alexa.
"Astaga... Pelan-pelan--" Alexa baru saja akan memberikan minuman air putih di gelas yang ada di sampingnya, namun tidak ia lakukan ketika melihat Regan lebih dulu mengambilnya untuk memberikannya pada Zee.
"Minum," ucap Regan, terdengar seperti perintah pada Zee.
Zee melirik Regan sedikit takut, namun tetap menerima gelasnya. "Terima kasih," ucapnya setelah dirasa tenang. Zee kembali mengangguk canggung pada Regan.
Melihat interaksi di antara keduanya yang canggung, membuat Alexa tertawa karenanya.
"Ibu? Ada apa?" Regan kebingungan dengan Ibunya yang tiba-tiba tertawa tanpa sebab.
Alexa menggeleng. "Kalian berdua...lucu sekali." Alexa kembali tersenyum. Hal itu membuat Regan dan Zee lagi-lagi tidak sengaja saling lirik, dan mereka langsung melemparkan pandangannya ke lain arah ketika menyadari tatapan mereka bertemu.
"Astaga, apa harus secanggung ini, Regan? Ibu yakin kamu tidak pernah merasa canggung di dekat wanita sebelumnya. Tapi, kenapa dengan Zee berbeda?"
Regan mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak canggung, Ibu. Biasa saja."
"No, you are, Regan." Alexa menggelengkan kepalanya. "Padahal, bukankah kemarin-kemarin kalian sudah tidak begitu canggung?"
Regan melirik Zee yang menunduk menatap makanannya. "Hm. Sampai sekarang juga...kami baik-baik saja."
Zee menggigit bibirnya. Masalahnya, dia yang mengumpati Regan tadi siang, dia yang berteriak dan dengan tegas menolak Regan, juga dia yang hampir terjatuh di tangga dan diselamatkan Regan, membuat semuanya semakin canggung tanpa sebab. Zee tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Zee?"
"Hm." Zee refleks menjawab begitu. Lalu, dia tersadar responnya kurang baik. "Maaf, iya, Bu?"
"Jika Regan bertingkah kurang ajar padamu, tolong beritahu aku, ya." Alexa tersenyum yang dibalas senyuman juga dari Zee.
Satu jam kemudian, dessert mereka datang ke meja mereka. "Terima ka--"
"Saya tidak ingin red velvet-nya."
Alexa langsung mengangguk. "Tolong, ambil saja lagi."
"Baik, Ma'am." Pramusaji itu kembali mengambil kue red velvet yang baru saja akan diletakkan di meja.
Zee mengerutkan dahinya. Dua kali dia mendapati Regan melihat kue red velvet seperti melihat musuhnya. "Ada apa antara kamu dan kue red velvet?" Lagi-lagi Zee bertanya spontan.
Regan langsung meliriknya tajam. Zee terkejut mendapati Regan menatapnya begitu. "Oh maksudku, tidak. Aku...hm, never mind." Dan saat itu juga, Zee menyadari gaya bicaranya dengan Regan sudah sangat tidak baku, begitupun sebaliknya.
Regan mengambil gelas berisi vodka yang dia pesan, lalu menengguknya. Setelah itu, dia mengatakan, "Aku sudah mengatakannya, bukan? Aku akan menceritakan semuanya, jika kamu mau menjadi istriku."
Zee mengeryit dan menggeleng. "No, thanks. Better you keep it." Zee tidak akan mau lagi menanyakan hal itu pada Regan. Dua kali adalah waktu yang cukup untuknya menyadari bahwa apapun masalah Regan dengan kue red velvet adalah masalah yang tidak biasa.
Setelah makanan mereka tandas, Alexa lebih dulu pulang ke rumah dengan mobilnya yang sudah menunggu di pelataran restoran, meninggalkan Regan dan Zee berdua lagi. "Sampai jumpa di rumah, Ibu." Regan memeluk Alexa. Alexa mengangguk.
Lalu, Zee ikut memeluk Alexa. "Hati-hati," ucapnya dengan lembut.
"Thanks, Zee."
Akhirnya, mereka kembali berada di situasi canggung yang sangat tidak mereka sukai. "Well, kamu akan pulang dengan aku?" tanya Regan, gaya bicaranya yang santai membuat Zee sedikit tidak ragu untuk mengatakan aku-kamu padanya.
"Fine," balas Zee. Regan terlebih dahulu melangkahkan kakinya untuk masuk ke mobil. Sementara itu, saat Zee akan mengikuti Regan, tidak sengaja dia melihat seorang pria dengan jaket hitam, dan juga menutupi wajahnya dengan masker hitam menatapnya. Zee terkejut, dia mematung di tempatnya.
Pria itu membuka tudung di kepalanya dan Zee yakin bahwa itu adalah pria yang selama ini menjadi bayang-bayangnya. Masa lalu kelamnya.
“Zee?”
Dua kali Zee mendapati pria itu menakut-nakutinya dengan muncul tiba-tiba dan Zee yakin pria tersebut mengikutinya selama ini.
“Tjahaya?” Regan kembali menghampiri Zee dan menyentuh pundak wanita itu. Tidak Regan sangka bahwa tindakannya itu akan membuat Zee sangat terkejut hingga akhirnya berbalik untuk menyembunyikan dirinya pada Regan yang tubuhnya lebih besar darinya.
Regan bisa merasakan napas Zee memburu. Zee tidak baik-baik saja, Regan yakin itu—dan itu membuat Regan kembali teringat seseorang.
“Zee? Kamu baik-baik saja?” Regan awalnya ragu, namun dia tidak menahan nketika tangannya memeluk Zee.
Zee melirik tempat pria itu berdiri dan dia mengerutkan dahinya ketika menyadari pria itu sudah pergi.
“Zee?”
Zee melongo. Bagaimana bisa? Apa pria itu hanya halusinasi dari traumanya saja? Tidak mungkin! “Zee.” Regan membuat Zee melirik ke arahnya.
Zee langsung tersadar bahwa kini dia kembali berada di pelukan bosnya sendiri. Wanita itu langsung memisahkan dirinya dari Regan. “Maaf, aku...” Berkali-kali Zee kembali melirik ke tempat pria tadi berdiri, namun dia tidak melihat apapun. “Aku...” Sementara, gelagat Zee yang ketakutan begitu membuat Regan penasaran dan ikut melirik ke arah yang sama dengan Zee.
“Aku tidak apa-apa.” Zee mengatakan itu dengan sekali hembusan napas. Dia mencoba tersenyum pada Regan. “Maaf, aku membuang waktumu,” ucap Zee dan tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia masuk ke mobil Regan. Zee meninggalkan Regan dengan rasa kekhawatiran dan membuka kembali memori lama yang ingin sekali Regan lupakan.
***
Lima belas tahun yang lalu...
Regan sedang membereskan buku pelajarannya di lokernya saat dia mendapati Anna Roseanne—sahabatnya sejak kecil—menghampirinya dengan wajah berseri.
“Guess what,” ucap Anna pada Regan. Regan memutar bola matanya malas dan menutup lokernya. Dia bersandar ke lokernya seraya menatap Anna dengan seksama.
“Apa? Ibumu mengizinkan kamu pergi ke club dengan Eleanor?” Anna sangatlah dekat dengan Regan, hingga semua yang dia lakukan, dia harus memberitahu Regan terlebih dahulu. Bahkan dia selalu memberitahu Regan sebelum memberitahu orangtuanya.
Anna menghela napas dan memutar bola matanya malas. “Bukan itu. Mama akan membunuhku jika aku melakukannya.”
“So do I.”
Anna berdecak dan memukul lengan berotot Regan yang menurut Anna sangat berlebihan untuk remaja berusia tujuh belas tahun. “Arthur mengajakku berkencan.”
“Apa?!”
Anna mengangguk dan berjingkarak-jingkrak seperti anak kecil. “Can you believe that?”
Regan menggeleng dan menghela napas. Dia membetulkan tas di pundaknya dan berjalan meninggalkan Anna. “Tidak mungkin. Arthur tidak bisa mengajak kamu berkencan.” Anna tidak putus asa untuk meyakinkan Regan, jadi dia terus mengikuti Regan dengan langkahnya yang lebarnya beda jauh dari lelaki itu.
“Regan! I know it’s unbelieveable, tapi setelah kelas sejarah tadi, dia memberiku tiket untuk menonton Opera,” ucap Anna dengan—masih—wajahnya yang kegirangan.
Regan menatap Anna malas. “Opera? Dia sangat kuno, Anna.”
***