Setelah selesai memastikan pagar dan seluruh pintu di rumahnya terkunci rapat. Dinar memutuskan untuk membersihkan dirinya, melakukan ritual sebagaimana wanita pada umumnya menggunakan skincare, dan segera tidur. Hari ini dia merasa lelah sekali karena kegiatannya dari pagi begitu padat, ditambah kemarin malam dia tidak bisa tidur karena terganggu kemunculan Renjana di kepalanya.
Sebetulnya Dinar ingin sekali bercerita pada Natalie bahwa dia sudah bertemu dengan laki-laki pujaan Natalie itu, bahkan dia sudah berbincang bersama. Dinar yakin begitu Nataliemengetahui hal ini sahabatnya tersebut pasti tidak akan terima. Dinar tersenyum membayangkan hal itu terjadi dan dia semakin tidak sabar menanti hari esok.
Getaran di ponselnya membuat Dinar melirik ke arah benda pipih berukuran 6,4 inch tersebut. Wanita itu terkekeh renyah melihat dari jendela notifikasi di ponselnya, Natalie tengah mengirimkan banyak pesan suara. Dinar yakin Natalie akan memberondongnya dengan begitu banyak pertanyaan di dalam pesan yang dia kirimkan kepada Dinar. Tidak ingin memperlambat jam tidurnya, Dinar lantas mengaktifkan mode diam di ponselnya agar tak ada notifikasi masuk yang akan mengganggu jam istirahat wanita cantik tersebut.
“Ternyata benar yang dikatakan Natalie, Renjana itu sangat tampan dan … ah apa-apan sih!”
Owner dari beberapa salon kecantikan segera menggelengkan kepalanya. Dinar buru-buru menghilangkan segala pikiran tentang suami Linda kemudian mencoba memejamkan matanya. Wanita itu tak boleh membayangkan paras suami orang meskipun hanya dalam benaknya semata.
Dinar kembali teringat saat dia datang ke rumah Renjana tadi. Apa setiap hari dia selalu bertengkar dengan istrinya? Wanita yang menjadi istrinya harusnya sangat bahagia punya suami seperti Renjana. Sudah tampan, sukses, dan seperti penyanyang. Tapi, Dinar tidak boleh berspekulasi sepihak hanya karena pertemuan pertama mereka terasa menyenangkan.
Linda tentu saja jauh lebih mengenal suaminya sendiri, ketimbang Dinar yang baru bertemu perdana dengan Renjana pada malam ini.
“Aduh! Kenapa aku lagi-lagi memuji laki-laki itu sih!” gerutu Dinar sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Dinar membetulkan posisi duduknya di atas tempat tidur. Dia mengecek-ngecek email yang masuk ke akunnya demi kepentingan pekerjaan. Dia memang lelah tapi dia juga harus mengecek takut ada pekerjaan yang harus diurus esok pagi.
Linda yang merasa bahwa keadaan dia dan suaminya sudah baik-baik saja diapun tersenyum lega dan mencoba mengajak suaminya untuk masuk ke rumah. Jujur, kedatangan Dinar membuat Renjana mengurungkan niat meninggalkan rumah ketika Dinar berdiri di depan pintu rumahnya guna berkunjung selaku tetangga baru di kluster perumahan mereka.
“Mas kita masuk yuk, sudah malam,” ajak Linda.
Namun tak ada jawaban dari suaminya itu dan ternyata Renjana bukannya mengikuti ajakan sang istri dia malah berlalu menuju mobilnya dan bersiap untuk pergi. Sontak saja raut wajah Linda sudah mulai panik saat Renjana melangkah ke arah mobil, dia segera menyusul langkah suaminya sambil memanggil nama sang suami.
“Mas kamu mau ke mana? Ayo kita masuk Mas,” ucap Linda mencoba mencegah suaminya pergi.
Renjana masih saja tidak menggubris omongan Linda. Dia sudah terlalu kesal dengan semua perilaku Linda. Kalau tadi sikapnya terlihat biasa saja itu karena dia merasa malu pada Dinar dan tengah menjaga sikapnya di depan tamu yang datang berkunjung ke rumahnya. Linda masih berusaha mencegah Renjana pergi, setidaknya dia harus tahu ke mana suaminya itu pergi.
“Mas kenapa kamu diam aja Mas? Kamu mau ke mana? Tolong jawab aku,” kata Linda semakin panik.
“Aku mau ke mana saja itu bukan urusanmu!” ucap Renjana penuh emosi.
“Loh jelas itu urusanku Mas, kamu itu kan suamiku aku berhak tahu ke mana kamu pergi, apalagi ini sudah malam Mas!” cecar Linda.
Rona merah menahan tangis telah tercetak jelas di paras ayu Linda, wanita itu semula berpikir suaminya akan meredakan amarahnya kepada dirinya karena raut wajah Renjana telah menghangat saat berbincang dengan dirinya dan Dinar. Tampaknya perkiraan Linda meleset jauh dari kenyataan yang terjadi saat ini.
“Peduli apa kau sama aku? Bukankah kamu selalu menuduhku yang tidak-tidak?” cetus Renjana.
“Ya aku menuduhmu karena memang aku merasa kamu itu berbeda sekarang Mas,” bela Linda.
Renjana memalingkan wajahnya dari Linda, dia sudah benar-benar kecewa akan sikap Linda padanya. Tak ingin membuang waktu dan ingin segera pergi dari rumah maka Renjana segera masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil dengan kencang. Linda terkejut dan semakin panik melihat kejadian itu.
Dia menggedor-gedor kaca mobil Renjana berusaha menghentikan aksi suaminya itu. Ketika mesin mobil Renjana menyala Linda semakin tidak bisa mengontrol emosinya, dia menggedor kaca mobil Renjana semakin kencang serta meneriaki nama suaminya itu, tak peduli jika para tetangganya akan mendengar, yang terpenting dia bisa mencegah Renjana pergi dari rumah.
“Mas tolong Mas aku mohon kamu jangan pergi! Mau ke mana malam-malam begini Mas? Aku takut!” teriak Linda sambil terus menggedor kaca mobil Renjana.
Sesaat deru mesin mobil Renjana melembut dan dia menurunkan kaca mobil yang sejak tadi digedor oleh Linda. Dalam pikiran Linda suaminya akan mengurungkan niatnya untuk pergi dan akan ikut masuk ke dalam rumah bersamanya. Namun ternyata harapan Linda itu salah.
“Kamu tidak perlu bertanya ke mana aku pergi,” ucap Renjana.
“Aku harus tahu Mas!” bentak Linda.
“Sudahlah tak perlu membuat drama lagi. Lebih baik sekarang kamu masuk dan renungkan apa yang telah kamu perbuat terhadapku!” kelakar Renjana.
“Mas kita bicarakan ini baik-baik ya,” bujuk Linda.
Hati Renjana sudah terlalu sakit dengan segala tuduhan Linda terhadapnya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan segala bujukan dari sang istri. Yang dia mau saat ini adalah keluar dari rumah untuk menenangkan dirinya.
“Baik-baik? Seandainya kamu bisa berpikir secara baik-baik tentu semua tidak akan menjadi seperti ini, paham!” bentak Renjana.
Linda hanya bisa menunduk menahan tangis. Dia tahu apa yang dia lakukan itu sudah keterlaluan tapi dia melakukan itu semua karena dia sangat cinta pada Renjana. Perubahan sikap Renjana terasa begitu mengganggu ketenangan hati dan pikiran Linda selama ini. Dia juga seorang wanita, ketika hubungan rumah tangga yang dia bangun mendadak terasa senyap tak terkira, tentu saja Linda berhak menaruh curiga atas perasaan yang tengah mengganggunya.
“Sudahlah tidak usah memasang wajah sedih seperti itu. Lebih baik kamu masuk dan tidak perlu menungguku pulang,” kata Renjana.
“Kenapa? Kenapa kamu melarangku menunggu dirimu pulang?” tanya Linda sambil menahan tangis.
“Karena aku tidak akan pulang malam ini, Linda!” ucap Renjana sambil menaikan kembali kaca mobilnya dan melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah mereka.
Air mata Linda tumpah tanpa bisa dikendalikan lagi. Ingin rasanya dia menangis meraung-raung di depan pagar rumahnya, tapi dia malu pada tetangga jika ada yang melihatnya seperti itu. Linda merasa sudah begitu banyak pasang mata yang setiap pagi menatapnya dengan penuh tanda tanya ketika di malam harinya terdengar suara pertengkaran di antara dirinya dan Renjana.
Dengan cepat dia berbalik dan berlari menuju pintu rumah dan masuk. Dia menangis sejadi-jadinya karena dia takut jika Renjana benar-benar pergi dan tak akan kembali.
“Aku tahu aku salah Mas, tapi bukan berarti kamu harus pergi seperti ini,” kata Linda pelan.
Dia berjalan menuju meja makan. Linda meletakkan bingkisan yang tadi diberi oleh Dinar. Hatinya semakin sedih begitu dia lihat makanan di atas meja yang tadi sempat ia masak walau dia terlambat pulang ke rumah. Makanan yang seharusnya dia suguhkan untuk Renjana, tapi sampai detik ini semua makanan itu masih tertata rapi di atas meja makan tanpa ada seorang pun yang menyentuhnya. Linda sempat bingung, harus bagaimana lagi dia berupaya untuk mencairkan suasana yang sudah terlanjur tegang di tengah pernikahannya dengan Renjana.
“Andai saja Mas Renjana mengerti bahwa aku selalu curiga terhadapnya karena aku benar-benar takut kehilangan dirinya, aku takut cintanya akan berpaling pada wanita lain.” Linda sambil meratapi kebodohannya.
Dia memang selalu khawatir kalau rumah tangganya akan berakhir tragis karena sampai saat ini dia belum bisa memberikan keturunan untuk Renjana. Ditambah karir Renjana yang kian sukses sehingga mampu membuat banyak wanita mudah tertarik pada laki-laki itu. Saat Linda berkumpul bersama teman-teman arisannya tak jarang dari mereka yang memuji ketampanan dan kemapanan Renjana hingga hal itu membuat Linda kepikiran dan takut kalau apa yang orang bicarakan akan menjadi kenyataan.
Sebagai seorang wanita dan juga seorang istri, tentu Linda menginginkan kehadiran buah hati dalam waktu dekat untuk mengisi kekosongan di dalam rumah tangganya. Akan tetapi Linda adalah manusia biasa, semaksimal apapun dia berupaya, jika Tuhan belum berkehendak maka semua usaha Linda hanyalah sia-sia semata. Kedekatan dan juga kehangatan yang saat ini tak pernah dia temukan pada sosok suaminya sendiri.
“Bagaimana hidupku nanti jika aku dan Mas Renjana berpisah? Aku belum siap menjadi seorang janda, Ya Tuhan!” lirih Linda sambil menutup wajahnya.
Dia benar-benar menyesal telah menuduh suaminya tanpa bukti yang kuat. Dia yakin kali ini Renjana sudah benar-benar marah karena biasanya dia tidak pernah pergi dari rumah jika sedang bertengkar dengan Linda. Apalagi tadi dia bilang bahwa Linda tidak usah menunggunya pulang. Linda menangis meraung-raung membayangkan hal buruk yang akan menimpa rumah tangganya.
Linda penasaran ke mana perginya Renjana, maka dia mencoba untuk menghubungi suaminya itu barangkali dia mau menjawab telepo dari Linda. Berkali-kali nada ponselnya tersambung ke ponsel Renjana tapi laki-laki itu tidak menjawab teleponnya.
“Jangan harap aku akan menjawab panggilanmu. Semua tuduhanmu sudah membuat aku sakit hati dan tidak tahan lagi dengan semuanya,” kata Renjana.
Laki-laki itu saat ini memang sangat kesal dengan apa yang dilakukan istrinya. Padahal dia sendiri belum tahu dia mau pergi ke mana saat ini. Yang jelas dia harus keluar dari rumahnya karena sudah merasa sangat penat. Menurutnya Linda, dia beruntung karena kepergian Renjana sempat terhambat oleh kehadiran Dinar tadi.
Renjana baru tersadar bahwa Dinar adalah wanita yang sangat cantik, baik, dan pintar. Dia cukup mengagumi Dinar dan tanpa sadar laki-laki itu tersenyum membayangkan pertemuan dengan Dinar tadi. Lamunan Renjana seketika buyar ketika ponselnya kembali berdering.
“Huft! Mau apa lagi sih?” gerutu Renjana.
Laki-laki itu mensilent ponselnya agar dia tidak terganggu oleh panggilan dari istrinya. Diapun kembali melajukan mobilnya ke arah yang belum pasti. Dia masih mencari tempat yang sekiranya bisa membuatnya tenang. Untungnya Renjana bukan orang yang pemabuk hingga dia tidak memilih diskotik sebagai tempat pelampiasan kejenuhannya.
Linda semakin gusar karena sang suami tidak menjawab teleponnya. Tangisannya semakin pecah membayangkan hal-hal buruk yang terjadi di luar sana. Ingin rasanya dia mengadukan ini semua pada orang tuanya serta mertuanya tapi itu tidak mungkin. Karena apabila dia mengadukan ini semua, mereka pasti sangat khawatir atau malah memarahi Renjana dan itu akan membuat suaminya semakin marah padanya. Saat ini dia hanya bisa meratapi kesedihan serta penyesalannya karena telah menuduh Renjana.
“Aku menyesal Mas, aku mohon pulanglah,” rintih Linda dalam tangisnya.
Bukan hanya Renjana yang merasa penat atas semua kekisruhan di tengah keluarganya. Melainkan Linda juga lelah dengan semua pemikiran buruk di dalam benaknya. Seandainya saja Renjana mampu menenangkan dirinya, meyakinkan wanita itu bahwa semua pemikiran buruk di kepala Linda hanyalah bayangan tanpa dasar wanita itu saja.
Sayangnya, Renjana terlalu keras kepala, dan sudah lelah dengan semua drama pertengkaran di tengah keluarganya. Linda tidak pernah membayangkan bagaimana sakitnya menjadi Renjana setiap tuduhan memilukan dia layangkan kepada suaminya sendiri.