21. Kedatangan Dinar

1465 Kata
Suara gaduh  masih terdengar dari dalam kediaman Renjana dan Linda meski senja telah berubah menjadi langit petang. Sosok gadis cantuk yang mendengar suara cek-cok dari dalam kediaman sang pengacara membuat Dinar benar-benar yakin, bahwa dia harus mengurungkan niatnya untuk bertamu ke rumah sang pengacara tampan tersebut. Dinar meyakinkan dirinya bahwa dia harus pulang. Teselip sedikit rasa kecewa di hati Dinar  karena jika dia kembali ke rumahnya itu artinya dia gagal untuk melihat wajah Renjana malam ini. Padahal Dinar memiliki harapan atas kesempatan emas dirinya dapat melihat secara langsung wajah tampan Renjana pada malam ini. Tapi sepertinya waktu memang tidak pernah berpihak kepada dirinya. “Kamu jujur saja Mas kamu pasti habis dari rumah wanita simpananmu kan? Sudahlah mengaku saja, Mas! Aku sudah lelah dengan segala kebohonganmu!” desak Linda. Diperlakukan seperti itu oleh sang istri membuat Renjana semakin panas. Lelah katanya? Sejak awal istrinya sendiri yang menciptakan api di tengah rumah tangga mereka. Tuduhan perselingkuhan yang tidak pernah terbukti, namun tidak pula membuat Linda menyurutkan niatnya dalam melontarkan tuduhan berselingkuh pada suaminya. Lebih baik Renjana memutuskan untuk kembali lagi ke luar, entah mau ke mana tujuannya yang jelas dia ingin  keluar dari rumah itu. “Bosan dengan segala tuduhanmu lebih baik aku pergi saja! Kau dan pemikiran burukmu itu sungguh luar biasa menyesakkan da-da!” kata Renjana penuh emosi. Renjana berjalan ke arah pintu sedangkan Linda meneriaki nama  suaminya itu namun tak direspon  olehnya. Saat  yang bersamaan ketika Renjana membuka pintu, Dinar sudah membalikkan tubuhnya dari depan pintu rumah Renjana bersiap untuk kembali ke rumahnya. Awalnya Renjana merasa terkejut mengapa ada seorang wanita sedang bertamu  malam hari  seperti ini dan mengapa orang ini malah memutuskan untuk kembali lagi. Renjana penasaran maka dia memanggil sosok yang tak lain adalah Dinar. “Tunggu! Maaf mau cari siapa ya?” tanya Renjana dari balik tubuh Dinar. Kaki Dinar saat itu terasa tidak mempunyai  tulang. Lidahnya  kelu seolah tidak bisa bicara. Dinar  tidak bisa berkata-kata walau hanya menjawab pertanyaan dari Renjana. Hatinya bertambah berdebar begitu dia mendengar langkah Renjana yang mendekat ke arahnya. “Maaf, Anda siapa ya?” tanya Renjana. Kali  ini Dinar tak bisa lagi mengelak apalagi kabur. Kalau Dinar kabur, bisa-bisa dia diteriaki maling oleh Renjana. “Oh ya maaf menganggu. Perkenalkan saya Dinar,” jawab Dinar. “Dinar? Dinar siapa ya? Apa anda teman istri saya atau?” tanya Renjana. “Bukan, saya adalah tetangga baru di cluster ini. Rumah saya di sana,” jawab Dinar sambil menunjuk ke arah rumahnya. Renjana mengikuti arahan tangan Dinar yang menunjuk sebuah rumah di seberang rumahnya. Sesaat Renjana teringan akan kejadian beberapa hari yang lalu saat dia bertemu dengan orang tua Dinar  dan bertegur  sapa. Renjanga terlihat gugup begitu dia melihat sosok Dinar yang begitu cantik sama  halnya dengan Dinar, dia begitu terkejut melihat Renjana. Dia benar-benar takjub begitu dia bisa melihat wajah Renjana dari arah depan secara full bahkan sangat dekat. Laki-laki tampan yang awalnya penasaran dengan sosok Dinar saat ini juga tidak bisa berkata apa-apa lagi karena dia terlalu takjub melihat pesona Dinar. Keduanya  saling menatap, tatapan yang cukup lama. Mereka hanya bertatapan  tanpa mengeluarkan sepatah katapun walau itu hanya  sebuah nama. Dalam hati  mereka saling memuji akan pesona masing-masing. Renjana yang sedang stress menghadapi Linda yang sedang marah-marah di dalam seketika hatinya merasa tenang  dan sejuk begitu dia melihat Dinar. Sedangkan Dinar merasa puas karena pada akhirnya dia bisa menatap wajah Renjana secara  langsung. “Wanita ini, mengapa parasnya  begitu cantik dan anggun? Hatiku merasa tentram melihatnya,” gumam Renjana dalam hati. “Dia ... ah, mengapa dia begitu tampan? Pantas saja Natalie begitu memujinya karena memang laki-laki ini sangat tampan dan menyejukkan hati,”  ujar Dinar dalam hati. Dinar dan Renjana masih saling menatap dalam-dalam seolah semakin hanyut dalam lamunan masing-masing. Tatapan mereka sama sekali tidak berpaling sampai akhirnya mereka mendengar teriakan Linda dari  dalam rumah. Dia meneriaki suaminya agar  tetap berada di rumah bersamanya. “Mas ... kamu tidak bisa pergi begitu saja Mas! Kamu harus jelaskan dulu paku!” teriak Linda dari dalam rumah. Renjana sama sekali  tidak menggubris teriakan istrinya itu. Dia masih berdiri saling berhadapan dengan Dinar. Karena tak ada respon dari sang suami, tapi  dia juga tidak mendengar  suara deru mobil keluar dari pekarangannya maka Linda memutuskan untu menyusul Renjana ke luar, karena dia yakin suaminya masih berada di sana. Linda masih saja meneriakin suaminya walau dia sambil berjalan ke arah pintu namun Linda terkejut dan menghentikan langkahnya begitu  melihat sang  suami sedang behadapan dengan seorang wanita yang tidak dia kenal. “Mas! Tunggu, jangan per-gi ....!” teriakan Linda terputus begitu dia berdiri di ambang pintu, di mana dia sedang melihat dua orang yang sedang bertatapan. Begitu Linda tengah keluar dari dalam maka disitulah Renjana dan Dinar sadar dari lamunan mereka masing-masing dan mengalihkan tatapan mereka pada Linda yang sedang berteriak itu. Saat ini Linda juga ikut terkejut begitu mendapati suaminya sedang berduaan dengan wanita lain di depan matanya sendiri. Jarak Dinar dan Renjana memang sangat dekat dan saling berhadapan maka siapapun yang melihatnya akan berpikiran macam-macam tentang mereka berdua. Apalagi Linda yang sudah curiga bahwa suaminya itu selingkuh. “Siapa kamu? Mengapa malam-malam datang ke rumah saya?  Ada hubungan apa kamu dengan suami saya?” cecar Linda. Belum sempat Dinar menjawab pertanyaan Linda, wanita itu sudah menyerang Dinar dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Dinar semakin tidak enak hati sekaligus tidak mengerti maksud Linda. “Oh, apa ini wanita yang sudah menganggu rumah tanggaku? Apa dia orangnya  Mas?” tanya Linda lagi. Karena pertanyaan ini ditunjukkan pada Renjana maka Dinar hanya menoleh ke arah laki-laki itu seolah dia meminta Renjana untuk menjawabnya. Karena sadar akan tatapan bingung Dinar serta dia merasa tak enak dengan wanita itu maka Renjana berjalan mendekati Linda mencoba menenangkan istrinya itu. “Linda, tenang dulu kamu jangan asal menuduh itu tidak baik,” ucap Renjana sambil mendekati Linda. “Bagaimana aku tidak menuduh kalau aku melihat suamiku sedang berduaan dengan wanita lain di depan rumahku sendiri!” Kata  Linda sambil menatap sinis ke arah Dinar. Dinar menjadi agak kesal dengan perilaku Linda terhadapnya. Dia menyesal mendatangi rumah Renjana. Kalau tau kejadiannya akan seperti ini Dinar lebih baik tidak usah menyambangi rumah mereka. Saat ini posisi Dinar hanya bisa diam di tempat. Dia ingin sekali pergi dan berlari dari situ tapi takut Linda akan semakin menjadi dan menuduhnya yang macam-macam. Menyadari  akan ketidaknyamanan Dinar terhadap situasi seperti ini membuat Renjana meminta maaf pada Dinar. “Hmmm ... Dinar maaf ya karena kamu jadi melihat situasi yang seperti ini,” ucap Renjana. Begitu mendengar suaminya mengucapkan nama Dinar, Linda semakin terkejut dan berpikir bahwa Renjana sudah lama mengenal Dinar. “Dinar? Darimana kamu tau  namanya Mas? Apa kalian  sudah pernah bertemu sebelumnya?” cecar Linda lagi. “Kamu ini apa-apan sih Lin! Tolong jangan berburuk sangka dulu, Dinar  ini tetangga kita!” jelas Renjana pada Linda. “Tetangga? Tetannga yang mana lagi Mas? Kamu jangan coba-coba bodohin aku ya!” kata Linda. “Bodoh-bodohin kamu bagaimana maksudnya?” tanya Renjana heran. Linda menatap Dinar  dalam-dalam. Dia mengingat-ingat apa dia mempunyai tetangga seperti Dinar? Linda tau semua penghuni di  cluster ini, bahkan penghuni baru pun  dia tau. Dia terus menatap Dinar dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dinar merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan Linda tersebut. Dia berniat memperkenalkan diri lebih dalam lagi pada Linda agar kesalahpahaman ini tidak berlanjut. Belum sempat memberi penjelasan pada Linda, Renjana sudah lebih dulu menjelaskan pada istrinya. “Tenang dulu Lin. Dinar ini tetangga baru kita yang tinggalnya di seberang rumah kita,” jelas Renjana. “Sebrang rumah kita? Bukannya yang tinggal di sana itu sepasang orang tua ya?” ucap Linda sambil berpikir. “Ya betul. Akupun taunya begitu, karena begitu kita bertegur sapa beberapa hari yang lalu memang dengan sepasang orang tua,” timpal Renjana. Dinar paham maksud mereka. Mungkin yang mereka temui pada saat itu adalah orang tua Dinar saat mereka mengantar Dinar pindah. “Oh mungkin itu orang tua saya,” kata Dinar  sambil tersenyum. Linda dan Renjana hanya mengangguk mengerti. Renjana merasa sedikit bahagia karena rupanya dia mempunyai tetangga yang sangat cantik  seperti Dinar, sedangkan Linda merasa tak enak hati karena sudah berpikir buruk pada Dinar. “Oh jadi itu orang tua anda,” ucap Renjana memecah keheningan. “Iya betul,” jawab Dinar singkat. Linda tidak berkata apa-apa, dia hanya menatap mata suaminya yang menurut Linda sangat berbeda. Seolah mengetahui isi hati suaminya itu Linda merasa dirinya harus tetap hati-hati pada Dinar karena biar bagaimanapun dia adalah wanita single yang cantik. Jadi sudah pasti banyak pria yang akan mengaguminya dan tidak menutupi kemungkinan bahwa suaminya juga akan mengagumi wanita itu. “Apa orang tua kamu tinggal di sini juga?” tanya Linda memastikan. “Oh tidak. Kebetulan saya hanya tinggal sendirian,” jawab Dinar. “Sendirian?” ucap Linda terkejut kemudian melirik Renjana dengan lirikan memperingatkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN