13. Stalking Suami Orang

1592 Kata
Natalie masih saja memantau rumah yang berada di seberang rumah Dinar, yang tak lain adalah rumah Renjana. Gadis itu berharap jika dia berada di teras rumah Dinar mungkin keduanya dapat saling memandang. hingga Renjana akan penasaran dengan adanya orang baru di rumah milik Dinar. Maka dia dengan sengaja duduk di teras sambil matanya terus menatap ke seberang sana. Dinar yang baru saja selesai mandi mencari keberadaan Natalie karena dia tak melihat sahabatnya itu di ruang tamu. Dinar mulai meneriakkan nama Natalie sambil matanya berkeliling ruangan di rumahnya. Pemikiran Dinar mulai tidak tenang, Dinar takut Natalie kemungkinan akan melakukan hal di luar akal sehat mengingat Natalie baru selesai membahas tentang seorang lelaki dengannya. Seingat Dinar, di perumahan itu para lelakinya sudah beristri, jika tidak mereka masih dalam kategori bocah kecil. “Nat ... Nat! Elu di mana sih?” teriak Dinar dari dalam rumahnya. Mendengar suara teriakan Dinar, sontak saja Natalie mengalihkan pandangannya dari kediaman Renjana dan Linda. Gadis itu segera menyahut panggilan dari seorang gadis cantik yang merangkap profesi sebagai bos sekaligus sahabat baiknya. “Apa Nar?” sahut Natalie yang suaranya terdengar dari teras. Dinar langsung menyusul di mana sahabatnya itu berada. Begitu Dinar bertemu Natalie di teras rumahnya dia sudah bisa menebak bahwa sahabatnya itu sedang menyantroni rumah yang berada di seberang rumahnya, yang dia bilang bahwa si penghuni rumah tersebut sangat tampan. Sang pemilik rumah menggelengkan kepalanya sambari berkacak pinggang, tidak percaya jika Natalie akan menjadi seorang stalker hanya untuk seorang lelaki yang dirinya sendiri sama sekali tak mengenal sosok dalam cerita Natalie. “Lu ngapain di sini?” tanya Dinar memicingkan matanya penasaran, padahal Dinar sudah menangkap ada udang di balik batu. “Gak ngapa-ngapain. Lagi nyari udara sejuk aja sambil buka-buka handphone,” sahut Natalie mengelak. “Halah, alasan! Ayo masuk!” ajak Dinar pada Natalie karena dia tahu bahwa Natalie sedang memantu rumah Renjana. Karena malu aksinya sudah lebih dulu diketahui oleh Dinar maka dengan perasaan malu dia menuruti Dinar masuk ke dalam.  Natalie semakin tidak bisa menahan rasa penasaran dan tidak percayanya bahwa laki-laki tampan yang tadi ia lihat sudah mempunyai istri seperti yang dibilang oleh Dinar. “Nar, lu yakin cogan yang tadi gue liat itu udah berkeluarga?” tanya Natalie kembali menanyakan status lelaki itu kepada Dinar. Sahabatnya tampak berpikir, Mas Cahyo yang memberitahunya ketika sang ibu bertanya stok lelaki single di perumahan tersebut. Namun, Dinar juga tidak begitu yakin atas jawabannya. “Iya bener. Buat apa juga gue bohong?” ucap Dinar menuju sofa ruang keluarga sambil menyalakan televisi. “Tapi dia itu enggak keliatan kalau udah nikah loh Nar,” kata Natalie tak percaya. Dinar menghela napasnya panjang. Sosok yang Natalie bicarakan sempat Dinar lihat jika memang kediaman lelaki itu benar berada di seberang rumahnya. Dinar melihat seorang wanita di sana, Dinar yakin bahwa mereka adalah pasangan suami istri. “Pokoknya gue udah kasih tahu lu kalau dia itu udah punya istri jadi lu jangan mikir atau punya rencana macem-macem ya,” kata Dinar. Natalie tak menghiraukan omongan Dinar. Dia malah tersenyum sambil membayangkan wajah Renjana yang seolah tak ingin hilang dari otaknya. Semakin wanita itu memikirkan laki-laki yang tadi ia lihat, semakin dia berpikir bagaimana caranya supaya  dia bisa melihat laki-laki itu setiap saat. Melihat Natalie melamun seperti itu membuat Dinar semakin khawatir kalau sahabatnya itu  akan melakukan hal-hal aneh. Maka dengan cepat  dia  memerintahkan Natalie untuk mandi dan bersiap untuk  makan malam. “Nat, mendingan sekarang lu mandi deh, abis  itu kita ke depan cari makan sekalian gue mau beli mie instant buat stok kalau malem laper,” perintah Dinar. “Iya, ini gue juga mau mandi kok,” ucap Natalie sambil berjalan menuju kamar mandi. “Jangan lama-lama nanti keburu  malem,” teriak Dinar. “Siap Boss!” balas Natalie. Tinggal lah Dinar sendiri  di ruang tamu. Dia mengecek sekali lagi soal presiapan pembagian undangan esok hari. Dia juga sudah mendapatkan list nama-nama para tetangga di sekitarnya lengkap beserta dengan profesinya. Sambil menunggu Natalie  selesai mandi yang selalu saja lama maka Dinar memutuskan untuk memberi nama pada undangan yang akan ia  bagikan untuk para  tetangganya. Ketika Dinar masih menulis nama-nama tersebut Natalie telah selesai  mandi. Dengan  penuh semangat dia keluar  dari kamar mandi dan mengajak Dinar keluar  dengan alasan dia sudah lapar. “Nar, gue udah siap nih. Ayolah berangkat,” ajak Natalie bersemangat. “Lu kenapa sih kok tiba-tiba jadi  gak sabaran begini?” tanya Dinar  sambil memasukkan ponsel dan dompetnya ke dalam tas. “Karena gue udah laper banget tauk! Gue tunggu di depan ya ....” teriak Natalie  sambil keluar rumah. “Huuuu ... alasan aja udah laper! Bilang aja kalo mau ngitip,” cibir Dinar. Mendengar perkataan Dinar begitu Natalie hanya tertawa saja karena Dinar memang selalu tahu apa kelakuan Natalie. “Kok lu tahu Nar kalau gue lagi  ngintip?” tanya Natalie. “Ya taulah, orang modus kaya lu mah kan banyak akalnya.  Hati-hati nanti yang nongol istrinya gimana?” ledek Dinar. “Ya enggak apa-apa,” jawab Natalie santai. Keduanya kini sudah berada di dalam mobil Dinar. Mereka memiih makan nasi  goreng pinggir jalan  sebagai menu  makan malam mereka. “Nar abis ini lu mau ke mana lagi?” tanya Natalie. “Cuma mau ke minimarket aja sih beli cemilan sama mie instan buat stok di dapur,” jawab Dinar. “Oh  ya udah,” jawab Natalie. “Lu abis ini mau sekalian gue anter pulang atau pulang sendiri?”  tanya Dinar. Natalie tak langsung menjawab pertanyaan Dinar. Dia menyayangkan mengapa Dinar tidak menawarkan Natalie untuk menginap di rumah  barunya saja. Kalau Dinar menawarkan maka dia akan senang hati menerimanya. Atau dia saja yang menawarkan diri untuk menemani  Dinar  malam ini?  “Nat! Kok malah bengong sih?” hardik  Dinar. “Eh iya. Nar, gimana kalau gue nginep  aja di rumah lu?” Natalie menawarkan diri. “Nginep?  Mau ngapain emang?” tanya Dinar heran. “Ya buat nemenin lu, emang buat apaan lagi,” gerutu Natalie. Dinar berpikir mengapa sahabatnya ini  begitu  antusias ingin menemaninya di rumah malam ini. Jangan-jangan dia masih penasaran dengan penghuni rumah depan yang dibilang tampan itu. Dinar tau sekarang, Natalie ingin menginap  di  rumahnya karena ada maksud  terselubung. “Ah gue tahu sekarang. Lu mau nginep di rumah gue karena lu pengen nyantronin penghuni seberang kan?”  tebak Dinar. “Ih bukan  Nar bukan itu maksud gue. Ini  beneran kok gue mau nemenin lu di rumah lu, kalau perlu tiap hari juga gak apa-apa,” ucap Natalie. “Hahahaha ... bisa aja dia modusnya,” kata Dinar tertawa. “Modus gimana sih Nar maksudnya? Gue beneran loh  ini, awas nanti  lu nyesel dan nelepon gue minta gue balik lagi,” kata Natalie. Dinar hanya tertawa sambil menatap ke arah Natalie. Wanita itu merasa misinya digagalkan oleh Dinar sudah tak tau lagi  harus berbuat apa. Untuk saat ini dia rela tidak bisa melihat laki-laki  tampan itu. Tapi dia yakin suatu saat mereka pasti bertemu  dan mengobrol. Melihat expressi wajah Natalie yang terlihat sedikit kecewa Dinar  mencoba menjelaskan pada sahabatnya itu. Bukannya dia menolak atau tak suka Natalie menginap  di  sini. Tapi kalau modusnya untuk mencari tau tentang tetangganya tentu saja Dinar  menolak. “Nat  bukannya gue gak mau di temenin sama lu tapi gue cuma takut aja,” kata Dinar. “Takut? Takut  apa maksud lu?” tanya Natalie. “Ya  takut kalau lu serius suka sama laki orang,” kata Dinar asal. “Hah ya gak mungkin lah.  Gue kan Cuma kagum aja sama ketampanannya. Cuma kalau  emang dianya yang suka sama gue ya gue bisa apa coba?” tanya Natalie. Dinar mengelengkan kepalanya dan mengjak Natalie untuk masuk  ke dalam mobilnya. Dia harus segera mengantarkan sahabatnya itu pulang kerumah. Sebetulnya Dinar juga tak enak hati dengan penolakannya itu. Namun apa  yang dia lakukan saat ini adalah yang terbaik untuk semuanya. “Nat, maaf ya bukannya  gue enggak suka lu nginep tapi gue enggak enak aja kalau sampai lu bener-benar suka sama tetangga gue itu,”  kata Dinar. “Iya Nar santai aja kenapa sih? Sekarang kita  ke rumah lu dulu ya. Gue kan  belum bawa apa aja yang akan gue kerjain besok,” pungkas  Natalie. “Iya bener. Tapi semua udah beres kan Nat? Pastiin gak ada yang kelupaan ya,” ucap Dinar mengingatkan. “Iya udah beres semua kok. Kita kan tadi udah tulis semua nama-nama yang udah dilist sama lu,” sahut Natalie. Maka Dinar melajukan mobilnya  ke Perumahan dimana dia tinggal. Sesampainya di depan rumah, Natalie masih saja melirik ke arah rumah Renjana. Rumah itu  masih  saja sepi seperti tadi siang. Kelihatannya memang laki-laki itu sedang tidak ada di rumah. Karena mobil yang tadi terparkir di dalam kini sudah tak terlihat. “Hey masih aja diliatin,” goda Dinar. Natalie  hanya meringis dan mengikuti Dinar masuk. Sedangkan di tempat lain Renjana sedang bertemu dengan kliennya demi membahas pekerjaannya. Pantas saja kalau rumahnya terlihat sepi dan mobilnya tak ada. Mungkin hanya Linda yang ada di dalam. Tentu saja dia tidak pernah keluar rumah, apalagi hari sudah malam seperti ini. “Nar, gue bawa beberapa undangan kosong ya  takut kalau ada yang keselip belum dimasukin,” ucap Natalie. “Iya pokoknya lu atur aja,” jawab Dinar sambil merapikan  belanjaan yang tadi ia beli di lemari penyimpanan makanan yang ada di dapur. “Nat, lu beneran gak mau gue anter?” tanya Dinar memastikan. Mengingat hari sudah semakin malam. “Iya beneran Nar. Gue sendiri  aja  naik taksi atau taksi online kan gampang,” kata Natalie. Taksi online yang dipesan oleh Natalie sudah tiba. Diapun beramitan pada Dinar dan segera kembali kerumah untuk istirahat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN