28. Paket Glowing

1852 Kata
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Tamu-tamu sudah mulai berdatangan. Dinar tak henti tersenyum karena mendapat ucapan selamat dari para tamu. Hatinya sangat bahagia karena ternyata banyak orang yang menghormati undangannya. Dia juga senang karena akhirnya klinik skincarenya sudah diresmikan. Acara berjalan lancar, semua undangan datang dengan senyuman di wajah mereka turut menyaksikan keberhasilan Dinar Maharani atas segala upayanya selama ini. Setelah acara potong pita, dilanjutkan sambutan-sambutan Dinar bersama rekannya dari tim medis yang kebetulan akan menjadi kaki tangan kompak demi kelancaran usaha klinik kecantikan di bawah naungan DMR Skincare. Tentu saja, menyaksikan anaknya berada pada titik kali ini membuat kedua orang tua Dinar bangga dengan apa yang telah dicapai oleh anak sematawayang mereka. Orang tua hanya mampu memberikan doa restu di setiap langkah usaha anak-anak mereka agar mendapatkan keridhoan dari Tuhan. “Pa, Mama senang sekali melihat kemajuan usaha putri kita,” kata Nisaka. “Iya Ma, Papa juga bangga sekali pada Dinar. Di usianya yang masih muda dia sudah bisa meraih kesuksesan seperti hari ini,” kata Adam. Dinar tidak lupa menyebutkan rasa terimakasihnya di tengah sambutan hangatnya selaku owner DMR Skincare. Dinar mengucapkan syukur kepada Tuhan, rasa terimakasih tanpa henti kepada kedua orang tuanya dan juga orang-orang di sekitarnya, tanpa ketinggalan Natalie. Natalie juga ikut menyambut para tamu karena sebagian besar tamu-tamu itu juga mengenal Natalie. Sesekali dia berbisik pada Dinar bahwa dia sangat bahagia dengan grand opening Klinik DMR ini. Mereka berdua saling membahu dalam setiap proses sampai detik sekarang. “Din, akhirnya launching juga ya klinik skincare lu,” ucap Natalie. “Iya Nat. Gue seneng banget akhirnya usaha baru gue launching juga,” kata Dinar sambil tersenyum bahagia. Raut wajah penuh kebahagiaan tak bisa ditutupi oleh Dinar. Wanita itu seperti berada di atas awan pada saat ini. “Gue doain usaha baru lu ini bisa sukses juga sama kayak usaha-usaha lu yang lain ya,” ucap Natalie. “Amin, thanks banget ya Nat. Lu emang partner gue yang terbaik deh. Semua juga kan karena bantuan lu Nat.” Dinar merangkul sahabat sekaligus partner kerjanya itu. Sementara di kantor Renjana. Laki-laki itu masih berkutat di depan laptopnya ketika tiba-tiba dia sadar bahwa waktu telah menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit. Pledoi dari kasus terbarunya benar-benar menyita perhatian Renjana. “Wah sebentar lagi kan acara grand opening klinik skincarenya Dinar. Aku harus segera pulang untuk menjemput Linda,” gumam Renjana sambil bergegas membereskan pekerjaannya. Laki-laki itu bergegas menuju mobilnya dan segera pulang untuk menjemput sang istri. Dia harap Linda tidak lupa akan acara ini, mengingat tadi pagi Linda sendiri yang telah mengingatkan Renjana agar meluangkan waktunya siang ini demi menghadiri undangan Dinar. Dan semoga saja wanita itu sudah bersiap-siap hingga Renjana tidak perlu menunggunya terlalu lama. Untuk memastikan itu semua maka Renjana menelepon Linda di tengah perjalanannya pulang. “Lin, apa kamu sudah siap?” tanya Renjana melalui teleponnya. “Iya Mas, ini aku baru aja selesai dandan. Aku baru mau telepon kamu. Mas renjana sekarang di mana?” tanya Linda. “Aku udah on the way ke rumah. Kamu tunggu di depan ya, jadi aku nggak perlu masuk dulu. Menghemat waktu, nggak enak kalau kita telat,” kata Renjana. Linda setuju dengan saran suaminya. Ada baiknya jika memang dia menunggu sang suami di depan pagar supaya tidak membuang-buang waktu. Linda sangat bahagia hari ini karena Renjana sama sekali tidak bersikap acuh padanya. Padahal jika mengingat kejadian semalam Linda sudah takut akan kehilangan sang suami. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menuduh Renjana macam-macam apalagi tanpa bukti. Renjana melajukan mobilnya sedikit lebih cepat agar dia bisa segera sampai ke rumahnya untuk menjemput sang istri. Sebetulnya dia masih kesal jika mengingat kejadian tadi malam. Tapi dia juga tidak boleh egois karena biar bagaimanapun saat ini Linda masih menjadi istrinya yang harus dia bimbing. Apalagi kali ini mereka akan menghadiri acara Dinar, tidak mungkin kan jika mereka saling berdiam diri. Suara klakson dari mobil Renjana disambut dengan senyuman manis Linda. Wanita itu begitu bersemangat berjalan menuju depan rumahnya untuk menemui sang pujaan hati. Senyum manis terus terukir di wajahnya yang cantik. Dress dengan bahan dasar crinkle model sabrina membuat pundak Linda terekspose menawan, namun tetap terlihat elegan ketika wanita itu kenakan. “Hai Mas,” sapa Linda begitu dia membuka pintu mobil. “Hai, sudah siap kan? Enggak ada yang ketinggalan?” tanya Renjana. “Iya Mas semua sudah aman. Mas, bagaimana penampilanku? Aku cantik kan?” tanya Linda dengan senyum menawan. Renjana spontan melihat ke arah sang istri sebelum dia memasukkan gigi mobilnya. Dilihatnya wajah Linda beberapa detik hingga dalam hati Renjana memuji bahwa Linda memang cantik. Melihat expresi Renjana mambuat wajah Linda memerah karena malu, ditambah Renjana juga tidak menjawab pertanyaannya. Suami Linda itu hanya menganggukkan kepalanya, menjadi isyarat jawaban tanpa suara. “Mas! Kok malah bengong sih? Nanti kita terlambat loh,” kata Linda mengejuutkan. “Eh iya, maaf. Habisnya kamu cantik banget sih, aku jadi terpesona,” pungkas Renjana. “Mas Renjana tumben receh banget,” ejek Linda sambil menepuk lembut lengan suaminya. Tak lama kemudian mobil Renjana memasuki halaman parkir klinik DMR. Dia dan Linda turun dari mobil dan masuk ke klinik tersebut. Natalie yang sedang sibuk membantu Dinar menyambut para tamu seketika terkejut melihat kehadiran Renjana bersama sang istri. Natalie segera berlari menghampiri Dinar untuk mengatakan bahwa dia melihat Renjana. Manik mata Natalie mengungkapkan ketidakpercayaan di dalam dirinya. “Din! Dinar! Lihat siapa yang datang,” ucap Natalie antusias. “Apa sih Nat? Siapa?” tanya Dinar. Begitu Dinar menoleh ke arah yang ditunjuk Natalie dia menghampiri pasangan suami istri tersebut. Namun sebelum dia beranjak, dia sempat mengingatkan pada Natalie untuk menjaga pandangannya terhadap Renjana, karena kali ini dia datang bersama dengan sang istri. Dinar tidak ingin Natalie sampai membuat kegaduhan apalagi sampai menciptakan ketegangan di antara pasangan suami istri tersebut. “Nat, inget ya jaga sikap lu. Hati-hati jangan sampe berlebihan ngeliat Renjana, istrinya galak,” bisik Dinar. “Oh namanya Renjana? Kok lu curang sih enggak ngasih tahu gue?” protes Natalie. “Apaan sih! Gak penting!” ucap Dinar kemudian berlalu menghampiri Renjana dan Linda serta meninggalkan Natalie yang masih mengangga. Dinar menyapa pasangan suami istri itu dengan ramah. Wanita itu merasa senang karena undangannya tidak dianggap angin lalu semata di mata pasangan suami istri tersebut. “Selamat datang Mas Renjana, Mbak Linda,” sapa Dinar begitu dia berada di dekat mereka. Linda merekahkan senyumannya ketika kebingungannya mencari Dinar justru terjawab dengan sapaan langsung dari Dinar menghampiri keberadaannya bersama sang suami. Linda tak dapat menutupi suka citanya ketika Dinar memberikannya undangan untuk dirinya dan Renjana. “Nah ini dia sang owner, dari tadi kita cari-cari,” kata Linda. “Siang Din. Selamat ya atas pembukaan klinik skincarenya, semoga usahamu ini lancar dan sukses,” ucap Renjana sambil menjabat tangan Dinar. “Terima kasih Mas, Mbak, sudah menyempatkan diri untuk hadir di undangan saya. Terima kasih juga untuk doanya,” jawab Dinar. Ada rasa yang berbeda ketika Renjana dan Dinar saling berjabat tangan tadi. Hati Renjana serasa tenang begitupun dengan Dinar. Linda tak begitu memperhatikan ketika sang suami berjabat tangan dengan Dinar karena dia sibuk memandangi sekeliling klinik milik Dinar ini. “Mari Mas, Mbak cicipi hidangannya,” kata Dinar. “Iya Din, tenang aja nanti juga habis,” canda Renjana. “Din, ngomong-ngomong aku jadi gak dapat paket glowing gratis dari kamu?” tanya Linda. Mendengar pertanyaan Linda membuat Renjana terkejut dan merasa malu. Bisa-bisanya Linda menagih Dinar padahal laki-laki itu tau betul bahwa sebetulnya Dinar hanya basa basi tadi malam. “Kamu apaan sih Lin,” tegur Renjana. “Kenapa sih Mas?” kata Linda. “Oh iya Mbak tenang aja nanti pasti aku kasih kok. Makanya Mbak Linda pulangnya terakhir aja ya,” ucap Dinar. “Ah tidak usah diseriusin Din,” cetus Renjana. Linda hanya manyun karena celetukan suaminya barusan. Apa dia tidak tahu bahwa Linda benar-benar mengharapkan gratisan itu. Sedangkan Dinar lagi-lagi tersenyum melihat tingkah pasangan itu. Sesungguhnya Dinar memang benar-benar ingin memberikan paket glowing untuk Linda sebagai hadiah pertemenan mereka. “Tidak apa-apa Mas, aku emang mau kasih Mbak Linda paket glowing kok. Ya anggap saja ini sebagai hadiah pertemanan kita sebagai tetangga,” kata Dinar. “Tuh kan Mas, Dinar itu kan baik. Terima kasih ya Din,” cetus Linda. Renjana hanya menggeleng melihat tingkah sang istri. Dia bersikap seolah-olah Renjana tidak mampu membelikannya skincare hingga dia mengharapkan barang gratisan. Padahal Renjana mampu membelikan Linda skincare termahal sekalipun. Karena masih banyak tamu yang harus disapa oleh Dinar, maka gadis itu berpamitan pada Linda dan Renjana untuk menemui yang lain terlebih dahulu. Sementara Natalie hanya bisa mendumel kesal karena dia iri pada Dinar yang bisa mengobrol secara dekat dengan Renjana. “Kok Dinar nggak ngomong dia sedekat itu sama mas gantengku?” gumam Natalie diam-diam menatap Renjana. Dinar mendatangi para tamu undangan satu persatu mengucapkan terima kasih. Senyum Dinar tak lepas sejak tadi. Natalie menghampirnya dan mengatakan bahwa dia tidak terima karena Dinar bisa mengobrol dengan Renjana dari dekat. “Din, jahat banget lu ngobrol sama si ganteng nggak ngajak-ngajak gue!” protes Natalie. “Hahaha, ngiri ya?” ledek Dinar. “Iyalah. Dia ganteng kan Din,” tanya Natalie. “Hmmm, biasa aja,” jawab Dinar santai. “Ih lu mah nggak bisa apa ya liat cowok ganteng?” kata Natalie. Dinar tak menghiraukan ocehan Natalie. Dia hanya memandangi para tamu yang sedang menikmati pengenalan produk skincare miliknya dari sang pakar kosmetik yang sudah Dinar pilih. Sesaat dia teringat akan janjinya pada Linda maka dia meminta Natalie untuk menyiapkan satu paket glowing untuk diberikan pada Linda di akhir acara. Dinar memberikan tamu undangannya voucher potongan belanja tiga puluh persen sebagai promo pembukaan kliniknya. “Oh iya Nat, tolong siapin satu paket glowing sekalian serumnya ya,” pinta Dinar. “Buat siapa? Emang udah ada yang mesen?” tanya Natalie bingung. “Bukan, itu mau gue kasih ke istrinya Mas Renjana,” kata Dinar santai. “What? Kasih gratis?” tanya Natalie menekankan kata gratis. Dinar mengerutkan dahinya begitu dia melihat expresi Natalie yang seperti orang terkejut itu. Padahal sudah menjadi hal wajar menurut Dinar ketika dirinya ingin memberikan hadiah kepada tamu undangannya yang datang hari ini, meskipun tidak semua seberuntung Linda tentu saja. “Iya gratis, kenapa emangnya?” tanya Dinar. “Itu kan mahal Din, masa lu mau kasih gitu aja? Perasaan kalau cuma buat sample udah kita siapin dan emang akan dibagiin nanti kan?” kata Natalie. “Iya gue tau. Ya nggak apa-apalah kalau cuma satu, anggap aja buat promosi. Siapa tau dia cocok dan akan jadi langganan kita,” ucap Dinar meyakinkan Natalie. Natalie hanya mengangga dan menuruti ucapan Dinar untuk menyiapkan satu paket glowing untuk Linda. Sementara Dinar ikut bergabung dengan para tamu. Dan tanpa sengaja sesekali mata Dinar dan Renjana saling bertemu hingga sukses membuat Dinar tersipu. Wanita itu menganggukkan kepalanya singkat, melemparkan senyuman ramah seprofesional mungkin tanpa menghiraukan detakan di jantungnya bergemuruh seperti dentuman genderang perang. Dinar tak ingin memikirkan apa yang tak penting di dalam hidupnya. Lelaki di seberang sana telah memiliki seorang istri, setidaknya Dinar wajib menjaga pandangannya agar tidak menimbulkan pemikiran buruk dan prasangka kurang baik ke depannya, demi kebaikan semua orang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN