18. Kegelisahan

1511 Kata
Pagi hari ini Dinar berangkat dengan suasana hati begitu semerawut, bayangan Renjana memang benar-benar tidak bisa dihilangkan begitu saja. Laki-laki  itu  sukses membuat hati dan pikiran Dinar bergerak tidak menentu. Sesampainya gadis  itu di parkiran salon dia tidak langsung turun dari mobilnya. Dia duduk merenung di dalam mobil entah apa yang dia pikirkan. Sesaat setelah dia sadar bahwa dia sudah berada di salon miliknya, dia segera mematikan mesin mobil dan segera masuk ke dalam salonnya. Begitu Dinar membuka pintu salon, di sana terdapat Natalie dan enam pekerja yang akan bersiap-siap briefing dengan Natalie. Namun  begitu Dinar masuk mereka semua menyapa  kedatangan sang owner pagi itu. Natalie lebih dulu menyapa sahabatnya yang juga bos di salon itu. “Pagi Din,” sapa Natalie. “Pagi Nat,”  balas Natalie. “Pagi Bu ....” sapa keenam pekerja itu hampir bersamaan. “Iya pagi, saya ke ruangan saya dulu. Selamat bekerja,” pamit Dinar.  Dia berjalan menuju ruangan dengan tergesa. Natalie yang menyadari ada yang tidak beres dengan Dinar hanya bisa menatapnya bingung  karena  dia harus memberikan briefing pada para pekerja di salon itu. Di  dalam ruangannya Dinar melempar tas yang dia bawa ke atas sofa kemudian dia duduk di atas  kursi kesayangannya sambil menyandar. Dia benar-benar tidak bisa fokus pagi ini. Pikirannya masih terbayang pada sang tetangga yang sampai saat ini masih belum bisa dilihat wajahnya secara full. Hanya melihat dari bagian-bagian tertentu saja sudah membuat gadis itu menjadi gila, apalagi kalau dia melihat ketampanan Renjana secara keseluruhan. “Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini,” gumam Dinar mengacak rambutnya frustasi.  Dia mencari tumpukan undangan untuk pembukaan kliniknya dan berniat untuk mengirimkannya supaya dia bisa ada kesibukan dan tak memikirkan  Renjana terus-menerus. Namun dia  tidak mendapati undangan-undangan tersebut.  Dinar bergegas keluar untuk menanyakan perihal undangan itu pada Natalie. “Nat, sorry gue ganggu. Undangan launching klinik  udah lu kirim semua?” tanya Dinar pada Natalie. “Udah kok, kenapa Din?” tanya Natalie. “Oh ya udah enggak apa-apa. Oke lanjutin lagi aja,” kata Dinar sambil tersenyum. Pagi ini seluruh karyawan salon ikut merasakan ada yang tidak beres dengan sang owner. Natalie yang  khawatir akan sikap sahabatnya itu pun ingin segera mengakhiri briefing dan segera menemui Dinar di ruangannya. Gelagat Dinar membuat semua orang yang bekerja di salonnya merasa sesuatu tidak beres terjadi pada atasan mereka. “Baiklah kalau begitu briefing pagi ini  saya akhiri dan silahkan kalian mulai bekerja dengan baik dan benar, terima kasih,” kata Natalie. “Siap Mbak Natalie,” jawab mereka kompak. Dengan senyum yang manis Natalie meninggalkan para pekerja tersebut dan kemudian masuk ke ruang Dinar. Untuk pertama kalinya, Natalie menangkap raut wajah kegelisahan di paras ayu sahabat baiknya. Seburuk apapun keadaan, Dinar adalah sosok orang yang pandai menghandle keadaan. “Din, lu kenapa?” tanya Natalie. Karena Dinar  sedang melamun dia jadi terkejut begitu Natalie masuk dan menyapanya. Secara mendadak, Dinar teringat akan sumpah serapah yang Natalie tujukan untuk dirinya semalam. Sumpah di mana Natalie mengutarakan Dinar akan tersepona pada sosok Renjana jika mereka sampai bertemu. Dinar menggelengkan kepalanya, mengusir pemikiran buruk tentang ucapan Natalie semalam agar tidak mengganggu konsentrasinya seharian ini. “Eh lu Nat. Enggak, kok gue nggak apa-apa. Gimana udah kelar briefingnya?” tanya Dinar  mengalihkan. Dinar juga menyibukkan diri dengan mengangkat-angkat beberapa map yang ada di  mejanya. Namun sesekali dia masih terdiam kemudian merenung entah memikirkan apa. Natalie semakin curiga dan bertanya-tanya akan tingkah sahabatnya ini semakin memperhatikan gerak-gerik Dinar yang memang tidak seperti biasanya. Natalie mencoba menanyakannya pada Dinar. “Din, lu kenapa?” tanya Natalie lagi. “Apanya yang kenapa?” jawab Dinar dengan mata yang masih menghadap berkas-berkas di  atas meja. “Ya lu kenapa tadi nanyain undangan klinik?” pungkas Natalie. “Oh itu. Itu gue cuma mau mastiin aja apa udah lu kirim atau belum?” tanya Dinar. “Hm itu mah udah beres semuanya. Sebagian gue kirim kemarin nah sebagian lagi gue kirim tadi sebelum berangkat ke sini,” jelas Natalie. “Okelah. Thanks ya,”  kata Dinar tersenyum Dia kembali melakukan aktifitasnya dan kali ini laptop yang menjadi alat untuknya  bekerja. Dia sibuk memandang laptop dengan mata yang sesekali menerawang ke atas. Natalie teringat bahwa dia belum memberikan sarapan untuk Dinar. Mungkin karena belum makan jadi sahabatnya itu suka melamun tidak jelas. Natalie pergi ke pantry untuk mengambil piring dan juga makanan yang sudah ia beli untuk Dinar. “Din, makan  dulu  nih. Lu belum sarapan kan?”  ucap Natalie. “Oh iya belum.  Makan apa nih pagi ini? Lu udah makan?”  tanya  Dinar sambil menghampiri Natalie di sofa. “Makanan kesukaan lu. Nasi uduk,” jawab Natalie. “Waw ... mantaplah ini!”  seru Dinar. “Thanks ya  Nat,” ucap Dinar. Sementara di kediaman Renjana, pengacara muda nan tampan itu kini sudah selesai mandi. Sedangkan sang istri sudah menunggunya di dalam kamar untuk memberikan pakaian dan memasangkan dasi  untuk Renjana seperti biasanya. Kini pengacara tampan itu sudah rapi dengan setelan jas berwarna abu muda dengan dasi yang berwarna lebih gelap dari jasnya. Linda mengantar sang suami tercinta hingga depan pagar rumah mereka.  Suasana seperti inilah yang sangat disukai Linda setiap hari. “Aku berangkat ya,” pamit Renjana sebelum dia masuk ke dalam mobil. “Iya. Hati-hati ya Mas.” ucap Linda sambil mencium tangan Renjana yang kemudian  dibalas dengan kecupan manis di kening Linda. “Iya. Jangan pulang terlambat jika kamu ingin pergi ke luar hari ini,”pesan Renjana. “Iya sayang. Hari ini aku  hanya pergi arisan ke satu tempat saja,” kata Linda. Setelah itu Renjana masuk ke dalam mobilnya kemudian meninggalkan Linda yang masih memandangnya dari pekarangan rumah mereka. Linda tersenyum puas karena hari ini tidak ada perdebatan diantara mereka. Natalie sibuk mengecek agendanya hari ini, dia juga mengecek jadwal bos nya itu. Dinar masih asyik menikmati sarapannya jadi dia  tidak begitu menghiraukan Natalie. Begitu dia sedang asyik melihat-lihat jadwal kegiatan Dinar tiba-tiba gadis itu menemukan rencana bahwa Dinar harus membeli beberapa buah tangan untuk dibagikan ke para tetangganya sambil memberi undangan. Natalie yakin Dinar lupa akan hal itu. “Din, lu udah beli buah tangan yang buat para tetangga lu?”  tanya Natalie. “Belum.” jawab Dinar kemudian meneguk  air putih di hadapannya. “Terus kapan lu mau beli? Jangan sampai lupa loh, kan lu bilang  mau bawa itu semua sebagai  tanda perkenalan lu sama para tetangga,” kata Natalie mengingatkan. “Iya gue  gak bakal  lupa kok. Kapan ya belinya? Lu bisa kan temenin gue beli itu semua?”  tanya Dinar. “Ah lu  mah bukan mau di temenin tapi minta gue buat milihin juga kan?” tebak  Natalie. “Yap! Betul sekali!” ucap Natalie bangga. Mereka tertawa bersama begitu keduanya selesai membahas soal buah tangan. Natalie  mulai mencari  ide kira-kira buah tangan apa yang harus Dinar beli untuk diberikan kepada para tetangganya itu. Berbicara soal  tetangga, Natalie langsung teringat  akan Renjana. Maka dia menggoda Dinar apa boleh jika dirinya saja yang mengantar undangan ke rumah Renjana. “Din, lu kapan mau anter undangan-undangan ini ke rumah tetangga?” tanya  Natalie. “Pulang dari  salonlah. Kenapa emangnya?” tanya Dinar curiga. “Yah malem dong ya?” ucap Natalie agak kecewa. “Iya kenapa emangnya?” Dinar  bertanya lagi. “Hmmm ... sebenernya gue pengen banget bantuin lu nganter undangan ke tetangga-tetangga  tapi gue  gak bisa kalau hari ini,” kata Natalie. Dinar mencium rencana Natalie yang ingin mengantar undangan itu agar  dia bisa bertemu dengan Renjana.  Membayangkan hal itu ada sedikit terbesit rasa cemburu di hati Dinar. Maka dengan cepat dia berkata bahwa dia bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan Natalie. “Daripada  lu ikut gue nganter mending lu kerjain tugas yang lain, kan masih banyak tuh!” ucap Dinar. “Iya tau Din, tapi kan gue ....” Natalie tak melanjutkan kata-katanya. “Tapi kan apa? Tapi kan lu mau ketemu tetangga gue yang lu bilang ganteng setengah  mati itu?” tebak Dinar. Natalie terbahak  karena rencananya telah dicium oleh Dinar. Dia sudah tidak bisa mengelak lagi. Sayangnya malam ini dia memang tidak bisa menemani Dinar berkunjung ke rumah para tetangganya karena Natalie harus mengerjakan pekerjaan lain. “Nat, jadwal gue setelah makan siang apa hari ini?” tanya Dinar. “Hmmm ... sebentar gue cek  dulu ya,” ucap Natalie. “Abis makan siang lu cuma harus crosscheck soal klinik skincare aja buat persiapan launching, abis itu free,” kata Natalie menjelaskan. “Ok. Ngomong-ngomong lu tetep bisa temenin gue belanja kue untuk hantaran ke tetangga nanti  malam kan?” tanya Dinar. “Iya dong pasti. Cuma ya habis itu gue langsung  pulang gak bisa nenemin lu sebar undangan ke tetangga,” kata Natalie. “It’s oke!”  ucap  Dinar. Keduanyapun sibuk dengan urusan masing-masing. Dinar kembali ke mejanya sambil memandang laptopnya sedangkan Natalie sibuk mengutak-atik ponselnya karena dia harus memantau perrkembangan salon di semua cabang  milik Dinar. Dalam otak Dinar masih terselip bayangan Renjana yang masih membuat dirinya penasaran. Apakan nanti malam dia akan melihat sosok Renjana secara langsung? Membayangkan nanti malam dia akan datang berkunjung ke rumah pasangan Renjana dan Linda membuat detak jantungnya kembali berguncang hebat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN