16. Mengusir Bayangan

1782 Kata
Dinar berbaring di atas kasurnya berharap dia akan segera  mengantuk dan dapat menghilangkan bayangan Renjana dari otaknya. Dia memejamkan matanya dengan harapan dia bisa terus terpejam hingga pulas. Namun s**l bukannya pulas malah bayangan sosok lelaki tampan itu kian semakin melekat di otaknya. Berkali-kali Dinar memejamkan matanya namun lagi-lagi sosok Renjana keluar dari mobil yang muncul di kepalanya. Tangan gadis itu memukul keningnya. Dinar tidak boleh membayangkan seorang lelaki terlebih dia adalah suami orang. Dinar tahu dari Mas Cahyo, pasangan suami istri yang Mas Cahyo bilang tinggal di seberang rumahnya adalah Renjana dan Lina. “Huft ... apa-apan sih ini! Bisa gila aku kalau bayangan itu terus saja bermain-main  di kepalaku!” umpat Dinar. Ditariknya selimut hingga menutupi kepalanya supaya  dia bisa lebih cepat tertidur. Dinar menggelengkan kepalanya, gadis itu berusaha begitu keras menyingkirkan bayangan Renjana. “Ayo Din, tidur!” lirih Dinar. Sementara di seberang rumah Dinar, Linda terbangun  dari tidurnya, dia tidak melihat Renjana di sampingnya. Dia mendengar suara  gemericik dari dalam kamar mandi yang berada di kamarnya. Linda menyingkap selimutnya, kaki jenjangnya beranjak menuju depan pintu kamar mandi untuk memastikan bahwa suaminya lah yang berada di dalam kamar mandi itu. Linda mengetuk pelan pintu kamar mandi. Suara gemericik air dari shower terdengar dari dalam seperti orang tengah mandi. “Mas ... kamu di dalam?” teriak Linda pada suaminya itu. “Iya, aku sedang mandi. Kenapa, Sayang?” tanya Renjana sedikit berteriak agar istrinya dapat mendengar suaranya. “Tidak apa-apa lanjutkan saja. Aku mau ambil minum dulu keluar,” kata Linda. “Iya,” jawab Renjana singkat. Linda pun pergi keluar untuk mengambil minum. Sebelum dia meninggalkan kamarnya dia melihat tas dan beberapa kertas terletak di atas mejanya lalu kemudian berlalu keluar untuk mengambil minum seperti yang dia bilang tadi. Sekembalinya Linda dari mengambil minum Renjana sudah keluar dari kamar mandi  dan sedang sibuk dengan kertas-kertas yang tadi dilihat istrinya itu. Sebagai istri, Linda tidak ingin suaminya terus-menerus bergelut dengan berkas-berkas kasus para kliennya. Namun Linda memahami bahwa suaminya adalah salah satu lawyer ternama baik di firma hukum tempat Renjana bergabung maupun di kalangan lingkungan hukum lainnya. Nama Renjana selalu masuk dalam daftar salah satu pengacara paling rekomended untuk kasus-kasus berat. Semakin Renjana naik dalam karirnya, semakin pula waktunya untuk sang istri akan tersita, kebersamaan mereka berdua akan berkurang bersamaan bertambahnya jumlah kasus yang Renjana tangani demi membantu sesamanya yang memang membutuhkan keahlian dirinya dalam menangani suatu perkara di pengadilan, baik ranah pidana maupun perdata sekalipun. “Loh Mas kok kamu nggak tidur?” tanya Linda begitu dia berada di dalam kamar. “Iya aku harus menuntaskan pekerjaanku untuk besok,” jawab Renjana. Linda menghela napasnya panjang. Di atas segalanya, Linda teramat sangat mengkhawatirkan kesehatan suaminya. Linda khawatir Renjana melupakan kesehatannya sendiri. “Memangnya tadi kamu keluar belum selesai?” tanya Linda menelisik. “Belum. Tadi itu  kan mengurus data-data dan berkas-berkas klien, nah sekarang ini aku sedang memperlajarinya sebelum hari sidang semakin dekat,” jelas Renjana. Tak ada jawaban dari Linda dia hanya mengangguk seolah mengerti dengan apa yang dikatakan suaminya. Dia  berdiri sebentar di samping Renjana sambil bergelayut manja. Linda bertanya pada Renjana apa dia bisa makan siang di rumah esok hari. Linda sangat merindukan waktu bersama dengan suaminya. Bagaimanapun keduanya haruslah meluangkan waktu bersama untuk bisa memahami satu sama lain. Terkadang pertengkaran antara suami dan istri dapat terjadi karena kurangnya waktu berkualitas yang dapat diberikan para pasangannya. “Mas, apa kamu bisa makan siang di rumah besok?” tanya Linda. “Ada apa memangnya?” Renjana balik bertanya. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin membuat makanan kesukaanmu saja,” jawab Linda tersenyum manis. Renjana menatap Linda dengan tatapan tidak tahu harus menjawab apa atas permintaan istrinya. Dia juga ingin merasakan masakan Linda setiap saat. Hanya saja kadang kala timming memang tidak berpihak kepada mereka berdua. Seorang istri yang selalu menunggu kepulangan suaminya setiap hari, menyiapkan makan malam meski banyak kesempatan Renjana tidak bisa menyentuh atau menyantapnya saat pulang ke rumah karena badannya sudah terlampau lelah diforsir seharian penuh. “Aku usahakan ya. Sekarang lebih baik kamu tidur, hari sudah semakin larut,” perintah Renjana. Linda pun menuruti perintah suaminya itu karena dia juga sebenarnya masih mengantuk. Jika memang Renjana tidak bisa menyempatkan makan siang dan makan malam bersama, setidaknya mereka berdua bisa sarapan bersama. Esok pagi Linda akan bangun lebih pagi, agar Renjana bisa makan pagi di rumah tanpa terburu-buru lagi. Tampaknya rasa kantuk yang Linda rasakan tidak dirasakan pula oleh tetangga seberang rumahnya. Dinar, gadis itu semakin gelisah karena dia benar-benar tidak bisa menghilangkan bayangan Renjana dari otaknya. Inikah yang dialami Natalie kemarin. Apa sosok laki-laki itu  benar-benar tampan, Dinar  semakin penasaran namun dia tidak bisa berbuat apa-apa selain terus membayangkan sosok itu saat keluar dari mobil tadi. Gadis itu akhirnya menyerah.  Dia bangkit dari tempat tidurnya dan pergi ke arah jendela. Disibaknya gorden yang menutupi jendela. Karena kebetulan kamar Dinar berada di lantai dua, maka begitu dia menyibak gorden di kamarnya dia langsung terarah pada sebuah bangunan yang sudah jelas itu adalah rumah Renjana. Di tempat lain, tiba-tiba Natalie terbangun  dan dia melihat ada pesan dari Dinar. Tak  biasanya sahabatnya itu mengiriminya pesan tengah malam begini. Karena penasaran dan takut terjadi apa-apa pada sahabatnya diapun segera menelepon Dinar. “Halo Nat, ada apa?”  tanya Dinar begitu dia menjawab telepon Natalie. “Loh kok malah lu yang tanya. Kan tadi lu yang kirim chat ke gue?” kata Natalie. “Oh ... itu,” jawab Dinar singkat. “Din,  lu gak lagi kenapa-kenapa kan?” tanya Natalie. Ditanya seperti itu oleh sahabatnya membuat Dinar ingin berteriak  dan mengatakan  bahwa dia tidak bisa tidur karena terus terbayang oleh sosok Renjana yang  belum dia lihat secara penuh dari depan. Tapi  jika Dinar menceritakannya pada Natalie, tentu gadis itu akan meledeknya habis-habisan.  Oleh sebab itu dia memlihi untuk menyimpan perasaannya sendiri. “Oh iya gak kenapa-kenapa kok Nat, gue cuma lagi gak  bisa tidur aja. Tadi gue kirim chat ke lu cuma mau tanya soal drakor aja,” kata Dinar berbohong. “Ya ampun Dinar ... jadi lu bela-belain begadang cuma buat drakor?” tanya  Natalie tak percaya. “Iya,” jawab Dinar kemudian tertawa. “Ya udah sekarang lu tidur lagi aja. Gue juga mau lanjut  tidur karena gue mau mimpiin tetangga lu yang ganteng itu. Bye ....” ucap  Natalie. Dada Dinar langsung sesak begitu Natalie mengucapkan kalimat tersebut. Dia tidak tau saja bahwa Dinar saat ini sedang tersiksa akibat bayangan Renjana selalu muncul di otaknya. Renjana mulai membalik-balikkan kertas yang ia pengan tadi. Dia memang benar-benar suami yang pekerja keras. Tak  peduli malam sudah menjelang pagi tapi  dia masih sibuk mengurusi pekerjaannya. Dinar kembali berdiri di depan jendela. Dia mulai menelisik ruangan yang ada di rumah Renjana, semua terlihat gelap di lantai satu. Namun begitu dia menatap bagian lantai dua yang dia  yakini bahwa itu adalah sebuah kamar, dia menemukan bayangan siluet Renjana yang duduk membelakangi jendela. “Sedang apa  laki-laki itu jam segini?” tanya Dinar dalam hati. Dinar sempat mendengar bahwa Renjana adalah seorang pengacara di jakarta. Jadi mungkin saja dia sedang lembur mengurusi  kasus yang sedang ia tangani. Lagi-lagi satu poin yang membuat Dinar semakin kagum akan sosok Renjana. “Astaga ... berpikir apa sih aku? Mana mungkin aku mengidolakan suami orang? Apa sumpahan Natalie sudah mulai masuk dalam kehidupanku?” tanya  Dinar dala  hati. “Tidak! Ini tidak  bisa dibiarkan! Aku harus tidur secepatnya, harus!” kata Dinar. Diapun menutup kembali gorden yang tadi  ia sibak dan kembali ke tempat tidurnya. Dia harus segera tidur sebelum khayalannya semaki jauh dan tidak jelas. Dia memutar lagu  pengantar tidur sebagai alat bantu agar lebih cepat tertidur. Di kamar Renjana, dia sudah merapikan kertas-kertas yang tadi sedang dia pelajari. Sekarang kertas-kertas itu sudah dimasukkannya  ke dalam tasnya. Diapun sudah siap  tidur karena esok dia harus bekerja kembali seperti biasanya. “Sayang, besok  bangunkan aku jam lima pagi ya. Aku mau jogging sebentar,” bisiknya pada Linda.  Wanita itu hanya mengangguk sambil membenarkan posisi  tidurnya. Saat ini dia tidur di dalam dekapan Renjana. Karena menurut Linda, tempat ternyaman untuk tidur adalah d**a bidang suaminya  itu. Takut Linda tak bisa terbangun di waktu yang diminta oleh Renjana, maka dia juga  menyetel alarm di ponselnya dan kemudian di letakkannya di atas kepalanya. Diapun siap tertidur sambil memeluk istrinya. Suara alarm yang berasal dari ponsel Renjana membuat Linda terbangun, diapun membangungkan suaminya sesuai pesan yang  dia ucapkan sebelum tidur tadi malam. “Mas ... bangun, katanya mau joging. Alarmnya juga sudah bunyi,” kata  Linda membangunkan suaminya. “Hah?”  Renjana bergumam sambil membuka mata. Diliriknya jam di ponselnya kemudian mengucapkan selamat pagi pada Linda tak lupa juga dia mengecup kening istrinya itu. “Selamat pagi, Sayang,” ucap Renjana sambil mengecup kening istrinya. “Pagi Mas ... sana siap-siap biar aku siapkan handuk dan botol minum untuk kamu  joging,” kata  Linda. “Kamu enggak mau ikut?” tanya Renjana. “Enggak Mas, kebetulan sore ini aku ada jadwal gym, jadi aku olahraga di sana saja ya,” kata Linda. “Ok baiklah, kalau begitu siapkan sarapan untuk aku ya,”  pinta Renjana. “Iya. Kamu mau sarapan apa?” tanya Linda. “Nasi goreng sapi lengkap dengan telur mata sapinya oke,” ucap Renjana. Linda mengangguk sambil mengajak suaminya itu keluar dari kamar mereka. Renjana meraih handuk dan minum dari tangan Linda kemudian melesat keluar rumah untuk jogging. Hidup Renjana memang sangat teratur, dia selalu melakukan olahraga pagi sebelum dia pergi ke kantor. Tak hanya jogging keluar rumah dia  juga bisanya berolahraga di rumah bersama Linda. Selepas kepergian Renjana untuk jogging Linda sibuk berkutat dengan segala bahan-bahan nasi goreng untuk suaminya. Dia memang memilih tidak memakai asisten rumah tangga untuk memasak, karena dia ingin Renjana masak hasil kreatifitas tangannya sendiri. “Hmmm  ... wangi banget Bu masakannya,” kata seorang asisten rumah tangga harian yang baru saja tiba.  “Eh, Mbak Marni. Iya Mbak, si Bapak  minta dimasakin nasi goreng sapi katanya,” jawab Linda. “Wah pasti bapak makannya lahap nih,” kata sang asisten tersebut. “Ah Mbak Marni bisa aja. Oh ya nanti Mbak Marni juga makan ya kalau udah selesai,” kata Linda. Selesai dia memasak nasi goreng untuk suaminya dia bergegas untuk mandi  terlebih dahulu sambil menunggu Renjana kembali  dari joggingnya. “Semua sudah beres, sekarang lebih baik aku mandi dulu sambil menunggu mas Renjana,” kata  Linda. Suasana di rumah Dinar masih terasa sepi. Belum terlihat aktifitas apa-apa  di sana. Jelas saja dia belum bangun karena Dinar tidur di waktu yang hampir pagi. Alarm di kamarnya sudah satu kali berbunyi tapi Dinar masih saja asik berpelukan dengan gulingnya. Gadis itu tersenyum di dalam mimpinya, entah apa yang tengah Dinar mimpikan sampai bisa tersenyum secerah itu seperti tanpa beban.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN