8. Kriteria Hunian

1896 Kata
Suara kicauan burung sayup-sayio terdengar di telinga Dinar. Gadis itu membuka matanya perlahan dan menatap jam dinding yang ada di kamarnya. Waktu menunjukkan pukul lima pagi. Maka Dinar memutuskan untuk menunaikan kewajibannya. Dia keluar kamar menuju kamar mandi dan kembali lagi  ke kamarnya untuk melaksanakan Sholat subuh. Selesai sholat dia kembali keluar untuk menemui mama dan papanya yang juga baru saja selesai melaksanan kewajibannya. Dinar merekahkan senyumannya, hari ini adalah hari yang paling dia tunggu-tunggu. Wanita dewasa dengan status sebagai seorang gadis itu telah merencanakan sejak lama dalam keinginan mempersingkat jarak tempuh rumah dengan tempat usahanya. Beruntunglah baru saja selesai pembangunan komplek perumahan kelas menengah non subsidi yang terletak tidak jauh dari tempat usahanya berada. “Pagi Ma, Pa,” ucap Dinar. “Pagi Sayang, kamu mau teh?” tawar Nisaka tatkala kepalanya menoleh pada putrinya. “Boleh Ma, terimakasih ya,” jawab Dinar tersenyum atas kebaikan hati sang ibunda. “Hari ini kamu jadi ke perumahan yang kamu ambil untuk transaksi?” tanya Adam. Dinar meneguk segelas teh hangat tawar dari mamanya sebelum dia menjawab pertanyaan papanya. Anak gadis Adam mengangguk menjawab pertanyaan dari papanya. “Iya Pa jadi. Mama sama Papa ikut kan?” pungkas Dinar memastikan. “Iya kita ikut kamu. Terus nanti salonmu bagaimana Nar?” tanya Nisaka. “Gampang Ma, kan ada Natalie sama Desy yang bisa mengurusnya. Nanti Dinar hubungi Natalie untuk menghandle semua urusan salon,” jelas Dinar. Selama Natalie masih bekerja dengan dirinya maka Dinar tidak perlu mengkhawatirkan soal pekerjaan di salon miliknya. Natalie sudah cukup ahli dalam menghandle segalanya dalam satu waktu. Kepiawaian Natalie mengurus segala keperluan salon dan berbagai kepentingan lainnya membuat Dinar tidak sampai hati jika tidak memberikan sahabat baiknya itu bonus tambahan sebagai bonus kerajinan Natalie dalam bekerja. Beruntungnya Dinar mendapatkan sosok sahabat seperti Natalie yang siap siaga membantunya setiap kali Dinar tengah membutuhkannya. “Jam berapa kita berangkat?” tanya papanya. “Hmm ... mungkin jam delapan kita sudah siap-siap ya Ma, Pa,” kata Dinar. Kedua orang tuanya pun mengangguk mendengar instruksi dari Dinar. Adam mengambil surat kabar yang baru saja diberikan oleh Mbok Asih, asisten rumah tangga mereka. Adam selalu saja mengikuti perkembangan berita setiap harinya. Lelaki satu anak itu tampaknya enggan ketinggalan informasi di era modernisasi. Herannya, padahal Adam memiliki gadget, namun ayah Dinar malah menyukai surat kabar koran sebagai sumber informasinya. Setiap kali Dinar ataupun Nisaka mengejeknya, Adam memiliki alasan bahwa terlalu lama menatap layar ponsel membuat kemampuan melihatnya menurun di usianya yang tidak lagi muda. “Bu, hari ini mau masak apa?” tanya Mbok Asih pada Nisaka. “Masak yang gampang-gampang aja Mbok, soalnya kita semua mau pergi pagi ini jadi jangan masak terlalu banyak ya,” jawab Nisaka. “Baik Bu,” Mbok Asih pun meninggalkan mereka dan kembali ke dapur. Selesai Dinar menghabiskan tehnya dia berpamitan untuk kembali lagi ke kamar  untuk menyiapkan semuanya.  “Ma, Dinar ke kamar dulu ya mau siapin semuanya jadi nanti tinggal berangkat,” ucap Dinar. Gadis itu tersenyum ketika tadi pagi melihat amplop dokumen sebagai syarat peralihan kepemilikan komplek perumahan yang nantinya akan menjadi miliknya berada di meja nakas kamarnya. Dinar sudah tidak sabar menempati hunian baru, di mana uang pembelian satu unit perumahan kelas menengah itu adalah hasil kerja kerasnya seorang diri. “Iya Sayang, Mama juga mau bantu Si Mbok masak untuk sarapan. Kamu mau makan apa Nar?” tanya Nisaka. “Apa aja Ma terserah Mama,” jawab Dinar. Dinar pun kembali ke kamarnya dan mengecek kembali dokumen-dokumen yang diperlukan, dia memastikan bahwa tak ada dokumen yang tertinggal. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi maka Dinar memutuskan untuk mandi terlebih dahulu baru turun ke bawah untuk sarapan bersama. Selesai mandi dan berpakain Dinar keluar kamar  dengan membawa tas dan sebuah map yang berisi berkas-berkas untuk dia bawa ke kantor pemasaran perumahan Werkudara. Tak lupa juga dia menelepon Natalie untuk membantunya menghandle salon hari ini. “Papa mana, Ma?” tanya Dinar begitu dia sudah sampai di ruang tamu. “Lagi ganti baju Sayang,” jawab Nisaka. “Oh. Mama sama Papa belum sarapan  kan?” tanya Dinar menatap hidangan menu sarapan yang masih lengkap di atas meja makan keluarga. “Belum. Ini Mama baru selesai mandi dan sepertinya Mbok baru selesai juga memasaknya,” jawab Nisaka. “Baik Ma. Dinar  mau telepon Natalie dan orang marketingnya dulu ya Ma,” kata Dinar. Dinar berjalan menuju taman kecil yang  berada di rumahnya. Ditemani kicauan burung dan cahaya matahari yang mulai naik sedikit demi sedikit Dinar menghubungi dua orang yang berhubungan dengannya hari ini. Pertama dia akan menghubungi Natalie, sahabat sekaligus orang kepercayaannya. “Nat, udah bangun kan lu?” tanya Dinar begitu Natalie menjawab panggilannya. “Iya ini gue bangun karena lu telepon. Ada apa Nar?” tanya Natalie. “Gini, hari ini gue sama Mama dan Papa mau balik lagi ke Perumahan Werkudara buat transaksi sekaligus Mama dan Papa gue mau cek langsung rumah yang akan gue bayar,” ucap Dinar. “Oh iya, terus gimana Nar?” tanya Natalie yang mulai bangun dari tidurnya. Dinar memerintahkan Natalie untuk menghandle salon hari ini, dan jika diperlukan Dinar juga akan meminta Natalie untuk ke klinik atau ke kantor pemasaran tersebut. Natalie mengerutkan keningnya, kenapa agenda Natalie hari ini sangat padat seolah-olah dia sendirilah yang memiliki salon serta klinik kecantikan tersebut. Sahabatnya Dinar memang terlalu gila sampai memberikannya tugas bertumpuk-tumpuk setiap harinya. Mungkinkah sahabatnya itu menaruh dendam tersembunyi terhadap dirinya? “Hari ini gue minta tolong lu handle Salon ya Nat. Pokoknya lu stand by aja di Salon dan kalau gue perlu bantuan lu untuk datang ke klinik lu harus segera ke sana ya,” ucap Natalie. “Ok boss! Emang ke klinik ngapain lagi? Bukannya udah beres semuanya ya?” tanya Natalie. “Iya emang udah beres kan gue bilang takutnya dadakan gue perlu lu di klinik atau di perumahan gitu,” ucap Dinar. “Oh begitu. Gitu dong baru jelas. Namanya bangun tidur gue kan jadi nggak konsen,” kata Natalie membela diri. Dinar sudah tahu kebiasaan sahabatnya itu. Maka dia tak memperpanjang ocehannya. “Eh iya Nar, lu udah telepon si Mas Cahyo belum kalau lu mau datang jam segini?” tanya Natalie. “Semalem sih gue udah WA gue bilang jam sembilan ketemu di  Werkudara, terus dia udah Ok. Makanya gue habis sarapan langsung meluncur ke sana,” kata Dinar. “Oh ya udah kalau emang udah beres semua. Berarti tugas gue cuma handle Salon dan stand by aja ya,” tanya Natalie. “Yup betul,” ucap Dinar. Selesai menelepon Natalie, Dinar langsung menghubungi Mas Cahyo selaku marketing dari perumahan Werkudara. Dinar kembali memastikan bahwa transaksi pembelian pada hari ini terlaksana tanpa penundaan atau kendala lainnya. Gadis itu membutuhkan tempat tinggal dekat dengan letak klinik kecantikan miliknya yang akan dibuka beberapa hari ke depan saat semuanya telah memenuhi syarat baik secara dokumen ataupun segala macam isi klinik pun juga keberadaan konsultan kecantikan di sana sebagai pelengkap. “Halo Mas, kita ketemu di Werkudara jam sembilan ya,” ucap Dinar pada Mas Cahyo. “Baik Mbak, ini juga saya  sudah mau berangkat,” ujar Mas Cahyo. “Ok Mas, sampai ketemu nanti ya,” ucap Dinar kemudian mengakhiri panggilannya. Setelah itu Dinar kembali ke meja makan untuk sarapan bersama orang tuanya. Nisaka dan Adam sudah duduk manis menunggu Dinar selesai telepon barulah mereka makan sama-sama. “Maaf ya Ma, Pa. Tadi Dinar habis telepon Natalie dan orang marketing. “Terus apa katanya?” tanya  Adam. “Ya Natalie bersedia untuk menghandle Salon sedangkan orang marketing sudah di jalan menuju ke sana,” jawab Dinar. “Ya sudah sekarang kita sarapan dulu supaya gak terlambat,” ucap Nisaka. Ketiga orang itupun mulai menyantao sarapan mereka. Tak sampai tiga puluh menit mereka selesai sarapan dan bersiap pergi ke tempat tujuan mereka. Sesampainya di mobil, Dinar  bertanya pada orang tuanya apa mereka tidak pergi ke tempat kerja mereka hari ini. “Oh ya Ma, Pa, hari ini Mama enggak ke sekolah? Dan Papa juga nggak ke kantor?” tanya Dinar. “Kelas Mama hari ini  siang habis Dzuhur. Kalau Papa kebetulan tidak ada kegiatan penting di pagi hari maka dia akan ke kantor setelah urusanmu selesai,” jawab Nisaka. “Baiklah Ma, Pa kalau begitu. Karena Dinar takut kalau urusan Dinar akan menganggu pekerjaan Mama dan Papa,” ucap Dinar. Begitu mereka tiba di kantor pemasaran Mas Cahyo rupanya sudah tiba lebih dulu. Dinar mengenalkan Mas Cahyo pada kedua orang tuanya begitupun sebaliknya. Dan setelah berkenalan, Adam, papanya Dinar meminta Mas Cahyo untuk menunjukkan dimana rumah yang akan dibeli oleh Dinar. Dengan senang hati Mas Cahyo mengajak Dinar kembali mengecek calon rumahnya tersebut bersama kedua orang tuanya. “Bapak dan ibu Mbak Dinar sangat perhatian dengan Mbak, ya?” pungkas Mas Cahyo tersenyum memahami pertanyaan beruntun dari orang tua Dinar. Dinar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, gadis itu hanya tersenyum kaku mendengar ucapan dari Mas Cahyo. “Biasalah, Mas. Namanya juga orang tua, apalagi saya anak tunggal beliau,” tutur Dinar meminta pengertiannya. Kedua orang tua Dinar ingin memastikan bahwa rumah pilihan anaknya tidak salah, Karena biar bagaimanapun Dinar akan tinggal sendiri untuk sementara waktu. Maka Adam dan Nisaka perlu memperhatikan ketenangan dan keamanan lingkungan sekitar. Begitu mereka memasuki kawasan Blok C tersebut orang tua Dinar menyukai suasana di sana. Dinarpun dengan bangga memamerkan rumah yang sebentar lagi akan dia bayar. “Bagaimana Ma, Pa, bagus kan rumahnya,” tanya Dinar begitu mereka memasuki pekarangan rumah tersebut. “Iya Mama suka. Lingkungannya tenang dan asri. Di sini aman kan Mas?” tanya Nisaka pada Mas Cahyo. “Aman Bu, tenang saja semua sistem keamanan sudah teruji di sini. Kemarin saya juga sudah menjelaskannya  langsung pada Mba Dinar,” jelas Mas Cahyo. Mamanya Dinar pun mengangguk dan tersenyum puas mendengar penjelasan Mas Cahyo dan melihat langsung kondidi rumahnya. Papanya Dinar  juga sangat setuju dengan rumah pilihan putrinya itu. “Kamu yakin kan Nar akan memilih untuk tinggal di sini?” tanya Adam meyakinkan. “Yakin dong Pa. Dari awal Dinar diajak ke sini oleh Mas Cahyo, Dinar udah jatuh hati. Makanya mau cepat-cepat Dinar  bayar sebelum diambil orang,” celoteh Dinar. “Ya sudah kalau kamu sudah yakin Papa juga setuju. Karena benar yang tadi dibilang mamamu, bahwa sebuah tempat tinggal itu yang terpenting keaamanan dan kenyamanannya,” ucap papanya Dinar. “Lingkungan yang sehat dan asri juga perlu kan Pak?” tanya Mas Cahyo berguyon. Adam, Nisaka dan Dinar tertawa mendengar candaan Mas Cahyo barusan. Dinar kembali menatap rumah berlantai dua itu dan tak sabar untuk segera menetap di sana. Karena waktu terus berlalu maka Dinar meminta Mas Cahyo untuk segera mengurus pembayarannya karena dia juga sudah membawa berkas-berkas penting yang diperlukan. “Tapi Mas, saya masih mencari satu kriteria untuk perumahan putri saya,” seloroh Nisaka tiba-tiba. “Apa Bu? Biar saya rundingkan dengan atasan saya,” ucap Mas Cahyo penasaran. “Ketersediaan lelaki single, Mas. Saya juga butuh mantu loh,” kekeh Nisaka bergurau. Wajah Dinar sontak saja memerah mendengar ucapan dari mamanya. Padahal Nisaka tidak pernah membicarakan soal pernikahan Dinar meski keduanya sedang berdua saja. Mungkin Nisaka sedang aji mumpung di sana melihat komplek perumahan putrinya sekaligus mencari menantu idaman. “Ya sudah Mas kalau begitu siapkan saja surat-surat yang harus saya tanda tangani, karena saya juga tidak bisa berlama-lama begitupun orang tua saya,” ucap Dinar. “Baiklah Mbak Dinar kalau begitu mari kita kembali ke kantor,” ajak Mas Cahyo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN