Renjana tengah kembali dari olahraga paginya. Sosok lelaki yang begitu ramah menyapa semua tetangga di sekitar rumahnya. Renjana memanglah termasuk anak muda di perumahan tersebut, namuan dirinya sudah disegani oleh kanan dan kirinya mengangat pekerjaan mulia yang Renjana lakoni. Lelaki itu selalu bersedia menjadi mediator ketika tetangganya mendapati selisih paham, atau menjadi konsultan secara gratis tanpa memungut biaya apapun dari mereka.
Begitu dia masuk ke dalam rumah dia tak melihat sosok Linda. Yang dia lihat hanyalah sosok Mbak Marni yang sedang berlalu lalang di ruang tamu karena dia sedang mengepel lantai. Renjana menautkan kedua alisnya mencari keberadaan sosok sang istri yang tidak dia temukan tatkala kakinya sampai di kediaman mereka berdua.
“Ibu ke mana, Mbak?” tanya Renjana pada Mbak Marni.
Mbak Marni menghentikan aktivitasnya, wanita berumur di tengah kepala tiga puluh tahunan tersebut menoleh ke arah bosnya.
“Sepertinya sedang mandi Pak,” jawab Mbak Marni sopan.
“Oh ya sudah,” jawab Renjana yang kemudian beranjak ke teras untuk mengambil sebuah koran pagi ini.
Sambil menunggu Linda selesai mandi, Renjana menyempatkan diri untuk membaca koran terlebih dahulu setelah itu baru sarapan bersama Linda. Tak lama kemudian Linda keluar dari kamarnya dengan memakai sebuah dress santai berwarna biru dengan panjang selutut. Dia diberitahu oleh Mbak Marni bahwa Renjana sudah kembali dan saat ini ada di luar. Maka tanpa membuang waktu Linda langsung menghampiri suaminya ke teras depan.
“Mas kamu sudah pulang?” tanya Linda.
“Iya baru saja masuk,” jawab Renjana.
“Kita sarapan yuk!” ajak Linda.
“Tunggu sebentar ya, aku mau meyiram tanaman ini dulu takut keburu layu, kamu kan tidak mungkin ada waktu untuk mengurusnya,” sindir Renjana.
“Iyalah Mas, daripada aku mengurus tanaman lebih baik Mas sewa saja tukang kebun,” bantah Linda.
Renjana hanya mengangkat bahu karena dia malas berdebat dengan istrinya di pagi hari. Diapun bergegas mengambil selang untuk menyiram tanaman yang ia rawat. Sementara Linda hanya menunggunya di belakang sambil berdiri memandangi Renjana.
Suara alarm dari ponselnya tak membuat Dinar beranjak bahkan membuka mata dari tidurnya. Dia malah justru semakin terlelap menikmati setiap dering dari alarm tersebut. Dianar terkejut begitu dia mendengar suara panggilan telepon dan ternyata dari Natalie.
“Halo,” sapa Dinar dengan suara yang masih mengantuk.
“Lu masih tidur Din? Jam berapa ini hey?” celetuk Natalie.
“Iya abis ini gue mandi kok. Lu udah berangkat?” tanya Dinar.
“Iya ini udah mau berangkat. Cepetan mandi terus berangkat, nanti sarapan di sini aja gue bawain makanan,” kata Natalie.
Dinar hanya mengiyakan perkataan Natalie kemudian pergi mandi. Selesai mandi dia kembali menelepon Natalie untuk memberi briefing pada seluruh karyawan Salon. Karena sudah pasti Dinar akan telat tiba di sana.
“Nat, nanti tolong kasih briefing ke para karyawan pagi ini ya,” kata Dinar ketika sahabatnya itu menjawab panggilannya.
“Oh iya ok. Lu pasti telat kan?” tanya Natalie.
“Iya telat dikit kok. Ini gue udah kelar mandi tinggal siap-siap terus berangkat,” kata Dinar.
“Ya udah, hati-hati ya. Oh iya jangan lupa titip salam sama tetangga depan,” goda Natalie.
“Apaan sih lu,” decak Dinar kemudian mematikan panggilannya.
Dinar mendengar suara cekikikan Natalie sebelum dia menekan tombol merah pada layar ponselnya. Tersungging sedikit senyum di wajah cantik Dinar namun setelah itu dia menggelengkan kepalanya bahwa tidak mungkin dia melakukan apa yang diminta sahabatnya itu.
Gadis yang mempunyai postur tubuh bak model iklan itu berjalan menuju ruang tamu untuk mengambil tas serta kunci mobilnya. Wanita berkulit kuning langsat itu mengunci pintu dan berjalan menuju mobilnya, ketika dia berbalik dan hendak melangkah tiba-tiba pandangannya tertuju pasa sosok yang memiliki tubuh yang tak kalah tinggi darinya sedang asyik menyiram tanaman.
“Dia ... ya ampun ternyata dari kejauhanpun dia sungguh menarik hati,” batin Dinar.
Gadis itu terus mengamati Renjana dari balik pilar yang berada di rumahnya sehingga baik Renjana maupun Linda tak tahu jika ada seseorang yang sedang mengamati Renjana. Sejenak, Dinar terpaku di tempatnya memandang sosok Renjana di sana. Selain memiliki postur tubuh idaman, ternyata Renjana juga memiliki sifat penyayang tanaman. Biasanya lelaki yang suka merawat sesuatu orangnya sangatlah penyayang.
“Pantas saja Natalie begitu tergila-gila. Dari kejauhan saja dia sudah berhasil memikat hati,” gumam Dinar sambil tersenyum.
Renjana yang sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh gadis cantik, dia malah masih saja asyik menyiram tanaman tanpa menoleh ke arah rumah Dinar. Begitupun Linda, dia yang kini tengah membaca majalah di belakang suaminya itu tak tau jika ada wanita cantik yang sedang mengamati suaminya. Jika Linda sampai mengetahuinya bisa-bisa Dinar menjadi santapannya untuk sarapan.
“Mas, masih lama nyiramnya?” tanya Linda.
“Enggak kok sebentar lagi, kenapa?” tanya Renjana.
“Ya kamu kan belum sarapan, belum mandi, mau sampai jam berapa ke kantonya?” cerocos Linda.
“Iya ini sebentar lagi selesai kok, kamu masuk duluan aja siapkan makanannya di meja biar nanti aku langsung makan,” pinta Renjana.
Linda langsung mentup majalahnya dengan kasar lalu bangkit dari duduknya dan melangkah dengan kesal karena menurutnya perilaku Renjana itu salah. Seharusnya begitu dia bertanya Renjana harus segera melepaskan selang yang menyemprot tanaman tersebut.
“Ya sudah jangan lama-lama!” Linda memperingati suaminya.
“Iya,” jawab Renjana singkat.
Linda pun masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan makanan sesuai permintaan Renjana. Padahal dia sudah menyiapkan semuanya di meja makan hanya saja maksud Renjana dia minta Linda menyiapkannya langsung ke piring Renjana.
“Selalu saja berkomentar,” gerutu Renjana sambil mengamati kepergian Linda.
Laki-laki tampan itu melanjutkan kegiatannya menyiram tanaman. Kali ini dia menyiram tanaman yang letaknya paling depan yaitu dekat dengan pintu gerbang, itu artinya jarak dia dari rumah Dinar semakin dekat.
Dinar yang masih berdiri di belakang pilar semakin di buat berdebar oleh Renjana. Untung saja laki-laki itu tak tahu jika ada seorang wanita di belakang pilar di sebrang rumahnya. Jika Renjana tahu mungkin dia akan bertegur sapa oleh Dinar. Tangan Dinar menyentuh tepat di bagian da-danya, gadis itu tak menyangka melihat sosok lelaki asing seperti Renjana mampu membuat jantungnya bereaksi tidak seperti biasanya.
Ataukah memang itu adalah efek dari faktor begadang Dinar semalam?
“Ya ampun kenapa dia semakin mendekat sih!” guman Dinar.
Dia melongokkan kepalanya ke samping pilar supaya bisa melihat Renjana lebih jelas. Dan dia berharap dapat melihat wajah full Renjana atau bahkan ditegur oleh laki-laki itu.
“Andai saja aku bisa melihat wajahnya secara penuh mungkin aku bisa menyapanya, atau bahkan dia yang akan menyapaku lebih dulu,” lirih Dinar yang sedang melamunkan Renjana.
“Astaga ... aku bisa gila kalau terus menerus dibuat penasaran seperti ini olehnya,” keluh Dinar pada dirinya sendiri.
Sekali lagi dia mengintip di balik pilar namun tetap saja Renjana fokus pada selang di tangannya. Dia sama sekali tidak menoleh ke arah rumah Dinar karena dari tempat Renjana berdiri memang sama sekali tidak terlihat apa-apa. Dinar menggelengkan kepalanya supaya bisa menghilangkan bayangan Renjana dan menghilangkan segala pikirannya yang mungkin menjadi lebih gila. Dia memilih untuk mengenakan kacamatanya dan bergegas masuk ke dalam mobil. Siapa tau begitu dia keluar dengan mobilnya Renjana menyadari akan kehadiran Dinar paling tidak melihat mobil Dinar keluar dari gerbang rumanhnya.
“Selesai ....” ucap Renjana sambil meletakkan selang yang ia gunakan untuk menyiram tanaman tadi.
Sayangnya dengan keluarnya mobil Dinar dan wanita itu keluar dari mobil untuk mengunci gerbangnya dibarengi dengan kembalinya Renjana ke dalam rumah. Oleh sebab itu bayangan Dinar yang berharap bahwa Renjana akan melihatnya saat mengunci gerbang atau bahkan meegurnya langsung hilang seketika. Gadis cantik itu tak berani lagi menatap ke arah rumah Renjana karena dia takut kalau lelaki itu masih berada di tempatnya.
“Kok enggak ada yang negur ya?” batin Dinar.
Begitu dia hendak menstarter mobilnya dia menoleh sedikit ke arah rumah Renjana dan dia tak menemukan pengacara tampan itu di sana. Mata Dinar sempat berkeliaran mencari keberadaan lelaki itu sebelum dia mulai menjalankan mobilnya.
“Sudah siap kan Sayang?” tanya Renjana begitu dia berjalan ke arah dapur.
“Iya sudah. Akupun sudah menunggu sejak tadi. Ayo makan,” ajak Linda tak sabar.
Renjana langsung duduk dan menyantap sarapan yang telah disiapkan oleh Linda. Karena lapar setelah jogging dan menyiram tanaman maka tak sampai tiga puluh menit makanan di piring Renjana sudah habis dimakan. Begitu Renjana meletakkan sendok dan garpu di atas piring Linda bertanya soal makan siang mereka.
“Mas apa nanti kamu bisa makan siang di rumah?” tanya Linda.
“Aku belum tahu, tapi sepertinya aku makan siang di luar. Karena kebetulan hari ini klienku minta bertemu di luar. Ada apa memangnya?” tanya Renjana.
“Tidak ada apa-apa sih Mas, aku hanya ingin makan siang bersama saja, sudah satu minggu kita tidak makan siang bersama,” kata Linda.
“Ya sudah kita ganti saja dengan makan malam ya, nanti aku beritahu apa yang aku inginkan untuk makan malam,” kata Renjana membujun istrinya.
Linda hanya mengangguk dengan wajah yang sedikit di tekuk. Diapun mulai mengatur rencana supaya tidak terlalu bosan kalau hanya di rumah seharian. Selessai berbicara Renjana langsung menuju kamarnya untuk mandi dan berangkat ke kantor.
Dinar melajukan mobilnya dengan santai dan diiringi musik yang santai juga. Sepanjang perjalanan dia masih membayangkan sosok Renjana yang dia lihat mulai tadi malam hingga pagi ini. Dia tak bisa bayangkan jika dia sudah melihat seluruh wajah Renjana, apa reaksinya akan sama seperti Natalie?