Setelah kepulangan orang tua Dinar dari rumah barunya, tinggallah Natalie yang sudah tiba sejak tadi. Dia beranjak ke ruangan kerja bosnya untuk mengambil undangan dan beberapa peralatan lain yang akan mereka gunakan untuk menulis nama-nama penerima undangan pembukaan klinik skincare milik Dinar. Setelah Natalie mengambil itu semua, dia beralih ke kamar sahabatnya untuk membangunkan wanita itu.
Perumahan dua lantai dengan dua kamar tidur, terlihat sangat cocok ditempati wanita single seperti Dinar atau bahkan para pasangan suami istri yang baru menikah dan mempunyai satu momongan. Desain modern, ditambah mudahnya akses ke beberapa tempat umum membuat komplek perumahan tersebut begitu cepat laku di pasaran tanpa membutuhkan waktu lama dalam upaya pemasarannya.
Natalie menggelengkan kepalanya heran. Sinar matahari sudah menembus gorden kamar gadis cantik itu, tetapi belum ada tanda-tanda Dinar berniat membuka netranya. Terlebih hari ini mereka memiliki banyak agenda yang harus mereka kerjakan semaksimal mungkin. Suara dering alarm di ponsel berlogo apel tidak penuh milik Dinar juga tidak mampu membangunkan wanita itu dari tidur lelapnya.
“Nar, ayo bangun! Nanti keburu siang, kerjaan kita banyak loh!” ucap Natalie pada Dinar.
Natalie sedikit mengguncang tubuh Dinar, dia harus berusaha lebih keras untuk membangunkan sahabat sekaligus bosnya itu.
“Lo udah datang? Jam berapa ini sekarang?” tanya Dinar sambari menyerngitkan kedua keningnya.
Netra Dinar menyipit, silau matahari yang menembus gorden kamarnya tidak terelakkan lagi. Matanya masih menyesuaikan cahaya matahari tersebut agar tidak mengganggu kenyamanan matanya dalam melihat sekitar.
“Jam sembilan. Cepet mandi, gue tunggu di bawah ya,” kata Natalie tanpa panjang lebar.
Dinar hanya mengangguk enggan berdebat banyak hal, gadis itu rupanya masih merasa sangat ngantuk dan lelah usai melakukan pindahan rumah serta membereskan barang-barang kepindahannya ke tempat seharusnya. Beberapa menit kemudian dia beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian dia menyusul Natalie yang sudah berada di bawah menunggunya.
Dinar menghampiri Natalie yang sedang duduk sambil menonton televisi. Namun langkahnya terhenti saat dia melewati meja makan. Dia melihat sudah ada beberapa makanan di sana, dia yakin ini adalah masakan mamanya. Perut Dinar terasa lapar begitu dia melihat makanan di atas meja, diapun memanggil Natalie untuk sarapan bersama terlebih dahulu sebelum mereka memulai aktifitas mereka.
“Nat, lu udah makan?” tanya Dinar.
Natalie yang sedang asyik menonton terkejut dengan sapaan Dinar barusan. “Belum.” Natalie menoleh ke ar ah Dinar yang sedang berdiri di samping meja makan.
“Kita makan dulu yuk!” ajak Dinar.
Natalie menghampiri Dinar di meja makan. “Ayuk! Gue juga nunggu lu bangun biar bisa makan bareng,” kata Natalie.
Mereka berdua kemudian duduk di meja makan sambil menikmati masakan yang telah dimasak oleh Nisaka. Gadis cantik berwajah lokal tersebut menatap jam dinding yang ada di rumahnya. Dia kemudian tersenyum geli, pantas saja tidak terlihat kedua orang tuanya satu meja makan dengan dirinya. Mereka pasti sudah berangkat ke tempat kerja mereka masing-masing sebelum Dinar terbangun.
Ibunya memang sosok ibu penuh kasih dan sangat perhatian terhadap putrinya. Buktinya, Nisaka menyempatkan diri memasak makanan untuk sarapan Dinar dan menyiapkan beberapa lauk yang dapat dihangatkan kembali jika Dinar merasa kelaparan dan malas membeli makan di luar. Nisaka sangat menghafal seberapa tingkat kemalasan putrinya jika menyangkut tentang mengisi perutnya.
“Tadi gue ketemu Om Adam sama Tante Nisaka sewaktu gue baru sampe di sini,” ucap Natalie.
“Oh iya? Mama sama papa gue ngomong sesuatu enggak? Atau mungkin mereka nitip pesan ke elu?” tanya Dinar.
Natalie mendengkus. “Alah bilang aja elu udah kangen sama nyokap, bokap elu kan?” tegur Natalie menelisik.
Mendadak wajah Dinar muram, ternyata di balik kebahagiaannya mampu membeli kediaman atas kerjakerasnya sendiri, ada perasaan tidak rela tinggal berjauhan dari kedua orang tuanya. Dinar adalah anak tunggal Adam dan Nisaka, tentu saja gadis itu memiliki kecemasan tersendiri atas keadaan kedua orang tuanya selama Dinar tinggal berpisah dari mereka berdua.
Terlebih kedua orang tuanya hanya ditemani oleh satu asisten rumah tangga. Sambil makan Dinar bertanya apa Natalie sudah mengambil semua keperluan untuk hari ini.
“Nat lu udah siapin semuanya untuk pekerjaan kita hari ini?” tanya Dinar.
“Udah, gue taruh semua di sana.” Natalie menunjuk ke arah ruang tamu yang tadi dia duduki.
“Oke. Habis makan kita langsung mulai ya,” kata Dinar.
Natalie tak menjawab karena dia sedang sibuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Dia hanya mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda bahwa dia setuju. Tak mengulur-ulur waktu, selesai Dinar dan Natalie sarapan mereka langsung menuju ruang tamu untuk menggarap kerjaan mereka hari ini.
Dinar mengangkat kertas-kertas yang ada di hadapannya seperti orang yang sedang mencari sesuatu. Natalie heran dengan sikap sahabat sekaligus bosnya itu.
“Lu cari apa sih Nar?” tanya Natalie dengan mata yang mengikuti arah tangan Dinar bergerak.
“Cari list nama-nama orang yang mau gue undang ke Klinik Nat, di mana ya?” tanya Dinar.
“Nah itu juga yang daritadi gue cari. Coba lu inget-inget ada di mana itu kertas,” pinta Natalie.
Dinar berhenti mengacak-ngacak tumpukan di hadapannya kemudian berpikir untuk mengingat di mana dia meletakkan kertas itu terakhir kali. Seketika dia teringat bahwa kertas tersebut sudah dia siapkan dia atas meja di samping tempat tidurnya. Dinar terkekeh sendiri mengingat sifat pelupanya yang tidak pernah berubah sedikitpun sampai sekarang ini.
“Oh iya gue inget, ada di meja di kamar gue. Gue ambil dulu ya Nat,” kata Dinar sambil berjalan menuju kamarnya di lantai dua.
Natalie hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Dinar yang selalu saja seperti itu. Dia pun mulai merapikan kertas-kertas yang tadi diacak-acak oleh Dinar. Tak lama kemudian Dinar kembali dengan sebuah map di tangannya. Dia menyodorkan benda itu pada Natalie.
“Nih Nat, listnya ada di dalam situ semua. Lu kerjain dulu ya, gue mau telepon nyokap gue dulu,” kata Dinar.
“Oke siap Boss!” jawab Natalie.
Dinar langsung menghubungi mamanya untuk meminta maaf karena tak bisa mengantar kepulangan mereka sekaligus berterima kasih karena sudah sempat memasak untuk dirinya. Tanpa sadar, manik mata Dinar sontak berkaca-kaca mendengarkan suara lembut wanita yang telah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya dengan penuh cinta.
“Ma, maaf ya tadi Dinar gak bisa anter Mama sama Papa,” ucap Dinar begitu mamanya menjawab teleponnya.
“Iya Sayang gak apa-apa. Mama sama Papa juga maunya pulang sore atau malam, tapi tidak bisa,” jawab Nisaka.
“Kenapa memangnya Ma?” tanya Dinar penasaran.
“Itu papamu ada acara sama teman kantornya, makanya kami pulang,” jelas Nisaka pada Dinar.
Dinarpun akhirnya tau alasan kedua orang tuanya pulang. Sebelum Dinar berbicara lebih lanjut, Nisaka sudah lebih dulu berbicara dan menanyakan apakah putrinya sudah makan.
“Oh iya Nar Kamu sudah makan?” tanya Nisaka.
“Sudah Ma. Tadi Dinar makan bareng sama Natalie. Terimakasih ya Ma udah masakin sarapan buat Dinar,” kata Dinar bersungguh-sungguh.
“Iya Sayang sama-sama. Ya sudah sana lanjutkan kegiatanmu,” kata Nisaka yang tau bahwa hari ini Dinar dan Natalie akan sibuk.
Tidak ada perbuatan orang tua yang pantas mendapatkan ucapan terimakasih. Mereka melakukan segala hal untuk anak-anak mereka dengan tulus. Tidak ada kata mutiara di dunia ini yang mampu mewakili rasa terimakasih atas kebaikan dan ketulusan para orang tua terhadap anak-anak mereka.
Gadis itupun kembali pada Natalie setelah sambungan teleponnya terputus. Kini dia dan Natalie bersiap untuk menulis nama-nama penerima undangan untuk pembukaan klinik skincarenya.
“Nar, ini semua nama-nama penerima undangannya udah lu cek lagi?” tanya Natalie.
“Iya udah. Gue juga udah hitung jumlah tetangga yang ada di cluster ini,” jawab Dinar.
“Oh lu mau undang mereka juga?” tanya Natalie.
“Iya dong. Kan sebagian besar udah pada berkeluarga nih, siapa tau mereka butuh skincare, kan gue bisa sekalian promosi biar bisa dapat customer,” jawab Dinar.
Natalie merasa kagum pada bosnya itu. Target pasarnya sangat bagus. Untuk mencari customer dia memilih tetangga dekat terlebih dahulu.
“Bisa aja ya lu Nar cari target pasarnya,” puji Natalie.
“Loh itu harus Nat. Kalau kita punya bisnin kita harus kenalin dulu sama orang-orang di sekitar kita,” jelas Dinar.
“Ya ya ya ... lu emang jago dan hebat deh. The best!” puji Natalie lagi.
“Eh tapi gue belum tau nama-nama tetangga di sini. Gimana nulis namanya ya?” tanya Dinar bingung.
Natalie ikut berpikir sejenak sebelum akhirnya dia menyarankan agar undangannya hanya di tulis untuk Bapak/Ibu saja.
“Ya gak harus pake nama juga sih Nar, lu tulis aja untuk Bapak/Ibu di tempat,” saran Natalie.
“Iya ya,” jawab Dinar setuju.
Tak terasa pekerjaan mereka sudah memakan wktu hingga siang hari. Saat sedang asyik menulis tiba-tiba Natalie mendengar suara tukang bakso keliling dan itu membuat dirinya ingin membelinya.
“Nar, itu kayanya suara tukang bakso deh,” kata Natalie.
“Bakso? Lu mau beli bakso?” tanya Dinar.
“Iya,” jawab Natalie dengan wajah memelas seperti anak kecil.
Dinar yang melihat expresi sahabatnya itu tak tega jika harus melarangnya membeli bakso keliling. Padahal Dinar sudah menyiapkan banyak cemilan dan makanan untuk menemani pekerjaan mereka hari ini tapi Natalie masih saja ingin jajan.
“Ya udah sana gih beli,” kata Dinar.
Merasa tak enak hati karena pekerjaannya belum selesai maka Natalie bertanya lagi pada Dinar apa dia mengijinkan jika Natalie harus membeli bakso dulu.
“Tapi Nar ini kan belum kelar?” tanya Natalie.
“Ya emangnya kenapa? Kan lu cuma beli bakso di depan rumah aja kan?” Dinar berbalik bertanya.
“Iya sih ....” jawab Natalie.
“Ya udah kan gak sampe setaun juga lu ninggalin ni kerjaan,” ucap Dinar sambil terkekeh.
Melihat expresi Dinar membuat Natalie kesal. Padahal dia hanya takut Dinar keberatan kalau dirinya meninggalkan perkerjaan hanya untuk kepentingannya sendiri. Agar lebih enak, Natalie menawarkan pada Dinar apa dirinya mau ikut membeli.
“Hmmm ... Nar lu mau ikut beli juga gak?” tanya Natalie.
“Gue mau, tapi lu aja yang keluar. Kalau kita berdua keluar siapa yang kerjain ini dan kapan selesainya?” tanya Dinar.
“Iya juga sih. Tapi gue gak enak sama lu Nar,” ucap Natalie.
“Ya ampun Natalie ... lu berapa tahun sih kenal sama gue?” hardik Dinar kesal.
Natalie tak menjawab, dia hanya meringis menanggapi ucapan Dinar. Tapi dia belum juga beranjak dari tempatnya duduk. Gemas Dinar meliha tingkah Natalie yang seperti orang baru di hidupnya.
“Jadi intinya mau beli apa gak nih?” sindir Dinar.
“Iya maulah Nar,” jawab Natalie cepat.
“Kalau mau ya udah sana ambil mangkok terus keluar. Kalau lu tetep di sini yang ada itu tukang baksonya kabur,” cerocos Dinar lagi.
“Eh iya juga ya Nar,” ucap Natalie sambil langsung berdiri dan berjalan menuju dapur.
Di dapur dia mengambil dua mangkok untuk dirinya dan juga Dinar. Setelah itu dia kembali meminta ijin pada Dinar untuk keluar sebentar membeli bakso. Bekerja dan makan adalah salah satu visi misi kedua gadis single tersebut.
“Nar, gue keluar sebentar gak apa-apa nih? Yakin?” tanya Natalie meyakinkan Dinar.
“Iya Nat. Lu kok jadi bawel sih. Udah sana beli biar gue yang lanjutin nulisnya,” kata Dinar mulai sewot.
“Oke ... oke!” jawab Natalie.
Gadis itu memang suka sekali meledek Dinar. Dan Dinarpun suka meladeninya, bercandaan mereka kadang terkesan seperti orang yang sedang berdebat padahal tidak sama sekali. Keduanya jarang sekali berdebat apalagi berkelahi. Itu semua karena mereka berdua bisa saling mengerti dan menghargai sebagai sahabat sekaligus partner kerja.