22. Undangan Spesial

2102 Kata
Sorot mata Linda tampak tajam menatap Dinar di depannya. Wanita itu sepertinya menelisik sosok wanita muda yang ternyata menjadi tetangga depan rumahnya, penghuni unit perumahan baru di sana. Dinar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena merasa terinterogasi oleh tatapan mata Linda maka Dinar memutuskan untuk memperkenalkan dirinya lebih dalam lagi. Supaya tidak ada kesalahpahaman di antara mereka. Rasanya sangat tidak menyenangkan kalau dirinya selaku penghuni baru komplek perumahan di sana, tahu-tahu sudah memiliki haters di sana atas kesalahpahaman yang tak segera diluruskan olehnya. Belum lagi, sadar maupun tidak sadar Dinar acap kali mendengar pertengkaran dan cek-cok adu mulut di antara pasangan suami istri yang kebetulan malam ini bertegur sapa dengan dirinya. Dinar tentunya tak mau menjadi bagian dari pertengkaran suami dan istri tersebut. Dinar melengkungkan senyuman di bibir ranum tipis miliknya. Wanita cantik itu tersenyum ramah menatap Linda dan Renjana secara bergantian. “Hm, sepertinya saya harus memperkenalkan diri saya saja supaya kita bsia bertetangga secara nyaman,” kata Dinar tersenyum ramah. “Ya itu lebih baik,” timpal Linda acuh tak acuh. Mendengar jawaban kurang bersahabat dari istrinya, sebagai seorang suami jelas saja Renjana menjadi sungkan dan tidak enak kepada Dinar. Bagaimanapun Dinar adalah tetangga dekat rumah mereka, perkenalan baik dari Dinar harusnya disambut hangat oleh Linda maupun Renjana, bukannya malah mendapatkan jawaban ketus dari Linda. Sungguh, Renjana juga tidak tahu mengapa istrinya bisa memiliki sifat seperti itu. Sedangkan sebelum pernikahan mereka dilangsungkan, Linda sangat pengertian dan juga bersikap hangat kepada semua orang yang berada di sekitarnya. Lambat laun, waktu dan situasi memang merubah sifat serta karakter seseorang. “Baiklah. Nama saya adalah Dinar Maharani. Saya tinggal di rumah no 23 dimana rumah itu berhadap-hadapan dengan rumah Bapak Renjana dan Ibu?” ucapan Dinar menggantung karena dia belum mengetahui nama Linda. “Linda.” “Oh iya, Ibu Linda,” ucap Dinar. Melihat gaya Dinar yang tetap santai setelah menghadapi kecurigaan Linda membuat pesona wanita itu menjadi lebih elegan. Hal itu membuat Renjana semakin takjub dan kembali memuji wanita itu dari dalam hati tentunya. Renjana merasa Dinar benar-benar wanita berkelas. Dinar bahkan tidak terpengaruh oleh pandangan mata menelisik dari Linda dan enggan menanggapi sikap ketus istri dari Lawyer muda dengan jam terbang tinggi itu. “Saya memang baru pindah tiga hari yang lalu dan belum sempat berkunjung ke rumah tetangga karena kesibukan saya,” jelas Dinar. “Oh iya tidak apa-apa, kita mengerti,” ucap Renjana. Linda hanya melirik ke arah suaminya dan Dinar secara bergantian. Menurut Linda mengapa sikap Renjana begitu manis terhadap Dinar. Memang suaminya itu adalah orang yang ramah dan supel kepada siapapun tapi mengapa Linda menangkap sesuatu yang berbeda pada sikap Renjana terhadap Dinar. “Apa kesibukkanmu?” selidik Linda. “Kebetulan saya mempunyai beberapa salon kecantikan di dekat sini, dan sebentar lagi salah satu klinik akan segera diresmikan, oleh sebab itu saya memilih untuk pindah ke sini,” jelas Dinar. Penjelasan mengenai usaha-usaha yang tengah ditekuni oleh Dinar tentu saja membuat Linda dan Renjana secara tanpa sadar berdecak kagum atas pencapaian Dinar di usia muda. “Salon kecantikan?” tanya Linda kaget. “Iya,” jawab Dinar singkat. “Wah hebat sekali masih muda tapi sudah mempunyai bisnis yang menjanjikan,” puji Renjana. “Terima kasih Pak,” ujar Dinar tak enak hati dipuji oleh Renjana di depan istrinya. Linda hanya bisa diam. Menurutnya tak penting apa pekerjaan Dinar. Dia hanya ingin tahu tentang Dinar lebih dalam lagi. Dalam pikiran Linda sudah banyak pertanyaan-pertanyaan untuk Dinar tapi tidak mungkin dia tanyakan saat ini terlebih ada suaminya di sampingnya. Untuk membuat rencananya berjalan mulus maka Linda berniat untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan Dinar. Diapun meminta maaf karena telah menuduh Dinar yang bukan-bukan. Secara tidak langsung, mendengar keberhasilan Dinar di usia muda membuat Linda berhenti berpikiran buruk tentang tetangga barunya itu. “Kalau begitu maafkan saya ya Din, karena tadi saya sudah berpikir buruk tentang kamu,” kata Linda. “Oh iya Bu tidak apa-apa,” jawab Dinar. “Jangan panggil saya Ibu, panggil saja Mbak atau Teteh. Karena saya rasa usia kita tidak begitu jauh,” pinta Linda. “Baik Mbak, rasanya senang sekali diterima baik di lingkungan yang menurut saya sendiri begitu asing dan butuh penyesuaian diri lagi,” ucap Dinar. Melihat itu semua Renjana merasa lega karena Linda tidak menuduhnya mempunyai hubungan dengan Dinar. Dia juga meminta maaf pada Dinar perihal kelakuan istrinya serta menjelaskan apa yang terjadi pada Linda. Renjana yakin benar, selama tinggal beberapa hari di kediaman barunya, Dinar tentu sudah mendengar pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan juga sang istri. Pertengkaran yang mana selalu membuat Renjana merasa enggan dan juga malu di hadapan tetangga karena menimbulkan prasangka-prasangka di dalam hati mereka. Apa boleh buat, Renjana selama ini telah melakukan segala macam cara, baik selalu mengalah, atau menghindari Linda demi keduanya tidak selalu bertengkar setiap hari. Nyatanya upaya Renjana tidak membuahkan hasil. “Atas nama istri saya, sekali lagi saya minta maaf ya Bu Din-” Ucapan Renjana menggantung karena dia tidak tau harus memanggil Dinar dengan sebutan apa. “Panggil saja Dinar Pak,” ujar Dinar. Renjana menganggukkan kepalanya. “Ok baiklah Dinar.” Dinar hanya tersenyum begitu Renjana mengucapkan namanya. Renjana mengatakan pada Dinar bahwa saat itu Linda sedang tidak dalam mood yang baik hingga mungkin sikapnya agak sedikit tidak pantas dilakukan pada seorang tamu. “Iya jadi saya minta maaf karena istri saya malam ini tidak sedang dalam mood yang baik, jadi mohon dimaafkan jika ada perilaku dan perkataannya yang kurang berkenan di hati Dinar,” ucap Renjana sambil merangkul bahu Linda di depan Dinar. Hati Linda sangat tenang begitu dia dirangkul oleh sang suami. Dia merasa bahwa Renjana menunjukkan pada Dinar bahwa dia sangat menghormati dirinya. Padahal Renjana melakukan ini semua untuk formalitas di depan Dinar saja supaya orang lain tidak mengethaui kondisi rumah tangganya yang sebenarnya. “Oh iya tidak apa-apa Pak saya mengerti. Namanya berumah tangga pasti akan ada sedikit kesalahpahaman di antara suami dan istri,” jelas Dinar. “Iya betul,” jawab Renjana. Dinar menghela napasnya panjang, wanita itu datang ke kediaman pasangan Renjana dan Linda bukan semata-mata hanya untuk memperkenalkan dirinya saja. Melainkan kedatangan Dinar adalah membawa bingkisan ringan, sekaligus sebuah undangan atas peresmian klinik kecantikan miliknya. “Oh iya hampir saja lupa. Kedatangan saya ke sini sebetulnya saya ingin memberikan ini,” kata Dinar sambil menyodorkan bingkisan serta undangan yang ia bawa. Linda menerima bingkisan itu sambil bertanya-tanya. “Wah apa ini?” tanya Linda sambil melirik undangan yang kini ada di tangan suaminya. “Itu ada sedikit bingkisan dan undangan grand opening klinik kecantikan yang akan saya resmikan akhir pekan ini Mbak,” jelas Dinar. Mata Linda berbinar bahagia. Baru sekali ini dia mendapatkan undangan atas pembukaan klinik kecantikan, apalagi klinik tersebut adalah milik tetangganya sendiri. Linda merasa Dinar benar-benar wanita yang begitu baik dan sangat menghargai tetangga tempat tinggal barunya, meski wanita itu sendiri baru beberapa hari menjadi penghuni komplek perumahan tersebut. “Klinik kecantikan? Kamu juga akan meresmikan klinik kecantikan sendiri?” tanya Linda takjub. “Iya Mbak, syukur Alhamdulillah,” ucap Dinar tersenyum simpul. “Wah! Hebat sekali, Dinar!” seru Linda tak bisa berkata-kata lagi. Sebagai wanita dia merasa iri karena prestasi yang dimilik Dinar. Dia adalah wanita muda yang cantik dan sukses. Sedangkan dirinya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang hanya menikmati harta suaminya tanpa punya prestasi atau bisnis apapun. Linda sebenarnya ingin menjadi wanita karir, akan tetapi bayangan-bayangan jika suaminya sampai menaruh hati kepada wanita lain karena Linda tak becus mengurus suami dan rumah membuat Linda seketika mengurungkan niat baiknya. Dinar mengatakan pada Linda dan Renjana agar mereka menyempatkan diri untuk hadir. Dinar juga bercanda akan memberikan hadiah pada Linda sebagai tanda pertemanan mereka. Linda hanya mampu tersenyum malu, tidak menyangka wanita yang semula dia curigai justru begitu baik dan ramah kepada dirinya. “Jangan lupa datang ya Mbak, Pak,” kata Dinar pada mereka. “Tentu. Kami pasti datang, kebetulan saya belum ada jadwal apa-apa di weekend ini,” ucap Renjana bersemangat. Linda melirik suaminya. “Kamu yakin Mas?” tanya Linda memastikan. Dia bertanya seperti itu pada suaminya karena biasanya Renjana malas menghadiri acara yang berhubungan dengan wanita seperti ini. Jangankan menghadiri grand opening sebuah klinik kecantikan, menghadiri pembukaan salah satu café dan restorant milik rekan dan sahabatnya sendiri saja Renjana kadang meminta Linda untuk datang seorang diri, menyampaikan salam Renjana karena berhalangan hadir ke sana. Namun kali ini, justru Renjana sendiri yang meyakinkan diri di depan Dinar bahwa dirinya dan sang istri akan datang ke acara grand opening klinik kecantikan milik Dinar. “Iya aku yakin. Lagipula yang mengundang kita secara langsung kan ownernya sendiri masa iya kita tidak menghargai undangannya,” kata Renjana. Dinar tersenyum sangat senang mendengar kalimat yang diucapkan Renjana barusan. Sementara Linda masih sedikit heran dengan sikap suaminya itu. Namun dia tidak ingin merusak suasana maka dia mengikuti keputusan Renjana itu. Lagipula tidak ada salahnya menghargai tetangga yang telah meluangkan waktu untuk menyapa mereka secara langsung dan memberikan undangan spesial kepada mereka berdua. “Baiklah kalau begitu aku juga akan atur waktu agar bisa datang ke acara ini,” kata Linda. “Harus dong Mbak. Nanti saya akan kasih free satu buah paket glowing untuk Mbak Linda, supaya Pak Renjana tambah jatuh hati pada Mba Linda,” canda Dinar. Dijanjikan seperti itu oleh Dinar membuat Linda malu sekaligus senang karena kapan lagi dia bisa mendapatkan paket kecantikan secara gratis. Renjana ikut tersenyum mendengar candaan Dinar, tapi dia sedikit protes akan panggilan Dinar padanya. Rasanya dengan panggilan Pak, dirinya tampak tua di mata Dinar. “Ngomong-ngomong kalau kamu panggil istri saya dengan sebutan mbak, saya rasa kamu cukup memanggil saya dengan panggilan Mas,” kata Renjana sambil mencuri pandang kepada Dinar. Dinar kaget dan hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan Renjana. Kalau dia memanggil Renjana dengaan sebutan itu apa tidak terlalu dekat nantinya. Tapi sepertinya Linda juga tidak keberatan dengan permintaan suaminya. Malah istri Renajana mendukungnya. “Iya betul Din. Lebih baik kamu panggilnya Mas saja. Kalau Bapak saya rasa terlalu tua, suami saya kan masih muda,” goda Linda. Dinar tertawa dan mengangguk bahwa dia setuju dengan keputusan itu walau masih agak janggal di indra pendengarnya. Linda masih sibuk membaca undangan launching klinik kecantikan yang diberikan oleh Dinar. Sementara Renjana dan Dinar asyik saling mencuri pandang dan tersenyum satu sama lain. “Kelihatannya klinik kecantikannya ini sangat mahal dan mewah ya Din,” tebak Linda. “Haish, jangan terlalu berlebihan seperti itu Mbak. Saya belum tahu komentar dari orang lain soal klinik ini, karena ini klinik pertama yang saya buka,” jelas Dinar. “Pertama?” tanya Linda terkejut. “Iya betul Mbak. Kalau untuk produknya sih bagus karena saya sudah memakainya sendiri, saya menggaet dua dokter kecantikan sekaligus. Oleh sebab itu saya berani membuka klinik ini,” pungkas Dinar. “Wah pantas saja kamu kelihatannya cantik banget, kulitnya tidak bermasalah. Kayaknya saya wajib coba sih,” ujar Linda dengan mata berbinar. Dinar tersenyum puas karena ternyata teknik marketingnya bisa juga dia gunakan saat berkenalan seperti ini. Setidaknya dari satu dua mulut yang mendengar kelebihan kliniknya, maka mereka akan menyebarkannya dari satu orang ke orang lainnya. “Makanya Mbak jangan lupa datang ya. Sayang loh kalau sampai nggak dapat paket glowingnya, karena saya hanya kasih ini untuk Mbak aja,” pancing Dinar. “Bener? Saya jadi merasa istimewa nih,” kata Linda sambil tertawa. Dinar juga ikut tertawa sementara Renjana hanya diam sambil sesekali tersenyum ke arah Dinar tanpa sepengetahuan istrinya. Entah apa yang dipikirkan Renjana, yang jelas laki-laki itu menatap Dinar dengan tatapan yang berbeda. Seperti ada rasa kagum dan juga takjub atas keberhasilan wanita mandiri seperti Dinar. Belum lagi sebelumnya, kedua orang tua Dinar berkata bahwa rumah yang saat ini ditempati oleh Dinar merupakan hasil kerja keras wanita itu sendiri. “Ya bener dong Mbak, masa saya bohong?” ucap Dinar meyakinkan. “Wah terimakasih banyak ya Dinar,” kata Linda. Sementara di tempatnya, Natalie merasa sangat penasaran apa Dinar sudah bertemu dengan Renjana atau belum? Mengapa belum ada respon dari Dinar soal Renjana. Natalie sangat tahu siapa Dinar dan juga tabiat sabahatnya tersebut, dia pasti akan langsung menceritakan kejadian yang baru saja dia alami apalagi jika itu adalah hal yang menyenangkan. Tapi, sudah sekitar dua jam lebih dia belum mendapat kabar dari Dinar, masa iya dia tidak berkomentar apa-apa soal Renjana. “Duh si Dinar ke mana ya? Kok belum ada komentar apa-apa dari dia. Apa jangan-jangan dia pingsan setelah melihat ketampanan tetangganya itu?” gumam Natalie dalam hati. Diapun tertawa membayangkan jika Dinar benar-benar pingsan seperti apa yang dia pikirkan saat ini. Ingin sekali rasanya dia menelepon sahabat yang merangkap sebagai bosnya itu guna mencari tahu hasil dari pertemuan dengan tetangga tampannya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN