23. Bersikap Buta Dan Tuli

2104 Kata
Suasana yang semula terasa kaku karena kesalahpahaman singkat di antara Renjana dan Linda atas kedatangan Dinar secara mendadak, pada akhirnya dapat terselesaikan. Dinar memperkenalkan dirinya dengan baik sebagai salah satu penghuni baru komplek perumahan, yang mana kebetulan berada tepat di seberang tempat tinggal Renjana dan Linda jauh sebelum Dinar pindah ke komplek perumahan di Blok C. Linda masih merasa senang karena dia akan mendapatkan paket glowing dari Dinar. Semoga saja ucapan Dinar itu benar, Renjana akan semakin jatuh hati setelah Linda memakai skincare tersebut. Oleh sebab itu Linda meyakinkan Dinar bahwa dirinya akan datang ke acara launching klinik kecantikan tersebut. Renjana menggelengkan kepalanya, memang wanita tidak akan bisa jauh-jauh dari yang namanya skincare dengan segala jenis dan macam bentuk perawatan wajah maupun kulit mereka. Renjana saja sampai bingung, Linda memiliki beberapa paket skincare. Mulai dari paket wajah hingga kulit seluruh tubuh. Tidak hanya itu, Linda juga mempunyai minuman pencerah kulit dari dalam, meminumnya teratur seperti obat saja. Renjana sendiri tidak akan menghafal di luar kepalanya jika sampai Linda meminta dirinya mengambilkan salah satu prodak skincare kecantikan wajah dan kulit milik istrinya. “Kalau begitu aku pasti datang, ya kan Mas?” tanya Linda memastikan. “Iya pasti. Giliran dapat gratisan aja semangat kamu,” ejek Renjana. “Ih kamu mah. Ini semua nantinya kan juga buat kamu Mas,” bela Linda. Dinar hanya tersenyum melihat tingkah pasangan di depannya ini. Bisa dibayangkan mereka yang tadinya bersitegang saat ini bisa saling melempar canda. Apa seperti itu kehidupan berumah tangga? Akan tetapi sampai umurnya yang sekarang, Dinar sama sekali tidak pernah mendengar kedua orang tuanya bertengkar di depannya meskipun hanya masalah sepele saja. Atau mungkin pertengkaran menjadi salah satu momok menegangkan pada setiap pasangan suami istri yang baru saja melangsungkan pernikahan karena mereka masih dalam tahap pengenalan diri dan penyesuaian pasca menyandang status baru sebagai suami dan istri. Entahlah tak penting juga buat Dinar. Renjana diam-diam menatap ke arah Dinar ketika para wanita itu sedang mengobrol. Dinar yang tiba-tiba menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh Renjana menjadi tersipu. Dinar hanya mampu memberikan balasan atas tatapan mata Renjana dengan senyuman simpul di bibir ranumnya. Wanita itu tidak menampik, gemuruh di jantungnya berdegup sangat kencang sehingga rasanya bagian tengah tubuh atasnya ingin meledak saat ini juga. “Sekali lagi terima kasih sudah mengundang kami ke acara grand opening yang sangat spesial bagimu, Dinar,” ucap Renjana. “Iya sama-sama Mas. Karena saya rasa ini adalah moment yang tepat sekalian saya bisa berkenalan dengan para tetangga di cluster ini,” kata Dinar. “Betul tuh Din, jadi bisa lebih hemat juga kan. Biar kamu enggak usah buat acara lagi di rumahmu untuk melakukan syukuran pindahan rumah,” canda Linda. Dinar terkekeh. “Mbak Linda ini cenayang atau dukun, sih? Kok bisa menebak isi hati saya?” Mereka bertiga akhirnya tertawa. Renjana juga tidak lupa meminta maaf pada Dinar karena keadaan rumahnya yang sedang tidak baik. Dia juga malu karena dia datang ketika Renjana dan Linda sedang bertengkar. Renjana berdecak, lelaki itu lupa mempersilahkan seorang tamu untuk masuk ke dalam rumahnya. Tuan rumah macam apa yang justru membiarkan tamunya berdiri di depan rumah saling berhadapan satu sama lain tanpa mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumah dan dia jamu sebaik mungkin selayaknya kehormatan seorang raja. “Oh iya saya juga minta maaf atas apa yang kamu dengar ketika kamu baru tiba tadi,” kata Renjana. “Iya maaf ya Din, maklumlah namanya juga rumah tangga pasti ada ributnya,” timpal Linda. “Iya saya juga minta maaf karena mungkin kedatangan saya yang kurang tepat,” tutur Dinar yang merasa tak enak hati. “Kamu mau masuk dulu?” tanya Renjana. “Oh tidak perlu Mas, terimakasih. Biar di sini saja. Lagi pula saya sudah mau berpamitan,” kata Dinar. “Loh kok buru-buru sih Din,” ucap Linda berbasa-basi. “Aduh saya jadi sungkan sendiri, tidak bisa menjamu kamu selayaknya tamu di rumah kami,” kata Renjana. Dinar hanya tersenyum. Dia tidak menyangka bahwa laki-laki tampan ini begitu rendah hati karena dia selalu meminta maaf pada Dinar. Diam-diam dia sudah mulai memuji Renjana. Karena tak kuat terus berada di dekat Renjana maka Dinar berniat untuk kembali ke rumahnya saat itu juga. Wanita itu tampaknya hendak mengakui kalimat pujian yang Natalie lontarkan tentang paras tampan Renjana. Semula mungkin Dinar akan menapik segala celotehan Natalie mengingat Renjana telah menyandang status sebagai suami orang, nyatanya ketika bertatap muka secara langsung dengan lelaki itu membuat Dinar mengerti apa saja nilai plus di dalam diri Renjana meski mereka baru pertama kali bertegur sapa. “Kalau begitu saya permisi dulu ya, Mbak Linda, Mas Renjana,” pamit Dinar. Seketika itu juga raut wajah Renjana berubah, lelaki itu sepertinya mengerti bahwa Dinar mungkin saja merasa sungkan dengan situasi yang dia rasakan di dalam kediaman pasangan Renjana dan Linda itu. “Wah pasti kamu merasa tidak nyaman ya dengan keadaan di rumah ini,” kata Renjana. “Oh bukan begitu Mas. Saya justru yang merasa tidak enak karena sudah menganggu kalian,” ucap Dinar. “Ah kamu tidak perlu merasa begitu Din, kamu sama sekali tidak menganggu kok,” kata Linda. Linda justru bersyukur dengan kedatangan Dinar ke rumahnya, karena dengan begitu suaminya tidak jadi pergi karena pertengkaran mereka tadi. Dia berpikir bahwa Dinar telah menyelamatkan rumah tangganya dari pertengkaran. Setidaknya, dia dan Renjana dapat meredam sejenak ego di dalam diri mereka demi menghargai kedatangan Dinar meskipun upaya mereka tidak begitu maksimal. Sementara di kediaman orang tua Dinar tiba-tiba Adam, yang tak lain adalah ayah dari Dinar menanyakan soal acara launching klinik kecantikan milik putrinya pada Nisaka, sang istri. Merasakan keberhasilan anaknya tentu membuat kedua orang tua Dinar sangat bangga atas kesuksesan Dinar selama ini. Nisaka dan Adam tidak menyangka, putri yang dulu masih kecil berada di dalam pangkuan mereka tanpa sadar telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang mandiri. “Ma, kamu sudah tanya kepada Dinar soal persiapan pembukaan klinik kecantikan miliknya?” tanya Adam. “Belum Pa. Memangnya kenapa, Pa?” ucap sang istri. “Tidak apa-apa. Coba kamu telepon dia sudah sampai mana persiapannya. Takutnya kalau dia butuh bantuan kita, Ma,” jelas papanya Dinar. “Baiklah Pa setelah makan malam Mama akan coba menghubungi Dinar, ya. Mama takut jam segini dia masih di perjalanan,” kata Nisaka. “Ya sudah,” ucap Adam. Akhirnya Nisaka dan Adam pun menikmati makan malam mereka. Mereka tidak tahu bahwa sang putri kini tengah berada di rumah tetangganya. Orang tua Dinar memang sangat perhatian padanya, walau Dinar sudah dewasa tetap saja orang tuanya memperlakukan Dinar seperti putri kecil mereka. Anak tetaplah seorang anak bagi kedua orang tuanya. Karena menurut Dinar keberadaan dirinya sudah menganggu kedua pasangan suami istri tersebut maka dia memutuskan untuk berpamitan pada Renjana dan Linda. Walau pertemuannya dengan Renjana tidak di awali oleh situasi yang baik tapi Dinar tetap merasa puas karena dia bukan hanya bisa memandang wajah Renjana tapi juga bisa mengobrol bersama. Kalau Natalie mengetahui hal ini dia pasti akan merasa iri pada dirinya. “Hm, baiklah sepertinya waktu juga sudah semakin malam jadi lebih baik saya kembali ke rumah ya Mbak, Mas,” ucap Dinar. “Kamu bener Din enggak mau masuk dulu? Minum dulu gitu? Ngeteh bareng sambil bicara santai,” ucap Linda menawarkan. Sebetulnya Linda menawarkan Dinar untuk masuk dan minum terlebih dahulu agar supaya Renjana tidak jadi pergi dan mereka bisa memperbaiki hubungannya kembali. “Maaf Mbak bukannya tidak mau tapi saya rasa lain waktu saja, karena sepertinya Mbak Linda dan Mas Renjana juga perlu istirahat,” kilah Dinar. “Ya sudah kalau memang itu kemauan kamu. Sekali lagi saya minta maaf atas sikap istri saya tadi ya, Din,” ucap Renjana. Linda menekuk wajahnya, suaminya itu paling suka menjadikan kesalahannya sebagai bahan perbincangan. Padahal Linda telah meminta maaf kepada Dinar atas semua kesalahannya yang langsung menaruh prasangka buruk kepada Dinar sejak pertama kali matanya menangkap sosok wanita cantik dan berkarir cemerlang tersebut. “Iya Mas tidak apa-apa. Walaupun saya belum menikah tapi setidaknya saya paham dengan kondisi dalam rumah tangga,” ucap Dinar. “Wah hebat banget kamu Din, kamu udah bisa paham soal pernikahan sebelum menikah,” kata Linda. Renjana memasang wajah yang tak enak karena menurutnya Linda bersikap terlalu akrab dengan Dinar padahal mereka baru saja bertemu. Hal itu membuat Renjana merasa tambah kesal dengan istrinya itu. Semula menatap Dinar begitu ketus, kemudian berlagak sok baik seperti cermin. “Saya bisa bicara seperti itu karena saya melihat pengalaman teman-teman saya yang terkadang berselisih dengan pasangan mereka,” kata Dinar. “Ya saya rasa itu penting Din. Sebelum kamu menjadi istri kamu perlu mengetahui masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan berumah tangga,” celetuk Renjana. “Maksud kamu apa Sayang?” tanya Linda mulai merasa tak enak. “Iya Mas, maksudnya gimana saya kurang paham?” ucap Dinar menimpali. Renjana tidak langsung menjawabnya. Dia hanya menyungging senyum misterius yang membuat Dinar dan Linda bertanya-tanya. Linda yang merasa bahwa suaminya sedang meyindirnya secara tidak langsung mulai merasa panik. “Oh tidak ada maksud apa-apa. Hanya mengingatkan saja sebelum menikah ada baiknya kamu mengenal calon suamimu lebih dalam lagi,” sindir Renjana. Dinar sebetulnya  masih tidak mengerti akan maksud perkataan Renjana. Sedangkan Linda bagai disambar petir mendengar ucapan suaminya barusan. Hatinya semakin terasa gelisah karena dia tahu suaminya itu sedang marah padanya. Bagaimana lagi, Linda hanyalah wanita biasa yang dapat merasakan kecemburuan sekaligus perasaan gundah gulana di dalam dirinya. Merasa suasana di rumah Renjana sudah semakin tegang maka tanpa mengulur waktu dan berbasa-basi kali ini Dinar benar-benar pergi meninggalkan kediaman pengacara tampan itu. “Kalau begitu saya permisi dulu ya. Besok saya masih harus kembali bekerja,” kata Dinar. “Terima kasih ya Din,” ucap Linda sambil menjabat tangan Dinar. Setelah berjabat tangan dia pun meninggalkan rumah tersebut dan kembali ke rumahnya. Begitu Dinar keluar dari pagar rumah Renjana, ponselnya berdering dan ternyata dari Nisaka, mamanya. Dinar agak terkejut mengapa mamanya meneleponnya malam-malam begini. Wanita itu segera menggeser layar di ponselnya, siapa tahu orang tuanya sedang membutuhkan bantuan darinya sebagai anak sematawayang mereka. “Halo Ma? Kenapa menelepon di jam segini?” sapa Dinar sambil membuka gerbangnya. “Kamu di mana Din? Kok kayak lagi buka gerbang?” tanya sang mama. “Oh ini Dinar baru saja masuk ke dalam rumah, Ma,” kata Dinar. “Kamu baru pulang dari salon?” Nisaka bertanya dengan nada cemas. “Bukan, Ma. Dinar habis menyambangi para tetangga sambil memberikan undangan pembukaan klinik kecantikannya Dinar,” tutur Dinar menjelaskan. Nisaka merasa agak lega karena ternyata putrinya bukan baru kembali dari bekerja. Terkadang Nisaka merasa cemas dengan kesibukan putrinya. Karena di usianya yang sudah cukup matang seharusnya dia sudah pantas untuk menikah tapi jika disinggung soal pernikahan wanita itu selalu menjawab dia masih ingin sukses di dunia bisnisnya. Padahal dia sudah mempunyai beberapa salon dan satu klinik kecantikan, masih kurang apa kesuksesannya itu. “Mama tumben telepon Dinar malam-malam ada apa, Ma?” tanya Dinar heran. “Ini tadi Papa tiba-tiba teringat tentang rencana pembukaan klinik kamu, terus dia minta Mama menanyakan sama kamu soal perkembangannya. Takutnya kamu butuh bantuan kami tapi tidak berani bicara,” jelas Nisaka. “Oh itu, Mama sama Papa tenang saja. Semua sudah hampir tertata dengan baik kok. Mama sama Papa tinggal temani Dinar di acara nanti ya,” kata Dinar tersenyum ketika mendengarkan kedua orang tuanya masih mengkhawatirkan tentang dirinya. “Bener? Tadi Papa pesan, kalau kamu butuh bantuan kami kamu bilang aja ya,” seloroh Nisaka. Dinar tersenyum mendengar ucapan mamanya. Dia merasa sangat bahagia karena kedua orang tuanya sangat menyayangi dirinya tanpa henti. Terkadang dia pun jadi merasa tak enak karena orang tuanya masih harus ikut memikirkan segala urusannya. Oleh sebab itu dia mencoba untuk hidup mandiri di rumah sendiri agar dia bisa lebih bertanggung jawab pada kehidupannya, tidak selalu menggantungkan hidup kepada orang tua yang telah membesarkannya selama ini. Dinar selalu meyakinkan orang tuanya bahwa dia sudah dewasa dan sudah bisa menjaga dirinya sendiri namun tetap saja orang tuanya selalu mengkhawatirkan dirinya layaknya dia masih anak-anak. “Iya Ma bener. Semua udah beres, pokoknya Mama sama Papa sudah nggak perlu mikirin semuanya. Percayakan semuanya pada Dinar ya, Ma,” yakin Dinar. “Ya sudah kalau begitu sekarang lebih baik kamu istirahat ya Din,” kata sang Mama kemudian mematikan sambungan teleponnya. Dinar menutup panggilan tersebut. Wanita itu lantas memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana miliknya. Dinar mengunci gerbang rumahnya, tubuhnya menghadap ke arah kediaman pasangan Renjana dan Linda yang baru saja dia temui. Wanita cantik itu menghendikkan bahunya, seperti apa yang telah dia dapatkan dari ajaran orang tuanya, jadilan buta dan tuli pada rumah orang lain. Buta untuk tidak mengetahui apa yang tengah terjadi di dalamnya, dan tuli atas semua yang tidak patut dia dengarkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN