Renjana memilih untuk berhenti di sebuah cafe di sekitar Jakarta Selatan. Cafe itu memang terkenal ramai tapi juga bisa untuk dijadikan tempat untuk nongkrong atau sekedar meghilangkan penat. Selain interior outdoor, pemandangan ibu kota juga menjadi salah satu alasan banyak muda-mudi mengunjungi café tersebut. Setelah turun dari mobilnya Renjana memilih duduk di bagian rooftop agar dia bisa merasakan dinginnya angin malam dan bisa memandang indahnya kota Jakarta pada malam hari.
Renjana menatap langit lepas, lelaki itu butuh seseorang untuk berbagi cerita. Dia berniat menelepon temannya untuk datang ke cafe tersebut. Setelah dia memesan secangkir espresso panas, kopi asal Italia, dia langsung menuju tempat duduknya kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Rizky, teman yang dia pilih untuk menemaninya malam ini.
Mungkin hanya Rizky yang dapat menjadi teman berbincangnya malam ini.
“Ky, sibuk gak?” tanya Renjana saat temannya menjawab panggilannya.
“Nggak kok Bro, gue cuma lagi main game aja. Ada apa nih tumben malem-malem telepon?” sapa Rizky.
“Gue butuh temen ngobrol. Lu bisa ke sini?” tanya Renjana.
“Lu di mana emangnya?” Rizky balik bertanya.
“Gue di Cafe Barita, nanti lu naik aja ke rooftopnya ya, gue di sana,” jelas Renjana.
Rizky pun mengerti dengan arahan yang diberikan oleh Renjana. Laki-laki itu memutuskan sambungan teleponnya dan segera berangkat ke tempat di mana Renjana berada. Sebagai seorang teman satu kantor dan juga teman kuliah, Rizky memang sudah mengetahui soal hubungan Renjana dan Linda. Jadi dia yakin jika Renjana mengajaknya bertemu secara mendadak apalagi di malam hari tentu ada sesuatu yang tidak beres.
Mobil Rizky melaju ke arah cafe Barita. Jarak cafe dari rumah Rizky memang tidak terlalu jauh, dia hanya butuh waktu lima belas menit untuk tiba di cafe tersebut. Laki-laki yang berpenampilan santai dengan celana pendek dan kaos oblong itu mulai memasuki area parkir cafe. Ketika dia selesai memarkirkan kendaraannya dia mengirim pesan pada Renjana memberitahukan bahwa dirinya sudah sampai di tempat mereka bertemu.
“Gue udah sampe nih Bro,” tulis Rizky di chatnya.
“Ya udah langsung masuk aja. Gue di rooftopnya nanti juga lu langsung liat gue,” tulis Renjana membalas chat dari Rizky.
“Oke gue masuk dan pesen minum dulu ya,” kata Rizky.
“Oke,” balas Renjana.
Setelah mesin mobil Rizky dimatikan, dia bergegas masuk ke dalam cafe dan memesan segelas cappucino dingin favoritenya. Setelah dia mendapati pesanannya dia langsung naik ke rooftop dan mencari rekannya itu.
Rizky melihat sosok Renjana yang sedang duduk termenung dengan tatapan kosong serta tangan yang terus mengaduk espreso dari cangkirnya. Melihat keadaan temannya seperti itu Rizky merasa iba dan bisa menebak apa yang tengah terjadi pada Renjana. Dia segera menghampirinya dan menyapa.
“Woy, lagi ribut lagi ya?” sapa Rizky sambil duduk di hadapan Renjana.
“Eh kok cepet banget pesen minumannya?” tanya Renjana.
“Yup! Lu kenapa lagi man? Ribut lagi sama istri lu?” tebak Rizky.
Renjana meneguk minumannya sebelum dia menjawab pertanyaan temannya itu. Rizky pun menunggu cerita apa yang akan diceritakan oleh Renjana saat ini. Seolah tahu benar keributan antara sepasang suami istri memang wajar terjadi.
“Gue malu sebenernya harus cerita kayak gini sama lu,” ucap Renjana dengan wajah menerawang jauh ke depan.
“Malu kenapa? Kalau emang lu butuh sharing ya share aja lah Bro, dari pada lu gila nantinya,” kata Rizky meledek.
“Ya lu bener Ky. Kalau gue telen ini semua sendiri yang ada gue gila,” kata Renjana.
“Emang apalagi masalahnya? Masih sama kayak biasanya?” tebak Rizky.
Renjana memang sering sekali berbagi cerita dengan Rizky soal rumah tangganya yang akhir-akhir ini sering diwarnai oleh pertengkaran-pertengkaran tak penting. Oleh sebab itu Rizky selalu bisa menebak bahwa masalah yang dihadapi Renjana adalah masalah yang sama. Tak jarang Rizky pun memberi solusi pada Renjana untuk bisa menghentikan tuduhan sang istri padanya. Namun bukan Linda namanya jika dia tidak berhenti menuduh sang suami berselingkuh.
“Hmmm ... kalau menurut gue kayaknya lu harus kasih istri lu itu perhatian lebih deh,” saran Rizky.
“Gue kurang perhatian gimana lagi sih Ky? Semua kebutuhan dia udah gue penuhin, tapi tetep aja loh dia nuduh gue selingkuhlah, punya pacarlah, padahal mah gue sama sekali gak tertarik sama wanita lain kecuali-” Kalimat Renjana terhenti sesaat karena tiba-tiba saja dia teringat wajah Dinar.
Namun Renjana segera menepisnya. Dia tidak mungkin menaruh harapan pada Dinar. Dia memikirkan wanita itu hanya karena merasa malu dan tidak enak karena pertemuan mereka diawali dengan adegan pertengkaran Renjana dan Linda.
“Kecuali siapa?” tanya Rizky penasaran.
“Ya kecuali kalau gue nanti udah bener-bener gak tahan, kan kita enggak tahu sampai di mana batas kesabaran gue sama Linda,” jawab Renjana.
“Bro-Bro! Ujian rumah tangga itu emang selalu ada dan beda-beda masalahnya, jadi ya lu harus jalanin aja dan ikuti prosesnya,” kata Rizky.
“Ikuti prosesnya gimana maksud lu? Gue tiap hari harus terima gitu dituduh macem-macem sama Linda?” protes Renjana.
Rizky tertawa kecil mendengar protes dari sang kawan. Dia merasa sangat iba dengan keadaan rumah tangga temannya ini. Padahal rumah tangganya sendiri pun belum mencapai titik sempurna menurutnya. Setidaknya harapan Rizky tidak ada orang ketiga di dalam hubungan pernikahan agar tak terjadi pengkhianatan di antara mereka.
“Ya enggak gitu juga Bro. Coba deh lu tunjukin ke istri lu, kalau lu itu benar-benar sayang dan cinta cuma sama dia doang,” saran Rizky.
“Gue kurang pembuktian apa sih Ky? Lu kan tahu kisah cinta gue sama Linda dari dulu,” ujar Renjana.
Rizky memang kenal dengan Renjana dan Linda sejak saat mereka masih kuliah. Linda gadis cantik di kampus yang banyak diincar oleh laki-laki langsung menjatuhkan hatinya pada Renjana begitu laki-laki ini menyatakan cintanya di depan umum. Hubungan mereka saat itu sangatlah baik dan romantis, bahkan banyak pasangan-pasangan lain yang merasa iri pada Linda maupun Renjana.
“Dari awal gue ajak dia nikah itu kan udah salah satu bukti cinta gue ke dia,” ucap Renjana.
“Yah Bro namanya juga cewek, tuntutannya banyak,” kata Rizky.
“Gue nggak masalah Ky dia mau nuntun apa dari gue. Selama gue bisa kasih ya akan gue kasih,” ucap Renjana.
“Ya gue tahu dari segi materi lu pasti lebih dari mampu untuk mengabulkan semua permintaan Linda,” kata Rizky.
“Iya betul. Dan gue juga gak mempermasalahkan soal anak kok,” kata Renjana.
Rizky hanya diam mendengar segala keluhan Renjana. Dia dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Renjana. Dan mungkin jika dirinya yang mengalami itu semua dia juga belum tentu mampu menghadapinya. Anak adalah impian para pasangan yang telah menikah.
“Sabar Bro. Mungkin saat ini Linda lagi ngerasa cinta-cintanya sama lu makanya dia takut banget kehilangan lu,” kata Rizky.
“Ya kalau cinta kan dia bisa tunjukin pakai cara lain. Bukannya dengan cara menuduh gue punya pacar lagi itu namanya dia cinta sama gue,” cerocos Renjana.
“Ya iya sih lu bener juga. Gue juga enggak terima kalau gue terus-terusan dituduh selingkuh gitu,” timpal teman Renjana menghela napasnya panjang.
“Nah kan. Pernikahan yang dulu gue anggap adalah bukti cinta gue sama Linda dan dia paham akan hal itu ternyata sekarang malah jadi prahara dalam rumah tangga gue,” keluh Renjana.
Rizky semakin tak tega melihat temannya mengeluh seperti ini. Namun dia juga tidak bisa berbuat banyak selain memberi masukan yang mungkin dapat mengurangi tuduhan Linda pada Renjana.
“Gini Bro, cewek itu biasanya kalau nuduh kita selingkuh itu karena dia merasa kehadiran kita kurang di mata mereka,” kata Rizky.
“Maksudnya gimana? Gue kan tiap hari ada di rumah, gue pulang kerja langsung pulang kok,” kata Renjana.
“Iya gue paham. Tapi gini loh, coba deh sekali-kali lu ajak dia family time,” saran Rizky.
“Family time gimana?” Renjana semakin tak mengerti dengan maksud Rizky.
Rizky menjelaskan pada Renjana soal saran yang dia berikan.
“Maksud gue coba lu ajak dia jalan-jalan kalau perlu nginep di suatu tempat dan lu tunjukin ke dia kalau cinta dan kasih sayang lu cuma buat dia,” kata Rizky menjelaskan.
“Lu yakin ide ini akan berhasil bikin Linda berhenti nuduh gue selingkuh atau punya pacar di luar?” tanya Renjana ragu.
“Ya gue yakin Bro. Cewek emang gampang marah tapi mereka juga gampang luluh, apalagi kalau lu bawa dia ke tempat yang romantis,” kata Rizky.
Renjana kurang yakin dengan saran yang diberikan Rizky. Karena terkadang saat Renjana bersikap romantis pada Linda dia hanya bisa percaya sesaat tapi setelah itu ujung-ujungnya dia tetap saja menyinggung soal perselingkuhan yang sama sekali tidak dilakukan oleh Renjana. Hal itulah yang membuat Renjana menjadi pesimis dengan saran yang diberikan Rizky untuknya.
“Gimana, lu mau coba ikutin saran gue?” tanya Rizky membuyarkan lamunan Renjana.
“Belum tahu Ky. Nanti deh gue pikirin lagi. Soalnya kerjaan kita juga kan lagi numpuk,” kata Renjana.
“Iya sih. Ya udah semoga aja saran dari gue bisa ngebantu permasalahan rumah tangga lu,” ucap Rizky sambil menepuk bahu Renjana.
Suami Linda menyesap vape di tangannya, udara malam hari di ibu kota terasa menusuk kulitnya. Setiap kali pertengkaran terjadi di antara dirinya dan Linda, tentu saja Renjana merasa menyesal sudah berbicara dengan nada tinggi di depan istrinya. Renjana sungguh tidak mau kekisruhan rumah tangganya bersama Linda terus-menerus terjadi tanpa tahu kapan dapat berakhir.
Renjana memejamkan matanya, lelaki itu secara kebetulan membayangkan, jika seandainya pemikiran Linda bisa lebih terbuka dengan wawasan yang wanita itu miliki. Tidak lagi berpemikiran kolot seperti saat ini. Sama seperti Dinar, wanita itu mampu membuat orang lain kagum dengan cara bicaranya.
Dinar? Renjana menggelengkan kepalanya, mengapa dia malah memikirkan tentang tetangga barunya itu? Ada-ada saja pemikiran Renjana saat ini.