Di dalam kantor pemasaran Dinar juga kedua orang tuanya duduk di sofa yang telah disiapkan, sementara Mas Cahyo menemui sang manager untuk meminta surat pengalihan kepemilikan rumah untuk ditandatangani oleh Dinar sebagai pemilik baru hunian di komplek perumahan yang mereka handle, tepatnya di Blok C bangunan yang baru saja rampung pengerjaannya beberapa bulan lalu.
Keberuntungan memang berpihak kepada Dinar, wanita cantik itu tidak harus menunggu penyelesaian pembangunan, namun langsung mendapatkan huniannya dalam waktu singkat setelah semua prosedur dia jalani dan ikuti sebagaimana mestinya. Dinar sudah tidak sabar lagi menghuni rumah barunya yang mana semuanya dia beli dari hasil kerja kerasnya seorang diri. Meski begitu, kedua orang tua Dinar bersikukuh untuk membelikan beberapa isi barang perabotan di dalam rumah baru Dinar karena wanita dewasa yang statusnya masih gadis itu menolak uang tambahan untuk membeli rumah dari orang tuanya.
“Sebentar ya Mbak Dinar, saya akan mengambil surat-surat yang harus Mbak Dinar tanda tangani,” ucap Mas Cahyo.
“Baik Mas, silahkan,” kata Dinar mempersilahkan.
Sepeninggalan Mas Cahyo, Dinar kembali bertanya pada orang tuanya tentang rumah yang dia pilih. Dia ingin memastikan sekali lagi bahwa orang tuanya setuju dengan pilihannya itu. Dinar menatap kedua orang tuanya, tatapan matanya seolah menilai reaksi kedua orang tuanya. Berdasarkan sudut pandang Dinar, sepertinya orang tuanya menyetujui saja hunian yang dia pilih.
Terlebih cara ibunya melontarkan guyonan seperti tengah mengejeknya, menyindir Dinar agar segera menemukan jodohnya di usia yang tak lagi pantas bermain-main. Mungkin ibunda Dinar memiliki firasat, putrinya akan mendapatkan jodohnya tatkala pindah ke komplek perumahan baru yang Dinar beli.
“Pa, menurut Papa bagaimana rumahnya? Bagus gak?” tanya Dinar.
“Ya bagus. Papa suka designnya. Selain itu lingkungannya juga cocok untuk kamu,” ucap papanya.
“Kalau Mama bagaimana?” tanya Dinar lagi.
“Mama sih yakin kamu akan betah tinggal di sana, apalagi jaraknya dekat dengan klinik dan salonmu,” ujar mamanya.
Mendengar jawaban kedua orang tuanya hati Dinar berbunga-bunga. Karena tak sia-sia dia memilih rumah yang pas untuknya. Tak sabar rasanya untuk pindah ke sana. Pekerjaannya tentu akan menjadi ringan dan tidak tersusahkan oleh jarak tempuh lagi seperti beberapa saat lalu ketika Dinar masih tinggal di kediaman orang tuanya.
Ada rasa bersyukur, Dinar akhirnya mampu membeli rumah baru tanpa campur tangan ayah dan ibunya. Salah satu pencapaian hebat sebagai seorang anak tentu saja. Baik ayah dan ibunya memiliki rasa kebanggan yang sama seperti apa yang Dinar rasakan.
“Jadi kapan rencananya kamu akan pindah ke sana Nar?” tanya mamanya.
“Dinar sih maunya secepatnya Ma, apa Mama ada saran?” jawab Dinar balik meminta pendapat mamanya.
“Bagaimana kalau dua hari lagi, itu kan hari Sabtu jadi Mama dan Papa bisa bantuin kamu pindahan,” ujar sang mama.
“Hmm ... boleh juga tuh Ma. Ya sudah nanti kita bicarakan lagi di rumah ya Ma,” kata Dinar.
Tak lama berselang Mas Cahyo datang dengan seorang lelaki yang mungkin adalah manager dari perumahan Werkudara menghampiri Dinar dan kedua orang tuanya. Mereka membawa sebuah map yang berisi surat-surat untuk segera ditandatangi oleh Dinar.
“Mbak Dinar silahkan dibaca dulu surat-suratnya, jika sudah tidak ada masalah boleh langsung ditandatangani.” Manager itu memberikan map dokumen tersebut pada Dinar.
Dinar langsung membuka map itu dan membacanya dengan teliti dokumen-dokumen peralihan hak milik tersebut. Begitu dia selesai membaca dia berikan surat itu pada papanya agar papanya juga tahu apa isi dokumen tersebut. Setelah papanya membaca seluruh isi dari surat pengalihan kepemilikan tersebut dia meminta Dinar untuk segera menandatanganinya.
Adam berharap, segala mimpi dan masa depan Dinar akan semakin mudah dengan dekatnya jarak rumah dan tempat bisnisnya berada.
“Sudah jelas isi suratnya, jadi kamu bisa langsung tanda tangan,” ucap Adam pada putrinya.
“Alhamdulillah, kalau begitu Dinar tanda tangan dulu ya Pa. Bismillah.” Dinar mulai mencoret kertas tersebut dengan tanda tangannya kemudian menyerahkan kembali map tersebut pada manager perumahaan itu.
Ketika sang manager sudah menerima mapnya maka dia mengucapkan terima kasih pada Dinar. “Terima kasih Mbak Dinar,” ucapnya.
“Sama-sama Mas. Kalau begitu saya bisa transfer pembayarannya sekarang kan?” tanya Dinar.
Belum sempat manager dan Mas Cahyo menjawab pertanyaan Dinar, orang tua Dinar meminta ijin untuk pamit lebih dulu karena mereka masih harus bekerja.
“Dinar, sepertinya Mama dan Papa harus langsung berangkat supaya kami tidak terlambat. Kamu tidak apa-apa kan mengurus ini semua sendiri?” tanya Mamanya.
Dinar minta maaf pada kedua orang tuanya karena dia tidak bisa mengantarnya ke tempat mereka bekerja.
“Ma, Pa tapi maaf Dinar enggak bisa antar Papa sama Mama karena Dinar masih harus menyelesaikan urusan pembayaran,” kata Dinar.
“Iya tidak apa-apa. Selesaikanlah urusanmu terlebih dahulu. Kita kan bisa naik taksi online,” kata papanya.
“Baiklah Dinar akan pesankan untuk Mama dan Papa lebih dulu.” Dinar langsung memesan dua buah taksi online untuk mama dan papanya ke arah tujuan yang berbeda.
Setelah kedua orang tuanya berangkat dia kembali ke dalam kantor pemasaran dan melakukan transaksi melalui mobile bankingnya. Karena nominal pembayarannya lumayan besar maka transaksi tidak bisa dilakukan sekali. Itupun tidak langsung lunas. Maka pihak perumahan tersebut mengatakan pada Dinar bahwa kekurangannya bisa dilakukan esok hari.
“Kalau begitu saya buatkan tanda serah terima untuk pembayaran hari ini ya Mbak,” kata sang mananger.
“Iya Mas. Nanti malam atau besok pagi saya transfer sisanya ya,” kata Dinar sambil menatao kwitansi yang sedang ditulis itu.
Tak terasa sudah pukul satu siang dia berada di kantor pemasaran perumahan Werkudara. Setelah proses transkasi selesai hari ini dia segera berpamitan pada Mas Cahyo dan managernya.
“Kalau begitu saya permisi dulu ya,” pamit Dinar pada kedua laki-laki itu.
“Iya mari Mbka Dinar. Hati-hati di jalan, sampai bertemu lagi esok,” jawab manager itu.
Di dalam mobil Dinar menelepon Natalie untuk mengajaknya kembali ke Klinik. Dinar juga meminta Natalie untuk membelikan makanan untuknya karena ia tak sempat jika harus makan di luar.
“Ya udah Nat gue langsung on the way ke klinik ya, lu jangan lupa bawa makanan pesenan gue. Kalau lu belum makan beli juga buat lu ya,” perintah Dinar.
“Ok Nar. Gue beli makanan lu dulu baru habis itu gue ke klinik ya,” jawab Natalie.
Dinarpun melajukan mobilnya menuju Klinik. Hatinya benar-benar puas karena dia telah membayar sebagian pembayaran rumah barunya. Selesai makan siang nanti dia berencana untuk membeli barang-barang keperluan untuk di rumah barunya itu. Pastinya dia akan meminta bantuan Natalie untuk mengurus semuanya.
Begitu dia sampai di Klinik rupanya Natalie sudah tiba lebih dulu. Namun karena kunci Klinik masih dimiliki oleh Dinar saja maka dia harus menunggu sampai sang owner datang.
Begitu Dinar keluar dari mobil dia berkata. “Aduh Nat, sorry gue belum kasih duplikat kunci Klinik sama lu ya? Lu datang udah lama ya?” Tanya Dinar dengan penuh rasa bersalah.
“Apaan sih lu heboh banget. Gue baru nyampe juga kok. Kalau gue udah sampe dari tadi, gue pasti udah telepon lu,” kata Dinar.
Saat mereka sudah berada di dalam. Natalie langsung meminta Dinar untuk makan terlebih dahulu sebelum dia sibuk mengurus ini dan itu.
“Mendingan lu makan dulu deh Nar,” perintah Natalie.
“Iya gue juga laper.” Kata Dinar sambil mengambil makanan yang dibawakan oleh Natalie.
Sambil menemani Dinar makan Natalie bertanya. “Jadi apa rencana lu selajutnya Nar?” tanya Natalie.
“Hmm ... rencananya gue hari ini gue mau pesen barang-barang untuk keperluan di rumah Blok C itu. Kaya tempat tidur, lemari, sofa, tv, dan perlengkapan dapur juga kamar mandi,” kata Dinar.
“Oke. Terus?” Tanya Natalie sambil terus mencatat. Karena jika tidak di catat maka Dinar akan lupa.
“Sementara itu aja sih. Kalau untuk urusan yang lain gue harus bahas lagi sama Mama,” ucap Dinar.
“Emangnya kapan rencana lu pindah ke rumah baru itu?” tanya Natalie.
“Gue sih pengennya lusa. Jadi pindah ke rumah baru dulu baru kita launching klinik dan mengundang beberapa penghuni di sekitar gue,”kata Dinar.
Natalie mengerti maksud dari rencana Dinar. Dia memang gadis yang sangat pandai dalam mengatur sesuatu. Tak heran usahanya begitu maju dan berkembang.
“Nat, gue yang bari barangnya habis itu lu yang kontak penjualnya ya, biar cepet.” Kata Dinar masih sambil terus menatap laptop di hadapannya.
“Ok siap boss!” jawab Natalie.
“Oh iya sama satu lagi tolong minta mereka untuk antar ke tempat tujuan sehabis jam makan siang,” kata Dinar.
Natalie hanya mengangguk mendengar semua perintah dari Dinar. Seperti yang Dinar sudah atur tadii, dia memilih barang apa yang akan dia beli , lalu Natalie yang menghubungi tokonya dan memberikan alamat rumah baru Dinar untuk langsung dikirim ke sana.
Begitu semuanya sudah selesai Dinar langsung menyandarkan tubuhnya di kursinya. “Beres deh!” seru Dinar.
“Iya gue juga bentar lagi selesai nih,” timpal Natalie.
Tak hanya memesan barang untuk rumah barunya saja tapi Dinar dan Natalie juga menyiapkan pembukaan Klinik yang juga sebentar lagi akan dilakukan. Untu itu Dinar memilih untuk datang ke Klinik saar ini agar dia tau apa saja yang dibutuhkan di Klinik.
“Nar ini posisi semua skincare udah pas ya gak perlu diubah-ubah lagi?” tanya Natalie.
“Iya gue rasa sih udah cucok banget deh,” kata Dinar.
“Ya udah Klinik kita urus nanti kalau urusan pindahan lu udah selesai,” kata Natalie.
“Iya, jadi semuanya bisa selesai satu persatu,”
Natalie mengangguk kemudian memberikan sebuah kertas catatan. “Nih lu crosscheck lagi takut ada yang ketinggalan.” Natalie menyodorkan kertas itu pada Dinar.
“Ok. Thanks ya Nat.” Dinar membaca satu per satu catatan yang diberi oleh Natalie denga teliti.
Tak terasa waktu sudah semakin sore dan itu berarti mereka harus segera kembali ke rumah masing-masing. Natalie meminta Dinar mengantarnya kembali ke Salon karena ada barang yang tertinggal di sana.
“Nar, lu drop gue di Salon aja ya. Ada barang gue yang ketinggalan,” pinta Natalie.
“Oh ya udah oke. Besok pagi gue jemput lagi ya di rumah lu,” kata Dinar sambil memohon.
“Iya bawel,” ledek Natalie.
Dinar pun melajukan mobilnya menuju Salon untuk menurunkan Natalie di sana.