Waktu terus berlalu, acara grand opening klinik kecantikan Dinar sudah berada di penghujung acara. Dinar bersama Natalie dan kedua orang tuanya menyampaikan banyak terima kasih kepada seluruh tamu undangan. Para tamu satu persatu berpamitan pada Dinar, begitu juga dengan Renjana dan Linda.
Seluruh tim Dinar memberikan bingkisan kenang-kenangan atas pembukaan klinik skincare milik Dinar. Mereka turut merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh Dinar besera tim dan keluarga wanita single tersebut. Selain senang karena diundang menjadi salah satu tamu dari grand opening klinik DMR Skincare, para tamu undangan juga merasa bahagia ketika mendapatkan bingkisan kenang-kenangan serta voucher potongan pembelian di klinik DMR Skincare sebesar tiga puluh persen sampai akhir bulan.
“Din, sekali lagi selamat ya atas pembukaan klinik skincare kamu,” ucap Linda.
“Iya Mbak, sama-sama. Oh iya ini ada sedikit bingkisan untuk Mbak, semoga bermanfaat buat Mbak Linda, ya,” ucap Dinar sambil menyerahkan satu papergbag dan juga paket glowing untuk Linda.
“Wah Din ini aku beneran dikasih ya? Thank you banget ya, semoga saja skincare kamu ini cocok di kulit wajahku. Aku juga pengen punya kulit bersih dan glowing seperti kamu,” kata Linda melirik ke arah Renjana.
Laki-laki tampan di samping Linda sama sekali tidak menggubris ucapannya. Dia langsung berpamitan pada Dinar dan mengucapkan terima kasih karena telah diundang ke acara pembukaan klinik miliknya ini. Linda bahkan mendapatkan satu paket glowing beserta serumnya dengan kisaran total satu juta rupiah secara cuma-cuma.
“Din, terima kasih ya udah undang kita ke sini. Semoga usahanya lancar ke depannya. Kita pamit dulu ya, karena aku masih harus ke kantor setelah ini,” tutur Renjana.
“Oh iya Mas. Aku yang mengucapkan banyak terima kasih karena Mas Renjana dan Mbak Linda sudah menyempatkan diri untuk datang ke acara aku meski sedang sibuk-sibuknya,” kata Dinar.
Mereka bertiga saling berjabat tangan dan tersenyum. Dan acara pamitan pun selesai. Dinar dan Natalie masih di klinik sambil mengawasi para pekerja yang bersih-bersih. Sedangkan Nisaka dan Adam juga turut berpamitan pada Dinar. Kedua orang tua Dinar tersebut masih harus melakukan tugas dan kewajiban dari pekerjaannya.
“Din, Mama sama Papa pulang dulu ya,” ucap Nisaka.
“Loh Mama sama Papa enggak mau pulang ke rumah Dinar?” tanya Dinar.
“Enggak Din, Papa besok ada seminar jadi Papa harus mempersiapkan segalanya di rumah malam ini,” kata Adam.
“Oh gitu Pa. Terus Mama sama Papa mau Dinar anter?” tanya Dinar.
“Gak perlu Din, kan Papa dan Mama ke mari bawa mobil sendiri,” sahut Nisaka.
Orang tua Dinar tak tega jika Dinar harus mengantar mereka karena mereka tahu Dinar juga pasti lelah. Sebelum menuju mobil mereka, orang tua Dinar memberi sedikit pesan serta nasihat kepada Dinar tentang usaha barunya itu.
“Dinar, Papa doakan semoga usaha baru kamu ini lancar dan sukses sama seperti usaha-usaha kamu yang sebelumnya,” harap Adam.
Adam tersenyum lembut, mengelus puncak kepala putrinya sambari berdoa yang baik-baik untuk perkembangan serta kemajuan bisnis usaha putrinya. Doa-doa baik selalu kedua orang tuanya panjatkan untuk Dinar di setiap langkah wanita itu.
“Iya Pa, terima kasih. Terima kasih atas doa dan dukungan Mama sama Papa. Kan berkat doa kalian juga Dinar bisa seperti ini,” kata Dinar.
“Tapi kamu juga harus ingat akan masa depan kamu loh Din, jangan terlalu sibuk dengan karir sampai lupa dengan umur,” timpal Nisaka.
“Maksudnya Ma?” tanya Dinar bingung.
Nisaka tersenyum melihat kepolosan putrinya yang tak tahu maksud dari ucapannya barusan. Bagaimana mungkin putrinya itu tidak punya pandangan menjalin hubungan dengan lawan jenisnya, di saat kebanyakan dari teman-teman Dinar telah menikah atau baru saja bertunangan. Bukannya seperti Dinar yang terus-menerus memikirkan tentang bisnisnya semata tanpa mengingat umurnya juga kian bertambah dewasa dan sudah saatnya membina rumah tangga untuk meneruskan keturunan keluarganya.
Walaupun Dinar tipikal wanita mandiri dan independent, tidak lantas menjadikan wanita cantik itu hidup sendirian seumur hidupnya tanpa seorang pasangan yang akan hidup dan menua bersama dengan dirinya.
“Ya maksud Mama kamu juga jangan terlalu sibuk mengurusi pekerjaan. Usia kamu semakin bertambah Din, jadi sudah sepantasnya kamu mencari seorang pendamping hidup. Kamu juga butuh teman hidup, karena umur Papa dan Mama tidak ada yang tahu sampai kapan,” kata Nisaka.
“Mama, kenapa malah membahas tentang umur segala. Papa dan Mama panjang umur, sehat selalu, temani Dinar sampai kelak,” jawab Dinar meyakinkan.
“Betul tuh Tan, aku setuju sama Tante. Lu itu udah harus cari suami atau minimal calon suami,” kata Natalie yang tiba-tiba ikut berbicara.
“Ye, sendirinya aja masih jomblo,” cetus Dinar.
Natalie meringis mendengarkan ejekan dari teman sekaligus bosnya. Dinar terkekeh sambari merangkul lengan Natalie, mengedipkan matanya mengejek.
“Sudah-sudah. Kalian berdua itu sama saja, sudah waktunya kalian memikirkan masa depan,” tegur Nisaka.
Dinar tak berkata lagi, owner DMR Skincare itu sepertinya memikirkan omongan mamanya tadi. Sebetulnya apa yang dikatakan mamanya itu ada benarnya. Dinar memang sudah lama tak menggandeng seorang lelaki hingga dia lupa kapan terakhir kali dia memiliki hubungan spesial dengan laki-laki.
Lamunan Dinar pecah ketika Nisaka menyenggol pelan pergelangan tangan putrinya.
“Din, Mama dan Papa pulang dulu ya. Kamu hati-hati pulangnya, dan jangan capek-capek!” pesannya.
“Iya Ma. Mama sama Papa juga hati-hati ya, kabari Dinar kalau ada apa-apa.” Kata Dinar sambil mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
Dinar menatap mobil putih keluaran Honda dengan merk menengah berwarna putih milik kedua orang tuanya melaju meninggalkan halaman parkir klinik skincare miliknya. Natalie merangkul lengan sahabatnya, mengajaknya segera masuk ke dalam klinik untuk menyelesaikan apa yang harus mereka selesaikan sebelum kembali ke rumah masing-masing.
Setelah mengantar Linda pulang, Renjana langsung pergi lagi ke kantor. Kali ini dia memberitahu Linda bahwa dia akan pulang larut malam dan meminta dengan sangat pada Linda untuk tidak menuduhnya macam-macam.
“Lin, Mas langsung ke kantor ya. Ada meeting dengan klien penting sore ini,” kata Renjana.
“Kamu beneran enggak mau masuk dulu? Atau mau Linda siapkan cemilan, Mas?” tanya Linda.
“Iya, aku harus kembali ke kantor karena meeting dengan klien di Bogor. Dan malam ini aku akan pulang larut malam jadi kamu tidak usah menungguku pulang ya,” kata Renjana.
“Iya Mas,” jawab Linda dengan nada kecewa.
Sebetulnya Linda ingin sekali mencari tahu apakah suaminya benar-benar meeting di Bogor. Tapi sepertinya Renjana menangkap kecurigaan Linda, maka cepat-cepat dia meyakinkan Linda agar percaya padanya.
“Lin ayolah kali ini percaya padaku. Aku tidak mungkin macam-macam di luar sana. Cintaku hanya buat kamu Lin, jadi aku minta dengan sangat jangan menuduhku selingkuh lagi ya,” ujar Renjana.
Linda tak menjawab, dia hanya menghembuskan napasnya panjang. Tapi demi menjaga hubungannya dengan Renjana tetap baik maka Linda menuruti semua permintaan Renjana. Ada baiknya Linda tidak terus-menerus memperkeruh suasana di tengah panasnya hubungan mereka.
“Iya Mas aku janji aku enggak akan menuduh kamu macam-macam lagi. Kalau begitu aku masuk dulu ya.” Kata Linda sambil membuka pintu mobil.
Sebelum pintu mobil terbuka, Renjana memanggil Linda kemudian meraih kepala Linda agar lebih dekat dan dikecupnya ujung kepala istrinya itu sambil mengucapkan terima kasih. Renjana tersenyum lembut, jika Linda bertingkah baik dan menurut seperti sekarang wanita itu terlihat sangat manis dan juga menyenangkan.
“Terimakasih ya Sayang, aku berangkat dulu. Jangan lupa kunci pintu rumahnya kalau kamu di dalam,” kata Renjana setelah dia selesai mencium kepala Linda.
Linda merasa dirinya sangat dicintai oleh suaminya. Maka dia membalasnya dengan meraih telapak tangan Renjana dan diciumnya telapak tangan itu. Setelah Linda keluar dari mobil Renjana maka laki-laki itu melajukan mobilnya untuk kembali ke kantor.
Renjana kembali sibuk dengan pekerjaannya begitu lelaki itu sampai di kantornya. Dia mengurus segala persiapan meeting dengan klien pentingnya bersama Rizky, teman yang tadi malam menemaninya di cafe.
“Bro, hari ini kita jadi meeting ke Bogor kan?” tanya Rizky.
“Jadi dong, makanya ini gue lagi siapin segala perlengkapanannya. Berkas-berkas yang lu pegang gimana? Udah beres?” tanya Renjana.
“Udah dong, pokoknya kita tinggal berangkat,” kata Rizky.
“Oke bagus kalau begitu,” ucap Renjana.
Renjana melanjutkan kesibukannya di depan laptop sedang Rizky masih berada di ruangannya sambil memastikan bahwa berkas-berkas untuk dibawa ke Bogor tidak ada yang tertinggal. Sambil bekerja tiba-tiba Rizky teringat akan cerita Renjana tadi malam perihal rumah tangganya, makanya dia bertanya pada Renjana sekaligus meledeknya.
“Bro semalem gimana si Nyonya masih ngambek gak?” tanya Rizky.
“Pas gue sampe rumah dia udah tidur. Ya udah gue gak bangunin, karena kalau dia bangun dia pasti akan bahas terus,” kata Renjana.
“Yah payah,” cibir Rizky.
“Payah gimana maksudnya?” tanya Renjana bingung.
“Ya payah, enggak jadi dapat jatah dong?” bisik Rizky.
Mendengar bisikan dari Rizky sontak membuat Renjana tertawa dan mendumel karena Rizky menggodanya. Perihal jatah suami memang bukanlah hal ambigu lagi di tengah pembicaraan para suami. Namun Renjana masih enggan membahas tentang aktivitas ranjangnya dengan sang istri di depan orang lain.
Biarlah segalanya menjadi rahasia umum di antara dirinya dan Linda saja.
“Rese lu ya!” cetus Renjana.
Rizky justru terbahak di tempatnya. “Ya, terus gimana hari ini, lu udah ijin belum kalau bakal pulang telat?” tanya Rizky memastikan.
“Udah. Gue bukan cuma udah ijin tapi juga udah minta dia buat enggak curiga-curiga lagi sama gue,” kata Renjana.
“Bagus deh. Jadi kan lu bisa kerja lebih tenang,” ucap Rizky.
Mereka pun melanjutkan perkerjaannya karena sebentar lagi mereka harus berangkat ke Bogor untuk meeting dengan klien penting tersebut. Renjana tidak ingin terlambat atau sampai membuat kliennya menunggunya lama, karena pembahasan yang akan mereka bicarakan begitu penting.
Klinik DMR sudah selesai dibereskan. Para tim juga sudah berpamitan satu persatu dan yang terakhir berpamitan adalah Desy, yang tak lain juga salah satu karyawan di salon di milik Dinar.
“Bu Dinar, Bu Natalie, saya pamit dulu ya,” ucap Desy.
“Kamu langsung pulang kan Des?” tanya Natalie.
“Sepertinya tidak Bu. Saya mau mampir ke salon dulu balikin alat make up,” kata Desy.
“Kalau kamu capek bawa aja alatnya pulang Des. Jadi kamu enggak perlu ke salon lagi, besok baru kamu bawa lagi ke salon,” pungkas Dinar.
“Tidak apa-apa Bu. Kebetulan memang ada yang harus saya kerjakan di salon,” kata Desy menjelaskan.
Baik Dinar maupun Natalie sudah tidak bisa lagi mencegah Desy. Maka keduanya hanya mengijinkan Desy untuk meninggalkan Klinik DMR. Setelah kepergian Desy, Natalie menanyakan pada Dinar kapan dia mulai merekrut karyawan untuk di klinik ini.
“Din, lu kapan mau rekrut karyawan buat di sini?” tanya Natalie.
“Hmm, paling mulai besok sih. Besok lu bantu gue ya buat sebar lowongan di media sosial. Sambil nunggu orang yang mau kerja kayaknya gue bakal ajak Desy dan dua karyawan salon kita buat bantuin gue di sini,” kata Dinar.
“Satu aja kali, kan jadi bertiga sama lu,” ucap Natalie.
“Iya juga ya. Kalau nanti udah rame baru deh gue ambil satu lagi. Nanti selama Desy bantuin gue di sini, lu handle salon ya,” perintah Dinar.
“Siap Bos!” jawab Natalie semangat.
Dinar berharap doa dari orang tua dan semua orang yang mendoakan usaha barunya ini lancar dan sukses dapat terkabul. Dia juga berdoa supaya bisa cepat mendapat karyawan untuk klinik skincare miliknya ini. Dinar tidak ingin sembarangan merekrut seorang karyawan, dia ingin seseorang yang mempunyai loyalitas tinggi dan dapat dia andalkan skill pekerjaannya.
Terlebih usaha Dinar bergerak di bidang estetika, dia harus merekrut karyawan dengan basic seseorang yang memahami tentang medis dan segala tugas-tugasnya.