14. Rasa Penasaran

1605 Kata
Malam semakin dingin, sebelum taksi yang dipesan Natalie beranjak dia masih sempat bernegosiasi dengan Dinar soal apakah gadis itu mau ditemani  atau tidak  oleh Natalie. Bagaimanapun Natalie tidak sampai hati meninggalkan Dinar seorang diri di rumah barunya. Meskipun sahabatnya itu jelas tidak mempercayai namanya takhayul apalagi tentang hantu persetanan yang acap kali dibicarakan setiap kali orang hendak pindahan rumah. Dinar sendiri meyakini, bahwa setiap rumah tentunya memiliki penunggu. Hanya saja, selama Dinar tidak menganggu ranah mereka, jelas mereka juga tidak akan mengganggu Dinar apalagi sampai menyelakakan gadis itu. Sejak pertama kali tiba di sana, suasana rumah serta lingkungannya teramat sangat bersahabat menurut Dinar. “Din, lu beneran enggak mau gue temenin, Din?” tanya Natalie lagi. “Enggak Nat, gue takut nanti lu malah gak bisa  tidur  gara-gara terbayang-bayang sama tetangga gue itu,” jawab Dinar. “Ah kok enggak asik lu. Gue sumpahin lu juga akan jatuh cinta sama itu orang kalau lu udah liat dia!” kata Natalie kesal karena usahanya membujuk sang sahabat tidak membuahkan hasil. Dinar seolah sudah menebak jika Natalie akan membujuknya begitu keras agar dirinya mengizinkan Natalie menginap di sana. Bukannya Dinar menaruh prasangka buruk terhadap Natalie, gadis itu berpikir sebelum terjadi sesuatu hal tidak diinginkan maka lebih baik Dinar berupaya menghindari hal buruk itu sampai terjadi. Belum lagi Dinar tahu kepandaian Natalie dalam menarik perhatian lawan jenisnya dengan cara yang sangat tidak terduga sebelumnya. “Oh tidak mungkin. Mana mau gue sama suami orang,” bantah Dinar sambil tertawa. Melihat Dinar  yang sedang tertawa sangat puas itu membuat Natalie semakin jengkel dan meminta supir taksi itu untuk jalan. Natalie menaikkan jendela mobil tersebut, sebelumnya sahabat Dinar itu melontarkan sumpah serapahnya spesial untuk Dinar. “Ya udah lah gue balik. Inget ya sumpahan gue!” ancam Natalie. “Hahahah ... bye Natalie Sayang, hati-hati ya. Besok jangan sampai telat kerjanya ya!” pesan Dinar. “Iya bawel! Lu juga hati-hati ya Din, bye!” balas Natalie. Ya begitulah tingkah mereka berdua. Jika berbeda pendapat mereka akan saling menyumpahi satu sama lain. Tapi itu tentunya tidak serius, mereka begitu hanya di luar saja, di dalam hati mereka ya tetap baik-baik saja. Setelah taksi online Natalie berlalu dari hadapannya Dinar segera masuk ke mobilnya dan kembali pulang. Malam ini adalah malam pertama dia  tinggal sendirian di rumah barunya. Tapi dia tetap biasa saja toh Dinar memang gadis pemberani dimanapun dia berada. Saat mobil Dinar memasuki pintu masuk perumahan dia melihat sebuah mobil berwarna silver melintas dari arah berlawanan. Sepertinya mobil itu akan  keluar perumahan. Mobil yang melaju cukup cepat itu membuat Dinar berpikir apa pengemudinya sedang terburu-buru hingga dia melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. “Gila! Gak tahu apa udah malem! Di dalam komplek aja masih bisa-bisanya ngebut gitu!” umpat Dinar. Dinar pun terus melajukan mobilnya  ke rumahnya. Dia sempat melihat ke  arah rumah Renjana tapi rumah itu terlihat sepi bahkan tidak ada mobil terparkir di halamannya. “Mungkin penghuninya sedang pergi,” batin Dinar. Gara-gara ulah Natalie dia jadi turut mengamati rumah itu. Jangan-jangan Dinar mulai penasaran dengan sosok yang dimaksud oleh Natalie. Gadis itu segera menggelengkan kepalanya, mengusir penggambaran tentang lelaki dalam cerita Natalie. Dinar harusnya tahu bahwa sahabatnya yang satu itu suka berlebihan jika menyangkut tentang seorang lelaki tampan. “Duh ngapain sih lu Din malah ngeliatin rumah orang,”  batinnya lagi. “Selamat malam Pak Renjana, mau  ke mana Pak malam-malanm begini?” sapa seorang petugas keamanan di pintu keluar. “Malam Pak, saya mau keluar sebentar ada urusan pekerjaan yang harus saya selesaikan malam ini,” jawab Renjana ramah. “Oh baik Pak kalau begitu. Tapi hati-hati Pak, jangan terlalu negbut. Ini sudah malam takut berbahaya,” kata petugas tersebut yang tadi  melihat Renjana membawa mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. “Oh iya Pak terima kasih. Tadi saya memang agak ngebut karena memang harus buru-buru. Kalau begitu saya permisi dulu ya Pak,” ucap Renjana sambil menekan pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Rupanya mobil yang tadi Dinar lihat adalah mobil  Renjana, orang yang sedang diincar oleh sahabatnya itu. Sayangnya baik Renjana maupun Dinar keduanya belum pernah saling bertemu hingga mereka tidak tahu satu sama lain. Renjana pergi keluar karena memang ada urusan dengan kliennya yang  harus pergi ke luar kota besok pagi. Namun karena kasus yang ditangai Renjana harus segera diurus maka dengan sangat terpaksa dia menerima ajakan kliennya untuk bertemu malam ini juga. Sebetulnya Linda sudah melarang suaminya itu pergi dengan alasan dia curiga bahwa Renjana akan pergi bersama kekasihnya. Namun karena sudah terlalu sering dituduh maka dia sama sekali tidak menghiraukan ucapan istrinya yang menurutnya itu ngawur. “Din, lu udah sampai rumah? Gue baru sampai rumah nih,” kata  Natalie di telepon begitu dia menelepon Dinar. “Udah Nat, gue baru aja masuk,” jawab Dinar. “Hah baru masuk? Lu ke mana aja? Jangan-jangan abis jadi stalking tetangga elu yang ganteng itu ya?” tuduh Natalie di seberang sana. “Enak aja! Gue kan ada keperluan sebentar tadi,” jawab Dinar menutupi kegugupannya. Natalie tertawa di seberang sana. “Eh gimana udah ketemu belum  sama laki  orang yang rumahnya di depan rumah lu itu?” tanya Natalie penasaran. “Apaan sih lu? Jadi nelepon gue sebenernya cuma mau  tau tentang suami orang itu?” cecar Dinar. Natalie kesal karena Dinar selalu mengetahui niat konyolnya itu. Apa dia tidak bisa berpura-pura tidak tau. Dinar memang manusia yang susah dikelabui. Tapi bukan Natalie namanya kalau tingkat kekepoannya belum maksimal. “Din, gue serius loh nanya, lu udah ketemu belum sama cowok itu?” desak  Natalie. “Aduh apaan sih Nat. Rumah depan itu sepi kosong gak berpenghuni kayanya,” ucap Dinar asal. “Gak berpenghuni gimana sih Din, orang jelas-jelas gue liat tadi ada cowok ganteng banget ....” kata Natalie “Gak tau ah yang pasti gue sekarang  mau bersih-bersih terus mau tidur!” kata Dinar. Natalie akhirnya menyudahi percakapan mereka di telepon sedangkan Dinar lebih memilih untuk mandi  terlebih dahulu. Selesai dia mandi dia berniat untuk  pergi ke kamarnya untuk tidur. Namun begitu  dia baru saja merebahkan tubuhnya di  kasur, tiba-tiba hujan turun dengan deras membuat gadis itu tidak bisa tidur. Dilirik jam di meja samping tempat tidurnya ternyata  baru pukul dua belas malam. “Ah s**l! Kenapa jadi gak bisa tidur gini sih!” umpat Dinar kesal. Dia duduk di atas kasur sambil berpikir apa yang harus dia lakukan agar dia cepat tidur. Kalau saja tadi dia menerima tawaran Natalie yang ingin menginap di sini tentu dia tidak akan merasa kesepian seperti ini. Kalau dia menelepon sahabatnya itu dan mengatakan bahwa dia merasa sepi disaat hujan deras seperti ini pasti gadis itu akan menertawakannya. Suara derai hujan semakin kencang di luar sana. Hawa dingin di kamar Dinar semakin menjadi. Gadis itu menarik selimutnya dan mencoba memejamkan mata lagi berharap dia bisa tidur malam ini. Namun usahanya sia-sia. Semakin dia mencoba tidur semakin sunyi  yang ia rasakan. Dia begitu bukan karena dia takut dengan hantu namun dia merasa sepi saja karena dirumah sendirian seperti ini. Sementara di kediaman Renjana terlihat Linda yang mondar mandir di ruang tamu sambil  menunggu suaminya pulang. Berkali-kali dia menghubungi  Renjana tapi tak  ada satupun jawaban  dari suaminya itu. Bagaimana Linda tidak merasa kesal jika Renjana selalu saja bersikap seperti itu padanya. “Duh Mas kamu ke mana sih? Udah tau udah malam masih aja keluar, memang nya gak bisa apa dikerjakan besok!”  gerutu Linda sambil terus menghubungi Renjana.  Renjana memang sengaja mengsilient ponselnya agar dia bisa fokus mengurusi pekerjaannya supaya dia cepat kembali ke rumah. Dia sudah hafal dengan  kelakuan istrinya yang akan terus menerus menghubunginya jika dirinya keluar malam di luar jam kerja. Padahal Renjana benar-benar keluar untuk bekerja. Tapi Renjana merasa bersalah juga telah membuat istrinya khawatir, maka begitu dia selesai mengurus pekerjaannya dia langsung menghubungi Linda agar  dia tidak perlu menunggunya tiba di rumah. “Lin, aku sudah di jalan pulang. Lebih baik  kamu tidur saja  ya,” ketik Renjana dalam pesannya untuk Linda. Bukannya membalas pesan suaminya tersebut  tapi Linda langsung menelepon Renjana. “Mas, kenapa dari tadi teleponnya gak di angkat sih? Memangnya kamu lagi sama siapa tadi?” tanya Linda. “Ya ampun Sayang, tadi itu aku lagi kerja makanya aku silient handphoneku supaya cepat selesai dan kembali kerumah,” ucap Renjana sabar. “Beneran begitu? Sekarang  kamu di mana?” tanya Linda lagi. “Ini aku sudah di jalan, sekitar lima belas menit  lagi aku sampe. Kamu tidur aja ya gak perlu nunggu aku. Kalau kamu gak percaya  aku bisa video call kamu sekarang,” kata Renjana. Linda akhirnya percaya jika suaminya  sudah di jalan  mau pulang. Karena Linda juga sudah mengantuk dia akhirnya menuruti perkataan Renjana untuk tidur lebih dulu dan tidak perlu menunggu suaminya pulang. “Ya sudah Mas aku tidur duluan ya. Tapi nanti kalau kamu sudah sampai dan butuh apa-apa langsung bangunin aku ya,” pesan Linda. “Iya Sayang,”  jawab Renjana. Linda menutup teleponnya dan kembali ke kamar  tidurnya. Hubungan rumah tangga mereka sebetulnya sangat romantis jika Linda tidak sedang cemburu. Untung saja Renjana lebih bisa mengontrol emosi jika sikap Linda tidak begitu keterlaluan. Dia bisa menghadapi Linda dengan sabar jika istrinya itu tidak sedang menuduhnya macam-macam. Karena keadaan rumah tangga mereka juga memang sebenarnya baik-baik  saja walau belum adanya kehadiran buah  hati di tengah-tengah keluarga mereka. Waktu sudah pukul satu dini hari  namun mata Dinar masih saja terbuka. Hujan yang juga tak kunjung berhenti membuat mata bulatnya semakin tidak bisa terpejam. Dia terus berpikir apa yang harus dia lakukan agar dia bisa segera  beristirahat. Karena sesungguhnya tubuhnya  sangat  lelah namun matanya tak kunjung mengantuk. Dia menutupi wajahnya dengan  bantal dengan harapan itu bisa membantunya untuk tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN