Peresmian launching klinik skincare milik Dinar memang membutuhkan persiapan yang lumayan banyak. Dinar dan Natalie mulai sibuk mempersiapkannya sejak jauh-jauh hari, meski begitu banyak persiapan yang masih membutuhkan perhatian extra karena waktu launching semakin dekat. Natalie sudah menghubungi semua pihak terkait dan memastikan bahwa acara nanti akan berjalan sesuai rencana tanpa ada satupun yang tertinggal.
Mulai dari dekorasi acara, makanan, serta beragam kepentingan lainnya sudah tercatat dan teragendakan dengan rapi. Dinar maupun Natalie saling mengingatkan jika satu dari agenda mereka sedikit terlewatkan. Mereka berdua ibarat tangan dan kaki, beriringan kompak menuju satu tujuan yang sama untuk masa depan lebih baik.
Keduanya tampak fokus, Dinar dengan bolpoin serta buku undangan VIP untuk tamu-tamu kehormatannya, sedangkan Natalie sibuk bertelepon bersama para penanggungjawab acara yang sudah dia berikan kepercayaan sejak awal. Karena kesibukan keduanya rupanya mereka tidak sadar kalau waktu jam makan siang telah tiba.
“Permisi Bu Natalie dan Bu Dinar, apa boleh saya ijin keluar sebentar untuk makan siang?” tanya salah satu karyawan salon dengan sopan.
Dinar dan Natalie sontak menoleh ke sumber suara. Kedua gadis single tersebut saling berpandangan karena mereka tak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Detik selanjutnya Dinar menepuk pelan keningnya, tingkat pelupa tentang waktu istirahat adalah kekurangan Dinar sebagai seorang atasan di sana.
Mungkin nantinya Dinar haruslah membayar seorang pengingat agar dirinya tidak melupakan waktu istirahat dirinya sendiri maupun para karyawannya. Walaupun jam istirahat sudah ditetapkan, nyatanya para karyawan di salon milik Dinar selalu berpamitan terlebih dahulu kepada sang owner sebagai bentuk penghormatan mereka atas sopan santun Dinar dengan para karyawannya.
“Oh iya silahkan. Ingatkan yang lain juga ya untuk makan siang,” kata Dinar.
Setelah karyawan tersebut keluar dari ruangan Dinar saatnya Natalie yang mengingatkan bosnya untuk melepaskan pekerjaannya sejenak dan makan siang.
“Kita juga harus makan siang Din,” kata Natalie.
“Iya sebentar lagi ya, sepuluh menit lagi gue selesai kok. Lu udah selesai?” tanya Dinar.
“Belum. Tapi akan gue lanjutin setelah makan siang. Karena gue hanya tinggal kirim email ke beberapa pelanggan kita aja untuk promosi,” kata Natalie.
“Oke deh kalau gitu lu tolong informasi ke Desy untuk handle salon,” perintah Dinar.
“Handle kenapa? Emang kita enggak balik ke sini lagi habis makan?” tanya Natalie bingung.
Dinar menjelaskan pada Natalie bahwa mereka akan pergi makan siang setelah itu Dinar mengajak Natalie pergi membeli buah tangan untuk para tetangganya dan kemungkinan mereka tidak akan kembali ke salon.
“Oh iya ya. Ya udah gue bilang ke Desy dulu. Lu beres-beres ya, gue tunggu di luar,” kata Natalie.
“Siap!” kata Dinar sambil mematikan laptopnya kemudian membereskan barang-barangnya.
Setelah Dinar keluar dari ruangannya dia melihat Natalie masih berbicara dengan Desy, kepala karyawan yang biasa menghandle salon jika tidak ada Dinar maupu Natalie.
“Jadi gitu ya Des. Kalau ada apa-apa langsung telepon saya atau Dinar ya,” pesan Natalie.
“Baik Bu!” jawab Desy sopan.
“Titip salon ya Des,” timpal Dinar sambil tersenyum.
“Baik Bu Dinar. Semoga urusan ibu lancar hari ini,” kata Desy.
“Terima kasih ya.” Ucap Dinar sambil menepuk lembut bahu Desy.
Mereka berdua keluar dari salon dan menuju mobil Dinar. Sedangkan mobil Natalie ditinggal di salon dan dia kembali ke salon lagi untuk mengambil mobilnya nanti. Keduanya berhenti bekerja dan memutuskan untuk makan siang setelah salah satu karyawan salon meminta ijin untuk keluar membeli makan siang. Jika tidak ada salah satu karyawan salon Dinar yang meminta izin, maka dapat dipastikan keduanya akan melupakan waktu makan siang karena terlampau fokus akan pekerjaan keduanya.
“Jadi kita mau makan di mana, Bos?” tanya Natalie yang sudah duduk di kursi kemudi.
“Di mall deket sini saja lah Nat, jadi enggak buang-buang waktu. Gue udah laper soalnya,” kata Dinar sambari mengelus perut ratanya.
“Sama gue juga,” timpal Natalie sambil meringis.
Natalie pun melajukan mobil Dinar ke arah Mall yang disarankan oleh Dinar. Mall tersebut memang mall yang terkenal mewah di kawasan Jakarta Selatan, biasanya orang-orang menengah ke atas dan kalangan selebritis yang pergi ke sana. Untung saja mereka pergi di hari kerja, karena kalau akhir pekan mall tersebut sering dipenuhi oleh para artis dan penggemar mereka.
Tidak heran keaman di pintu masuk lebih ketat dari pusat perbelanjaan lainnya.
“Jadi lu mau beli apa Din buat hantaran nanti malam?” tanya Natalie.
“Ini gue baru mau tanya ke lu, enaknya beli apa ya Nat?” tanya Dinar.
“Hmmmm ... di cluster lu itu ada berapa orang yang akan lu undang?” tanya Natalie.
“Semalem gue udah cek datanya kurang lebih ada sekitar lima belasan lah. Tapi rencana gue mau beli lebih sih buat di taruh di pos satpam,” kata Dinar.
“Oh gitu. Ada berapa orang di pos?” tanya Natalie.
“Setahu gue sih tiga atau empat gitulah,” jawab Dinar.
Natalie kelihatan sedang berpikir kira-kira apa yang pantas diberikan untuk para tetangga Dinar dan para security di clusternya itu. Sedangkan Dinar masih sibuk melihat-lihat ponselnya.
“Din kalau menurut gue gimana kalau lu beli kue-kue gitu aja,” saran Natalie.
“Kue apa? Cake atau cookies?” tanya Dinar.
Natalie kembali berpikir sebelum dia menjawab pertanyaan Dinar. Karena dia agak ragu bahwa sarannya akan diterima oleh sang bos.
“Kayaknya mendingan cake aja deh Din. Kalau gak salah di Mall itu ada satu toko cheesecake yang enak banget dan gue rasa itu cocok banget buat hantaran, nanti kita tinggal minta dipacking cantik aja,” kata Natalie.
“Emang bisa?” tanya Dinar.
“Bisalah pasti, nanti kita coba ya. Daripada buah-buahan kayaknya setiap rumah ada buah deh,” jelas Natalie.
“Ah sok tau lu!” ejek Dinar.
Natalie terbahak diejek seperti itu dan Dinarpun ikut tertawa. Tak berapa lama mereka tiba di Mall tersebut. Setelah keluar dari basement Natalie bertanya pada Dinar kemana mereka akan pergi makan siang.
“Mau makan di mana Din?” tanya Natalie.
“Lu mau makan apa?” tanya Dinar lagi.
“Bebas. Gue lagi nggak pengen apa-apa sih jadi gue ikut lu aja,” kata Natalie.
Akhirnya Dinar memilih makan di restoran Jepang. Karena perutnya hari ini minta diisi oleh makanan Jepang. Selesai makan siang mereka langsung menuju toko kue yang tadi dimaksud oleh Natalie. Di toko tersebut Dinar memilih kue-kue apa saja yang akan dia beli. Begitu selesai memilih barulah Dinar meminta Natalie untuk menghandle semuanya.
“Jadi pesanannya sepuluh cheese cake dan lima chocolate belgian cake serta total keseluruhannya jadi lima belas cake ya Mbak?” tanya sang pramuniaga.
“Iya Mbak betul. Oh iya saya minta dipacking satu persatu ya Mbak, karena ini mau dibuat hantaran ke rumah orang-orang penting,” kata Natalie.
Dinar hanya tersenyum mendengar perkataan Natalie yang menyebutkan bahwa tetangganya adalah orang-orang penting. Tidak bisa ditampik memang, cluster perumahan Dinar terbilang dihuni oleh orang-orang penting.
“Baik Mbak. Untuk itu mohon ditunggu ya karena kita butuh waktu juga untuk mempackingnya,” ujar sang pramuniaga tersebut.
“Oke. Kalau begitu saya bayar dulu setelah itu saya tinggal dan nanti saya ambil kembali bisa?” tanya Natalie.
“Oh iya Mbak tentu bisa. Silahkan Mbak nya menuju kasir yang ada di sana.” Kata sang pramuniaga sambil menunjukkan arah kasir tersebut.
Dinar dan Natalie mengikuti arahan tersebut dan menyelesaikan transaksinya kemudian meninggalkan toko itu. Mereka memilih untuk jalan-jalan di Mall sambil menunggu packing kue yang dipesan selesai.
“Din, lu udah beli baju untuk acara launching skincare?” tanya Natalie.
“Emang harus gitu beli baju?” tanya Dinar.
“Ya gak juga sih karena gue yakin lu masih punya banyak stok baju yang belum dipakai ya kan?” ujar Natalie.
“Nah itu lu tahu,” jawab Dinar sambil meringis.
Keduanya melanjutkan petualangan mereka di Mall. Dinar dan Natalie memang bukan tipe wanita yang hobi berbelanja jika pergi ke Mall. Karena mereka lebih mengutamakan kebutuhan daripada gaya hidup. Tapi bukan berarti mereka tidak pernah pergi ke salon ataupun shopping. Kegiatan itu mereka lakukan hanya sesekali saja dalam beberapa bulan.
Setelah kaki mereka sudah merasa lelah dan waktu juga sudah menunjukkan pukul tiga sore maka Natalie mengingatkan Dinar untuk kembali ke toko kue tersebut karena dia yakin pesanan mereka semua sudah selesai.
“Din, kita ke bakery yang tadi yuk!” ajak Natalie.
“Ayuk! Udah selesai kan ya harusnya?” tanya Dinar.
“Udah sih, kita udah hampir dua jam ninggalinnya,” kata Natalie.
Begitu mereka tiba di toko kue tersebut ternyata para pekerjanya baru saja selesai membungkus pesanan mereka. Karena tadi Natalie meminta kue-kuenya yang masih fresh from the oven maka mereka menghabiskan waktu dua jam untuk menyiapkannya.
“Sudah selesai Mbak?” tanya Natalie.
“Sedikit lagi ya Mbak. Kita tinggal pasang pita-pita di kardus kuenya saja kemudian dipack ke paperbagnya,” kata sang pramuniaga menjelaskan tahapan packing di bakery tempatnya bekerja agar tidak mengecewakan para pelanggannya.
“Oke,” jawab Natalie.
Dinar terpukau atas kerapian dan keunikan cara pekerja di bakery itu dalam mempacking pesanannya. Pantas saja bakery itu sangat ramai oleh pembeli dan direkomendasikan beberapa artis juga di media sosial tanpa embel-embel endorse tentu saja.
“Wah cantik banget ya packangingnya,” puji Dinar begitu dia melihat salah satu packaging yang sudah selesai.
“Terima kasih Mbak. Semoga puas dengan hasil hiasan kami,” ujar si pramuniaga itu.
Dinar dan Natalie pun menunggu pesanan mereka sambil duduk di sofa yang telah disediakan. Dinar sangat senang karena Natalie membantunya begitu sempurna.
“Thanks ya Nat, lu selalu bantuin gue dalam hal apapun termasuk hal sekecil ini,” kata Dinar.
“Santai aja sih Din. Ini juga kan demi kemajuan usaha lu, kalau lu sukses gue kan juga ikut sukses. Bukan begitu?” tanya Natalie.
Dinar hanya mengangguk sambil tertawa mendengar celoteh sahabatnya itu. Tak lama kemudian seorang pelayan memanggil mereka karena kuenya sudah di packing semuanya baik Dinar maupun Natalie sangat puas dengan hasilnya.
“Terima kasih ya kita puas banget sama hasilnya,” kata Natalie dan Dinar.
“Sama-sama Mbak semoga menjadi langgangan ya,” timpal sang pramuniaga tadi.
Dinar dan Natalie bergegas keluar dari mall tersebut karena waktu sudah semakin sore. Awalnya Natalie menyarankan agar dirinya naik taksi saja untuk kembali ke salon mengambil mobil jadi Dinar bisa langsung pulang ke rumah dan menghemat waktu. Namun Dinar tetap mengantarkan Natalie terlebih dahulu.