Perbincangan antara Renjana dan Rizky berlangsung cukup lama. Mereka berdua melanjutkan minum kopi dan mengobrol tentang banyak hal, termasuk juga pekerjaan. Tak terasa sudah satu jam setengah Rizky menemani Renjana berkeluh kesah. Karena tadi dia berpamitan pada istrinya hanya pergi sebentar maka dia pamit pada Renjana untuk pulang lebih dulu.
Walaupun terbesit perasaan tidak enak di dalam hati Rizky untuk meninggalkan temannya sendirian di tengah kegundahan yang sedang Renjana ini rasakan. Namun Rizky juga tidak bisa meninggalkan istrinya sendirian di rumah pada saat tengah malam begini, apalagi tanpa ada sosok laki-laki lagi di kediamannya selain Rizky.
“Bro, gue balik duluan ya takut istri gue nungguin. Soalnya tadi gue bilangnya cuma sebentar,” pamit Rizky.
“Oh iya Ky. Thanks banget ya udah nemenin gue dan kasih saran,” kata Renjana.
“Santai aja Bro. Lu jangan pulang malem-malem. Mendingan lu pulang sekarang dan minta pelayanan spesial dari Linda, gue yakin dia pasti happy banget,” goda Rizky.
Renjana langsung menonyor kepala temannya itu atas kalimat receh yang Rizky lontarkan kepada dirinya. Jangankan pelayanan spesial dari istrinya, Renjana saja sampai lupa kapan terakhir kali dirinya merasakan kehangatan ranjang selayaknya pasangan suami istri seperti di awal-awal dirinya menikah dengan Linda.
Sekarang, pernikahannya bagaikan sayur tanpa garam. Tidak ada kehangatan seperti sebelum tuduhan-tuduhan itu dilemparkan kepada Renjana. Lelaki itu hanya merasakan biologisnya terpenuhi, namun cinta dan kasih sayang di dalam hatinya tidak tersentuh sama sekali. Entah perasaan itu hanya dirasakan oleh Renjana sendiri, ataukah Linda turut merasakan perubahan suasana yang tercipta di antara mereka berdua.
“Ah lu bisa aja. Iya ini juga sebentar lagi gue pulang. Ya kali mau nungguin café sampai tutup. Masih mau cari udara seger dulu nih,” tukas Renjana menimpali.
“Siapa tahu sekalian nglamar kerja part time di mari,” kekeh Rizky.
Renjana hanya tertawa mendengar guyonan dari temannya itu. “Salam ya buat istri lu,” ucap Renjana.
Setelah berjabat tangan Rizky pun pergi meninggalkan Renjana seorang diri di tempat duduknya. Sepeninggalan Rizky, Renjana masih duduk di kursinya memandang langit yang begitu indah pada malam ini. Sepi, sunyi, namun lantunan akustik masih terdengar mengisi keheningan malam di tengah kota. Sayangnya suasana hati Renjana tidak seindah langit malam ini. Dia masih belum ada niat untuk meninggalkan cafe ini. Dia melihat sekelilingnya dan ternyata masih banyak pengunjung yang masih menikmati makanan dan minuman di sana.
Sedangkan Linda, dia begitu lelah meratapi kesedihannya. Rasa lapar yang tadi sempat ia rasakan kini rasanya sudah hilang begitu saja karena rasa sedih dan penyesalan yang ia rasakan. Dia memandang kembali makanan yang masih tersedia itu kemudian menutupnya. Linda berjalan dengan gontai menuju kamar tidurnya. Kamar tidur yang biasanya ditidurinya bersama sang suami, hari ini terasa begitu sepi dan dingin. Tak terasa air mata Linda mengalir kembali.
Diusapnya air mata itu kemudian dia bergegas ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan membersihkan tubuhnya. Sekembalinya ia dari kamar mandi, Linda merebahkan dirinya di atas kasur. Dia memandang tempat yang biasa ditempati Renjana dengan pilu.
“Mas Renjana, pulanglah, aku tidak akan sanggup melalu hari jika kamu tidak akan kembali padaku,” lirih Linda sambil memejamkan mata.
Dua jam sudah Renjana berada di cafe tersebut. Diliriknya arloji yang melingkar di pergelangan tangannya dan ternyata masih tiga puluh menit lagi cafe ini tutup. Renjana tidak akan beranjak dari cafe tersebut sebelum cafe itu tutup. Begitu sang waiters menghampiri Renjana untuk mengingatkan bahwa sebentar lagi mereka akan tutup barulah laki-laki itu hendak beranjak dari tempat duduknya.
“Selamat malam Kak, mohon maaf kita sudah mau tutup jadi Kakak bisa meninggalkan cafe ini dalam waktu lima menit,” kata sang waiters.
“Oh iya terima kasih,” ucap Renjana.
Laki-laki tampan itu segera berdiri dari tempat duduknya serta meraih ponsel dan kunci mobilnya kemudian beranjak ke parkiran di mana mobilnya berada. Setelah dia berada di dalam mobil dia bingung harus pulang ke mana. Rasanya malas sekali jika dia harus pulang ke rumahnya saat ini. Bayangan-bayangan pertengkarannya dengan Linda sudah tergambar jelas dalam pikirannya. Tubuhnya yang mulai lelah rasanya sudah minta diistirahatkan segera.
Dengan berat hati Renjana pun melajukan mobilnya keluar dari wilayah cafe tersebut. Mobil yang dilajukannya kali ini sangat lambat agar supaya dia bisa mengulur waktu untuk tiba di rumah. Rasanya lelaki itu seperti begitu berat menginjakkan kaki kembali di kediamannya sendiri setelah pertengkaran besarnya dengan Linda hari ini.
“Bukankah seharusnya rumah menjadi tempat paling nyaman untuk pulang?” ucap Renjana berbicara seorang diri dalam perjalanan pulangnya.
Nyatanya rumah bukanlah tempat paling nyaman menurut Renjana. Lelaki itu selalu tertekan dan dilingkupi kemarahan setiap kali sang istri merecokinya dengan banyak tuduhan-tuduhan tanpa dasar yang selalu saja keluar dari bibir Linda.
Linda kini sudah tertidur pulas setelah lelah menanti kepulangan Renjana yang tak kunjung datang. Untungnya Renjana selalu membawa kunci cadangan di dalam tasnya, jadi Renjana tidak perlu membangunkan sang istri setiap kali lelaki itu memiliki urusan di luar rumah dan kembali pulang larut malam.
“Sakit sekali hatiku jika aku mengingat setiap pertengkaranku dengan Linda,” gumam Renjana.
Renjana melirik jam dan tanggal di ponselnya. Ternyata waktu sudah hampir berganti hari dan dia teringat bahwa besok ada jadwal bertemu klien, sedangkan bahan-bahan untuk pertemuan besok belum ia siapkan karena sepulangnya dia dari kantor tadi sore dia sudah bertengkar dengan istrinya dan menyebabkan dia pergi ke luar.
“Astaga, besok kan ada meeting penting dan aku belum menyiapkan bahan-bahannya. Aku harus segera sampai di rumah, mudah-mudahan saja Linda sudah jera dan tidak akan bertindak macam-macam lagi,” ucap Renjana.
Sesampainya dia di rumah, keadaan rumah terlihat begitu sepi. Begitu dia memasuki ruang tamu, ruangan itu terlihat gelap karena tak ada orang satupun di sana. Renjana berlalu menuju kamar tidurnya berharap bahwa sang istri sudah terlelap hingga tak ada lagi perdebatan di malam ini.
Hati Renjana merasa lega karena harapannya benar-benar menjadi nyata. Linda tengah tertidur lelap begitu dia membuka pintu kamarnya. Dia bergegas berganti pakaian dan dan setelah itu beranjak ke ruangan kerjanya yang terletak di lantai dua. Renjana bergerak sangat pelan supaya kehadirannya tidak membuat Linda bangun dari tidurnya.
“Sepertinya dia tertidur pulas. Mungkin dia lelah dengan segala aktifitas hura-huranya yang tidak penting,” gumam Renjana.
Cukup lama laki-laki itu memandang wajah istrinya. Sebetulnya Linda memang sosok wanita yang cantik, sehingga mampu membuat lelaki tampan seperti Renjana jatuh hati kepadanya, hanya saja sikapnya akhir-akhir ini membuat Renjana jengkel. Apalagi kalau dia sudah menuduh Renjana bermain gila di belakangnya. Apa dia lupa bahwa cinta Renjana hanya untuk Linda sejak dulu?
Mengingat waktu sudah semakin malam, maka Renjana bersiap untuk menyiapkan bahan untuk meeting dengan klien pentingnya esok hari. Dia memilih bekerja di ruangan kerjanya. Di sana Renjana lebih bisa konsentrasi tanpa ada gangguan dari sang istri. Walau saat ini Linda sedang tertidur pulas, tetap saja kalau Renjana ada di dekatnya dia selalu sadar dan membuat pekerjaan Renjana menjadi tertunda.
Renjana keluar dari kamarnya menuju ruang kerjanya di lantai dua. Begitu dia keluar dari kamar dan hendak menuju tangga, langkahnya terhenti di depan meja makan. Dilihatnya tudung saji yang berada di atas meja makan itu. Jika meja itu tertutup oleh tudung saji itu artinya ada makanan di dalamnya.
“Mungkinkah Linda sudah menyiapkan makan malam untukku?” ucap Renjana sambil berjalan mendekati meja makan.
Begitu dia tiba di depan meja makan dia segera membuka tudung saji tersebut dan rupanya di atas meja masih ada beberapa makanan yang masih rapi seolah tak tersentuh oleh siapapun. Renjana sangat terharu karena biar bagaimanapun Linda merupakan sosok istri yang baik hati dan bertanggungjawab atas tugas-tugasnya. Walau tadi dia pulang telat, dan tak tahu bahwa Renjana sudah lebih dulu tiba di rumah tapi dia tetap menyempatkan diri memasak untuk suaminya. Demi menghargai dan menghormati sang istri, maka Renjana memutuskan untuk memakan masakan Linda terlebih dahulu sebelum dia memulai pekerjaannya. Renjana juga belum sempat makan malam tadi.
“Lebih baik aku makan dulu, kasihan Linda kalau masakannya tidak aku makan,” kata Renjana.
Suami Linda itupun duduk sendirian di meja makan kemudian menuangkan nasi serta ayam bakar kesukaannya dengan sambal dan tahu sebagai pelengkapnya. Tak lupa juga sudah ada sayur sop yang sudah dingin tapi tetap di makan oleh Renjana. Di mata Renjana istrinya itu memang sosok wanita yang sangat perhatian dan juga sangat menghafal makanan dan minuman apa saja yang menjadi favorit suaminya. Namun entah mengapa dia menjadi sangat menyebalkan saat kebiasaannya suka menuduh Renjana tanpa bukti itu muncul.
Renjana menikmati masakan Linda dengan lahap. Linda memang cukup piawai dalam memasak oleh sebab itu Renjana sering memintanya memasak untuk makan malam mereka. Ditambah saat ini dia memang belum makan malam, jadi dia makan begitu lahap hingga dia menghabiskan beberapa masakan yang tersaji tersebut.
“Alhamdulillah ... kenyang juga,” ucap Renjana.
Setelah perutnya sudah terisi dia merapikan terlebih dahulu bekas makannya itu. Sesudah dia membereskan piring-piring kotornya dia melanjutkan kegiatannya menyiapkan bahan-bahan untuk pertemuan dengan kliennya besok. Dia berjalan membawa tas yang berisi semua berkas-berkas penting menuju lantai dua, tempat di mana dia menghabiskan waktu bersama pekerjaannya.
“Aku harus selesaikan ini semua malam ini. Agar besok pagi tak perlu repot lagi menyiapkan ini dan itu,” ucap Renjana begitu dia sampai di dalam ruang kerjanya.
Lebih dari satu jam Renjana bekerja menyiapkan keperluan meeting untuk esok. Rasa lelah karena bekerja seharian, bertengkar dengan Linda serta persiapan meeting membuat tubuhnya tak kuat lagi untuk berjalan menuju kamar tidurnya di bawah. Untung saja di ruangan kerja tersebut ada sebuah sofa yang biasa dia jadikan tempat untuk beristirahat jika dia lelah bekerja di meja kerjanya. Dia memutuskan untuk tidur di sofa itu hingga pagi datang. Esok pagi Linda pasti akan mencarinya ke sini jika dia bangun tidur dan tidak mendapati suaminya di sampingnya.
“Huft! Lelah sekali rasanya malam ini,” kata Renjana sambil melongok jam yang bergantung di dinding ruangan itu.
Waktu saat ini sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, pantas saja dia sudah merasa begitu lelah. Tak lupa juga dia menyalakan alarm dari ponselnya agar besok dia tidak terlambat bangun. Pertemuan untuk mediasi antara kliennya dengan lawannya di pengadilan tentu membutuhkan pasokan tenaga ekstra esok hari. Renjana harus menyiapkan diri, menguasai ketenangannya agar dapat menjadi pengendali pada pertemuan esok hari.
Lupakan sejenak rasa penat yang dia rasakan di tengah kehidupan rumah tangganya bersama Linda. Lelaki itu saat ini tengah memejamkan matanya sambari mengatur strategi kemenangannya dalam menangani salah satu delik tindak korporasi.