Malam kian sunyi tapi Renjana dan Linda masih saja mendebatkan hal yang sama. Linda masih tetep kukuh pada pemikirannya soal perselingkuhan Renjana. Semakin Renjana menjelaskan bukannya semakin benar tapi malah sebaliknya. Jika terus seperti ini kapan ia akan istiirahat pikirnya. Renjana akhirnya mengalaha agar Linda berhenti menuduhnya paling tidak untuk malam ini saja.
Akhirnya dia mengajak Linda untuk tidur di kamar utama dengan harapan istrinya itu akan berhenti menuduhnya selingkuh dan berhenti membahas parfume yang menempel pada jas Renjana. Renjana teringat atas ucapan temannya, wanita akan berhenti marah ketika dirinya dimanja dan dimengerti oleh suaminya. Mungkin kemarahan Linda terjadi karena kejenuhan wanita itu seharian penuh di rumah tanpa ada sang suami di sisinya.
Renjana lebih baik meluangkan waktu untuk Linda, lain kali lelaki itu akan mengajak istrinya menghabiskan waktu bersama, agar Renjana dapat memahami keluh kesah istrinya, apa saja yang mengganjal di dalam hati wanita itu.
“Sudahlah tolong kamu mengerti bahwa aku ini sangat lelah, jadi lebih baik sekarang kita tidur karena besok aku masih harus bekerja,” ajak Renjana pada Linda.
Linda juga sepertinya sudah mulai lelah dan mengantuk hingga dia tak lagi membantah perkataan suaminya. Dia mengikuti langkah suaminya menuju kamar mereka. Sampai di kamar Renjana langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur berbeda dengan Linda yang masih saja duduk menyandar pada dinding kamarnya.
Sebagai seorang suaminya tentunya Renjana masih mempunyai rasa kasih dan sayang pada Linda, hingga dia tak tega melihat Linda yang belum bisa memejamkan matanya. Renjana mengajak Linda berbicara sebentar sebelum keduanya pergi tidur.
“Apalagi yang kamu pikirkan saat ini?” tanya Renjana, memiringkan tubuhnya ke arah istrinya.
“Kehilangan kamu,” ucapnya lirih dengan mata yang menerawang lurus ke depan.
“Kenapa harus kehilangan aku? Aku tidak akan ke mana-mana apalagi meinggalkanmu kalau kamu berhenti menuduhku macam-macam,” kata Renjana.
“Aku takut Mas. Aku takut kamu mempunyai wanita lain yang akan kamu jadikan istrimu untuk mendapatkan seorang anak,” kata Linda mulai membalikkan badannya menghadap Renjana.
Mendengar perkataan Linda membuat Renjana menepukkan telapak tangannya di dahinya. Dia tak menyangka bahwa Linda mempunya pemikiran sampai ke arah sana. Renjana menyentuh pipi istrinya, mengelusnya perlahan secara lembut.
“Ya ampun Linda ... sudah berkali-kali aku katakan padamu, bahwa aku sama sekali tidak mempermasalahkan soal anak,” ucap Renjana.
Ternyata alasan di balik kemelut kemarahan Linda adalah soal belum adanya kehadiran sang buah hati di antara mereka berdua. Padahal, Renjana tidak pernah mempermasalahkan soal keturunan kepada Linda. Mereka masih muda, jika belum diberikan momongan kemungkinan Tuhan menginginkan keduanya saling mengontrol ego dan emosi masing-masing karena mengurus seorang anak bukanlah hal yang mudah.
Renjana mulai melunak dan memahami ketakutan istrinya, lelaki itu mendaratkan kecupan di kening sang istri sebagai obat penenang alami.
“Tapi Mas yang namanya pernikahan harus dilengkapi dengan hadirnya seorang buah hati, dan itu belum ada di pernikahan kita,” lirih Linda.
“Iya aku tahu, tapi aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Buktinya aku bahagia hidup bersama kamu, asal kamu tidak menuduhku berselingkuh,” kata Renjana sedikit menggoda Linda karena tuduhannya tidak berdasar.
“Kamu bohong Mas! Setiap suami pasti mengingkan hadirnya seorang anak dari itsrinya,” kata Linda lagi.
Renjana suudah kehabisan kata-kata untuk membujuk istrinya agar ia bisa berhenti membahas soal perselingkuhan, anak, dan lain sebagainya. Diliriknya jam di dinding kamar mereka. Waktu sudah bernjak mewati angka satu dini hari. Dua jam dari kepulangan Renjana mereka habiskan hanya untuk berdebat masalah tak penting.
“Sudah ya kali ini aku benar-benar lelah dan mengantuk, aku ingin tidur,” kata Renjana sambil membenarkan posisinya dan memeluk guling yang berada di sampingnya.
Linda pun mulai terlelap karena rasa lelah di tubuh dan pikirannya tentang suaminya itu. Akhirnya suasana di rumah Renjana sudah kembali hening karena sang pemilik sudah beranjak ke alam mimpi.
Keesokan paginya ketika Renjana terbangun pada pukul tujuh pagi, dia tidak mendapatkan sosok Linda di sampingnya. Linda yang selalu membangunkan Renjana jika ia membuka matanya lebih dulu kali ini tidak membangunkannya tapi malah menghilang entah ke mana. Renjana langsung bangkit dari kasur dan mencari keberadaan Linda.
“Linda! Sayang! Kamu di mana?” teriak Renjana ke arah kamar mandi yang berada di dalam kamar mereka.
“Aku di kamar mandi Mas,” sahut Linda dari dalam kamar mandi.
“Sedang apa kamu di dalam?” tanya Renjana khawatir.
Entah kenapa Renjana juga jadi berpikir macam-macam soal Linda, dia berpikir takut Linda melakukan hal-hal aneh di dalam kamar mandi. Linda tak lagi menjawab pertanyaan Renjana dan itu membuat dia kembali khawatir.
“Lin! Linda, kenapa kamu diam saja? Sedang apa kamu di dalam?” panggil Renjana lagi kali ini dengan ketukan pintu di kamar mandi tersebut.
“Iya Mas sebentar lagi aku keluar,” jawab Linda.
Mendengar sahutan dari dalam barulah Renjana merasa sedikit lebih tenang. Tak lama kemudian Linda membuka pintu kamar mandi dan keluar dari sana. Linda keluar dengan membawa benda kecil dan menyodorkannya kepada Renjana. Wajah Linda tampak muram, gurat kekecewaan terlihat di sana.
“Hasilnya masih sama Mas,” ucap Linda sambil menyodorkan sebuah testpack dengan garis satu kepada Renjana.
“Apa ini?” tanyanya begitu dia melihat benda yang sering kali diberikan oleh Linda.
“Itu … itu yang membuat aku takut kamu berpaling dariku,” lirih Linda pelan.
Tak tega melihat raut wajah istrinya setiap kali selesai melakukan test kehamilan maka Renjana menarik tubuh Linda ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan hangat. Renjana terus menguatkan Linda dan menasehatinya bahwa ia harus bersabar menanti kedatangan buah hatinya saat ini.
Tuhan pasti sedang mempersiapkan scenario yang baik untuk para umatnya. Renjana dan Linda haruslah lebih melapangkan da-da dan berikhtiar setiap saat demi mendapatkan malaikat kecil di tengah-tengah rumah tangga mereka berdua.
“Sabar ya Sayang, mungkin Tuhan belum mempercayai kita untuk menjadi sepasang orang tua,” ucap Renjana.
“Iya tapi sampai kapan Mas? Sampai kapan aku harus menanti kedatangan buah hati dalam rahimku?” tanya Linda sedih.
“Ya sampai tuhan mempercayai kita Sayang. Yang penting kita harus tetap berusaha ya,” kata Renjana.
“Tapi kamu tetap mau melakukannya bersamaku kan? Bukan bersama wanita lain,” tanya Linda lagi.
“Tentunya aku akan melakukannya terus bersamamu. Kalau perlu sekarang,” goda Renjana.
Melihat suaminya menggodanya seperti itu membuat Linda malu dan mencubit pinggang Renjana kemudian memintanya untuk segera mandi dan dia akan menyiapkan sarapan untuknya.
“Aw... sakit,” kata Renjana.
“Makanya kamu jangan nakal!” cetus Linda.
“Aku tidak nakal, aku hanya mengabulkan permintaanmu kan?” ucap Renjana masih dengan memeluk tubuh istrinya yang putih.
“Mas ... sudahlah jangan membuatku malu. Lebih baik sekarang kamu mandi dan aku akan keluar untuk menyiapkan kamu sarapan ya,” perinta Linda sambil melepaskan pelukannya.
Renjana pun setuju dengan perintah istrinya maka dia segera pergi ke kamar mandi. Tapi sebelum dia menghilang di balik pintu kamar mandi, dia sempat berteriak menggoda Linda.
“Sayang, tapi jangan lupa nanti malam ya! Pakai baju kesukaanku,” teriak Renjana dengan wajah nakalnya.
Linda tak menjawab permintaan Renjana, dia hanya mengangguk dengan wajah memerah sambil menahan senyum kemudian berlalu. Keadaan rumah tangga mereka sebetulnya memang sangat romatis tapi karena sudah lama menantikan hadirnya sang buah hati membuat Linda takut kehilangan suaminya dan mulai berpikir yang tidak-tidak yang membuat keadaan rumah tangganya kadang seperti demo mahasiswa yang selalu terdengar teriakan-teriakan antar keduanya.
Linda sibuk memasak dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Pagi ini dia hanya membuat nasi goreng sapi dengan telur ceplok lengkap dengan teh hangat. Semua itu adalah hidangan favoritnya Renjana. Linda sengaja menyiapkannya agar mood suaminya bagus hingga malam nanti.
“Mas, sarapannya sudah siap nih! Kamu sudah selesai belum?” teriak Linda.
“Iya ini aku mau keluar,” sahut Renjana dari dalam kamar.
Begitu Renjana tiba di meja makan, dia mencium aroma nasi goreng sapi yang membuat perutnya tak sabar ingin segera diisi. Walau Linda mempunyai hobby berfoya-foya tapi dia juga tetap jago memasak. Hanya saja sifat curigaanya itu yang masih susah untuk dihilangkan.
“Wah pagi ini sarapannya special ya,” ucap Renjana sambil tersenyum merekah.
“Iya dong. Ini semua aku masak khusus untuk suamiku tercinta,” kata Linda sambil menuangkan nasi goreng ke piring suaminya.
“Terima kasih ya Sayang,” kata Renjana.
Mereka pun mulai makan masakan yang dihidangkan oleh Linda. Renjana makan dengan lahap karena masakan Linda memang enak. Ketika mereka selesai sarapan, Linda membereskan bekas makan yang ada di meja. Disaat bersamaan ponsel renjana berdering, ternyata ada panggilan dari seorang kliennya yang tadi malam bertemu, dia meminta Renjana untuk menemuinya lagi hari ini untuk membahas kasus yang ditangani oleh Renjana.
“Sayang, aku berangkat ya. Klienku sudah menelepon minta bertemu sekarang,” pamit Renjana pada Linda.
“Kamu bertemu di kantor atau di luar Mas?” tanya Linda memulai interogasinya.
“Di kantor,” jawab Renjana sambil memasang jas yang baru dia ambil dari lemarinya.
“Jangan lupa bawa parfume ya Mas,” pesan Linda agar suaminya tak meminta parfume orang lain lagi.
Mendengar pesan Linda membuat Renjana tertawa mengingat kejadian semalam. Tak ingin merusak mood dan suasana tentram di rumahnya makan Renjana menanggapinta dengan tawa. Dia merogoh sesuatu dari dalam tasnya dan menunjukkan sebuah benda ke arah Linda.
“Tenang saja Lin, Mas udah bawa kok,” ucap Renjana sambil menganyunkan sebotol parfume di udara.
“Baiklah Mas, hati-hati di jalan ya. Kalau nanti kamu ada waktu, makan siangnya di rumah aja ya Mas,” pinta Linda.
“Siap Sayang, aku berangkat ya,” ucap Renjana sambil menyodorkan tangannya kearah Linda.
“Iya Mas,” jawab Linda sambil mencium punggung tangan Renjana yang kemudian di balas oleh sebuah kecupak di dahi Linda.
Sungguh indah pemandangan rumah mereka pagi ini. Tidak ada pertengkaran, tidak ada tuduhan dari sang wanita. Adanya senyuman cerah di pagi hari, sang istri mempersiapkan segala macam kebutuhan suaminya sebelum berangkat bekerja hingga memastikan segala keperluan Renjana tidak terlupakan satu pun. Harapan tentang hidup berumah tangga yang sebenarnya Renjana dan Linda mimpikan setiap saat.
Namun terkadang ego dan emosi mengalahkan cinta mereka dalam waktu sesaat.