12. Undangan Opening

1613 Kata
Kini Natalie sudah berada di depan pagar rumah Dinar. Dia menunggu si tukang bakso membuat pesananannya. Sambil membuat pesanan Natalie situkang bakso bertanya pada Natalie apa dia penghuni baru rumah ini. “Baru pindah ya Neng?” tanya si penjual bakso. “Iya Bang, baru aja kemarin.” Natalie menjawab ramah. “Tinggal sendirian  di sini?” tanya si abang bakso lagi. “Oh ini sih sebenernya temen saya yang tinggal disini, saya cuma main aja,” jawab Natalie menjelaskan. Mendengar penjelasan Natalie si tukang baksi itu tak lagi bertanya, dia hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya. Begitu Natalie sedang menunggu pesanannya matanya tertuju pada rumah yang berada tepat di depan rumah Dinar. Dari luar rumah itu terlihat begitu sepi, apa penghuninya sedang keluar atau tidur entahlah. Natalie hanya mengamati rumah itu sejenak kemudian kembali menunggu pesanannya. Satu mangkuk bakso telah selesai. Natalie mengatakan bahwa dia akan membawa mangkok tersebut masuk terlebih dahulu setelah itu dia akan kembali lagi. “Bang saya bawa masuk ini dulu ya, nanti saya balik lagi sekalian bayar,” kata Natalie. “Oh iya Neng silahkan,” ucap si penjual bakso. “Berapa ya bang semua?” tanya Natalie sebelum dia masuk ke dalam. “Tiga puluh ribu aja Neng,” kata si Abang bakso. Natalie pun membawa satu mangkok bakso tersebut masuk dan mengambil uang di dalam. Dinar yang melihat Natalie hanya membawa satu mangkok bakso bertanya pada wanita itu. Bukannya saat keluar Natalie membawa dua mangkuk di tangannya? “Lu cuma beli satu mangkok aja Nat?” tanya Dinar mengutarakan rasa penasarannya. “Dua kok. Tapi gue bawanya satu-satu,” jawab Natalie sambil meringis. “Huuu dasar! Nih uangnya,” kata Dinar sambil menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan. Natalie kembali keluar untuk mengambil satu mangkok lagi dan membayarnya. Sang penjual bakso yang telah selesai pun sedang menunggu Natalie keluar. “Ini uangnya Bang,” kata Natalie memberikan uang itu pada si penjual. “Terima kasih ya Neng,” jawab si abang bakso. “Sama-sama Bang,” jawab Natalie sambil memegang semangkok bakso yang kini tengan dipegangnya. Begitu dia ingin memutar badannya untuk masuk ke dalam, tiba-tiba matanya beralih pada rumah yang tadi dia lihat. Mata Natalie langsung terbelalak begitu dia melihat sosok Renjana keluar dari rumahnya dan duduk di teras rumah dengan membawa secangkir minuman yang mungkin adalah teh. Natalie terkesima dengan pesona Renjana yang sangat tampan menurutnya. Dia ingin segera mengadukannya pada Dinar agar bosnya itu tahu bahwa dia memiliki tetangga yang sangat tampat sepertu Renjana. Dia segera masuk ke dalam rumah, beruntungnya mangkok yang dia bawa itu tidak tumpah atau bahkan terjatuh.   Dinar menoleh ke arah sahabatnya itu dengan pandangan heran. Natalie melangkah terburu-buru seolah tengah dikejar oleh an-jing lair yang ingin melahapnya sebagai makanan. “Nar ... Dinar ....” teriak Natalie dari ambang pintu. “Kenapa?” tanya Dinar bingung. Dinar yang sedang serius menulis memandang sahabatnya penuh tanda tanya mengapa Natalie berteriak-teriak seperti itu, apa ada sesuatu yang terjadi padanya? Dia pun segera meletakkan bolpoinnya dan hendak menyusul Natalie ke depan.  Belum sempat Dinat bangkit dari duduknya dia sudah mendapati Natalie di hadapannya. Dinar langsung bertanya mengapa Natali berteriak-teriak seperti itu. Apa dia tidak malu jika didengar oleh tetangga. “Kenapa sih Nat teriak begitu? Lu kira gue tuli ya?” tanya Dinar. “Nar lu harus tahu kalau lu punya tetangga ganteng banget!” seru Natalie. “Tetangga ganteng? Siapa?” pungkas Dinar heran. “Ya tetangga lu lah Nar. Tadi pas gue mau masuk gue lihat dia keluar dari rumahnya, awalnya gue kira itu rumah gak ada penghuninya soalnya sepi banget,” ucap Natalie menggebu. Dinar tak begitu mempedulikan omongan Natalie. Tapi dia tahu selera Natalie itu tinggi jadi jika dia bilang ada lelaki tampan itu pasti benar-benar tampan. Ada sedikit rasa penasaran di hati Dinar tapi dia mau langsung menanyakan pada Natalie. Namun sepertinya di tengah pekerjaan mereka yang kali ini menumpuk sangat lucu jika keduanya malah membincangkan tentang seorang lelaki. Terlebih Dinar tidak tahu siapa gerangan sosok lelaki yang tengah dibicarakan dengan menggebu-gebu oleh sahabatnya itu. “Udah deh gak usah heboh, sekarang mendingan makan baksonya dulu abis itu kita lanjut nulis lagi. Masih banyak nih!” ucap Dinar memperingati Natalie. “Yah Nar lu mah enggak percaya banget sih sama gue. Dia beneran ganteng loh, gue aja masih kebayang-bayang mukanya nih,” kata Natalie masih terus memuji Renjana. “Nat!” Dinar memberi kode agar Natalie segara makan baksonya. “Iya ... iya gue makan!” Natalie pun menurut walau dalam hatinya masih menggerutu soal ketampanan Renjana. Dinar dan Natalie menikmanti bakso mereka masing-masing. Dinar makan sambil sesekali mengecek undangan mana saja yang sudah selesai. Sedangkan Natalie makan sambil matanya menerawang ke mana-mana. Sebagai sahabatnya Dinar hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan tawa melihat kelakuan Natalie. “Din, lu bodoh apa pura-pura enggak tahu kalau punya tetangga ganteng kek artis Amerika begitu?” celoteh Natalie membuka suaranya. “Nat, gue udah selesai nih makannya,” kata Dinar malah menjawab ucapannya dengan kalimat tidak nyambung menurut Natalie. Harusnya Natalie mengerti, di dalam kepala cantik bosnya tidak pernah terbesit sedikitpun di otak gadis tersebut tentang cinta, apalagi perihal seorang lelaki. Natalie sendiri heran, padahal Dinar sangat cantik, sukses, wanita karis, berduit, pun juga namanya banyak dielu-elukan para lelaki di luaran sana, nyatanya Dinar masih sibuk dengan dunia nyamannya sendiri tanpa seorang kekasih di sisinya. “Eh iya sini biar gue bawa ke dapur,” ucap Natalie. Sekembalinya Natalie dari dapur dan hendak melanjutkan pekerjaannya, Dinar mencoba mencari tahu siapa sosok yang dimaksud oleh Natalie. Dinar menoleh ke arah Natalie, kemudian memfokuskan kembali pandangannya. “Nat, cowok yang lu liat tadi dari arah mana?” tanya Dinar sambil menulis. “Itu loh Nar dari rumah sebrang rumah lu ini, persis banget depan lu,” kata Natalie bersemangat. Dinar mengernyitkan dahinya mengingat siapa yang tinggal di depan rumahnya itu. Setaunya di cluster ini rata-rata sudah berkeluarga semua. Jadi dia memperingati Natalie untuk tidak mengagumi suami orang. Tatapan Dinar mengamati Natalie serius, ada pandangan memperingatkan di dalam pandangannya. “Lu liat lelaki itu sendiri atau sama istrinya?” tanya Dinar. “Sendiri lah Nar. Emang dia udah nikah? Sok tahu lu ah!” cibir Natalie. “Yee ... bukannya sok tahu, tapi seinget gue semua penghuni di cluster ini itu udah berkeluarga semua,” kata Dinar. “Ya terus kenapa kalau udah nikah? Kan gue cuma bilang dia ganteng doang, gue belum bilang kalo gue suka ya,” kata Natalie membela dirinya sendiri. Dinar terkejut mendengar kata-kata Natalie yang mengatakan bahwa ia belum jatuh cinta pada lelaki itu. Lagi-lagi Dinar mengingatkan Natalie. Dinar tidak ingin sahabatnya menjalin hubungan di lingkaran penuh resiko, apalagi sampai mencintai suami orang. Jangan sampai! “Hush! Sembarangan, inget ya itu suami orang. Jangan sampe lu mengagumi dia apalagi sampe cinta,” kata Dinar memperingati. “Ya ampun Nar, kenal aja belum gimana gue mau cinta sih?” elak Natalie mengacak rambutnya gemas. “Gue takut aja kalau lu nekat deketin dia. Awas ya jangan macem-macem,” ancam Dinar. Natalie tak menghiraukan ucapan Dinar dia hanya tertawa dan lagi-lagi memikirkan Renjana. Mereka kembali melanjutkan menulis nama-nama itu. Selesai menulis nama-nama tersebut Dinar dan Natalie menyortir sesuai dengan kelompok untuk siapa undangan tersebut. “Selesai!” seru Natalie. “Huft ... Akhirnya selesai juga ya.” Dinar meluruskan kakinya. Natalie membereskan pulpen dan benda lainnya yang masih berserakan di meja. Sambil duduk meluruskan kakinya Dinar mengingatkan Natalie untuk mengirimkan undangan kepada para penerima besok. “Nat, jangan lupa besok lu bagiin undangan yang itu ya,” tunjuk Dinar pada tumpukan undangan yang ada di depannya. “Oke, cuma ini aja yang gue bawa?” tanya Natalie memastikan. “Iya. Itu semua undangan untuk para teman, sahabat, sama kolega-kolega kita.” Kata Natalie. “Terus yang buat tetangga-tetangga sini gimana?” tanya Natalie. Dinar tak langsug menjawab pertanyaan Natalie. Dia pergi ke dapur terlebih dahulu untuk mengambil minum. Tak lama kemudian dia kembali menghampiri Natalie dan mengatakan bahwa undangan untuk para tetangganya tidak perlu dibawa karena rencananya Dinar akan membagikannya sepulangnya dia dari Salon besok. “Yang itu gak usah dibawa biar besok kita bagiin pulang dari salon aja,” kata Dinar. “Oh kirain gue lu mau bagiinnya sekarang yang buat tetangga-tetangga,” kata Natalie dengan maksud terselubung. “Besok aja deh. Sekarang udah sore, lagian gue kan belum beli buah tangan buat dibagiin,” kata Dinar. “Kok pake bagiin buah tangan segala lu?” tanya Natalie penasaran. Dinar memang belum memberitahu rencananya soal membagikan buah tangan untuk para tetangganya sekalian berkenalan dan mengundang mereka ke acara  launching Klinik miliknya. “Iya kan sekalian buat perkenalan sebagai penghuni baru di sini,” kata Dinar. “Oh begitu ....” ucap Natalie mengerti. “Gue mau  telepon keamanan dulu ya,” kata Dinar. “Oke! Gue taro sisanya di ruang keja lu ya Nar,” kata Natalie. Dinar menelepon keamanan untuk meminta nomor telepon Pak RT sebelum dia  mendatangi rumahnya untuk melapor sebagai penghuni baru di sini. Setelah mendapatkan nomornya Dinar langsung menghubunginya dan membuat janji dengannya untu bertemu. Dia memutuskan untuk berkunjung  ke rumah Pak RT  juga besok setelah pulang dari Salon dan sebelum membagika undangan tersebut. Nanti Dinar juga ingin bertanya siapa saja nama tetangga-tetangganya yang satu cluster dengannya, agar lebih enak ketika mereka saling menyapa. “Udah Nar teleponnya?” tanya Natalie. “Iya udah. Nat gue tinggal mandi dulu ya, gerah banagt!” kata Dinar. “Oke, gue nanti aja ah mandinya,” ucap Natalie. Setelah Dinar pergi Natalie diam-diam mengintip ke luar rumah Dinar. Dia mengintip rumah Renjana berharap bahwa laki-laki itu muncul lagi di depan teras. Namun harapan Natalie sepertinya sia-sia. Sudah  beberapa  menit dia di depan tapi Renjana tak  menampakkan dirinya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN