10. Renjana Dan Linda

1670 Kata
Dua hari setelah proses pembayaran dan persiapan pindah ke rumah baru, kini saatnya Dinar bersiap-siap untuk mengangkut beberapa barang yang masih tersisa. Seperti layaknya orang pindah rumah, Dinar pun sejak pagi sudah sibuk memastikan apa saja yang akan ia bawa ke sana. Orang-orang terdekat Dinar seperti orang tua dan Natalie juga turut membantunya. Selain mereka, Dinar juga menyewa jasa pindah rumah untuk mengangkut serta membereskan barang-barang yang sudah ada di rumah baru. Gadis itu tidak ingin satu barangpun terlupakan dalam kepindahannya ke rumah baru hasil keringatnya sendiri. Dinar memimpikan hunian nyaman, dengan segala macam kelengkapan yang sudah pasti tersedia tanpa terlewatkan satu barang sekalipun. “Semua sudah siap Nar?” tanya Nisaka memastikan. “Sudah sih Ma sepertinya, Mama sama Papa nanti di mobil aku aja ya biar Natalie yang ikut di mobil barang untuk mengarahkan,” pinta Dinar. “Baiklah,” jawab kedua orang tua Dinar. Mereka semua mulai meninggalkan rumah orang tua Dinar dan meluncur ke rumah baru. Kedua orang tua Dinar turut menemani setiap proses pembelian sampai memastikan kebutuhan Dinar di rumah itu. Nisaka sepertinya sangat berat melepaskan anak sematawayangnya hidup seorang diri di rumah yang berjarak cukup menguras waktu hingga sampai ke kediamannya. Meski begitu Nisaka tak ingin menjadi sosok orang tua dengan mementingkan egonya sendiri. Dinar membutuhkan tempat tinggal baru demi kemajuan usaha salon serta klinik yang akan dibuka beberapa waktu ke depan. Mobil yang diarahkan Natalie tiba lebih dulu karena mobil itu membawa barang cukup banyak. Tak lama setelahnya sampailah mobil Dinar dan keluarga. Tak membuang-buang waktu maka Dinar dan timnya langsung bergerak membereskan barang-barang untuk ditata. Dari seberang rumah yang telah Dinar beli ada seorang wanita yang sedang berdiri di ambang pintu sambil menatap ke arah rumah baru Dinar. Tak lama kemudian wanita itu masuk ke dalam rumah dan memberitahu hal tersebut pada seorang lelaki. Dinar hanya mampu menatapnya tanpa berkesempatan menyapa wanita tersebut apalagi sampai berkenalan sebagai tetangga baru di komplek perumahan, tepatnya di Blok C. “Mas, sepertinya rumah di seberang sana sudah ada pemiliknya,” ucap Linda pada Renjana. “Dari mana kamu tahu, Sayang?” tanya Renjana sambil membenarkan jas kerjanya. “Itu barusan aku keluar dan melihat mereka sedan sibuk angkut-angkut barang mereka,” kata  Linda sambil mengolesi selai kacang kesukaan suaminya itu. “Oh ya sudah kalau ada waktu coba kamu mampir ke sana barangkali mereka butuh bantuan,” ucap Renjana dengan tangan yang menerima roti pemberian istrinya. “Lihat nanti aja deh, kalau enggak repot,” ucap Linda cuek. Renjana tak melanjutkan kata-katanya lagi karena dia yakin kalau dilanjutkan akan berujung pada perdebatan yang tak berfaedah. Dia lebih memilih segera menyelesaikan sarapannya dan berlalu pergi untuk bekerja. Istrinya memang tipikal tetangga tidak mau tahu urusan tetangga rumahnya yang lainnya. Wanita itu tertutup, jarang membuka pembicaraan jika tetangganya tidak lebih dahulu mengajaknya berbicara. Linda hanya menebar senyuman menyapa setiap kali berpapasan dengan tetangganya. Sementara di rumah baru  Dinar masih terlihat sangat berantakan dan Dinar sibuk mengatur posisi barang-barang untuk di  setiap ruangan. Dinar membagi tugas pada orang tua juga sahabatnya itu untuk menata semua ruangan. Karena Dinar yakin apa yang mereka tentukan pasti disukai olehnya. Nisaka diminta Dinar untuk mengatur posisi dapur dan ruang makan. Adam bagian mengatur posisi ruang tamu serta teras depan. Kalau Natalie sesuai statusnya yang tak lain orang kepercayaan Dinar diminta untuk mengatur barang-barang di ruangan kerja milik gadis berkulit putih tersebut. Sedangkan sang owner mengatur sendiri kamar tidurnya karena itu adalah tempat ternyaman untuknya maka dia sendiri yang akan mengaturnya. “Sempurna!” gumamnya ketika dia melihat letak barang-barang di kamarnya sesuai dengan keinginannya. “Bagaimana Mbak apa ada yang kurang?” tanya seorang tim pada Dinar. “Oh enggak Mas, ini udah oke banget kok. Terima kasih ya,” ucap Dinar. “Sama-sama Mbak.” Laki-laki itu pergi meninggalkan Dinar. Akhirnya semua selesai juga, karena banyaknya bantuan dan masih sedikit barang yang diisi maka hanya sampai sore hari proses pindahan itupun selesai. Nisaka, mamanya Dinar memintanya untuk membeli bahan makanan agar bisa dimasak untuk makan malam. Karena dapurnya juga sudah beres dan sudah bisa digunakan. Tapi Dinar menolaknya karena dia tak mau membuat mamanya lelah. “Kita pesan makanan aja ya Ma, besok baru masak. Kita semua kan pasti lelah jadi Dinar gak mau kalau Mama masih harus memasak lagi,” ujar Dinar. “Iya Ma, Dinar benar. Lebih baik kita pesan makan saja supaya kita bisa menghemat energi,” timpal Adam, suaminya. “Biar aku aja yang pessenin makannya ya. Tante sama Om mau makan apa? Barangkali ada request?” tanya Natalie yang memang sudah akrab dengan keluarga Dinar. “Enggak ada Nat, kamu pesan aja sesuai kemauan Dinar,” ucap mamanya. Natalie bertanya pada Dinar makanan apa yang harus dia pesan. Dan seperti biasa wanita itu selalu menjawab. “Terserah lu aja Nat, lu kan tau apa yang biasa dimakan sama keluarga gue,” jawab Dinar. “Tahu gitu gue gak usah pake nanya ya? Buang-buang waktu aja,” umpat Natalie. Selesai makan malam bersama Natalie mohon pamit pada orang tua Dinar juga padanya. “Om, Tante, Natalie pulang dulu ya,” pamit Natalie. “Loh kamu nggak nginep Nat?” tanya mamanya Dinar. Mungkin Dinar dan Natalie ingin menghabiskan malam sebagai perayaan penempatan rumah baru Dinar, pikir Nisaka sebelumnya. Ternyata Natalie memilih untuk kembali ke tempat tinggalnya sendiri, memberikan keluarga Dinar menghabiskan waktu bersama dengan sahabatnya itu. “Enggak kok Tante. Tante sama Om nginep di sini kan?” Natalie balik bertanya. Adam dan Nisaka menjawab pertanyaan Natalie, mereka memilih menginap di rumah baru Natalie untuk menemaninya di malam pertama dia menempati rumah barunya. Karena tak ada lagi kegiatan setelah Natalie pulang, maka Dinar meminta orang tuanya untuk beristirahat di kamar. Sedangkan dirinya masih sibuk mempersiapkan rencana selanjtunya yaitu launching Klinik Skincarenya. “Mama sama Papa lebih baik istirahat saja tidak perlu menunggu Dinar,” kata wanita itu. “Baiklah kalau begitu Mama sama Papa masuk ke kamar dulu ya, kasian papamu sudah terlihat lelah sekali,” ucap Nisaka. “Iya Ma, Pa. Silahkan,” kata Dinar. “Kamu jangan tidur terlalu larut ya Nar, simpan energimu jangan terlalu di forsir,”pesan Adam. Dinar yang juga memang merasa lelah dan ngantuk ingin segera beristirahat di kamarnya, namun dia masih mengecek kebutuhan launching Klinik terlebih dahulu baru setelahh itu dia akan tidur. “Iya Pah. Ini Dinar hanya mengecek proses pembuatan undangan untuk peresmian klinik aja kok, setelah itu Dinar juga ingin tidur,” kata Dinar. “Baiklah kalau begitu,” ucap Adam kemudian menyusul Nisaka yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar. Esok paginya  sama seperti  di rumah sendiri  Nisaka sudah bangun pagi-pagi dan keluar rumah untuk mencari tukang sayur karena dia  ingin membeli bahan makanan yang bisa dia  masak untuk sarapan. Karena kebetulan hari ini hari Minggu maka keadaan perumahan tersebut cukup ramai karena banyak para penghuni yang sedang libur. Nisaka berjalan  agak maju ke depan dimana disana terlihat ada sbuah gerobak sayur yang sedang dikerumuni oleh ibu-ibu. Sebagai penghuni  baru  di Blok C ini Nisaka menyapa  para penghuni dengan ramah dan mengenalkan dirinya serta putrinya sebagai penghuni baru di sana. “Oh jadi Ibu ini penghuni baru di rumah seberang rumah Pak Renjana ya?” sapa salah satu tetangga yang bernama Bu Rahmah. “Iya Bu, benar. Sebenarnya nanti yang tinggal di sini anak saya, kebetulan dia belum bangun tapi pasti nanti dia memperkenalkan diri pada semua penghuni yang ada di sini,” kata Nisaka menjelaskan. Para tetangga itu hanya mengangguk dan melanjutkan kegiatan belanja mereka. Seperti biasa, masih ada sistem tawar menawar antar pedagang dan pembelinya. Bagi ibu-ibu, jika boleh ditawar mengapa tidak mereka tawar, lumayan selisihnya bisa untuk membeli jajan anak mereka. Selesai memasak dan menyantap sarapan bersama  suamiya. Nisaka langsung  menemui Dinar  di kamarnya. Karena rasa lelah setelah  pindahan maka Nisaka  tak membangunkan Dinar. Dia membiarkan putrinya itu  untuk istirahat. Tapi saat ini dia harus membangunkan Dinar karena dia ingin berpamitan. Setelah Nisaka berpamitan  pada Dinar dan kembali  ke ruang tamu, rupaynya sudah ada Natalie di sana. Dia memang diminta Dinar untuk datang pagi-pagi untuk membantunya.  “Pagi Tante, Dinar belum bangun ya?” tanya Natalie. “Pagi Nat. Kamu sudah sampai?” tanya Nisaka setelah menjawab salam dari Natalie. “Sudah sarapan Nat? Tante sudah masak, kalau belum sarapan kamu makan dulu sana,” perintah  Nisaka.  “Iya tante terima kasih. Natalie nanti aja makannya bareng sama Dinar biar  dia ada temennya,”  ucap Natalie. Akhirnya Nisaka tidak memaksa Natalie karena benar juga kata gadis itu, kalau tidak ada temannya putrinya itu tidak akan makan. Karena Nisaka dan Adam sudah memesan taksi online maka dia  juga berpamitan pada Natalie dan menitipkan putri mereka padanya. “Hati-hati  ya Tante, Om, maaf Natalie enggak bisa antar sampai depan, karena Natalie juga harus mengurus persiapan launching Klinik,” ucap Natalie. “Iya tidak apa-apa. Om sama Tante berangkat ya,” kata Adam, papanya Dinar. Begitu mereka berdua menunggu taksi online di depan pagar mereka berpapasan dengan pasangan Renjana dan  Linda yang terlihat  baru pulang jogging. Karena sejak kemarin Renjana berniat untuk meyapa tetangga baru tapi belum sempat, ini saatnya  dia untuk menyapanya. Renjana tersenyum begitu ramah menatap kedua orang tua Dinar. “Selamat  pagi Pak, Bu.  Apa Bapak dan Ibu yang akan menempati rumah ini?” sapa Renjana. “Iya selamat pagi Nak. Kebetulan yang akan tinggal di sini adalah anak saya,” jawab Adam. “Oh begitu. Perkenalkan nama saya Renjana dan ini istri saya Linda,”ucap Renjana sambil menjabat tangan Nisaka dan Adam secara bergantian. “Salam kenal kembali Nak Renjana dan Nak Linda. Saya Adam dan ini istri saya Nisaka,” balas papanya Dinar. Taksi online yang dipesan Nisaka rupanya sudah tiba. Nisaka memandang Renjana dan Linda secara bergantian, usia pasangan suami istri tersebut sepertinya tidak jauh berbeda dengan usia putri sematawayangnya. Mungkin Dinar akan memiliki wajah secerah Linda juga saat putrinya menemukan jodohnya. “Maaf Nak Renja kami pamit pulang dulu, mungkin lain waktu bisa berbincang kembali,” pamit Adam. “Oh mari Pak silahkan, hati-hati di jalan,” ucap Renjana mempersilahkan kedua orang tua Dinar dengan hormat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN