20. Tuduhan Tanpa Dasar

1470 Kata
Setelah dia mengantarkan Natalie sampai salon dia langsung melajukan mobilnya ke perumahannya tersebut. Ketika dia tiba di pintu masuk clusternya dia memberikan bingkisan yang sudah dia siapkan untuk para petugas keamanan tersebut. Semua petugas merasa senang karena menurut mereka sebagai penghuni baru Dinar sangatlah ramah dan baik terhadap mereka semua tetangga. Dinar tidak lupa mengucapkan salam perkenalan terhadap security yang berjaga sift siang. Dinar berharap mereka dapat menjaga keamanan perumahan tempatnya tinggal untuk menciptakan lingkungan perumahan aman dan juga sangat menyenangkan ketika dihuni. “Wah terima kasih banyak ya, Bu Dinar,” ucap salah  seorang security. “Sama-sama. Dimakan ya Pak. Saya masuk dulu,” ucap Dinar sebelum melajukan kembali kendaraan besinya menuju rumahnya berada. Begitu dia tiba di rumahnya, dia sempat melirik ke arah rumah Renjana. Di sana dia tidak melihat mobil Renjana terparkir, itu artinya Renjana belum pulang Rumahnya pun terlihat sepi. Lama Dinar memandangi rumah tersebut hingga akhirnya dia  tesadar dengan sendirinya untuk apa dia memandangi rumah Renjana yang jelas saja mereka berdua tidak saling mengenal. Gadis itu menghendikkan bahunya, setelah dia masuk ke dalam rumah dan meletakkan kue-kue yang dia beli di meja kini gadis berparas cantik oriental berniat untuk mandi dan  siap-siap  karena malam ini dia akan berpetualang ke rumah para tetangganya. Saat dia hendak naik ke kamarnya, dia mendengar suara deru mobil di depan rumahnya. “Itu  pasti dia,” kata Dinar kemudian berlari ke jendela rumahnya dan mengintip  apa benar suara mobil itu berasal dari suara mobil tetangganya yang dibilang Natalie itu tampan. Benar saja mobil itu adalah mobil Renjana. Sayangnya  lagi-lagi  dia tidak bisa melihat sosok laki-laki tampan itu dari  arah depan. Pandangan Dinar menajam, berharap waktu membuatnya melihat wajah tampan Renjana yang digambarkan begitu memukau oleh Natalie sahabatnya. Namun harapannya musnah, Dinar dengan cepat menutup kembali gorden yang tadi dia buka kemudian bergegas naik ke lantai dua dan mandi. Di rumah Renjana, laki-laki itu merasa kesal  karena begitu dia sampai di rumah dia sama sekali  tidak menemukan keberadaan Linda. Dan yang lebih membuatnya jengkel adalah saat dia membuka tudung saji di meja makan dia  tidak menemukan apapun di sana. Padahal tadi Linda sendiri yang meminta Renjana untuk makan malam di rumah. “Kebiasaan!” keluh Linda mulai bergerak gelisah. Daripada  suntuk di rumah sendirian maka Renjana memutuskan untuk pergi keluar mencari angin.  Toh di rumah juga tidak ada siapa-siapa. Selang beberapa menit Renjana keluar dari rumah Linda tiba  dan menemukan bahwa suaminya belum ada di rumah. Dengan wajah yang ditekuk dibukanya pintu gerbang rumah mereka dan kemudian Linda duduk di meja makan sambil memandang jam yang tertempel di  dinding. “Sudah hampir jam enam tapi Mas Renjana belum pulang. Ke mana dia? Selalu saja membuat aku resah,” gerutu Linda kesal. Linda sadar bahwa dia belum memasak untuk makan malam, padahal dia yang  minta  suaminya untuk makan malam di rumah. Namun karena dirinya yang sudah terlalu lelah bepergian bersama teman-temannya maka Linda memutuskan untuk segera memasak makanan untuk makan malam dia dan suaminya. Dan untuk mempersingkat waktu, Linda memilih memasak, makanan yang simple. Dinar telah selesai mandi dan berpakaian. Dia juga memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu sebelum dia mengunjungi  para tetangganya malam ini. Dia juga sedang memesan makanan lewat ojek online karena itu yang paling praktis menurutnya. “Permisi ... Delivery ....” teriak seorang pengantar makanan dari depan gerbang. Dinar segera berlari ke depan untuk mengambil makanannya. “Terima kasih Pak,” ucap Dinar. “Sama-sama Bu,” jawab sang pengantar makanan. Begitu orang itu pergi, lagi-lagi Dinar menoleh ke rumah yang berada di  seberang rumahnya itu yang tak lain adalah tempat tinggal Renjana. Dinar melihat mobil Renjana masih belum ada di sana, dia  tidak tau bahwa pengacara itu sudah sempat pulang namun pergi lagi. Oleh sebab itu yang ada di  pikiran Dinar adalah mengapa pengacara itu sangat sibuk. Apa setiap hari dia pulang larut seperti ini. Setelah selesai makan  malam tiba-tiba Natalie  menelepon Dinar untuk menanyakan apakah Dinar sudah mulai berkeliling rumah para tetanga. “Halo Nat,” ucap Dinar. “Gimana Din, udah ketemu si ganteng belum?” goda Natalie. “Apaa sih lu? Gue baru selesai makan, habis ini baru keluar,” ucap  Dinar. “Oh gitu. Eh saran gue lu ke rumah si gantengnya terakhir aja soalnya gue takut lu ilang  fokus pas ketemu dia,” ledek Natalie. “Ye ... emangnya gue lu! Yang suka ilang fokus kalau ada cowok ganteng! Lagian Nat menurut gue kan belum tentu orang itu ganteng,” kata Dinar. Natalie terbahak-bahak  mendengarnya. Dalam hatinya berkata bahwa Dinar pasti akan klepek-klepek  saat dia melihat Renjana. Karena tak ingin membuang waktu terlalu lama maka Dinar mengakhiri panggilan Natalie dan mulai mengantarkan undangan serta bingkisan untuk para tetangganya. Dinar sepertinya akan mengikuti saran Natalie yang mengatakan bahwa dia akan berkunjung ke rumah Renjana saat terakhir saja. Dia mengikuti saran Natalie bukan berarti  dia takut tidak fokus setelah bertemu Renjana tapi dia melihat mobil Renjana belum ada di halaman rumahnya, itu tandanya sang pemilik rumah tidak ada di tempat. Dinar mengunjungi rumah para  tetangganya satu persatu. Dia memberikan undangan dan bingkisan pada setiap rumah yang ia datangi. Dinar mengunjungi para tetangga serta  beramah tamah selayaknya  pendatang baru di daerah itu. Para tetangga pun menyambut Dinar dengan ramah juga. Tak jarang dari  mereka memuji kebaikan serta kesuksesan Dinar yang mereka ketahui  seorang owner salon kecantikan dan akan membuka klinik skincare pula. “Wah  Mba Dinar hebat banget ya masih muda tapi udah jadi pengusaha sukses,” puji Ibu Hartono salah satu tetangga yang rumahnya tepat  di samping  rumah Renjana. “Ah Ibu bisa saja. Kebetulan ini juga kan salah  satu hobi saya Bu, jadi saya  enjoy aja ngejalaninnya sampai akhirnya saya punya ini semua Bu, Alhamdulillah.” Jelas Dinar. “Pantas saja Mba Dinar itu cantik, orang hobinya  urus kecantikan sih,” ujar si Ibu itu. Dinar tertawa mendengar celoteh sang tetangga oleh karena itu dia mengajak sang ibu untuk mencoba perawatan di salonnya serta berkonsulatsi di kliniknya nanti. “Ibu juga bisa tambah cantik kok Bu. Nanti datang saja ya ke klinik dan salon saya. Kata Dinar mencoba mempromosikan usahanya. “Wah Mba Dinar jago juga ya marketingnya,” timpal Pak Hartono. Mereka bertiga akhirnya tertawa. Ketika sedang tertawa Dinar mendengar suar  deru mobil yang sepertinya itu mobil Renja. Ketika mendengar suara mobil tersebut, dengan spontan Dinar menoleh ke arah luar. Dia tak  sadar  aksinya diperhatikan oleh Pak Hartono. “Itu pasti mobil Mas Renjana,” ujar Pak Hartono. Dinar merasa malu karena aksinya diketahui orang lain. Maka dia mengelak dengan mengatakan bahwa dia mohon pamit karena masih harus menuju ke rumah tetangga yang lain. “Kalau begitu saya permisi dulu ya  Pak, Bu,”  pamit Dinar. “Oh iya mari-mari Mba. Terima kasih loh ini undangan sama bingkisannya,” ujar Bapak dan Ibu Hartono. “Sama-sama Pak. Semoga suka ya, dan ditunggu kedatangannya ya Pak, Bu,” ucap Dinar. Setelah Dinar keluar dari kediaman Bapak Hartono dia bergegas masuk ke rumah Renjana. Hatinya sedikit gugup berbeda saat dia mengunjungi rumah para tetangga yang sebelumnya. Setelah keberanian Dinar terkumpul maka dia masuk ke rumah sang pengacara. Namun dia merasa sungkan untuk mengetuk pintunya karena dia mendengar pertengkaran dari dalam rumah Renjana. “Dari mana saja Mas jam segini baru pulang?” bentak Linda pada suaminya. “Apa tidak salah kamu menanyakan hal itu?” sindir Renjana. “Maksudnya?” pekik Linda. “Aku yang seharusnya bertanya dari mana saja kamu?” bentak Renjana tak kalah galak. Linda agak terkejut dengan pertanyaan suaminya. Jelas-jelas suaminya yang baru saja tiba, mengapa bisa-bisanya dia melontarkan pertanyaan itu untuk Linda. “Mas! Kamu ini aneh ya! Jelas-jelas kamu yang baru masuk rumah kenapa malah kamu yang tanya aku dari mana,” kelak Linda. “Jangan mengelaklah. Aku tadi suah tiba di rumah jam setengah enam tapi aku tidak menemukan keberaan kamu bahkan makan malam yang kamu bilang tadi pagi,” jelas Renjana dengan suara yang agak meninggi. Linda tak bisa berkata-kata  lagi karena dia sudah kepergok bahwa dirinya tidak ada di rumah saat suaminya pulang. Dinar yang mendengar percakapanan mereka dari luar hanya bisa berdiri tertegun tak tau apa yang harus dia lakukan. Rasanya tidak pantas berkunjung ke rumah orang yang sedang bertengkar. Dinar memutuskan untuk kembali lagi esok hari. Dia akan datang ke rumah Renjana di pagi hari. Sedangkan di dalam sana suara keduanya masih terdengar saling sahut menyaut. Dinar tidak mendengarkan dengan seksama karena menurutnya itu sama saja menguping pertengkaran mereka. “Kalau memang tadi kamu sudah pulang kenapa kamu pergi lagi? Oh aku tahu kamu pergi lagi untuk minta makan di rumah pacar simpanan kamu kan Mas?” tuduh Linda. Renjana tak habis pikir dengan sikap Linda. Bukannya menyadari kesalahannya malah menuduh Renjana yang tidak-tidak. Laki-laki itu sudah hilang kesabaran dan sudah sangat lelah dituduh setiap saat oleh istrinya sendiri. Entah harus bagaimana cara Renjana menghadapi tuduhan demi tuduhan yang Linda lontarkan terhadap dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN