My Wedding Dress
14 Februari 2019, hari di mana sepasang kekasih mengikat janji. Pengantin pria Kenzyu Yaw menanti dengan sabar sang pengantin wanitanya berjalan ke arahnya. Terlihat pengantin wanita begitu anggun dan elegan dengan gaun pengantin yang sangat cantik. Menambah kesan cantik dan menarik di wajahnya yang bersinar. Senyum manis terlontar dengan langkah yang elegan menuju Altar.
"Wah lihat pengantin wanitanya cantik sekali,” bisik salah satu tamu undangan.
"Dia adalah Muya Liau, putri tunggal keluarga Liau, Muya terkenal cantik dan dimanjakan oleh Tuan
Liau."
“Ah, pantas saja pesta pernikahannya sangat mewah ternyata seorang pewaris calon ratu keluarga
Liau ya."
"Lihat pengantin prianya juga sangat tampan, ah aku sangat iri sekali mereka sangat serasi ya."
“Iya seperti melihat lukisan saja ya," bisik para tamu undangan terdengar samar.
Terlihat Muya berjalan begitu anggun dan sebentar lagi akan segera sampai ke altar. Namun sesuatu terjadi pada gaun pernikahanya. Gaunnya tersangkut sebuah benda membuat Muya hampir saja terjatuh.
“Ahh,” ucap Muya terkejut. Tetapi Muya tibatiba saja tersenyum karena seseorang menolongnya dan memeluk tubuhnya sehingga dia tidak terjatuh.
“Kaka,” ucap Muya dengan senyum manisnya. Lalu Muya memeluk erat pria tersebut.
Pria tersebut tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Bukan aku tapi dia ...,” kata pria itu dengan sedikit senyuman. Muya terkejut karena Pria itu adalah orang lain. Muya berpikir pria itu adalah Kenzyu calon suaminya. Tetapi ternyata saat dia melihat ke sisi lain. Kenzyu tersenyum mendekatinya.
“Bagaimana bisa, Kak, kamu ...?” Muya merasa terkejut.
“Sayang, dia adalah kakak kembarku, namanya Kaizyu,” ucap Ken dengan senyuman yang manis lalu meraih tangan Muya dengan lembut.
“Ahh, kakak ipar ya.” Muya terbata. Ken menggandeng tangan Muya menuju altar pernikahan, lalu mereka pun saling mengikat janji setia. Upacara pernikahan pun selesai dengan hikmat. Kini Ken dan Muya adalah sepasang suami istri. Berlanjut ke acara resepsi pada malam hari.
Banyak sekali tamu undangan yang datang membuat Muya terlihat kelelahan.
“Sayang, apa kamu lelah? Wajahmu pucat sekali. " Ken terlihat khawatir.
Lalu Muya menggelengkan kepala. Dia tidak ingin melewatkan sedetik pun resepsi pernikahanya. Muya pun memaksakan tubuhnya untuk terlihat sehat di depan tamu undangan.
Di sisi lain terlihat Kaizyu meminum banyak sekali wine sehingga membuatnya sedikit mabuk. Kai lalu keluar dari acara resepsi dan mulai berjalan masuk ke kamarnya di lantai 5 nomor 2006. Kai terlihat lelah dan pusing dengan segera ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
“Ken sepertinya kamu sangat beruntung, istrimu sangat cantik,” gumam Kai lalu dia pun tertidur.
Muya yang sudah tidak tahan karena kelelahan lalu pamit pada tetua dan Ken untuk masuk kamar. Ken hendak mengantarnya ke kamar. Namun tiba-tiba teman sekolahnya datang. Tentu saja Ken harus menyambut teman-temannya. Dan Muya pun naik sendiri ke kamarnya, berjalan perlahan lalu membuka pintu kamar. Namun Muya terlihat begitu sesak.
“Ah, gaun ini membuatku tambah sesak." Muya terlihat sangat pucat dan sesak napas. Lalu Muya pun terjatuh tepat di depan pintu kamar pengantin. Suara jatuhnya Muya terdengar sangat kencang. Membuat Kai yang sedang tertidur lelap terbangun dengan seketika. Kai mencoba bangun dan berjalan keluar kamarnya. Alangkah terkejutnya Kai melihat adik iparnya tergeletak di lantai dengan napas yang sesak.
“Adik ipar, kamu kenapa?” tanya Kai terkejut lalu Kai menggendong Muya ke dalam kamar pengantin.
“Kakak, sesak, sesak sekali tolong longgarkan gaunku ...,” kata Muya lemah.
Kai pun mengangguk, tanpa berpikir panjang ia melepaskan gaun pengantin Muya dan menyelimuti tubuh Muya dengan dengan selimut tebal. Kai mencoba menelepon Ken beberapa kali namun sepertinya suara berisik di aula resepsi membuatnya tidak mendengar dering ponsel.
“Ken, istri kamu sakit,” ucap Kai di voice mail. Lalu Kai menelepon Dokter Noan, dokter keluarga yang bukan lain adalah teman kecilnya. Lalu beberapa saat kemudian Dokter Noan pun datang. Dokter Noan dengan sigap memeriksa Muya.
“Adik ipar kelelahan, karena bajunya yang ketat membuatnya sesak napas, kamu yang membuka bajunya?” tanya Dokter Noan. Lalu Kai mengangguk. “Kamu sendiri sepertinya mabuk," katanya lagi.
“Iya sepertinya begitu, kepalaku pusing, sudah lama aku tidak minum semenjak kecelakaan itu, minum beberapa gelas saja membuat kepalaku seperti berputar-putar," ucap Kai terlihat lemah. Lalu Kai merebahkan tubuhnya di sofa di samping kasur Muya.
“Istirahatlah, Kai, biar aku menyusul Ken,” ucap Dokter Noan sambil pergi meninggalkan kamar pengantin.
Kai terlelap tidur di sofa. Muya terbangun dan melihat tanganya sudah diinfus. Dengan perlahan Muya bangun berjalan menuju ke arah Kai dan tertidur di pelukan Kai. Ken dan Noan berlari menuju ke kamar pengantin, alangkah terkejutnya Ken ketika melihat Muya terlelap di pelukan Kai. Muya dan Kai saling berpelukan.
“Ah dia mabuk, Ken," ucap Dokter Noan.
“Kenapa dia minum? Bahkan sudah lama dia tidak minum." Ken menggendong Muya dan menidurkannya di kasur.
“Inikan hari besarmu, makanya dia minum, dia sangat menyayangi," ujar Dokter Noan dengan senyumannya.
"Lima tahun dia jauh dariku, tinggal di Paris tanpa mempedulikanku, apakah itu disebut sayang?” tanya Ken sambil menyelimuti sang kakak kembarnya. Dan Noan hanya tersenyum.
“Bagaimana ini, Ken, bahkan ini malam pernikahanmu, apa kalian akan tidur bertiga di kamar ini?” tanya Dokter Noan dengan senyumannya. Lalu Ken pun tersenyum dan tidur di samping istrinya yang cantik. Dokter Noan pun pergi meninggalkan kamar pengantin.
Pagi pun tiba dan alangkah terkejutnya Muya ketika sadar bahwa di kamarnya bukan cuma ada suaminya Ken tetapi ada Kai kakak iparnya juga.
"Ya Tuhan, memalukan sekali aku bahkan sakit di malam pernikahanku, dan aku dijaga oleh kedua suamiku, iya suamiku,” kata Muya dalam hati sambil senyum-senyum.
Mereka sungguh mirip bahkan aku tidak bisa membedakan yang mana suamiku? batin Muya sambil menatap kedua saudara kembar itu.
“Sayang,” ucap Ken pelan sambil mengucek kedua matanya.
“Kakak, maaf semalam aku malah sakit ....”
“Tidak apa-apa, siapa yang ingin sakit, tidak ada kan?”
“Tapi tadi malam adalah malam pertama kita, Kak," ucap Muya malu-malu.
“Iya tapi kenyataanya kamu begitu lemah,
Sayang.”
“Tapi, Kak, kenapa kakak ipar tidur di sini juga?” Muya merasa terheran-heran.
"Dia semalam minum beberapa gelas saja tapi sudah mabuk, aku tidak tega membangunkanya, Sayang." Ken berkata sambil beranjak bangun dan menyelimuti tubuh kakaknya yang sedikit tersingkap.
“Begitu sayangnya Kakak padanya?” tanya Muya dengan rasa ingin taunya.
"Jelas saja, dia adalah separuh jiwaku, badan kami terpisah tetapi kami selalu bersama, dalam kandungan.” Ken sedikit tertawa pelan.
“Kalian sangat mirip, Kak, aku sungguh tidak bisa membedakan kalian berdua,” ucap Muya pelan.
“Kenapa tidak bisa istriku, Sayang? Suamimu ini adalah seorang dokter bedah sedangkan kakak iparmu itu adalah seorang CEO perusahaan kami, dari penampilan kami sedikit berbeda, ko," ucap Ken dengan senyumannya.
“Berkata itu memang gampang, Kak, tetapi pada kenyataanya sangat sulit membedakan kalian berdua. Eh, Sayang, semalam apakah dia yang membukakan baju pengantinku?” tanya Muya sedikit terkejut.
“Sepertinya memang Kai yang membukakan bajumu, ah ... aku sudah kalah telak, Kai sudah melihat tubuh seksimu duluan," ucap Ken dengan sedikit senyuman.
"Ya Tuhan, malu sekali, tapi tenang saja tidak terjadi apa-apa selain membuka bajuku," ucap Muya dengan senyum manisnya. Ken lalu memeluk sang istri dan hendak mengecup keningnya. Tiba-tiba saja Kai terbangun dari tidurnya.
“Kalian sedang apa, masih ada aku di sini?” tanya Kai dengan suara seraknya khas bangun tidur. “Kau kenapa bangun? Ya Tuhan, kamu sangat menggangguku, Kai,” ucap Ken sambil tersenyum simpul. Muya sendiri terlihat sangat malu. Wajahnya memerah Semerah tomat. Kai beranjak bangun dan hendak meninggalkan kamar pengantin. Meninggalkan sepasang pengantin yang sedang malu-malu.
Kai berjalan menuju ke kamarnya. Sambil merutuki dirinya sendiri kenapa bisa tertidur di kamar pengantin.
Dasar kakak tidak berguna, hanya bisa mengganggu adiknya, Kai bergumam dalam hatinya karena merasa menjadi pengganggu sepasang pengantin itu.
Kai merebahkan dirinya di sofa kamar hotel itu, lalu membuka dompetnya dan melihat sebuah foto yang dia simpan dalam dompetnya. Kai tersenyum simpul menatap foto tersebut. Entah foto siapa itu, yang pasti Kai selalu menyimpan foto itu selama beberapa tahun terakhir ini.
“Kau memang selalu menjadi yang tercantik,” ucap Kai dalam hatinya sambil terus menatap foto yang berada dalam dompetnya. Andai waktu bisa diputar kembali. Ia ingin sekali kembali ke masa itu. Masa di mana dia masih di sini dan masa sebelum dia kecelakaan. Sebuah tragedi membuatnya harus pergi dari negara asalnya karena pengobatan. Tidak bisa berkata ingin atau tak ingin dia meninggalkan negaranya. Tetapi dia memang harus pergi demi kelangsungan hidupnya.
Sebuah kecelakaan yang merenggut semuanya baik dari hidup, cinta, dan sebuah impian, bahkan mungkin masa depannya. Tetapi siapa yang mau? Tentu saja setiap orang tidak mau mendapatkan sebuah kecelakaan. Dan dia masih beruntung karena Tuhan masih memberinya kesempatan kedua untuk hidup kembali.
***********************
Kamar pengantin itu masih terlihat rapi. Muya dan Ken bersiap untuk sarapan. Muya masih belum pulih sepenuhnya. Tangannya masih terpasang infus dan tubuhnya masih lemah. Tuan Liau datang dengan tergesa-gesa karena ingin melihat keadaan sang putri tunggalnya. Pintu itu pun terbuka dan tanpa permisi Tuan Liau langsung masuk.
“Muya, putri kesayanganku, kau tidak apa-apa, Nak?” tanya Tuan Liau sambil memeluk sang putri dengan sangat erat. Wajah khawatir terpancar darinya.
“Papi, aku tidak apa-apa, Pi,” ucap Muya pelan.
“Betapa cemasnya Papi saat mendengar kamu jatuh sakit, Sayang,” ucap Tuan Liau dengan suara yang berat menahan tangis.
“Maafkan aku, Papi, karena telah membuatmu cemas.”
“Tidak tidak, Nak, kenapa harus meminta maaf, kamu adalah jantung hatiku, jangan sakit lagi, ya,
Putriku Tersayang ....”
“Baiklah, Papi, Muya berjanji akan menjaga diri agar tidak sakit lagi, terima kasih karena Papi begitu mencemaskan aku," ucap Muya pelan.
“Apa tanganmu sakit, Nak, kamu baru pertama kali diinfus,” ucap Tuan Liau sambil menunjuk ke arah tangan Muya yang terpasang jarum infus.
“Iya, Papi ini sedikit sakit, tapi karena kalian sangat mengkhawatirkan aku dan sangat menyayangiku, rasa sakit ini tidak sebanding dengan kasih sayang kalian," ucap Muya dengan manja.
“Apa sebaiknya kita berangkat ke rumah sakit sekarang?” tanya Tuan Liau.
“Ah tidak-tidak, aku di sini saja, Papi, nanti wartawan akan tau kalo aku sakit." Muya mengelak.
“Tidak apa-apa bahkan seorang selebriti pun adalah seorang manusia, Sayang."
“Tidak, Papi, tidak, Muya ingin di sini saja, mereka akan melebih-lebihkan soal sakitku ini, Papi,” ucap Muya dengan mulut yang manyun.
“Ah anak ini manja sekali," Tuan Liau tersenyuman.
“Itu karena Papi memanjakanku,” ujar Muya manja sambil memeluk sang papi.
Ken melihat betapa ayah mertuanya sangat menyayangi sang istri. Dia tidak boleh melukai sang istri sedikit pun. Ken sangat bersyukur bisa menikahi Muya. Seorang model cantik dan seorang pewaris keluarga Liau. Dia sendiri juga merupakan putra dari keluarga
Yaw dan itu sebanding dengan apa yang Muya miliki.
“Ken, kau harus menjaga putriku!” ucap Tuan Liau dengan pelan namun tegas.
“Baiklah, Papi, aku akan berusaha selalu menjaga dan melindungi Muya sebaik mungkin." Ken begitu serius.
"Ya ampun, Kak Ken, kenapa wajahmu serius sekali,” ucap Muya menorehkan senyum geli saat menatap Ken yang begitu serius.
“Karena memang aku serius, Sayang," ucap Ken dengan senyum manisnya.
“Baiklah, aku akan memegang kata-katamu, dan segeralah berikan aku seorang cucu untuk penerus keluarga Liau ....” Tuan Liau sedikit tersenyum.
“Baiklah, Papi, aku akan berusaha yang terbaik, aku berjanji akan memberimu banyak cucu,” ucap Ken dengan senyumannya.
“Iya berjanjilah.”
“Ah, Papi, itu apaan sih? Aku bahkan masih sakit kalian sudah membicarakan cucu," tangkas Muya dengan wajah yang merah semerah tomat.
“Tapi itu memang kenyataan, Papi menantikan seorang cucu laki-laki sebagai penerus keluarga Liau, nanti dia akan ikut marga kita, Sayang,” ucap Tuan Liau dengan serius.
“Baiklah, Papi, aku akan menurut saja." Ken tersenyum.
Mereka pun memulai sarapan mereka di pagi itu. Suasana pagi di kamar pengantin dengan wedding dress yang sedikit robek karena dirobek oleh Kai semalam. Sebuah cerita yang akan Muya kenang dan akan dia ceritakan pada teman-temannya.
Suara ketukan pintu pun terdengar. Ken membuka pintu dan ternyata itu adalah Dokter Noan hendak memeriksa keadaan Muya. Setelah sarapan selesai Dokter Noan langsung memeriksa keadaan Muya. Dan hasilnya bagus. Muya boleh melepaskan infusnya jika tubuhnya sudah tidak lemas lagi.
“Terima kasih banyak, Dokter Noan, kalo tidak ada Dokter entah apa yang terjadi pada saya," ucap Muya dengan senyum manisnya.
"Jangan berterima kasih kepada saya, Kakak Ipar, tapi berterima kasihlah pada Kaizyu. Karena dia telah melepaskan bajumu yang sempit, sehingga kamu tidak kesulitan bernapas lagi karena baju sempit itu," ucap Dokter Noan dengan senyumannya.
“Oh iya, aku akan berterima kasih padanya lain waktu, tadi aku tidak sempat berbicara banyak dengannya karena dia baru bangun tidur."
“Baiklah, dia pasti akan senang mendengar ucapan terima kasihmu, namun dia berbeda dari suami Anda, Kakak Ipar, dia begitu dingin dan jarang berbicara," ucap Dokter Noan dengan senyumannya.
“Tidak masalah, aku selalu ingin berakting memiliki seorang kakak yang cool.” Muya meleparkan senyuman manisnya. Dan semuanya tertawa geli melihat tingkah manja dari Muya. Termasuk sang ayah yang tidak henti memperhatikan mimik wajah putri kesayangannya itu. Sedang Ken sendiri merasa sangat bahagia karena kini Muya telah menjadi miliknya seutuhnya. Mimpinya meminang Muya telah terwujud sudah.