15. Dua Sisi Berbeda

1448 Kata
Dinar menghempaskan bantal yang tadi ia gunakan sebagai penutup matanya karena usaha itupun tidak membuahkan hasil, maka meraih ponselnya. Waktu masih menunjukkan pukul satu lewat lima belas menint. Itu artinya Dinar telah mencoba memejamkan mata selama lima belas menit tapi hasilnya nihil. Dia coba membuka-buka sosial media untuk menemaninya agar tak terasa terlalu suntuk. Namun sampai tiga puluh menit dia berselancar di sosial media tetap tidak membuatnya merasa ngantuk. Hujan di luar sana masih saja gemericik hingga membuat perutnya malah terasa lapar. Dinar memutuskan untuk membuat mie rebus, maka dia pergi ke bawah untuk memasaknya. Sambil menyantap mie rebus dia menyalakan televisi yang sudah tersambung wifi dan memilih untuk menonton drama Korea yang terjadwal end pada malam ini. Meskipun memiliki banyak pekerjaan di real lifenya, Dinar tetap menggandrungi drama Korea seperti gadis-gadis yang menggandrungi bias asal Negeri Gisengseng tersebut. “Ah, untung saja aku tidak lupa kalau drama ini akan selesai malam ini,” gumam Dinar dalam hati. Berbeda dengan Dinar yang sudah menemukan posisi ternyamannya. Renjana yang tadi sudah berjanji akan segera pulang tiba-tiba dia merasa malas untuk pulang. Toh Linda juga pasti sudah tidur. Karena kejenuhannya  maka Renjana berniat menghubungi salah satu rekan kerjanya yang bernama Tri. Dia dikenal sebagai laki-laki yang hobinya bergadang. Oleh sebab itu Renjana mencoba menghubungi Tri siapa tahu dia bisa menemaninya hanya untuk sekedar minum kopi di pinggir jalan. “Halo Tri, udah tidur lu?” tanya Renjana begitu rekannya itu menjawab panggilannya. “Hahaha ...  mana mungkin gue tidur jam segini. By the way tumben lu malem-malem telepon gue, lagi gak di rumah ya?” tebak Tri yang  sudah tau tentang kehidupan rumah tangga Renjana dan Linda. “Iya nih Bro. Sini dong kita ngopi,” ajak Renjana. “Ya udah lu share location aja, nanti gue susul kesana,” balas Tri dari  seberang telepon. Tak lama kemudian Tri sudah sampai di tempat di mana Renjana sedang nongkrong. Untung saja ada tempat ngopi yang dibuka selama dua puluh empat jam di sini. Paling tidak bisa membantu Renjana sedikit melepas penat.  “Halo Bro apa kabar lu?” tanya Tri. “Hai ... Ya kayak yang lu liat aja Bro,” jawab Renjana santai. “Tumben lu jam segini  masih di luar? Gak di teleponin Nyonya?” ejek Tri. “Ah bisa aja lu. Iya tadi gue abis ketemu klien. Mau pulang tapi masih malas, ditambah ujan begini kan jadi tambah betah ngopi,” balas Renjana asal. Tri hanya meggelengkan kepalanya sambil tersenyum karena dia sudah hafal betul dengan sikap Renjana ini. Mereka berdua asik mengobrol dan tertawa seolah tak ada beban. Bagi Tri hal seperti ini sudah biasa karena dia memang masih single. Namun kebiasaan seperti inilah yang selalu menjadi bumerang bagi rumah tangga Renjana. Tak peduli dengan alasan Renjana karena yang ada di pikiran Linda hanyalah perselingkuhan Renjana. Drama korea yang ditonton oleh Dinar adalah sebuah drama yang menceritakan tentang perselingkuhan. Diakhir episode ini si suami  yang berselingkuh dengan seorang gadis yang akhirnya menikah dan meninggalkan istrinya  yang tengah mengandung. Menonton drama ini membuat pikiran Dinar terlalu jauh berkhayal. “Apa jadinya kalau seandainya aku menjadi seorang selingkuhan? Hiii ... amit-amit deh!” decak  Dinar yang geli sendiri. Dinar terus menikmati drama tersebut sambil menyantap mie instant yang dia buat tadi. Setelah makan bukannya mengantuk dia malah menjadi lebih segar karena ditambah drama korea tersebut semakin seru hingga membuatnya enggan untuk menyudahinya. Setelah kurang lebih satu jam Renjana dan Tri mengobrol hujanpun sudah mulai reda maka Renjana memutuskan untuk kembali ke rumah sebelum Linda meneleponnya lagi. Bisa habis dia diejek Tri jika ketahuan ditelepon oleh Linda. “Bro, hujannya sudah berhenti nih, gue pulang duluan ya. Besok pagi harus urus kasus klien,” ucap Renjana pada rekannya itu. “Ah gak asik lu. Masa lu yang ajak gue lu yang balik duluan,” balas Tri. “Iya sorry ya Bro. Next time kita bisa ngobrol lagi,” kata Renjana. Akhirnya Tri dapat memahami kondisi Renjana. Karena dia juga salah satu pengacara maka dia mengerti dan mempersilahkan Renjana untuk kembali kerumah karena dia juga akan pulang. “Oke deh, gue juga mau balik. Semoga kasus lu sukses ya Bro,” pesan Tri sambil berjabat tangan. “Siap Bro, sampai ketemu di lain waktu,” ucap Renjana. Laki-laki itupun berjalan menuju mobilnya dan mengemudikannya ke perumahan tempat dia tinggal. Dia mengemudi sedikit cepat karena takut kalau Linda terbangun lagi. Dia tak ingin ribut waktu dini hari. Begitu Renjana tiba di pintu masuk perumahannya dia kembali ditanya oleh security yang sedang berjaga malam. “Malam Pak Renjana, baru pulang Pak?” sapa sang Security. “Malam. Iya Pak, saya baru saja pulang. Mari ....” sahut Renjana sambil membuka jendela mobilnya. Petugas keamanan itupun mempersilahkan mobil Renjana untuk melaju. Ketika drama korea yang ditonton Dinar sudah hampir selesai, terdengar suara deru mobil di depan rumah Dinar. Karena suasana yang sepi ditambah Dinar sedang berada di bawah tentu suara itu terdengar sangat jelas di telinga gadis cantik itu. Dengan rasa penasaran Dinar berjalan menuju pintu rumahnya dan mengintip dari balik jendela. “Itu pasti suami orang yang dimaksud oleh Natalie. Seperti apa sih rupanya?” lirih Dinar dalam hati. Dinar tiba di depan pintu rumahnya kemudian menyibak gorden dan mengintipnya dari balik jendela. Entah apa yang terjadi pada gadis itu. Dadanya begitu bergemuruh begitu dia melihat sosok Renjana yang keluar dari mobilnya. Sayangnya Dinar tidak bisa melihat wajah tampan Renjana karena dia hanya terlihat dari samping. Walau begitu, tanpa Dinar sadari kakinya begitu kaku melihat apa yang baru saja dia lihat. “Ah s**l! Kenapa yang terlihat hanya sisi sampingnya saja sih!” umpat Dinar. Begitu renjana menghilang dan masuk ke dalam rumahnya, Dinar kembali menutup gorden dan berjalan menuju sofa yang ada di depan televisi. “Seperti apa sih wajah laki-laki itu, sampai-sampai hanya melihat dirinya dari sisi samping saja sudah membuatku gelisah,” gerutu Dinar. “Arrghh ... s**l mengapa aku jadi penasaran padanya!” umpat Dinar sambil meremas kepalanya. Tak ingin terus memikirkan dan penasaran dengan wajah Renjana maka Dinar memutuskan untuk mematikan televisi dan kembali ke kamarnya untuk tidur. Sampai di kamar dia menyesali perbuatannya yang telah mengintip Renjana. “Huft! Kalau saja tadi aku tidak mengintip tentu aku tidak akan sepenasaran ini,” gerutunya. “Ayolah Dinar sadar ... hilangkan pikiranmu tentang dia,” kata Dinar mencoba mengontrol dirinya. Dia menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan mencoba untuk tidur. Dipeluknya guling yang berada di sampingnya dan mulai memejamkan matanya. Semoga saja saat dia bangun esok hari dia sudah tidak mengingat sosok suami orang yang tinggal di depan rumahnya. Lampu di ruang tamu sudah gelap itu tandanya Linda benar-benar sudah tidur. Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Renjana mengambil segelas air putih terlebih dahulu dan meminumnya. Setelah itu dia pergi ke kamar untuk memastikan apakah istrinya itu benar-benar sudah tidur. Insting seorang istri memang peka terhadap suaminya. Dengan mata yang  setengah terpejam dan suara yang parau, Linda bertanya pada suaminya itu apa dia baru saja tiba. “Kamu baru sampai Mas?” tanya Linda dengan mata yang setengah terpejam. “Iya. Aku mau bersih-bersih dulu ya tadi kehujanan. Kamu lanjutkan tidur saja,” kata Renjana sambil sedikit mengelus rambut Linda. Linda hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Karena sepertinya dia memang sangat lelah, entah apa yang ia kerjakan hari ini. Karena yang Renjana tau, kegiatan Linda hanyalah shopping, arisan, dan jalan-jalan. Kalaupun masak itu hanya untuk sarapan dan makan malam saja. Renjana tak pernah mempermasalahkan itu semua karena baginya, kebahagiaan istrinya adalah segalanya. Namun tetap saja Linda selalu menuduhnya berselingkuh. Oleh sebab itu terkadang Renjana menjadi sangat kesal. Setelah menaruh berkas-berkas yang tadi ia bawa di atas meja yang terletak di dekat jendela kamarnya, Renjana pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya seperti yang dia sampaikan pada Linda tadi. “Ya Tuhan ... ada apa dengan mata dan otakku. Mengapa mereka seolah tak mau kuajak beristirahat,” keluh Dinar pada dirinya sendiri. Dia meraih ponselnya dan menekan-nekan semua aplikasi yang ada. Namun tanpa tujuan yang jelas akhirnya membuat gadis itu merasa bosan. Dia mencoba untuk mengirim pesan pada Natalie, siapa tau dia juga habis menonton ending dari Drama Korea yang tadi ditonton oleh Dinar. “Nat, udah tidur ya?” ketik Dinar pada pesan yang akan dia kirim pada Natalie. Lama Dinar menunggu tapi belum ada jawaban dari Natalie. Mungkin gadis itu benar-benar sudah tertidur. Karena seharian dia menemani Dinar di rumah ini. Jadi sia-sia saja mengharap Natalie membalas pesannya. Dinar menatap langit-langit plafon di rumahnya. Tatapan matanya terlihat kosong dengan pikirannya berkelana, tiba-tiba saja ponsel Dinar berdenting, satu pemberitahuan dari notifikasi Google muncul sebuah berita tentang pelantikan para advokad muda. Dinar membayangkan, mungkin para lelaki yang berprofesi sebagai advokad adalah kalangan para buaya, pandai bersilat lidah dan memiliki banyak alasan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN