27. Wanita Independent

1851 Kata
Pagi ini alarm Dinar berdering tepat pukul empat subuh. Dia bergegas bangun tatkala pengingat di alarm tersebut terdapat tulisan “Pembukaan Klinik DMR”. Wanita single itu tersenyum sendiri membaca tulisan yang ia buat tadi malam. Dia segera bangun dan mandi karena hari ini adalah hari yang sangat Dinar tunggu-tunggu. Semua orang pasti akan merasa bangga setiap kali kerja kerasnya pada akhirnya membuahkan hasil juga. Selama ini Dinar hanya mampu bermimpi, wanita itu mempunyai angan-angan menjadi salah satu owner klinik kecantikan di tengah kota besar Indonesia tersebut. Rupanya, berkat hasil ketekunan dan juga usahanya tanpa henti wanita itu mendapatkan apa yang dia kehendaki. Dinar memiliki rumah dari jerih payah keringatnya sendiri, meskipun kedua orang tuanya terbilang keluarga mampu dan berada, namun nyatanya Dinar tidak pernah sekalipun membanggakan harta milik kedua orang tuanya. Justru Dinar ingin membuktikan kepada semua orang yang sebelumnya sempat menjudge dirinya sebagai anak emas karena menjadi anak sematawayang kedua orang tuanya, bahwa Dinar mampu membahagiakan kedua orang tuanya dan membuat mereka bangga atas keberhasilan Dinar. “Aku tidak sabar menyambut hari ini. Bismillah, semoga semuanya lancar tanpa terkendala suatu hal apapun,” harap Dinar begitu dia membuka mata dan bersiap beranjak dari tempat tidurnya. Sebagai umat muslim, Dinar tahu apa saja kewajibannya. Ketika dia selesai mandi dan solat subuh dia segera menghubungi Natalie sekedar mengingatkan bahwa hari ini adalah grand opening klinik skincare miliknya. Dinar tak ingin Natalie sampai kesiangan dan melupakan tugas-tugas utamanya pada hari penting mereka kali ini. Rupanya sahabatnya itu juga sudah bangun. Mereka sama-sama bersemangat menanti hari ini. “Nat, udah bangun?” tanya Dinar begitu temannya itu menjawab panggilannya. “Udah dong, baru selesai mandi nih gue. Lu baru bangun ya?” tanya Natalie. “Enak aja! Gue lagi dandan,” gerutu Dinar. “Hah? Lu dandan jam segini Din? Apa nanti enggak keburu kusut?” cetus Natalie kaget. Dinar ingin tertawa mendengar respon sang asisten sekaligus sahabatnya itu. Dinar yakin bahwa Natalie berpikir Dinar dandan untuk acara opening klinik miliknya, padahal dia hanya berdandan biasa layaknya orang berangkat kerja. “Ye ... gue itu bukan dandan yang penuh make up dan baju kece kali, tapi dandan formal biasa buat datang ke klinik,” ujar Dinar. “Oh gue kirain lu mau langsung pake baju dan make up formal,” kata Natalie. “Gak lah. Itu kan nanti tugasnya Desy make over gue secantik mungkin,” ucap Dinar. “Iya sih. Ya udah ah gue mau siap-siap dulu. Sampai ketemu di klinik ya,” kata Natalie. Dinar pun mematikan sambungan teleponnya dan menyiapkan barang-barang yang hendak dia bawa. Tepat pukul lima pagi mobil Dinar sudah meninggalkan pekarangannya. Di perjalanan dia menelepon orang tuanya memberitahu bahwa mereka diminta untuk langsung pergi ke klinik karena Dinar tidak bisa menjemput mereka, dikarenakan dia harus mempersiapkan segalanya di klinik sebelum acara dimulai. “Halo Ma,” sapa Dinar melalu telepon genggamnya. “Halo Din, kamu sudah bangun?” tanya sang Mama. “Sudah Ma, ini Dinar lagi di perjalanan menuju klinik. Begini Ma, Dinar mau kasih tahu, kalau Dinar sepertinya tidak bisa jemput Mama sama Papa,” kata Dinar dengan nada menyesal.  Sebetulnya hatinya tidak tega menyampaikan ini pada orang tuanya. Tapi mau bagaimana lagi, dia memang tidak bisa menjemput mereka. Untungnya orang tua Dinar sangat mengerti jadi mereka tak masalah hanya karena Dinar tidak bisa menjemputnya. Masih ada hal penting lainnya yang tampaknya harus Dinar selesaikan daripada memikirkan keberangkatan kedua orang tuanya. Apalagi wanita itu menjadi owner dari klinik kecantikan, di mana terdapat banyak sekali saingan bisnisnya yang siap kapan saja mengincar Dinar. “Oh iya Din tidak masalah. Mama sama Papa kan bisa naik mobil sendiri, Nak,” ucap mamanya menenangkan Dinar. “Iya Ma, maaf ya Ma. Sampaikan pada Papa juga ya Ma. Soalnya Dinar harus urus semuanya sendiri,” kata Dinar. “Iya Din, tidak apa-apa, Mama sama Papa juga akan menyusul sebentar lagi ya,” jawab Nisaka. Begitu Dinar tiba di klinik, tempat itu masih telihat sangat sepi. Dia kemudian membuka pintu dan menyalakan semua lampu. Dinar membereskan barang-barang yang ada di klinik sambil menunggu Natalie. Dinar juga menghubungi pihak EO untuk menanyakan keberadaan mereka. “Halo Mas Erik, saya mau tanya, Mas Erik dan tim saat ini sudah berada di mana ya?” tanya Dinar. “Iya halo Mbak Dinar, kami sudah di perjalanan menuju venue Mbak,” jawab leader dari EO itu. “Oh baiklah kalau begitu. Saya sudah berada di sini ya Mas, semoga semua bisa berjalan sesuai dengan rundown yang sudah kita bahas sebelumnya,” ucap Dinar. “Iya Mbak, tentu! Itu pasti! Mungkin sepuluh menit lagi kita sudah akan tiba di sana,” jawabnya. “Baik.” Dinar memang orang yang sangat disiplin dalam hal seperti ini. Terlebih ini adalah acara miliknya pribadi, tentu dia ingin semuanya berjalan sempurna sesuai dengan ekspektasinya. Begitu Dinar selesai menelepon pihak EO, mobil Natalie sudah terdengar di area parkiran klinik. Dinar segera menghampirinya. Seulas senyum dia jadikan sapaan hangat seperti biasanya. Jelas, ini adalah hari yang telah Dinar nanti-nantikan sejak lama. “Morning Nat,” sapa Dinar ceria. “Hai, morning! Seger amat lu pagi ini?” ledek Natalie. “Iya dong kan hari ini termasuk hari special dalam hidup gue,” ucap Dinar. “Ya elah, udah kayak orang mau nikahan aja, special,” ejek Natalie. Mereka berdua akhirnya tertawa bersama. Natalie bertanya pada Dinar apa dia sudah menghubungi pihak EO, dan Dinar menjawab bahwa semua sudah di kordinasi, tinggal tunggu pihak EO tiba dan melaksanakan tugasnya. Mereka harus mempersiapkan sebaik mungkin tanpa ada sesuatu yang dapat menjadi komentar buruk di hari grand opening klinik kecantikan mereka. Acara grand opening klinik skincare milik Dinar memang sengaja diadakan di acara jam makan siang, agar persiapannya tidak terlalu mepet jika diadakan di pagi hari. Orang tua Dinar juga turut membantu persiapan acara grand opening klinik skincare DMR milik putri tercintanya. Klinik yang telah diselesaikan segala perizinan dan mendapatkan lisensi dari berbagai tim medis yang digaet oleh Dinar dalam pembukaan kliniknya, setidaknya menjadi salah satu upaya meminimalisir dampak negatif di kemudian hari. Keadaan di rumah Renjana sudah sedikit membaik daripada tadi malam. Linda yang sudah bangun dari tidurnya begitu terkejut melihat suaminya belum ada di sampingnya. Itu tandanya semalaman Linda tidur seorang diri. Linda berpikir bahwa suaminya tidak pulang tadi malam, namun begitu dia melihat jas Renjana sudah bergantung di tempat yang tersedia. “Mas Renjana semalam sudah pulang rupanya,” kata Linda begitu memastikan jas Renjana barulah dia paham bahwa Renjana pulang tadi malam, hanya saja lelaki itu tidak tidur di kamar mereka. Seutas senyum terukir di wajah cantik Linda. Dia yakin bahwa suaminya berada di ruang kerjanya saat ini. Dia bergegas bangun dari tidurnya, mandi dan menyiapkan sarapan untuk suami tercintanya. Linda terkejut begitu dia melihat makanan di meja makan sudah dimakan oleh seseorang yang sudah pasti itu adalah Renjana. “Syukurlah, setidaknya kamu tidak lupa mengisi perutmu, Mas. Aku takut kamu sakit,” lirih Linda sedikit tenang. Hati Linda semakin senang karena menurutnya Renjana sudah tidak marah padanya karena dia sudah mau memakan masakan yang disediakan untuknya. “Rasanya sangat senang, kalau ternyata tadi malam Mas Renjana memakan masakanku,” gumam Linda. “Kalau begitu hari ini aku akan buatkan sarapan untuk Mas Renjana sebelum aku naik ke ruang kerjanya untuk membangunkan suamiku,” kata Linda. Dengan segera dia membuat nasi goreng kornet kesukaan suaminya itu. Selesai menyiapkan sarapan, Linda membuatkan secangkir teh manis hangat untuk dibawanya ke ruangan kerja sang suami. Linda yakin benar, suaminya semalaman pasti begadang untuk menyelesaikan pekerjaannya. Linda tersenyum menatap pintu ruang kerja suaminya. Di tangannya telah berada satu cangkir teh hangat, dia menganggap ini adalah sebagai permintaan maafnya pada Renjana atas sikapnya kemarin. “Mas, bangun. Ini aku bawakan teh manis hangat untuk Mas Renjana,” ucap Linda lembut membangunkan Renjana. Renjana menggeliat sambil membuka matanya perlahan. Lelaki itu menyipitkan matanya menatap ke sekelilingnya. “Sudah pagi ya?” tanyanya. “Iya Mas, ayo minum dulu biar segar. Habis itu kamu mandi terus kita sarapan bareng ya,” kata Linda. Renjana menyeruput teh yang dibawakan Linda untuknya. Dia memang sudah tidak mempermasalahkan kejadian tadi malam dan berharap bahwa Linda tidak akan mengulanginya lagi. Linda mengingatkan Renjana bahwa hari ini mereka harus mendatangi acara grand opening klinik skincare Dinar. “Mas, hari ini kamu ada kerjaan di luar enggak?” tanya Linda begitu mereka sudah berada di meja makan. “Iya, aku ada meeting penting sampai siang ini dan sore, kenapa?” tanya Renjana. “Kalau begitu kita masih punya waktu,” kata Linda. “Waktu apa?” tanya Renjana agak heran. “Kamu lupa Mas? Jam satu siang ini kan kita harus menghadiri acar grand opening klinik milik tetangga baru kita Mas, unya Dinar,” kata Linda mengingatkan. Renjana terlihat seperti sedang berpikir sejenak. Kemudian dia juga ingat kalau hari ini memang ada undangan yang harus ia datangi. Tanpa sadar bayangan wajah Dinar melintas di otak Renjana. Semalam Renjana meyakinkan kepada Dinar bahwa mereka akan datang ke acara penting Dinar itu. Tidak mungkin secara mendadak Renjana berlagak tak menjanjikan apapun kepada tetangga barunya tersebut. “Oh iya aku ingat. Ya sudah kalau begitu nanti aku berangkat ke kantor dulu ya, nanti jam dua belas aku jemput kamu setelah itu baru kita datang ke lokasi tersebut,” kata Renjana. Selesai bersiap dan sarapan, Renjana berpamitan pada Linda untuk berangkat ke kantor terlebih dahulu sebelum mereka menghadiri acara grand opening klinik milik Dinar. Keduanya tak ada yang membahas soal pertengkaran mereka tadi malam. Itu sangat bagus karena dengan begitu maka tidak ada lagi yang namanya pedebatan di antara keduanya. Karena semua sibuk memegang tugas masing-masing, maka tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas. Perasaan was-was tentu sedang menyergap pada kubu Dinar Maharani. “Din, udah jam sebelas nih!” seru Natalie. “Iya terus kenapa Nat?” tanya Dinar sambil mengecek semua yang sudah tersusun rapi. Natalie mengingatkan Dinar bahwa dia harus segera dandan dan berganti pakaian, karena sebentar lagi pasti tamu-tamu akan datang dan mencari Dinar untuk memberikan ucapan selamat. Mereka juga mengundang orang-orang penting dari kalangan pemilik salon kecantikan maupun klinik estetika. “Kok kenapa sih? Ya lu harus ganti baju terus dandan dong. Jam satu para tamu udah pada datang loh, dan enggak menutup kemungkinan kalau mereka akan datang lebih awal,” jelas Natalie. “Iya ini sebentar lagi juga gue ganti baju kok,” tutur Dinar sambil mengecek di bagian makanan. “Udah deh enggak usah banyak entar-entaran! Biar gue yang urus ini semuanya,” kata Natalie.  Akhirnya Dinar mengikuti saran dari Natalie. Dia memanggil Desy untuk memoles wajahnya agar terlihat lebih cantik dan segar saat acara berlangsung. Dalam acara grand opening ini Dinar juga mengundang seorang konsultan kecantikan untuk memberikan wejangan dalam grand opening Klinik DMR miliknya hari ini. Beberapa dokter kenalannya yang bekerjasama dengan Dinar turut menjadi bagian penting dalam peresmian pada hari ini. Dinar berharap semuanya akan berjalan lancar tanpa harus ada yang dia khawatirkan. “Baiklah, Desy, jadikan aku wanita paling cantik hari ini dalam acaraku,” pinta Dinar tersenyum bersemangat. Wanita itu ingin menjadi pusat perhatian pada hari ini. Penampilannya harus maksimal untuk menyambut kedatangan para tamu istimewanya, menunjukkan bahwa dialah Dinar Maharani, si wanita independent.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN